NovelToon NovelToon
Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:386
Nilai: 5
Nama Author: AZKA DINARA

Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.

Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.

Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih Perselisihan dan Bayangan Ancaman

Keesokan harinya, cahaya matahari pagi menyinari halaman istana seperti biasa, namun suasana di dalamnya terasa berbeda. Seolah udara saja sudah berubah menjadi lebih berat, penuh dengan ketegangan yang tersembunyi di balik senyum-senyum sopan dan ucapan hormat. Kabar tentang pertemuan rahasia mereka semalam entah bagaimana sudah menyebar ke telinga pihak-pihak yang tidak menginginkan kebaikan hubungan itu, dan kini berubah menjadi senjata yang siap digunakan kapan saja.

Liān Huā berjalan perlahan menuju ruang belajar, hatinya tenang namun tetap waspada. Kata-kata janji yang diucapkan Zhēn semalam masih terngiang jelas di telinganya, memberikan kekuatan dan kehangatan yang tak tergantikan. Namun dia juga sadar, bahwa ketegasan yang ditunjukkan kaisar itu pasti akan memicu kemarahan dan perlawanan dari mereka yang merasa kepentingannya terancam.

Belum sempat dia duduk di tempatnya, suara langkah kaki berirama dan tegas terdengar mendekat. Putri Xiāo Lán datang bersama beberapa wanita bangsawan tinggi, wajahnya tersenyum manis namun matanya tajam dan dingin. Sejak kaisar melarangnya berkeliling sembarangan, dia memang lebih jarang terlihat, namun setiap kali muncul, selalu saja membawa suasana yang tidak menyenangkan.

“Wah, ini dia orang yang paling beruntung sekaligus paling berani di seluruh istana,” ucap Xiāo Lán dengan nada suara yang terdengar lembut namun penuh makna tersirat, terdengar jelas oleh semua orang yang ada di ruangan itu. “Dikatakan, ada seseorang yang berani berjalan keluar kamar di tengah malam, pergi ke tempat tersembunyi, dan bertemu dengan Kaisar secara berdua saja. Sungguh pemandangan yang sangat... memalukan, bukan? Di mana letak kesopanan dan tata krama yang diajarkan kepada kita semua?”

Beberapa wanita di sekitar langsung berbisik-bisik, saling melirik dan menatap ke arah Liān Huā dengan pandangan merendahkan dan penuh kecurigaan. “Benar sekali... bagaimana bisa seorang putri pejabat biasa berbuat sewenang-wenang seperti itu? Ini pasti akan membawa aib bagi seluruh keluarga,” gumam salah satu dari mereka dengan suara cukup keras.

Liān Huā berdiri tegak, wajahnya tenang tanpa menunjukkan rasa takut atau malu. Dia tahu betul bahwa jika dia tampak goyah sedikit saja, mereka akan semakin berani menindasnya. Dia melangkah maju perlahan, menatap lurus ke arah Xiāo Lán.

“Putri Xiāo Lán, kata-kata yang Anda ucapkan itu sangat berat. Dan aneh sekali, sepertinya Anda memiliki mata yang bisa melihat apa yang terjadi di tempat paling sunyi sekalipun, bahkan di jam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat. Bukankah itu berarti Anda terlalu banyak meluangkan waktu untuk mengawasi orang lain, alih-alih menjaga tingkah laku diri sendiri?” jawabnya dengan suara lembut namun tegas, jelas terdengar oleh semua orang.

“Selain itu,” lanjutnya lagi, “Jika pertemuan itu salah, maka Yang Mulia Kaisar pun ikut salah. Dan jika Anda menuduh saya melanggar aturan, berarti Anda juga menuduh Yang Mulia melakukan hal yang sama. Apakah Anda berani menuduh penguasa sendiri tidak menjaga aturan dan kehormatan istana?”

Wajah Xiāo Lán berubah merah padam, lalu pucat pasi. Dia tidak menyangka gadis yang biasanya tenang dan pendiam ini bisa berbicara sejelas dan setegas itu. Dia hendak membalas dengan kata-kata tajam lainnya, namun tiba-tiba seorang pelayan datang bergegas, membungkuk hormat dan berbicara dengan suara gemetar.

“Putri... Nona Liān Huā... disampaikan pesan dari Paman Agung Zhāng. Beliau meminta Nona Liān Huā segera hadir di kediaman resmi beliau. Ada urusan penting yang berkaitan dengan kehormatan keluarga dan tata tertib istana.”

Hati Liān Huā berdebar kencang. Paman Agung Zhāng adalah orang paling berpengaruh di kalangan keluarga besar kekaisaran, orang yang kemarin berbicara dengan tegas mengenai pernikahan politik dan kepentingan negara. Dia adalah pendukung utama rencana pernikahan Xiāo Lán dan kaisar, dan pastinya dia tidak akan membiarkan keberadaannya mengganggu rencana besar itu.

