Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Kebakaran Menghanguskan Surat
Rasa sesak yang menghimpit perlahan-lahan mereda. Di tengah gulita yang pekat, kesadaran Alya ditarik ke dalam sebuah ruang hampa yang berpendar lembut. Di hadapannya, sesosok perempuan muda berdiri mematung—memiliki wajah yang persis sama dengannya, tetapi terbalut busana klasik Tiongkok kuno. Gadis itu berlari kencang menerobos kabut, menghambur ke pelukan seorang wanita paruh baya berwajah teduh.
"Ibu..." seru suara itu menggema memenuhi ruang bawah sadar.
Wanita yang dipanggil ibu menoleh lembut, lalu tatapannya beralih menembus sang anak, menatap tepat ke arah jiwa Alya yang asing.
"Hai, Yueli'er-ku," sapa wanita itu lirih.
Tanpa mampu ia cegah, air mata Alya merembes keluar dari sudut matanya yang terpejam. Sang ibu menggeleng pelan, memberi isyarat agar ia tidak mendekat. "Jangan ikut Ibu. Tetaplah di sana, dan selesaikan seluruh rasa sakitmu."
Alya mengernyitkan dahi, hatinya tercubit nyeri. "Ibu..."
"Jangan biarkan mereka menginjak-injak harga dirimu lagi, Yueli'er. Maafkan Ibu..."
Suara itu kian memudar seiring hantaman rasa sesak yang kembali menghantam dadanya dengan kejam. Rasa sakitnya menusuk hingga ke tulang, meremukkan sisa pertahanan jiwanya, sebelum akhirnya segala warna lebur menjadi hitam legam.
Kelopak mata Yueli perlahan terbuka. Cahaya pijar dari deretan lilin dan lentera kertas langsung menyilaukan retinanya yang masih basah. Aroma dupa wewangian yang menenangkan tercium samar, berpadu dengan bau jelaga yang tertinggal di udara.
"Yueli'er," panggil sebuah suara bariton yang serak.
Gadis itu menolehkan kepala dengan kaku. Di sisi ranjang tempatnya terbaring, Pei Chanqing duduk bersimpuh dalam diam. Wajah sang jenderal tampak kotor di sana-sini oleh noda hitam jelaga kebakaran, sementara beberapa bagian jubah perangnya tampak compang-camping dan sedikit tersulut api—bukti nyata betapa nekatnya pria itu menerobos maut demi menyelamatkannya malam ini.
"Syukurlah, Nona akhirnya sadar," ucap Bai Ting dengan suara bergetar, napasnya terdengar lega luar biasa.
"Kakak, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Xuer panik sambil melangkah mendekat, lalu langsung mendekap tubuh Yueli yang masih berbaring lemah di atas ranjang.
Kesadaran Yueli perlahan pulih sepenuhnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang kini tampak asing namun aman. "Bai Ting..." panggilnya lirih kepada pelayan setianya yang pipinya masih basah oleh air mata. "...Air," pintanya dengan suara parau.
Bai Ting buru-buru berlari mengambil teko di atas meja. Melihat kesulitan Yueli yang hendak bangkit, Pei Chanqing sigap mengulurkan tangan, membantu menegakkan posisi punggung gadis itu bersandar pada tumpukan bantal. Secangkir air hangat disodorkan ke bibirnya.
Yueli segera meneguknya perlahan, membasahi tenggorokannya yang terasa kering seperti terbakar hingga membuatnya sempat terbatuk kecil sebelum napasnya kembali teratur.
Seorang tabib istana bergegas mendekat, memeriksa denyut nadi dan kondisi tubuh Yueli sesaat setelah berpamitan dengan sang jenderal yang menunggu di ambang pintu. Suasana di dalam kamar mendadak terasa canggung dan berat.
"Kita harus keluar sekarang. Nona Yueli butuh banyak beristirahat total," titah tabib paruh baya itu kepada orang-orang di dalam ruangan.
"Kakak, cepatlah sembuh..." suara Xuer terdengar parau, air matanya meleleh membasahi pipi. Gadis itu memberikan pelukan terakhirnya yang erat sebelum akhirnya melangkah keluar dengan bahu bergetar.
Sementara itu, Pei Chanqing masih setia berdiri terpaku di sisi ranjang beberapa saat, menatap lekat wanita di hadapannya seolah ingin memastikan ia benar-benar bernapas. "Besok aku akan datang lagi," bisiknya datar sebelum berbalik menyusul yang lain.
Satu per satu orang meninggalkan ruangan hingga akhirnya Bai Ting merapatkan pintu geser kayu, lalu memadamkan sebagian besar lentera dan lilin, menyisakan pijar temaram yang menenangkan.
"Bai Ting," panggil Yueli dengan suara parau yang nyaris berbisik.
"Saya, Nona," sahut pelayan setianya cepat, melangkah mendekat dengan kepala tertunduk sedih.
"Apakah... tidak ada satu pun yang tersisa di kamarku?"
Bai Ting menggigit bibirnya, menahan Isak. "Semuanya hangus menjadi arang, Nona. Kita baru bisa melihat kerusakannya dengan jelas besok pagi."
Alis Yueli bertaut tipis. "Bagaimana sebenarnya kebakaran itu bisa terjadi?"
"Para penjaga bilang... api berasal dari lentera di sisi kiri yang tidak sengaja tersenggol dan jatuh."
Yueli terdiam sesaat, manik matanya menyipit dalam gelap. "Aneh."
Bai Ting mengangkat wajahnya, kebingungan. "Kenapa, Nona?"
"Api tidak akan merambat sebesar itu dan melalap seluruh pilar dalam waktu yang begitu singkat," gumam Yueli dingin, merasakan firasat buruk kembali mencengkeram dadanya.
Bai Ting membulatkan matanya, rasa ngeri tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya. "Maksud Nona... ada yang sengaja merencanakan kebakaran ini untuk mencelakai Anda?"
"Itu baru sebatas dugaan," jawab Yueli dengan suara datar namun penuh tekanan. "Terutama setelah apa yang kita lakukan hari ini—membongkar kebohongan dan menantang kredibilitas surat-surat Pangeran Mahkota. Musuh kita tidak akan tinggal diam."
Bai Ting terdiam sesaat, tenggorokannya terasa tercekat menyadari betapa berbahayanya situasi yang mereka hadapi di kediaman besar ini.
Tanpa menunggu balasan pelayannya, Yueli kembali membaringkan tubuhnya yang masih terasa lemas, memunggungi cahaya lentera dan menghadap ke arah dinding kamar yang gelap. "Sudahlah, malam sudah terlalu larut. Tidurlah, Bai Ting."
"Baik, Nona..." cicit Bai Ting patuh, lalu melangkah pelan memadamkan sisa cahaya terakhir di ruangan itu, membiarkan malam menyelimuti rahasia dan ancaman baru yang kini mengintai langkah mereka.
Dalam remang malam yang sunyi, jemari Yueli meraba bagian dalam lipatan hanfunya yang kaku dan berbau jelaga. Ia menarik keluar dua lembar kertas yang sedikit basah oleh keringat dan embun malam, namun keadaannya masih utuh.
Napasnya terhela dalam-dalam, menyisakan kelegaan yang luar biasa di balik dada yang masih terasa nyeri. Di tengah abu kehancuran kamarnya, bukti paling krusial untuk membuktikan dirinya tidak pernah mengirim surat cinta itu tanpa alasan tepat masih selamat tanpa tersentuh api
...----------------...
.
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu