"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Menikmati Hari Libur
Sinar matahari pukul sebelas pagi menerobos masuk melalui celana tirai paviliun. Hari ini adalah hari libur yang sangat ditunggu-tunggu oleh Zahira dari rutinitas skripsi dan tugas-tugasnya.
Saat ia sedang merapikan meja belajar, pintu paviliun terbuka dan sosok Gisel muncul dengan penampilan serba rapi, modis, dan penuh energi.
"Zahira! Ayo siap-siap, kita pergi sekarang!" seru Gisel heboh seraya menarik pergelangan tangan Zahira.
Zahira mengerutkan keningnya bingung. "Lho, mau ke mana, Sel? Panas-panas begini?"
"Udah, ikut aja! Kita ke salah satu mall terbesar di Jakarta. Pokoknya hari ini kamu harus bebas dari laptop dan skripsi!" tegas Gisel tanpa menerima penolakan.
.
.
Setibanya di mall besar kawasan ibukota tersebut, riuh suara musik, dentuman permainan arcade, dan pendar lampu warna-warni langsung menyambut mereka di area permainan Timezone.
Gisel tersenyum lebar, sementara langkah Zahira justru melambat. Matanya menatap sekeliling dengan binar ragu dan canggung.
"Sel... kita beneran mau main di sini?" bisik Zahira pelan, meremas ujung bajunya. "Malu, ah. Ini kan buat anak-anak atau remaja... lagipula aku gak pernah main yang begini."
Gisel menghentikan langkahnya, menatap mata Zahira dengan lekat. "Ra, gak ada kata terlambat buat bahagia. Hari ini kita puasin main!"
Tenggorokan Zahira terasa menyempit. Di balik tatapan canggungnya, ingatan masa lalu mendadak berputar pahit.
Dahulu, setiap kali Papi mengajak Mami Karlina, Bianka, dan Vidi ke tempat seperti ini, Zahira selalu ditinggal di rumah atau hanya bisa mengintip foto-foto kebahagiaan adik-adiknya di sebuah status media sosial mami atau papinya.
Mami Karlina selalu beralasan Zahira sudah terlalu besar atau tidak pantas berada di tengah kebahagiaan mereka. Saat Bianka tertawa lepas menaiki berbagai wahana, Zahira kecil hanya bisa diam memandangi foto-foto itu dari balik kamar mandi atau sudut dapur yang dingin.
Melihat perubahan raut wajah Zahira, Gisel tak memberikan ruang untuk sahabatnya melamun lebih jauh. Tanpa ragu, Gisel menarik tangan Zahira menuju arena permainan.
"Ayo, Ra! Kita mulai dari yang ini!" seru Gisel antusias.
Gisel membimbing Zahira melempar bola basket ke dalam ring, lalu berpindah ke mesin capit boneka. Ketika Zahira berhasil mendapatkan sebuah boneka beruang kecil setelah beberapa kali mencoba, jeritan gembira tak terbendung keluar dari bibirnya.
Tawa renyah Zahira pecah saat mereka saling menabrakkan mobil di arena bom-bom car, menghancurkan seluruh kekakuan yang sempat membelenggu hatinya.
Tak berhenti di situ, Gisel yang penuh semangat bahkan menantang Zahira mencoba papan panjat tebing indoor.
Dengan keberanian yang baru tumbuh, Zahira memanjat satu demi satu pijakan hingga mencapai puncak, disambut tepuk tangan meriah dari Gisel di bawah.
Petualangan mereka hari itu ditutup di area ice skating. Berdiri di atas papan es yang licin membuat kaki Zahira gemetar hebat.
"Gisel, aku gak bisa! Nanti jatuh!" pekik Zahira panik, memeluk lengan Gisel erat-erat.
"Tenang, genggam tangan aku, Ra! Pandangan lurus ke depan, jaga keseimbangan..." tuntun Gisel sabar seraya menyeimbangkannya perlahan.
Sedikit demi sedikit, ketakutan Zahira meluruh. Bantuan dan dorongan tanpa henti dari Gisel membuat Zahira akhirnya sanggup meluncur mandiri di atas es.
Rona merah memancar di pipinya, diiringi gelak tawa lepas yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Masa kecilnya yang terenggut seolah dibayar tuntas dalam beberapa jam yang penuh kebebasan ini.
Puas bermain hingga lelah, Gisel menggandeng Zahira menuju sebuah restoran ala Korea berkonsep modern yang telah memiliki sertifikat halal resmi di dalam mall tersebut.
