NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 16, BAYANGAN DI GURUN SOLIS

Perjalanan dari Thalyn ke Kerajaan Solis adalah perjalanan yang berat dan melelahkan. Mereka menyeberangi pegunungan yang tertutup salju, melewati lembah-lembah yang berangin kencang, dan akhirnya turun ke dataran yang semakin kering, semakin panas, hingga tanah berubah menjadi pasir kuning yang tak berujung.

Kerajaan Solis adalah negeri matahari abadi—gurun pasir yang luasnya tak terukur, di mana siang hari panasnya membakar kulit dan malam dinginnya membekukan tulang. Penduduk Solis dikenal sebagai bangsa yang paling tangguh di benua ini, prajurit mereka dikatakan tidak pernah kalah dalam pertempuran terbuka, dan kesetiaan mereka kepada penguasa mereka, Raja Horus, adalah legenda.

"Di Solis, kekuatan adalah segalanya," kata Arvin saat mereka berjalan di atas pasir yang panas. "Mereka tidak peduli pada kata-kata manis atau janji yang indah. Mereka menghormati kekuatan dan keberanian. Jika kita ingin memenangkan mereka, kita harus menunjukkan bahwa kita bukan orang yang lemah."

"Dan kita juga harus menghormati cara hidup mereka," tambah Elara. "Orang Solis sangat menghargai tamu. Selama kita tidak menantang adat mereka, kita aman. Tapi jika kita melanggarnya... tidak ada belas kasihan yang akan diberikan."

Mereka tiba di kota utama Solis, sebuah kota yang dibangun di sekitar oasis besar, dengan tembok bata merah yang tebal dan rumah-rumah yang dirancang untuk menahan panas. Penduduknya berkulit gelap, bertubuh tegap, dan mengenakan pakaian tipis namun berwarna-warni yang melambangkan matahari dan kebebasan.

Namun suasana di kota itu tidak seperti yang mereka bayangkan. Di mana-mana ada pasukan Veyra yang berpatroli, berbicara dengan kasar, dan memberikan perintah seolah-olah mereka adalah tuan di tanah itu. Warga Solis menunduk melewati mereka, wajah mereka penuh kemarahan yang tertahan.

"Ini tidak benar," gumam Kael marah. "Mengapa mereka membiarkan Veyra bertindak seperti itu di tanah mereka sendiri?"

"Karena Raja Horus terpaksa menandatangani perjanjian persekutuan dengan Vereon," bisik Elara setelah bertanya kepada seorang pedagang tua. "Vereon mengancam akan mengeringkan sumber air utama jika mereka menolak. Bukan karena mereka lemah, tapi karena mereka tidak punya pilihan. Tanpa air, seluruh kerajaan akan mati."

Zhoo mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Vereon tidak menaklukkan mereka dengan pedang—dia menaklukkan mereka dengan rasa takut akan kematian. Dan itu bukan kemenangan. Itu adalah pengecutan."

Mereka menuju istana Raja Horus, sebuah bangunan megah yang terbuat dari batu pasir berwarna keemasan, dengan menara-menara yang menjulang ke langit. Di depan gerbang istana, dua baris pengawal Solis berdiri tegak, namun di samping mereka juga berdiri prajurit Veyra yang memegang pedang dengan sombong.

"Berhenti! Siapa yang berani mendekati istana Raja!" bentak prajurit Veyra itu kasar.

"Aku Zhoo," jawab Zhoo tenang namun tegas. "Dan aku datang untuk berbicara dengan Raja Horus."

"Raja tidak punya waktu untuk orang miskin sepertimu! Pergi sebelum aku memenggal kepalamu!" Prajurit itu maju, hendak mendorong Zhoo mundur.

Namun tangannya baru saja menyentuh bahu Zhoo ketika ia merasakan sesuatu yang membuatnya berhenti. Zhoo tidak mundur sedetik pun. Matanya menatap prajurit itu dengan tatapan yang begitu tenang namun begitu kuat, seolah berkata: Kau bisa membunuhku, tapi kau tidak bisa membuatku takut.

Pengawal Solis yang berdiri di samping mereka memperhatikan adegan itu dengan tatapan berubah. Salah satu dari mereka melangkah maju dan berkata kepada prajurit Veyra itu:

"Raja Horus menghormati setiap orang yang datang dengan niat baik. Biarkan mereka masuk. Jika kau melarang tamu masuk ke istana Raja, kau yang akan dihukum, bukan mereka."

Prajurit Veyra itu mendengus kesal, namun ia tidak berani menentang pengawal itu di depan orang banyak. "Masuklah kalau kau mau. Tapi jangan berharap Raja akan mendengarkan omong kosongmu."

Di dalam aula istana, udaranya sejuk dan wangi dengan aroma rempah-rempah dan bunga gurun. Di atas takhta emas yang besar, duduk Raja Horus—pria yang tampan dan berwibawa, dengan janggut hitam yang rapi dan mata yang tajam seperti elang. Namun ada bayangan kesedihan dan kepahitan di matanya. Di sebelahnya berdiri seorang perwira Veyra yang memandang ke sekeliling dengan tatapan pemilik.

