NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RETAKAN DI BALIK TEMBOK TINGGI

Malam di kawasan Dharmawangsa merayap dalam keheningan yang menyesakkan dada. Hujan deras yang sempat mengguyur ibu kota sejak sore kini telah reda, menyisakan hawa dingin menusuk tulang yang menguap dari permukaan tanah basah. Di dalam kamar utama berlantaikan marmer hitam itu, Ziva duduk meringkuk di atas sofa panjang berlapis kulit domba. Tatapannya kosong menerobos kaca jendela besar yang kini memantulkan bayangan suram dirinya sendiri seorang gadis muda yang kehilangan sayapnya, terkurung tanpa daya di dalam sangkar emas milik seorang jenderal yang kejam dan penuh obsesi.

Pintu kamar terbuka perlahan tanpa suara. Gibran melangkah masuk dengan langkah berat. Pria itu baru saja menyelesaikan panggilan darurat melalui telepon satelit di ruang kerjanya memastikan seluruh pergerakan keluarga Adriana di luar sana tetap berada dalam pantauan ketat intelijen militernya. Gibran melepas jas dinas militer miliknya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sebatas siku, memperlihatkan otot lengan kekar dan garis-garis pembuluh darah yang menegang.

Ia melihat Ziva masih terjaga dalam posisi yang sama seperti beberapa jam lalu. Tidak ada sepiring makanan pun yang disentuh di atas nampan di atas meja. Ziva menolak makan, menolak bicara, dan memilih untuk menutup rapat dunianya dari kehadiran pria yang telah merenggut kebebasannya.

Gibran berjalan mendekat tanpa suara. Aroma sabun mandi bercampur wangi tembakau dan maskulin khas pria itu langsung menyeruak, mendominasi udara di sekitar Ziva. Tanpa meminta izin, Gibran berlutut di hadapan sofa, menyamakan tinggi wajahnya dengan Ziva yang enggan menoleh.

"Kamu menyiksa diri sendiri dengan cara seperti ini, Ziva," suara Gibran terdengar rendah, bernada serak namun menyuratkan ketegasan mutlak. "Mbok Nah bilang makan malammu kembali utuh. Kamu tidak akan menang melawan saya dengan cara mogok makan."

Ziva akhirnya menoleh. Manik matanya yang sembap menatap tajam manik mata hitam Gibran dengan kilatan kebencian yang menyala-nyala. "Menang?" suara Ziva pecah, serak dan penuh kepahitan. "Apa ada hal yang bisa aku menangkan dari orang sepertimu, Jenderal? Kamu sudah mengambil segalanya dariku. Kebebasanku, keluargaku, tunanganku, dan masa depanku. Mati atau hidup di sini sama saja bagiku."

Mendengar kata-kata putus asa itu, rahang Gibran mengeras seketika. Jemari kekar pria itu terulur, mencengkeram dagu Ziva dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu untuk tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun.

"Jangan pernah katakan hal bodoh itu lagi," bisik Gibran penuh penekanan, suaranya berubah berat dan gelap. "Kamu boleh membenci saya sampai akhir hayatmu, Ziva. Kamu boleh mengutuk nama saya setiap detik dalam tarikan napasmu. Tapi hidupmu adalah milik saya. Di dalam rumah ini, kamu bernapas karena saya mengizinkannya."

Ziva mendengus sinis, air matanya menetes perlahan membasahi punggung tangan Gibran yang menahan dagunya. "Kamu monster, Gibran... Kamu bukan manusia."

Gibran tidak marah. Alih-alih membentak atau menghukum, ibu jari pria itu justru mengusap lembut jejak air mata di pipi Ziva sebuah kontradiksi kelembutan di tengah cengkeraman kekuasaan yang kejam. "Silakan panggil saya apa saja yang kamu mau. Tapi di dalam pelukan ini, kamu tetap akan tinggal selamanya."

