NovelToon NovelToon
Kurebut Pacarmu

Kurebut Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.

​Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.

​Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Pembalasan Terakhir

Kepulan asap hitam membumbung tinggi dari arah gerbang utama SMA Garuda. Menyapu langit sore yang kian menghitam oleh rintik hujan. Lengkingan sirine mobil polisi dan teriakan histeris dari para murid yang tertahan di gedung utama, membuat suasana sekolah mendadak mencekam.

Cassandra masih berdiri membeku di ambang pintu laboratorium komputer lantai tiga. Tangannya cemas menggenggam erat kunci perak di jemarinya. Sementara tatapannya, terpaku pada kobaran api kecil yang membakar salah satu bangkai kendaraan di depan gerbang.

Narendra langsung menarik lengan Cassandra pelan. Membawanya mundur menjauhi jendela kaca. Raut wajah cowok itu berubah drastis. Ketenangan dingin yang sebelumnya menyelimutinya, kini berganti menjadi kewaspadaan tingkat tinggi.

"Bokap gue udah enggak punya apa-apa lagi buat dipertahankan," bisik Narendra dengan suara berat dan napas memburu. "Waktu seorang pemanipulasi kehilangan seluruh kendalinya, dia bakal bertindak nekat."

"Ren... dia bawa senjata api?" suara Cassandra bergetar hebat.

Rasa benci pada Baskoro yang selama ini membakar dadanya kini berbaur dengan ketakutan nyata akan keselamatan mereka berdua.

Narendra mengangguk pelan. Jemarinya meremas bahu Cassandra untuk menenangkan cewek itu. "Dia datang buat cari gue dan lu, Cas. Buat dia, penangkapan subuh tadi adalah kehancuran total yang disebabkan oleh peretasan gue dan dokumen masa lalu dari lu."

Tiba-tiba, suara pengeras suara dari speaker darurat sekolah yang terpasang di sudut lorong berbunyi nyaring. Mengeluarkan suara parau yang amat dikenal oleh Cassandra dan Narendra.

"Narendra! Cassandra!" suara Baskoro terdengar menggema ke seluruh penjuru kompleks SMA Garuda, dipenuhi amarah dan keputusasaan yang gila.

"Keluar kalian berdua! Jangan sembunyi di balik gedung sekolah ini!"

Suara itu disusul oleh letusan senjata api yang mengudara.

DOR!

Jeritan ketakutan murid-murid di lantai bawah kembali terdengar memecah udara sore.

"Kalian berdua udah hancurin hidup saya!" lanjut Baskoro melalui pengeras suara. "Saya kasih waktu lima menit buat kalian berdua turun ke pelataran! Kalau sampai batas waktu selesai kalian enggak muncul, tangki bensin bus sekolah di pelataran ini bakal saya ledakkan!"

Cassandra menatap Narendra dengan mata membelalak. "Dia udah gila, Ren! Di bawah masih banyak murid yang terjebak di aula!"

Narendra memejamkan matanya sejenak, mengolah ribuan skenario di dalam kepalanya dengan cepat. Sebagai seorang peretas dan penyusun strategi, ia selalu memperhitungkan setiap kemungkinan. Tetapi, aksi nekat ayahnya di dunia nyata adalah variabel liar yang berada di luar kendali kodenya.

"Gue harus turun," tegas Narendra seraya melepaskan pegangannya dari bahu Cassandra. "Ini urusan gue sama bokap. Gue yang bongkar semua aset ilegal dia, jadi gue yang harus temui dia."

"Enggak, Ren! Jangan gila!" jerit Cassandra seraya menarik jaket Narendra kencang. "Dia bawa senjata! Lu turun ke sana sama aja bunuh diri!"

Narendra menatap mata Cassandra yang basah oleh air mata. Sorot mata cowok itu kembali melunak. Memancarkan rasa bersalah sekaligus ketulusan yang sama persis seperti malam di bawah hujan.

"Gue yang narik lu ke dalam permainan berbahaya ini dari awal, Cas," kata Narendra pelan. Jemarinya mengusap pipi Cassandra yang dingin. "Gue sengaja manfaatin dendam lu buat jatuhin bokap gue. Tapi gue enggak akan pernah biarin lu jadi korban akhir dari kekacauan yang gue ciptakan."