"Jadi kau adalah pemuda yang membuat seluruh benua membicarakan namamu," kata Raja Horus, suaranya datar tanpa emosi. "Kau datang untuk memohon perlindungan? Atau untuk menawarkan perlawanan yang sia-sia?"

"Aku datang untuk menawarkan kebebasan, Yang Mulia," jawab Zhoo lantang. "Aku tahu perjanjian yang kau buat dengan Vereon. Aku tahu kau tidak melakukannya karena kau lemah, tapi karena kau ingin melindungi rakyatmu. Tapi katakan padaku—sampai kapan kau bisa melindungi mereka jika kau menjadi budak atas perintah orang lain? Hari ini ia meminta air, besok ia meminta prajurit, dan akhirnya ia akan meminta nyawa mereka!"

Perwira Veyra itu melangkah maju dengan marah. "Berani-beraninya kau menfitnah Raja Vereon! Pengawal! Tangkap orang ini!"

Namun Raja Horus mengangkat tangannya. "Tunggu. Biarkan ia bicara. Aku ingin mendengar apa yang ia tawarkan sebagai gantinya."

"Persekutuan yang sejati," jawab Zhoo. "Bukan perbudakan yang menyamar sebagai persahabatan. Jika kita bersatu—Oakhaven, Thalyn, Solis, dan kerajaan-kerajaan lain—kita tidak perlu takut pada siapa pun. Kita bisa melindungi air kita, tanah kita, dan rakyat kita. Kita bisa menjadi tuan atas diri kita sendiri."

"Kata-kata yang indah," kata Raja Horus sedih. "Tapi Vereon menguasai sumber air utama kami. Jika ia menutupnya, dalam tiga hari setengah dari rakyatku akan mati. Apa yang bisa kau lakukan terhadap itu?"

Zhoo tersenyum tipis. "Itulah yang akan aku bicarakan denganmu secara pribadi, Yang Mulia. Jika kau bersedia memberi kami waktu berbicara tanpa didengarkan oleh orang asing."

Perwira Veyra itu hendak membantah, namun Raja Horus menatapnya dengan dingin. "Ini istanaku. Dan aku yang memutuskan siapa yang boleh mendengar pembicaraanku. Keluar."

Setelah perwira itu pergi dengan wajah merah padam karena marah, Zhoo melanjutkan:

"Yang Mulia, di gurun ini ada sumber air lain—sumber yang diketahui oleh orang-orang yang hidup jauh di dalam pasir, jauh dari jangkauan pasukan Veyra. Aku mendengar kabar tentangnya saat kami berjalan menuju kota ini. Jika kita bisa membukanya dan melindunginya, Vereon tidak akan lagi bisa mengancammu dengan air."

Mata Raja Horus melebar. "Itu... itu adalah legenda kuno. Tidak ada yang tahu di mana letaknya."

"Orang-orang yang tinggal di pinggiran gurun tahu," jawab Zhoo yakin. "Mereka tidak pernah memberitahukannya kepada siapa pun karena mereka takut air itu akan dirampas. Tapi jika kau datang kepada mereka bukan sebagai penguasa yang menuntut, tapi sebagai pemimpin yang memohon demi rakyatnya... aku yakin mereka akan membantu."

Raja Horus berdiri perlahan, napasnya tercekat. Selama bertahun-tahun ia merasa terjebak, tidak punya jalan keluar. Dan sekarang, di hadapannya berdiri seorang pemuda yang bahkan tidak ia kenal, menawarkan harapan yang ia kira sudah hilang selamanya.

"Jika itu benar..." suaranya bergetar, "maka kau tidak hanya menyelamatkan takhtaku, Zhoo. Kau menyelamatkan seluruh bangsaku. Tapi jika itu bohong... aku sendiri yang akan memenggal kepalamu."

"Jika itu bohong, aku tidak akan menolak kematianku," jawab Zhoo tenang. "Tapi izinkan aku membuktikannya. Berikan aku tiga hari. Izinkan aku pergi ke desa-desa di pinggiran gurun dan mencari sumber itu bersama orang-orang yang percaya padaku."

Raja Horus menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Tiga hari. Dan jika kau berhasil... maka Solis akan berdiri di sisimu, dengan seluruh kekuatan yang kami miliki. Dan tidak ada lagi yang akan membuat kami tunduk pada Vereon."

Mereka berangkat sebelum matahari terbit, menuju kedalaman gurun yang jarang dikunjungi orang. Bersama mereka pergi putri sulung Raja Horus, Naira—seorang wanita yang tangguh dan penuh semangat, yang selama ini tidak tahan melihat ayahnya tunduk pada Veyra. Ia menjadi penunjuk jalan sekaligus saksi atas janji itu.