Aroma daging panggang lezat dan kuah jjigae yang gurih langsung menyapa indra penciuman mereka begitu duduk di bilik restoran yang nyaman.
Zahira menyapu peluh halus di dahi dengan tisu, menatap boneka capit di sampingnya dan deretan tiket permainan yang menumpuk.
"Terima kasih banyak ya, Gisel..." ucap Zahira tulus, matanya berkaca-kaca menatap sahabatnya. "Seumur hidup... aku gak pernah ngerasa sebebas dan sebahagia ini waktu main."
Gisel menyunggingkan senyum paling hangat, menatap wajah cantik Zahira yang kini dipenuhi raut riang dan binar kebahagiaan yang sejati. Tidak ada lagi pendar lelah atau kesedihan di mata itu.
"Ini baru permulaan, Ra," sahut Gisel lembut seraya menggenggam tangan Zahira di atas meja. "Mulai sekarang, kamu berhak dapat semua kebahagiaan yang dulu pernah dicuri dari kamu."
.
.
.
Beberapa saat kemudian.
Langkah kaki Zahira dan Gisel mendadak terhenti di dekat pintu keluar mall. Dari arah berlawanan, Bianka berjalan anggun bersama tiga teman sosialitanya.
Mengenakan pakaian bermerek dan membawa tas mewah, Bianka menyipitkan mata saat menyadari keberadaan kakak tirinya.
"Duh, Guys... Bau apa nih tiba-tiba?" celetuk Bianka seraya mengibaskan tangan di depan hidungnya dengan raut wajah sok jijik. "Eh, ternyata ada bekas pelayan rumah gue yang udah dibuang."
Tiga teman di samping Bianka menyunggingkan senyum sinis. Salah satu dari mereka berbisik penuh ejekan.
"Oh, ini yang ku ceritain itu, Bi? Kasihan banget ya, sekarang keluyuran di mall, sok-sokan gaya. Padahal cuma bekas babu yang udah gak berguna lagi di keluarga Santoso,"
Lanjut Bianka dengan nada menghina yang menusuk.
Zahira menundukkan kepala, meremas kuat boneka hasil permainan mereka tadi. Namun, Gisel tak sanggup menahan amarahnya. Matanya menyala, melangkah maju berdiri pas di depan Bianka.
"Jaga mulut lu ya, Bianka!" bentak Gisel dengan suara lantang yang mengundang perhatian orang-orang di sekitar pintu keluar.
"Lu gak punya sopan santun sama sekali! Yang lu sebut pelayan itu kakak lu sendiri, yang dari dulu ngalah dan ngerawat rumah waktu lu cuma bisa foya-foya pake uang orang tua!"
Bianka bersedekap, bersikap angkuh. "Duh, ada pahlawan kesiangan nih. Lu tuh gak usah ikut campur ya! Dia itu cuma benalu di keluarga gue. Bagus deh dia sadar diri dan pergi, rumah jadi bersih dari sampah!"
"Lu yang sampah!" balas Gisel keras, menunjuk tepat di depan wajah Bianka. "Lu sama mami Lu tuh cuman benalu yang kemakan harta Papinya Zahira! Cewek manja gak tahu diri!"
"Gisel, udah, Sel... kita pulang aja, yuk," bisik Zahira panik seraya menarik lengan Gisel, berusaha melerai perselisihan yang makin memanas tersebut.
"Gak bisa, Ra! Orang ini harus dikasih pelajaran!" tegas Gisel, hendak maju lagi.
Melihat Gisel yang makin tersulut, Zahira sengaja pasang badan dan melangkah ke tengah-tengah untuk memisahkan mereka. "Udah, Gisel, tolong..."
"Gak usah sok suci lu, Za!" pekik Bianka yang sudah terlanjur emosi.
PLAK!
Suara tamparan keras memecah keributan. Muka Zahira terlempar ke samping. Pipi kirinya seketika memerah dan terasa panas membakar. Cahaya di matanya meredup, syok dengan tindakan semena-mena dari adik tirinya di tempat umum.
"Zahira!" jerit Gisel histeris, langsung merangkul tubuh sahabatnya yang oleng.
Bianka hanya mengibaskan tangannya santai dengan senyum puas yang penuh kelicikan. "Itu pembalasan buat Lu dan temen lu yang sok tahu! Ayo gais, kita jalan, males banget melayani orang miskin kayak mereka."
Ketua Bianka dengan angkuhnya ia berjalan dihadapan Gisel dan Zahira tanpa rasa bersalah.