Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Mata-Mata di Rumah Sendiri
Anin tidak tidur nyenyak sejak Ratri jatuh pingsan.
Setiap kali memejamkan mata, ia melihat lagi darah di rambut kakak tirinya. Lalu teringat kalimat yang ia ucapkan di kantor.
Tapi kau masih hidup.
Seolah itu cukup untuk menghapus obat dalam gelas, pukulan di kepala, dan kartu akses yang ia berikan kepada Bimo.
Malam menjelang rapat pemegang saham, Anin duduk di ruang makan keluarga dengan nasi yang tidak tersentuh. Ratri berada di ujung meja, membaca dokumen sambil sesekali meminum ramuan hangat. Baskara duduk di sampingnya, terlalu dekat untuk disebut kebetulan.
"Besok tim ahli tanda tangan datang pukul sembilan?" tanya Wira.
Ratri tidak mengangkat kepala. "Tidak jadi. Laporannya belum selesai."
Jari Anin berhenti di atas sendok.
"Bagaimana dengan data notaris?"
"Masih di kantor. Salinan satu-satunya ada di brankas ruang saya."
"Berarti besok kita datang tanpa bukti lengkap?"
"Saya akan menunda rapat kalau perlu."
Baskara melirik Ratri. Ia tahu semua pernyataan itu bohong. Laporan ahli sudah tiba siang tadi. Data notaris tersimpan di tiga tempat, dan Ratri justru meminta rapat berjalan tepat waktu.
Anin tidak tahu.
Ratri membalik halaman. "Anin, kau belum makan."
"Tidak lapar."
"Kau sakit?"
"Cuma capek."
"Kalau begitu tidur lebih cepat. Besok mungkin panjang."
Tidak ada tuduhan dalam suara Ratri. Itu justru membuat dada Anin semakin sesak.
Ia bangkit, membawa piring ke dapur, lalu masuk ke kamar tanpa menatap siapa pun.
Yuliana menelepon begitu Anin menutup pintu.
"Besok jangan membuat Mama malu," katanya tanpa salam. "Bu Suryani sudah mengatur semuanya. Kamu tinggal mengatakan tanda tangannya asli."
"Kalau polisi memeriksaku?"
"Bimo akan melindungimu setelah menikah."
"Dia hampir memperkosa Mbak Ratri."
"Jangan memakai kata-kata kasar. Bimo cuma khilaf karena mabuk. Kakakmu juga bukan perempuan suci seperti yang kamu bayangkan."
Anin menekan pelipis. "Mama menerima uang dari mereka?"
Keheningan di seberang berlangsung terlalu lama.
"Mama hanya meminjam untuk membayar beberapa tagihan. Setelah Bimo memegang firma, semuanya kembali. Lagi pula Ratri tidak akan hidup lama. Kita harus memikirkan diri sendiri."
Kalimat itu sama persis dengan ucapan yang pernah keluar dari mulut Anin di kantor.
Untuk pertama kalinya, ia mendengar betapa kejam bunyinya ketika diucapkan orang lain.
"Kalau Mbak Ratri mati, apa Mama sedih?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja. Tapi orang mati tidak membutuhkan saham."
Anin memutus panggilan sebelum ibunya selesai bicara.
Rasa mual naik ke tenggorokan. Ia membuka jendela untuk mencari udara, tetapi kebun di bawah justru gelap dan terasa menunggu sesuatu.
Teleponnya kembali bergetar.
Bimo: Keluar lewat pintu samping. Sekarang.
Anin menghapus notifikasi, tetapi lima menit kemudian kerikil kecil menghantam jendelanya.
Bimo berdiri di taman gelap memakai jaket bertudung. Lebam di wajahnya mulai menguning, satu tangan masih dibalut, dan kebencian membuatnya tampak lebih buruk daripada luka-lukanya.
Anin turun melalui tangga belakang.
"Kau gila datang ke sini," bisiknya. "Mbak Ratri melarang aku menemuimu."
"Sejak kapan kau takut sama dia?"
"Sejak kau hampir membunuhnya."
Bimo mendekat. "Jaga mulutmu. Aku datang karena besok kau harus bicara sesuai rencana."
"Rencana kalian sudah gagal. Dokumennya palsu."
"Tidak kalau kau bersaksi Ratri menandatanganinya di depanmu."
"Itu sumpah palsu."
"Kau baru sadar kita melanggar hukum?"