"Gue enggak peduli soal rasa dimanfaatin itu lagi, Narendra!" tangis Cassandra pecah di tengah keremangan laboratorium. "Gue tetap di sini bukan karena gue kejebak, tapi karena gue enggak mau kehilangan lu!"

Narendra tersenyum tipis. Sebuah senyuman tulus yang amat langka. Bebas dari topeng maupun manipulasi sosial.

"Kalau gitu, dengerin instruksi gue sekarang," bisik Narendra cepat.

Ia merogoh saku dalam jaketnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk enkripsi berwarna perak. "Pintu server utama sekolah ada di belakang rak laboratorium ini. Lu masuk ke sana, hubungkan flashdisk ini ke konsol sistem, dan matikan seluruh jaringan listrik di gedung utama waktu gue aba-abakan dari bawah."

Cassandra menerima flashdisk itu dengan tangan gemetar. "Lu mau manfaatin kegelapan buat melumpuhkan dia?"

"Kegelapan adalah satu-satunya celah buat tim SWAT polisi masuk tanpa terlihat dari gerbang," jawab Narendra mantap. "Begitu lampu mati, lu lari lewat pintu evakuasi belakang gedung. Janji sama gue, Cas?"

Cassandra menatap flashdisk di tangannya, lalu menatap lurus ke dalam mata Narendra. Ia tahu ini bukan saatnya untuk meratapi dikhianati atau meragukan perasaan mereka. Di titik ini, mereka berdua adalah dua pemain catur yang harus mengeksekusi langkah terakhir untuk bertahan hidup.

"Gue janji," bisik Cassandra penuh kepastian. "Tapi lu harus janji buat kembali ke ruangan ini hidup-hidup."

Narendra mengangguk pelan. Tanpa mengulur waktu lagi, ia berbalik dan melangkah keluar dari laboratorium komputer. Menuruni tangga menuju pelataran yang dipenuhi asap dan ancaman maut.

Cassandra segera berlari menuju bagian belakang laboratorium, menggeser rak besi tua yang menutupi pintu jaringan server sekolah. Jemarinya yang dingin memasukkan flashdisk ke dalam port utama konsol. Layar monitor server langsung menyala, menampilkan perintah otorisasi penutupan arus listrik utama.

Di layar kecil ponselnya, Cassandra memantau kamera pengawas area gerbang utama yang berhasil diretas oleh sistem flashdisk milik Narendra.

Di pelataran bawah yang basah oleh hujan, terlihat sosok Narendra melangkah keluar dari gedung utama sendirian. Cowok itu berjalan tenang di bawah siraman air hujan, menghampiri Baskoro yang berdiri histeris di dekat bus sekolah dengan pistol mengarah tepat ke dada anaknya sendiri.

"Bagus, akhirnya kamu keluar, anak tidak tahu diri!" teriak Baskoro dengan raut wajah mengerikan di layar ponsel Cassandra.

Cassandra menahan napasnya. Menempelkan jemarinya pada tombol Enter di keyboard server. Untuk mematikan seluruh listrik gedung sekolah.

Di bawah sana, Narendra mengangkat kedua tangannya ke atas, menatap ayahnya tanpa rasa takut sedikit pun.

"Papan catur lu udah hancur, Pak Baskoro," kata Narendra, suaranya terdengar jernih melalui mikrofon peretasan ponsel Cassandra.

"Permainan lu selesai."

Baskoro tertawa gila, lalu menarik pelatuk pistolnya seraya berteriak, "Kalau saya hancur, kamu juga harus hancur bersama saya!"

Tepat di detik jari Baskoro menekan pelatuk pistol, Cassandra menekan tombol Enter sekuat tenaga.

ZAP!

Seluruh lampu di kompleks SMA Garuda padam seketika. Ruangan laboratorium, pelataran, dan seluruh area sekolah tenggelam dalam kegelapan total.

Bersamaan dengan matinya lampu, suara letusan senjata api yang memekakkan telinga bergema keras dari pelataran bawah.

DOR!

Cassandra menjerit pelan di dalam kegelapan laboratorium, memegang dadanya yang mendadak terasa begitu hampa dan sesak.

1
Ros Mawa Tyy
👍👍👍
gadis bucin: terima kasih 🤗🙏🏻
total 1 replies
gadis bucin
Teman-teman, silakan mampir dan baca karyaku. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!