NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#4

Langkah kaki yang teratur bergema pelan di sepanjang lorong berlantai marmer di luar sayap utama kediaman Arthur dan Savea. Di dalam ruang keluarga yang serba mewah, udara pagi yang dingin menembus celah jendela besar yang mengarah langsung ke taman dalam Istana Blackwood.

Arthur berdiri tegak di dekat meja bundar berornamen kayu jati tua, jemarinya menggenggam cangkir porselen berisi teh hangat yang baru saja disajikan oleh pelayan. Di sisinya, Savea duduk anggun di sofa beludru, menata lipatan gaunnya dengan gesture penuh keangkuhan.

Ketukan pelan di pintu ganda memecah hening. Seorang pelayan senior membungkuk dalam-dalam di ambang pintu sebelum bersuara.

"Tuan, Nyonya, ibu susu untuk Tuan Muda sudah tiba."

"Suruh dia masuk," ucap Savea cepat, suaranya tenang namun sarat akan nada perintah yang tak menerima penolakan.

Pintu terdorong lebih lebar. Seorang wanita muda melangkah masuk dengan ragu-ragu. Ia mengenakan baju putih polos Oversize yang sangat sederhana—tanpa ornamen perhiasan atau kemewahan apa pun—namun kesederhanaan itu justru gagal menyembunyikan parasnya yang luar biasa menawan.

Kulitnya seputih salju, dihiasi rambut Pirang Madu yang Disanggul Messy. Ada beberapa Helai rambut nya yang jatuh dipipi–menambah Kesan Soft Juga elegan. Sorot matanya bening, menyimpan aura ketenangan yang kontras dengan kemegahan istana ini.

Gadis itu menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Arthur dan Savea, lalu membungkukkan tubuhnya memberi penghormatan resmi khas rakyat biasa di hadapan kaum bangsawan.

"Selamat pagi, Tuan, Nyonya..." suaranya terdengar begitu halus, mengalun lembut memecah keheningan ruangan. "Nama saya... Snow."

Deg.

Brakk!

Gelas porselen tebal di genggaman Arthur terlepas seketika, menghantam sudut meja kayu sebelum akhirnya jatuh dan pecah berkeping-keping di atas lantai marmer. Cairan teh yang masih berasap menyiprat ke mana-mana, membasahi ujung sepatu kulit mahal yang dikenakan sang calon penguasa.

Seluruh orang di ruangan itu tersentak. Pelayan di dekat pintu refleks membelalak, sementara Savea menoleh kaget menatap suaminya.

Arthur berdiri membeku. Wajahnya yang biasa dingin dan sulit dibaca mendadak pucat pasi. Matanya membelalak lebar, menatap lurus ke arah sosok wanita muda yang berdiri di hadapannya.

Lima tahun.

Lima tahun telah berlalu sejak malam terakhir di ujung hutan Hampshire, di dalam rumah tua berarsitektur Victoria yang dikelilingi pohon oak. Lima tahun Arthur menyimpan rasa penasaran, amarah, dan memori tak terlupakan tentang wanita tanpa nama yang menguasai pikiran dan tubuhnya tanpa pernah meninggalkan jejak.

Dan kini, wanita yang sama persis sedang berdiri di dalam ruang pribadinya di Istana Blackwood—mengenakan pakaian sederhana dan memperkenalkan dirinya sebagai "Snow".

"Arthur? Ada apa denganmu?" tanya Savea heran, mengamati suaminya yang mendadak mematung dengan dada yang naik turun tak teratur.

Arthur tersentak pelan, berusaha sekuat tenaga menarik kembali kesadarannya yang sempat runtuh. Ia mengepalkan jemarinya kuat-kuat di dalam saku celana, memaksakan suaranya agar terdengar datar meski ada getaran ketegangan yang amat pekat di sana.

"Gelasnya... kenapa panas sekali?" alibi Arthur dingin, mengibaskan tangannya yang terkena sisa uap teh tanpa sedikit pun memalingkan pandangan dari Snow. "Pelayan kurang berhati-hati menyajikannya."

Pelayan di ambang pintu langsung berlutut gemetar ketakutan. "M-maafkan saya, Tuan! Saya—"

"Bersihkan ini," potong Arthur cepat, suaranya tajam seperti sembilu.

Di tempatnya berdiri, Snow ikut membeku.

Deg.

Jantung gadis itu berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Sepasang matanya yang jernih menatap sosok pria berjas resmi di hadapannya. Rahang yang tegas, garis punggung yang tegap, dan sorot mata kelabu yang dingin namun tajam—sosok yang sama persis dengan pria yang lima tahun lalu selalu melintasi jalan setapak hutan Hampshire hanya untuk memeluknya di balik kegelapan malam.

Snow tidak pernah membayangkan bahwa pria tanpa nama yang membagikan gairah terlarang dengannya di masa lalu adalah Benedictus Arthur Blackwood—sang Duke muda sekaligus pewaris tahta tertinggi di istana ini. Kenyataan itu menghantam kesadaran Snow bagai badai. Ia memblokir seluruh ekspresi wajahnya, berusaha keras menekan kepanikan yang mendesak di dalam dada.

Savea, yang sama sekali tidak menyadari badai emosi dan benang merah tersembunyi di antara suaminya dan wanita di hadapannya, justru mengibaskan tangan dengan acuh pada pelayan yang sibuk membersihkan pecahan kaca.

