NovelToon NovelToon
GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Isekai / Romansa Fantasi
Popularitas:441
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.

Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.

Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. VELLORA KECIL

Suara gemerisik dari layar televisi yang menampilkan kartun menjadi latar belakang kehangatan di ruang keluarga malam itu. Setelah acara makan malam yang penuh tawa usai, Vellora duduk bersila di atas karpet tebal bersama Bara. Dengan mata berbinar-binar dan tangan mungil yang sibuk memperagakan sesuatu di udara, gadis kecil itu menceritakan petualangan serunya melihat ikan di akuarium raksasa kepada Bara dan Liam yang mendengarkan dengan penuh perhatian.

Sementara itu, di sudut meja makan yang sedikit lebih redup, Leo masih duduk terdiam. Kepalanya bertumpu pada sebelah tangan, matanya menatap lekat ke arah tiga manusia di depannya. Ada sebersit rasa damai yang aneh perlahan menyusup dan mencairkan sudut hatinya yang selama ini beku.

Pandangan Leo sesaat tertuju pada Bara. Pemuda bertubuh besar itu adalah anak yang tidak sengaja ditemukan Liam beberapa tahun silam, memiliki kisah tragis yang sama persis dengan Vellora. Meskipun Liam adalah seorang mantan pembunuh bayaran yang ditakuti di dunia bawah tanah, pria tua itu memiliki prinsip yang pantang dilanggar; ia tidak pernah membantai keluarga tak bersalah dan hanya menghabisi target yang memang pantas dikirim ke neraka.

Nasib Bara sungguh malang. Keluarganya dibantai habis tanpa sisa oleh kelompok misterius yang hingga kini tak diketahui identitasnya. Usia Bara saat ini baru menginjak enam belas tahun—dua tahun lebih muda dari Leo. Pemuda kekar itu sebenarnya masih duduk di bangku kelas satu SMA yang tak jauh dari kediaman mereka. Namun, ia sering kali membolos demi membantu Leo menyelesaikan urusan 'misi' gelapnya. Demikian, Liam sangat menyayanginya, merawat dan mendidiknya selayaknya ia menyayangi cucu kandungnya sendiri.

Waktu terus merambat naik. Dongeng Vellora tentang ikan pari berhidung pesek perlahan memudar menjadi gumaman tidak jelas. Ketika Leo akhirnya bangkit dan berjalan mendekat, ia mendapati pemandangan yang membuat keningnya berkerut geli.

Vellora, Liam, dan Bara telah tertidur pulas dengan posisi berantakan ke sana kemari, persis seperti batu-batu yang berserakan setelah terkena gempa bumi. Bara tengkurap di atas lantai, sementara Vellora menyandarkan kepalanya dengan damai di atas paha Liam yang mendengkur halus dengan kepala menengadah ke atas sofa.

Dengan langkah tanpa suara bak seekor macan tutul, Leo mendekat. Ia membungkuk, lalu dengan sangat hati-hati mengangkat tubuh mungil Vellora ke dalam dekapannya.

"Heee... bocah... berani-beraninya kauuu, Leooo..."

Langkah Leo mendadak terhenti, jantungnya nyaris melompat keluar. Ia menoleh dengan tatapan mematikan ke arah kakeknya, bersiap berdebat. Namun, ternyata pria tua itu hanya sedang mengigau dengan mata tertutup rapat.

"Dasar kakek tua, membuatku jantungan saja," umpat Leo pelan, mendengus kesal meniup poninya.

Setelah memastikan Liam benar-benar terlelap kembali, Leo membawa Vellora ke kamarnya dan membaringkan tubuh kecil itu di atas kasur. Ia menarik selimut tebal hingga sebatas leher sang gadis kecil. Sebelum masuk ke kamarnya sendiri, Leo berbalik mengambil selimut tambahan, lalu melemparkannya dengan asal menutupi tubuh kakeknya agar tidak kedinginan.

Malam itu ditutup dengan Leo yang merebahkan dirinya di kasur empuk. Ia menatap langit-langit kamarnya dalam diam, membiarkan pikirannya melayang sebelum akhirnya kelopak matanya terasa berat dan ia pun terlelap.

Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai. Vellora kecil terbangun dengan wajah bantal yang sempurna. Rambutnya mencuat ke segala arah, seperti orang yang baru saja tersengat listrik tegangan tinggi. Sambil menguap lebar, ia berjalan gontai keluar kamar menuju ruang tamu.

"Emm... paket apa ini?" gumam Vellora dengan suara serak, mengucek matanya saat melihat sebuah kardus raksasa tergeletak di sudut ruangan. Paket itu rupanya sudah tiba sejak semalam tanpa ia sadari.