Keesokan paginya, suasana di ruang kerja komando Markas Besar TNI Angkatan Darat tidak kalah memanas. Mayor Jenderal Surya berdiri tegak di hadapan meja kerja Gibran, meletakkan beberapa dokumen laporan rahasia dengan ekspresi wajah yang jauh lebih tegang dari biasanya.

"Jenderal," lapor Surya dengan suara tertahan. "Ada pergerakan baru dari pihak luar. Meskipun kita berhasil memblokir laporan resmi di tingkat kementerian domestik, pengacara keluarga Adriana yang dibackup oleh jaringan diplomatik kedutaan besar asing di Jakarta mulai mencari celah hukum internasional. Mereka mendesak adanya investigasi independen terkait hilangnya Ziva setelah kepulangannya dari London."

Gibran yang tadinya sedang menatap layar monitor mendadak menghentikan aktivitasnya. Ia mendongak, menatap Surya dengan tatapan tajam setajam silet. "Siapa yang mengoordinasikan pergerakan itu? Apakah Bramantyo bertindak sendiri?"

"Tidak, Jenderal," jawab Surya ragu-ragu sejenak. "Bramantyo memang menjadi motor utamanya di dalam negeri, namun informasi yang kami dapatkan, ada pihak lain dari lingkaran bisnis internasional di Eropa yang ikut mendanai jalur hukum tersebut. Dan... ada satu hal lagi yang lebih krusial."

Gibran menyipitkan matanya. "Katakan."

"Aris... keponakan Anda," Surya menarik napas dalam-dalam. "Penugasan strategisnya di Eropa Timur mendadak dipercepat penyelesaiannya oleh pihak konsorsium internasional di sana. Aris dijadwalkan akan kembali ke Jakarta lebih cepat dua minggu dari jadwal semula. Jika ia tiba di tanah air dan mendapati tunangannya menghilang tanpa jejak dari apartemen, situasi ini akan menjadi bumerang yang tidak bisa kita redam hanya dengan wewenang militer internal."

Ruang kerja itu mendadak diselimuti keheningan yang mematikan. Nama Aris keponakan kandung yang selama ini sengaja disingkirkan ke luar negeri demi memuluskan obsesi gelap Gibran kini kembali muncul sebagai ancaman nyata yang siap meledakkan benteng pertahanan yang telah ia bangun.

Gibran berdiri dari kursi kebesarannya. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap memancarkan aura bahaya yang luar biasa. Alih-alih merasa gentar, sudut bibir Gibran justru terangkat membentuk garis tipis yang dingin.

"Biarkan dia kembali," ucap Gibran dengan nada suara yang sangat tenang namun mematikan. "Aris hanya seorang pemuda yang naif. Jika ia berpikir bisa merebut kembali apa yang sudah menjadi hak milik saya, ia salah besar."

Surya menelan ludah kelat. Ia tahu betul watak atasannya. Ketika Gibran sudah memasang target, tidak ada satu pun kekuatan di muka bumi ini bahkan ikatan darah sekalipun yang bisa menghentikannya.

Kembali ke kediaman Dharmawangsa, siang itu matahari tertutup oleh kabut tipis. Ziva memanfaatkan waktu ketika pengawas di luar sedang melakukan pergantian jaga siang untuk bergerak secara diam-diam. Sejak ponsel pemberian Keyla dihancurkan oleh Gibran, ia sadar bahwa ia harus mencari cara lain untuk meninggalkan jejak atau setidaknya menemukan kunci cadangan pintu belakang yang sering digunakan oleh Mbok Nah.

Ziva melangkah tanpa suara menuruni tangga menuju lantai dasar. Suasana rumah tampak sepi. Mbok Nah sepertinya sedang berada di dapur belakang menyiapkan makan siang.

Dengan jantung yang berdegup kencang bak maraton, Ziva mengendap-endap menuju ruang kerja pribadi Gibran yang terletak di sudut sayap kanan rumah tempat di mana ia pertama kali disekap dan tempat di mana Gibran menyimpan berbagai dokumen penting, termasuk kunci-kunci cadangan properti.