"Sudahlah, rapikan itu dengan cepat," perintah Savea datar. Ia lalu beralih menatap pengasuh bayi yang berdiri di sudut lain ruangan. "Bawa Ocean kemari sekarang."

Pengasuh itu mengangguk patuh dan bergegas pergi ke kamar sebelah, sementara Savea kembali memfokuskan pandangannya pada Snow dari atas sampai bawah.

Arthur, yang dadanya masih bergolak hebat oleh kemarahan, penolakan, dan rasa tak percaya, mendadak tidak bisa menahan dirinya lagi. Bagaimana mungkin wanita yang pernah menguasainya di masa lalu—wanita yang meninggalkannya begitu saja tanpa kata perpisahan—kini datang ke kediamannya untuk menyusui darah dagingnya sendiri?

Arthur melangkah mendekati Savea, mencengkeram lengan istrinya cukup kuat dan menariknya sedikit menjauh dari jangkauan pendengaran Snow.

"Aku keberatan," bisik Arthur dengan nada penuh penekanan, matanya melirik tajam ke arah Snow yang berdiri menunduk.

Savea mengerutkan dahi. "Keberatan? Soal apa?"

"Gadis ini," desis Arthur, usahanya mengatur napas agar tetap terdengar rasional terasa begitu berat. "Bagaimana mungkin gadis muda seperti dia bisa menyusui putra kita dengan benar? Dia terlihat terlampau muda, dan lihat tubuhnya—dia kurus dan tampak tidak sehat. Aku tidak yakin dia sanggup memberikan nutrisi yang aman untuk Ocean."

Savea menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Arthur dengan senyum tipis yang sarat akan dominasi.

"Kau tidak tahu betapa sangat sulitnya mencari ibu susu yang sempurna untuk putra kita dalam waktu singkat, Arthur," balas Savea tenang, tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Dia gadis muda yang tidak hanya memiliki fisik yang bersih, tapi juga pintar dan cerdas. Bukankah kita harus memberikan yang terbaik untuk putra kita? Aku sudah memeriksa seluruh berkas kesehatannya sebelum dia dibawa kemari."

Arthur mengetatkan rahangnya, napasnya terdengar berat dan memburu saat berusaha mengendalikan amarah yang hampir meledak dari dadanya. Mengapa Savea harus memilih wanita ini dari jutaan orang di luar sana?

Savea menatap wajah suaminya yang mengeras rapat. Di balik kata-kata pujiannya tentang kepintaran dan kecerdasan Snow, Savea sebenarnya memiliki agenda rahasia yang amat licik.

Ia sengaja memilih seorang ibu susu yang memiliki paras begitu cantik dan sempurna seperti Snow bukan semata-mata demi Ocean. Savea ingin memancing suaminya. Selama dua tahun pernikahan mereka, Arthur tidak pernah sekali pun menyentuhnya—bahkan menolak mentah-mentah untuk tidur di satu ranjang. Rumor dan kecurigaan bahwa suaminya mungkin seorang penyuka sesama jenis (gay) atau memiliki kelainan tidak pernah berhenti mengusik benak Savea.

Jika Arthur—pria yang selalu bersikap dingin dan steril dari godaan wanita—tiba-tiba menunjukkan ketertarikan atau bahkan tergoda oleh keindahan tubuh gadis sesempurna Snow, maka Savea akan mendapatkan bukti konkrit bahwa suaminya adalah pria normal. Namun jika Arthur tetap tidak tersentuh oleh wanita secantik Snow, maka kecurigaannya tentang orientasi seksual Arthur akan terbukti. Rahasia kelam milik calong penguasa istana ini akan menjadi kartu as terbesar bagi Savea untuk mengamankan posisi dan kekuasaannya di Istana Blackwood selamanya, terlepas dari apakah Arthur menginginkannya atau tidak.

Pintu kembali terbuka, dan pengasuh melangkah masuk seraya menggendong bayi kecil yang terbungkus selimut sutra biru muda. Tangisan melengking Ocean yang rewel kembali memecah ketegangan di dalam ruangan.

"Nyonya, Tuan Muda Ocean terus menangis karena lapar," lapor sang pengasuh.

Savea berbalik, menunjuk ke arah sofa kecil di sudut ruangan yang tertutup tirai tipis berenda.

"Snow," panggil Savea dengan suara dingin. "Duduklah di sana. Ini perintah pertamamu—berikan ASI pertamamu untuk putraku sekarang. Kita harus melihat apakah Ocean bisa menerimanya atau tidak."

Snow mengangguk pelan. "Baik, Nyonya."

Gadis itu melangkah mendekati pengasuh dan mengambil alih tubuh mungil Ocean ke dalam pelukannya. Tepat saat tubuh bayi itu bersentuhan dengan dada Snow, tangisan melengking Ocean perlahan-lahan mereda, berganti dengan isakan halus.

Arthur berdiri mematung di tengah ruangan, matanya tak mampu beralih saat melihat Snow berjalan perlahan menuju area sofa bertirai. Jemari wanita itu dengan lembut menimang bayinya—darah daging mereka yang lahir dari prosedur rahim yang berbeda, namun kini disatukan kembali oleh takdir yang begitu rumit di bawah atap Istana Blackwood.

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Rosdianah 🌷: hahah🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!