Gadis kecil itu berjalan mendekat. Seketika, rasa kantuknya menguap. Ia teringat! "Emm... ini kan kolam bola yang Kak Leo pesan!" gumamnya girang. Dengan tenaga ekstra, tangan mungilnya merobek lakban paket besar itu. Begitu terbuka, ratusan bola plastik berwarna-warni membanjiri lantai.

"Wahhh, banyak banget bolanya!" decak Vellora kegirangan, rambut 'kesetrum'-nya ikut bergoyang-goyang.

Ia menoleh ke sekeliling ruangan. Sepi. "Eumm... di mana orang-orang? Sepertinya belum ada yang bangun," gumamnya. Dengan ide brilian di kepalanya, Vellora meraup dua buah bola, lalu berjalan mengendap-endap menyusuri lantai tatami menuju kamar Leo.

Sesampainya di depan pintu geser kamar Leo, Vellora memicingkan mata. "Emmm... pintunya harus kugeser." Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam ala anak TK, ia mendorong pintu kayu itu hingga perlahan terbuka.

Begitu masuk, ia melihat Leo masih tertidur. Tanpa ragu, Tukk! Tukk! Vellora melemparkan dua bola plastik itu tepat ke wajah Leo. Namun anehnya, beruang besar itu sama sekali tidak bergeming.

Vellora cemberut, bibirnya mengerucut sebal. Ia pun merangkak naik ke atas tempat tidur, lalu dengan santainya menduduki perut sixpacknya.

"Kakak... bangun," bisiknya tepat di telinga Leo.

Hening.

"Kakak banguuuun..." rengek Vellora pelan. Namun, empuknya kasur dan hangatnya tubuh Leo justru membuat kantuk kembali menyerang. Matanya perlahan memberat. Bukannya membangunkan, Vellora malah merebahkan kepalanya di dada Leo, memeluk pemuda itu, dan kembali jatuh tertidur lelap.

Satu jam kemudian.

Leo mengerang pelan dalam tidurnya. Ia merasa dadanya begitu sesak, napasnya berat seolah tertindih batu karang. Apa ini? Kenapa rasanya seperti ada sesuatu di atasku? batinnya setengah sadar.

Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. "Ternyata sudah pagi," gumam Leo sambil mengusap matanya yang lengket. Saat pandangannya mulai fokus ke bawah...

"Ehhhhh?!" Mata Leo seketika membulat sempurna. Ia terkejut setengah mati mendapati Vellora sedang tidur tengkurap tepat di atas dada dan perutnya.

Terkejut oleh pergerakan Leo yang tiba-tiba, Vellora ikut terbangun. Ia menguap lebar, mengucek matanya, lalu duduk kembali di atas perut Leo seolah itu adalah kursi santainya. "Emmm... Kakak sudah bangun? Tadi aku sudah bangun duluan. Aku ke sini mau minta Kakak memompa kolam balonnya, tapi Kakak tidak bangun-bangun. Akhirnya aku ketiduran lagi di sini," jelas Vellora dengan wajah tanpa dosa.

Leo menghela napas panjang, meratapi nasibnya yang dijadikan kasur bernapas. Ia kemudian mengangkat Vellora dan menurunkannya perlahan ke sisi tempat tidur.

"Emm, maaf ya Kakak tidurnya terlalu lelap tadi," ucap Leo. "Ya sudah, ayo kita mandi. Kakak isi angin dulu kolam balonnya, setelah itu kita main."

Vellora kembali merebahkan dirinya di kasur sambil memeluk guling. "Baik, Kakak. Nanti bangunin aku kalau kolamnya sudah terisi air, ya..." gumam gadis kecil itu, kembali memejamkan mata bersiap tidur lagi.

Leo hanya bisa memijat pelipisnya pasrah. Ia beranjak ke kamar mandi membasuh wajahnya. Setelah segar, ia kembali ke kamar, lalu menggendong tubuh Vellora yang sudah setengah teler itu keluar menuju ruang tamu.

"Kakak... emm..." Vellora merengek cemberut saat didudukkan di atas lantai kayu.

"Tunggu di sini, jangan tidur lagi! Kita mau main kolamnya, kan? Kakak pompa dulu sekarang," pekik Leo tegas, tak mau dibantah.

"Iya, deeeh," jawab Vellora pasrah. Gadis kecil itu akhirnya duduk manis memangku dagu di atas lantai kayu, matanya mengawasi lurus ke arah sang Tuan Muda yang kini harus berjongkok merana—berkeringat memompa sebuah kolam karet besar demi melunasi janjinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!