Perjalanan ke dalam gurun itu adalah ujian berat. Panas matahari membakar kulit, pasir masuk ke mata dan mulut, dan air yang mereka bawa semakin menipis. Namun Zhoo tidak pernah mengeluh. Ia berjalan di samping teman-temannya, berbagi air dengan mereka, dan selalu mengucapkan kata-kata penyemangat saat rasa lelah mulai menguasai.

"Kau benar-benar yakin dengan apa yang kau cari?" tanya Naira di hari kedua, saat mereka beristirahat di bawah bayangan bukit pasir.

"Aku yakin bahwa jika ada orang yang bisa hidup di sini selama ratusan tahun tanpa bergantung pada siapa pun, mereka pasti tahu cara mendapatkan air," jawab Zhoo sambil membasahi bibirnya dengan setetes air terakhir dari kantongnya. "Kita hanya perlu bertanya dengan cara yang benar."

Pada hari ketiga, tepat saat matahari mulai turun, mereka menemukan desa itu—sekelompok rumah-rumah rendah yang tersembunyi di antara bebatuan besar, di tempat yang seolah tidak mungkin dijangkau. Penduduk desa itu keluar dengan waspada, membawa tombak dan berbicara dalam bahasa kuno yang hanya sedikit orang yang mengerti.

Naira maju ke depan, berbicara dengan lembut dan penuh hormat, menjelaskan siapa mereka dan apa tujuan mereka. Awalnya penduduk itu ragu, namun saat Zhoo melangkah maju dan berkata:

"Kami tidak datang untuk mengambil air kalian. Kami datang untuk meminta izin agar kami bisa belajar dari kalian—bagaimana cara hidup selaras dengan gurun ini, bagaimana cara menemukan kehidupan di tempat yang tampaknya mati. Dan jika kalian bersedia berbagi pengetahuan itu, kami berjanji—kami akan melindungi kalian dari siapa pun yang ingin merampas air atau kebebasan kalian."

Kepala desa itu, seorang pria tua dengan mata yang tajam namun penuh kelembutan, menatap Zhoo lama. Lalu ia tersenyum.

"Kata-katamu berbeda dari orang-orang yang biasanya datang ke sini. Mereka datang dengan pedang di tangan dan tuntutan di mulut. Kau datang dengan tangan kosong dan rasa hormat di matamu. Ikutlah."

Ia membawa mereka ke sebuah gua tersembunyi di balik bebatuan, dan di sana—terdapat danau air tawar yang jernih dan sejuk, cukup untuk menyediakan air bagi seluruh kerajaan selama bertahun-tahun. Cahaya matahari terbenam masuk melalui celah batu, memantul di permukaan air yang berkilauan seperti permata.

"Ini adalah air kehidupan," kata kepala desa itu. "Selama gua ini tetap terjaga, rakyat Solis tidak akan pernah mati kehausan."

Saat mereka kembali ke istana, Raja Horus menatap danau air itu dengan mata berkaca-kaca. Ia berlutut di tepinya, mengambil air dengan tangan gemetar, lalu meminumnya perlahan seolah itu adalah cahaya itu sendiri. Lalu ia berdiri, menatap Zhoo dengan penuh rasa hormat yang mendalam.

"Kau telah membebaskan kami dari rantai yang tidak bisa kami putuskan sendiri. Mulai hari ini, Solis berdiri bersama Zhoo, anak yang membawa harapan ke tanah yang kering. Dan kami akan berjuang bersamamu sampai tetes darah terakhir!"

Sorak-sorai meledak dari rakyat Solis yang ikut menyaksikan momen itu. Nama Zhoo kini tidak lagi hanya nama seseorang—ia menjadi simbol harapan bagi semua orang yang pernah merasa tertindas, pernah merasa terjebak, dan pernah berpikir bahwa tidak ada jalan keluar.

Namun di tengah kegembiraan itu, Arvin menarik lengan Zhoo ke samping, wajahnya serius.

"Kita telah memenangkan dua kerajaan, Zhoo, dan itu luar biasa. Tapi semakin banyak orang yang berdiri di sisimu, semakin banyak pula musuh yang akan datang. Vereon tidak akan diam saja. Ia akan melihat ini sebagai pemberontakan terbuka... dan ia akan menyerang dengan segala kekuatan yang dimilikinya."

"Aku tahu," jawab Zhoo pelan namun tegas. "Dan itulah sebabnya kita harus terus bergerak. Kita harus menyatukan Lirael dan Morgh sebelum musim dingin tiba. Karena semakin kuat persekutuan kita, semakin sulit baginya untuk menghancurkan kita."

Elara menatapnya dengan tatapan penuh kekhawatiran namun juga penuh keyakinan. "Kau benar-benar percaya kita bisa menyatukan seluruh benua ini, bukan?"

"Aku percaya pada orang-orang yang berdiri di sisiku," jawab Zhoo sambil menatap teman-temannya, dan rakyat Solis yang kini bersorak menyebut namanya. "Dan selama kita tetap bersama... tidak ada yang mustahil."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!