yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
benci jadi cinta (bab 10) keajaiban di ujung dunia
Waktu seakan berhenti berdetak. Hening yang mematikan menyelimuti ruangan itu, hanya tersisa suara bip panjang yang tajam dari alat pemantau jantung — suara yang menandakan satu hal yang tak terbayangkan.
Marco tidak bergerak sedikit pun. Dia masih memeluk tubuh Yuna yang terasa dingin dan berat di pelukannya. Jemarinya menangkup wajah wanita itu, menyeka sisa air mata di sudut matanya yang sudah terpejam rapat. Tatapannya kosong, seakan jiwanya ikut terbang menjauh bersama nyawa yang baru saja lenyap dari tubuh istrinya.
"Sudah selesai..." bisiknya pelan, suaranya kering dan hancur. "Kamu sudah lelah, kan? Istirahatlah, sayangku. Pergilah ke tempat yang indah, tempat di mana tidak ada rasa sakit, tidak ada bahaya. Biarkan aku yang tinggal di sini menanggung semuanya sendirian. Kamu sudah cukup berjuang untukku."
Dia mencium kening Yuna dengan lembut, seakan takut membangunkannya dari tidur terpanjang itu. Di luar jendela, langit mulai menampakkan samar-samar cahaya fajar — fajar yang dulu selalu dinanti-nantikan, namun kini terasa tak berarti lagi baginya.
Yona dan Jisoo terisak di ambang pintu, saling berpegangan tangan dengan tubuh gemetar. Jisoo menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata mengalir deras tanpa henti. Yona memejamkan matanya rapat-rapat, berdoa sekuat hati meskipun akal sehatnya sudah berkata bahwa harapan telah hilang.
"Tidak mungkin... dia tidak boleh pergi seperti ini..." isak Jisoo pelan. "Dia masih terlalu muda. Mereka baru saja menemukan kebahagiaan mereka..."
Sementara itu, dokter dan perawat berdiri dengan kepala tertunduk, tak tega melihat pemandangan yang begitu memilukan itu. Mereka sudah bersiap mencatat waktu kematian — pukul 05.17 pagi.
Namun tepat saat tangan dokter menyentuh tombol untuk mematikan alat pemantau jantung itu...
DEG!
Satu detak lembut terdengar.
Semua orang tertegun. Dokter menghentikan gerakannya seketika, matanya melebar menatap layar.
DEG... DEG...
Detak itu berulang. Perlahan, namun nyata.
"Suara detak jantungnya... kembali!" seru dokter dengan napas tertahan, matanya tak percaya menatap layar yang tadi lurus kini mulai menampilkan gelombang kecil yang lemah namun terus berulang. "Dia masih ada! Dia berjuang kembali!"
Marco yang tadinya pasif seketika mengangkat kepalanya. Matanya yang kosong kini perlahan berbinar, penuh kebingungan dan harapan yang takut ia yakini.
"Apa... apa yang terjadi?" tanyanya bergetar. "Dia... dia masih hidup?"
"Denyutnya lemah, tapi stabil!" dokter segera kembali bertindak, perawat-perawat bergerak cepat namun hati-hati. "Tekanan darahnya juga perlahan naik. Tubuhnya merespons! Dia tidak menyerah! Dia menolak pergi!"
Tangan Marco gemetar hebat saat ia merasakan denyut lembut di pergelangan tangan Yuna — ada. Masih ada. Lemah, tapi nyata.
"Kamu mendengar itu, sayang?" suaranya pecah menjadi tangisan bahagia yang tak tertahankan. Dia menempelkan pipinya ke punggung tangan Yuna yang mulai terasa sedikit lebih hangat. "Kamu tidak pergi. Kamu memilih tinggal. Kamu mendengarkan ku, bukan? Kamu tidak membiarkanku sendirian. Terima kasih... terima kasih, Yuna, terima kasih telah kembali padaku!"
Yona dan Jisoo tak kuasa menahan kegembiraan itu. Mereka berdua saling memeluk erat sambil menangis — kali ini air mata kelegaan yang tak terlukiskan.
"Dia kuat... kita tahu dia pasti kuat," Yona tersenyum di tengah air matanya, menatap ke dalam ruangan dengan penuh harapan.
Marco tidak melepaskan tangan Yuna. Dia duduk kembali di tepi ranjang, matanya tak pernah beralih sedikit pun dari wajah istrinya. Setiap kali mendengar bunyi detak dari alat pemantau itu, ia merasa seakan diberi kesempatan hidup kedua kalinya — bukan untuk dirinya, tapi untuk Yuna.
Jam demi jam berlalu. Fajar berubah menjadi siang, siang berganti sore, dan sore kembali menjadi malam. Marco tidak tidur sedikit pun. Dia tidak makan, tidak pergi ke mana pun. Dia hanya ada di sana — menyeka keringat di dahi Yuna, membasahi bibirnya yang kering dengan kapas basah, berbicara padanya dengan lembut sepanjang waktu.
"Semua orang bilang keajaiban itu jarang terjadi," bisiknya pelan, mengusap lembut rambut Yuna. "Tapi kau adalah keajaibanku, Yuna. Keajaiban terindah yang Tuhan kirimkan untuk menyelamatkanku dari kegelapan. Aku berjanji padamu — mulai hari ini, setiap detik yang kita miliki adalah anugerah. Aku tidak akan pernah lagi menyia-nyiakan mu. Aku akan menjagamu, mencintaimu, dan membahagiakanmu setiap hari, seolah itu adalah hari terakhir kita bersama."
Malam kedua di rumah sakit itu terasa jauh lebih tenang dari malam sebelumnya. Dokter memeriksa keadaan Yuna dengan teliti, lalu tersenyum lega saat menghadap Marco.
"Dia melewati masa kritisnya dengan sangat luar biasa. Sekarang tinggal waktu dan istirahat yang baik untuk pemulihannya. Dia butuh kesabaran dan kasih sayang. Dia butuh kamu."
Marco mengangguk, matanya lembut namun penuh tekad yang kuat. "Aku akan selalu ada di sini. Selamanya."
Dan tepat saat dokter keluar dari ruangan itu, perlahan... sangat perlahan... kelopak mata Yuna bergerak. Napasnya teratur dan jauh lebih kuat dari sebelumnya. Bibirnya sedikit bergerak, membentuk senyum samar seakan dia mendengar setiap kata yang diucapkan lelaki yang dicintainya itu.
Cahaya di matanya belum kembali sepenuhnya, tapi hatinya sudah tahu — dia aman. Dia dicintai. Dan dia pulang ke rumah yang sebenarnya: di hati Marco.
BERSAMBUNG...