Pintu ruang kerja itu tidak terkunci sepenuhnya. Ada celah selebar beberapa sentimeter yang terbuka. Ziva menahan napas, mendorong pintu perlahan-lahan hingga terbuka cukup untuk tubuhnya menyelinap masuk.

Ruangan itu bernuansa maskulin dengan dominasi warna kayu jati tua dan deretan lemari buku besar. Di atas meja kerja Gibran, tergeletak sebuah laptop terbuka dan beberapa map dokumen rahasia militer. Namun bukan dokumen itu yang menarik perhatian Ziva. Di dalam sebuah mangkuk kecil perak di dekat sudut meja, tergantung satu set anak kunci kuningan kuno yang ia yakini merupakan kunci akses gerbang samping kediaman.

Ziva melangkah cepat, mengulurkan tangannya yang gemetar untuk meraih anak kunci tersebut.

Kring!

Tanpa sengaja, ujung jarinya menyenggol bingkai foto kecil yang berdiri di atas meja, membuat bingkai itu terjatuh dan membentur lantai marmer dengan suara cukup keras.

Ziva membeku. Jantungnya serasa copot dari rongga dadanya.

Ia buru-buru memungut bingkai foto tersebut untuk mengembalikannya ke posisi semula. Namun pandangannya tak sengaja terarah pada foto di dalam bingkai kaca yang retak itu. Foto itu menampilkan seorang wanita cantik berambut sebahu dengan senyuman lembut, berdiri di samping Gibran muda dalam balutan seragam perwira upacara. Di sudut bawah foto, tertulis sebuah nama dengan tinta emas yang mulai pudar: Anindita Mahendra.

Mata Ziva membelalak lebar. Jadi... ini wajah mantan istri Gibran yang selama ini menjadi rahasia kelam di balik kehancuran rumah tangga sang Jenderal. Wanita yang konon dihancurkan oleh obsesi dan posesifnya Gibran, hingga akhirnya memilih kabur dan meninggalkan trauma mendalam di jiwa pria itu.

"Apa yang sedang kamu lakukan di ruangan saya, Ziva?"

Sebuah suara bariton yang sangat dingin, berat, dan familier tiba-tiba menggema tepat di ambang pintu ruang kerja.

Ziva terkesiap hebat. Ia menoleh dengan lambat. Sosok Letnan Jenderal Gibran Gibran Mahendra berdiri tegak di sana, melepas topi dinasnya dengan tatapan mata hitam yang menatap tajam penuh bahaya ke arahnya. Gibran pulang jauh lebih cepat dari jadwal markas.

Suhu di dalam ruangan itu mendadak anjlok ke titik beku. Ziva tahu, ia baru saja melanggar garis merah pertahanan sang Jenderal.

1
syora
alhamdulillah sunat datang Ariana smoga mnjdi ank yg soleh
intinya yadoa yg terbaik buat baby dan kluarga kecil girang dan ziva😍😍
syora
up lg dong thor
syora
ya allah semoga dilancarkan segala urusannya
agar kluarga kecil mereka bhgia
+1
lagi🌚
+1
akhir dari segala baku tembak
syora
semoga samawa till jannah ya gibran ziva
ya allah jd nggaksbr nunggu debay lahir
syora
alhamdulillah apapu awal hubungan klian
semoga kluarga kecil klian slalu bhgia,sehat
dan andai cobaan lg smoga klian bisa melaluinya bersama
dan sehat sllu si debay
+1
al kira ada +21
syora
alhamdulillah 🙏
ya allah semoga kedepannya kbhagiaan slalu menyertai. amiin
syora
semoga bisa langgeng
+1
lagi☻️
+1
roar☻️
+1
lagiiii☻️
+1
lagiiiiii🌚
+1
al baca sambil nahan nafas☻️
+1
dia hanya orang gagal yang haus kasih sayang☻️
+1
lagi🌚
+1
lagiiii🦖
+1
menanti +21🌚🌚🌚
+1
deg2an al 🦖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!