Di sisi lain, di ruang kerja kaisar, Yuán Zhēn baru saja menerima laporan dari penasihat rahasianya. Wajahnya yang biasanya tenang langsung berubah gelap dan dingin.

“Mereka berani memanggilnya tanpa izin dariku? Dan di saat aku sedang sibuk mengurus urusan darurat di utara?” suara kaisar itu rendah, namun bergetar menahan kemarahan yang besar. “Paman Agung memang berkuasa, tapi dia lupa siapa yang memegang kekuasaan tertinggi di sini. Dia ingin menggunakan Liān Huā sebagai alat untuk menekan aku, memaksaku menyerah pada kehendak mereka.”

Penasihat itu menundukkan kepala, wajahnya cemas. “Yang Mulia, mereka pasti sudah menyiapkan segala tuduhan. Mereka akan menuduh Nona Liān Huā merusak nama baik istana, mempengaruhi Yang Mulia secara tidak wajar, dan menjadi penghalang urusan negara. Jika hal ini berlanjut, mereka bisa saja meminta hukuman berat, bahkan mengancam keselamatan keluarga ayahnya.”

Yuán Zhēn berdiri perlahan, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan. “Mereka salah mengira satu hal penting. Mereka pikir aku akan menyerah hanya karena mereka menekan aku lewat dia. Mereka tidak tahu, bahwa justru karena dia ada, aku tidak akan pernah mundur selangkah pun. Dan mereka juga tidak tahu... bahwa menyakiti orang yang aku cintai sama saja dengan mengancam kekuasaanku sendiri.”

Dia berjalan cepat menuju pintu, lalu berhenti sejenak, menoleh kembali ke penasihatnya. “Siapkan pengawal setia. Ikuti aku ke kediaman Paman Agung. Aku akan datang sendiri. Aku akan pastikan tidak ada satu orang pun yang berani menyentuh sehelai rambut pun dari kepalanya. Dan hari ini juga, aku akan membuat mereka semua paham — siapa yang sebenarnya berkuasa di sini, dan apa yang benar-benar aku perjuangkan.”

Sementara itu, di kediaman Paman Agung Zhāng, suasana terasa dingin dan kaku. Liān Huā duduk di kursi kayu keras di tengah ruangan besar, dikelilingi oleh puluhan pasang mata yang menatapnya dengan pandangan tidak menyukai. Di hadapannya duduk Paman Agung Zhāng, wajahnya berkerut serius, penuh wibawa tua yang mengintimidasi.

“Anak muda,” suaranya berat dan dalam, bergema di seluruh ruangan, “Kamu berasal dari keluarga baik-baik. Ayahmu adalah pejabat yang setia dan jujur. Tapi kamu sendiri... kamu masuk ke istana ini, lalu berani memikat hati Kaisar, mengganggu urusan negara, dan menabrak segala aturan yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Apakah kamu tahu apa akibatnya?”

Liān Huā duduk tegak, tangannya saling genggam erat di bawah meja, menahan rasa cemas agar tidak terlihat. Dia mengangkat wajah perlahan, menatap mata tua itu dengan berani.

“Yang Mulia Paman Agung, hamba tidak pernah berusaha memikat atau mengganggu siapa pun. Hamba hanya hidup dan berbicara dengan jujur. Jika kehadiran hamba dianggap mengganggu, berarti ada yang salah dengan pandangan orang-orang di sekitar. Dan jika cinta dan kepercayaan yang tulus dianggap sebagai pelanggaran aturan, maka hamba berani bertanya — aturan apa yang sebenarnya dijaga di sini? Aturan untuk keadilan, atau aturan untuk kepentingan segelintir orang saja?”

Paman Agung Zhāng terkejut sejenak, matanya membelalak karena tidak menyangka gadis muda ini berani berbicara begitu. Namun sebelum dia sempat membalas, suara langkah kaki cepat dan berat terdengar dari luar pintu, lalu pintu itu terbuka lebar dengan kasar.

Di ambang pintu, berdiri Yuán Zhēn. Jubah kerajaannya masih terpasang rapi, namun wajahnya dingin seperti es yang tak mencair, matanya menyala tajam menatap semua orang yang ada di ruangan itu. Kehadirannya seketika membuat seluruh ruangan terasa tertekan, seolah udara saja berhenti bergerak.

“Siapa yang berani mengadili orang yang aku lindungi?” suara kaisar itu terdengar tenang, namun setiap kata memancarkan kekuasaan mutlak yang membuat siapa pun yang mendengarnya menahan napas ketakutan.

Di balik tatapan tajam dan kemarahan itu, di dalam hatinya, Yuán Zhēn hanya merasa lega karena dia datang tepat waktu. Dan dia tahu, mulai saat ini, perang sesungguhnya baru saja dimulai — antara kehendak hatinya dan kehendak mereka yang mengira kekuasaan bisa membeli segalanya. Dan dia sudah bertekad bulat: apa pun yang terjadi, dia tidak akan membiarkan siapa pun merusak apa yang sudah mereka bangun dengan susah payah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!