Anin memeluk tubuh sendiri. Udara malam tidak dingin, tetapi kulitnya meremang.
"Aku tidak mau."
Bimo tertawa pendek. "Terlambat. Mama sudah membayar pemegang saham. Bu Yuliana juga sudah menerima bagiannya. Setelah aku memegang perusahaan, kau dapat saham dan kita menikah setelah tahun baru."
"Kau masih bicara tentang menikah setelah masuk ke kamar kakakku?"
"Itu tidak ada hubungannya dengan kita. Ratri yang memancing."
"Aku melihat rekamannya."
Wajah Bimo mengeras. "Jadi sekarang kau percaya dia?"
Anin tidak menjawab.
"Apa yang mereka siapkan?" desak Bimo.
"Tidak banyak. Laporan ahli belum selesai. Data notaris cuma satu salinan di brankas kantor. Mbak Ratri mungkin menunda rapat."
Bimo tersenyum. "Bagus. Berikan kode brankasnya."
"Aku tidak tahu."
"Cari tahu."
"Tidak bisa."
Bimo mencengkeram pergelangan tangannya. "Jangan mulai berlagak suci. Kau yang mengambil capnya. Kau yang memberi kartu akses. Tanpa kau, semua ini tidak mungkin berjalan."
"Lepaskan."
"Besok kau naik ke depan, pegang mikrofon, lalu bilang tanda tangan itu asli. Hanya itu."
"Kalau aku menolak?"
Senyum Bimo menghilang. "Aku kirim rekaman lama itu ke universitas, ke semua temanmu, dan ke akun gosip. Kau tahu persis apa yang akan terjadi kalau semua orang melihatnya."
Anin membeku.
"Kau bilang sudah menghapusnya."
"Aku juga bilang akan menikahimu. Semua tergantung apakah kau berguna atau tidak."
Bimo melepaskan tangannya dan pergi melalui jalur taman.
Anin kembali ke kamar dengan langkah lemas. Ia duduk di lantai, bersandar pada pintu, lalu menatap percakapan mereka di layar ponsel.
Pesan terakhir masuk.
Besok bantu aku, atau hidupmu selesai.
Jemarinya bergetar hebat.
Ia bisa memperingatkan Ratri. Ia juga bisa mengikuti rencana Bimo dan berharap semua selesai setelah rapat. Kedua pilihan tampak seperti jurang.
Selama ini Yuliana selalu mengatakan Ratri tidak pernah benar-benar menganggap mereka keluarga. Namun, Anin mengingat banyak hal yang bertentangan dengan ucapan ibunya.
Ratri yang membayar uang kuliah tanpa pernah mengungkitnya.
Ratri yang berdiri di depan Hendra saat kesalahan Anin hampir membuatnya diusir dari rumah.
Ratri yang malam ini masih bertanya apakah ia sakit, bahkan setelah tahu kartu akses berasal darinya.
Anin menutup wajah.
Ia tidak mendengar langkah di koridor.
Di luar kamar, Ratri berdiri beberapa meter dari pintu. Cahaya masih menyala dari celah bawah, dan bayangan kaki Anin tidak bergerak sejak setengah jam lalu.
Wira datang dari tangga belakang. "Bimo sudah keluar dari gerbang samping. Rekaman taman dan suara percakapan tersimpan."
"Dia mengancam Anin?"
"Ya. Mau saya bawa Bimo kembali?"
Ratri menatap pintu kamar.
Di balik pintu itu tidak terdengar tangis. Justru kesunyian itulah yang membuat dada Ratri terasa lebih berat. Ia tahu bagaimana rasanya dipaksa memilih ketika semua jalan keluar sengaja ditutup. Bedanya, dahulu tidak ada seorang pun yang berdiri di luar kamarnya untuk membuka jalan ketiga.
"Tidak. Biarkan Anin memilih sendiri besok."
"Kalau dia memilih Bimo?"
"Bukti kita tetap cukup."
"Lalu informasi palsu tentang brankas?"
Ratri berbalik menuju kamarnya. "Tambahkan satu kamera di ruang kerja. Kalau mereka datang mencuri malam ini, kita dapat satu bukti lagi."
Wira mengangguk.
Ratri berjalan pergi, lalu berhenti.
"Dan cari salinan rekaman lama yang dipakai Bimo untuk menekannya. Hapus dari tangan Bimo, bukan dari dunia. Anin harus tahu siapa yang benar-benar menjadikannya keluarga."