Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Ikatan dan Kepercayaan Mutlak
Deru mesin sedan hitam milik Dimas bergetar halus di tengah kesunyian malam yang memeluk area galian tambang tua. Lampu kabin mobil yang berpendar kuning redup menciptakan suasana hangat di dalam ruang kemudi, kontras dengan hawa dingin yang menyelimuti bukit-bukit batu di luar. Bayu Anggara mengelus permukaan jam tangan titanium hitam di pergelangan tangan kirinya dengan perlahan, sementara Dimas menyandarkan kedua tangannya di atas kemudi, menatap lurus ke arah kaca depan sebelum akhirnya memutar badan menatap Bayu.
"Bay," panggil Dimas pelan, suaranya terdengar sangat dalam.
"Iya, Dim? Ada apa?" sahut Bayu, menoleh dan membetulkan letak kacamata tebalnya.
"Jujur ya... sampai detik ini otak gue masih berusaha memproses apa yang baru saja terjadi," kata Dimas seraya menghembuskan napas panjang. "Gue baru saja melihat sahabat gue sendiri terbang lima meter di udara dan bergerak secepat kilat memakai zirah baja tercanggih di dunia. Benda itu... seluruh teknologi itu... rasanya terlalu besar untuk kita yang biasanya cuma pusing mikirin tugas akhir dan uang makan harian."
Bayu tersenyum tipis, pandangannya menerawang menembus kegelapan malam di luar jendela. "Kamu benar, Dim. Kalau diingat-ingat lagi, seminggu yang lalu aku cuma mahasiswa miskin yang menangis sendirian di lorong rumah sakit karena tidak punya uang lima ratus ribu rupiah untuk obat Ibu."
"Tapi sekarang lu memegang kekuatan yang bisa mengubah peta dunia, Bay," potong Dimas dengan raut wajah sangat serius. "Lu sadar kan betapa gila dan berharganya apa yang ada di pergelangan tangan lu itu?"
Bayu mengangguk pelan, menghela napas panjang yang sarat akan beban moral. "Justru karena aku sangat sadar, Dim... hatiku terasa sangat berat."
Dimas mengerutkan dahi, mencondongkan badannya mendekati Bayu. "Berat bagaimana maksudmu? Lu takut?"
"Bukan cuma takut, Dim," aku Bayu jujur, menatap mata Dimas dengan tatapan yang sangat terbuka dan rapuh. "Aku merasa takut, gentar, dan memikul beban yang sangat besar. Jarvis bukan sekadar kecerdasan buatan biasa, dan zirah nano-cell ini bukan cuma mainan canggih. Jika ada entitas luar, korporasi raksasa, atau pihak militer yang tahu keberadaan Jarvis dan zirah ini... hidup kita tidak akan pernah tenang lagi. Mereka akan melakukan apa saja untuk merebutnya dari tanganku."
Dimas terdiam mendengarkan, menyerap setiap patah kata yang keluar dari mulut Bayu.
"Selama ini aku menyembunyikan semua ketakutan itu sendirian di balik kacamata tebal ini," lanjut Bayu dengan suara yang sedikit bergetar. "Saat aku merancang algoritma awal Jarvis di kamar kontrakan yang sempit, aku cuma ingin menyelesaikan masalah hidupku. Aku ingin Ibu sembuh, dan aku ingin kita punya kehidupan yang layak. Tapi begitu Jarvis berkembang secepat ini... aku sadar bahwa aku tidak bisa menanggung rahasia sebesar ini sendirian."
"Bay..." bisik Dimas prihatin.
"Makanya malam ini," Bayu menatap Dimas lurus-lurus, "di tempat sepi ini, aku ingin mempercayakan seluruh rahasia terbesar hidupku kepadamu, Dim."
Dimas tertegun, matanya membelalak pelan. "Lu... mempercayakan rahasia ini ke gue? Ke seorang Dimas yang biasanya cuma bisa bikin ricuh dan bercanda?"
"Kamu bukan cuma kawan bercanda, Dim," tegas Bayu dengan nada suara yang penuh kehangatan dan rasa hormat. "Saat semua orang di kampus memandangku sebelah mata karena pakaian lusuhku, saat Nadeo menghinaku sebagai anak miskin, cuma kamu satu-satunya orang yang berdiri di sampingku tanpa memperdulikan status sosialku. Waktu Ibu kritis dan aku tidak punya uang sepeser pun, kamu tanpa ragu menyerahkan seluruh sisa tabungan dua juta rupiahmu untukku."
Dimas menunduk, matanya mulai berkaca-kaca mendengar tuturan tulus sahabatnya.
"Kebaikan dan ketulusanmu itu tidak bisa dibeli dengan uang berapa pun, Dim," lanjut Bayu mendetail. "Teknologi Jarvis memang diciptakan oleh logikaku, tapi keberadaannya bisa bertahan sampai hari ini adalah berkat pengorbananmu. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk membagi rahasia Jarvis dan zirah nano-cell ini sepenuhnya kepadamu. Kamu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang aku percayai untuk memegang rahasia hidup dan matiku."
Ponsel Android milik Bayu di dasbor berkedip lembut. Suara Jarvis terdengar halus namun jernih memenuhi ruang kabin mobil.
"Izin menyampaikan analisis sosial, Bayu dan Dimas," panggil Jarvis. "Berdasarkan rekam jejak loyalitas, respons emosional, dan konsistensi tindakan Dimas selama tiga ratus empat puluh delapan hari terakhir, indeks kepercayaan terhadap Dimas berada pada nilai sembilan puluh sembilan koma sembilan persen. Dimas adalah variabel pendukung paling stabil dalam ekosistem keselamatan Anda."
Dimas terkekeh pelan di tengah rasa terharunya, mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. "Jarvis... lu bener-bener pinter bikin suasana jadi makin emosional."
"Saya hanya menyajikan kesimpulan data faktual, Dimas," sahut Jarvis ramah.
Dimas menghembuskan napas panjang, lalu memegang bahu Bayu dengan erat. Wajahnya yang biasa dipenuhi seloroh kini tampak begitu dewasa dan teguh.
"Bay, dengarkan gue baik-baik," kata Dimas dengan nada janji yang sangat mantap. "Gue bersumpah demi Tuhan dan demi kesembuhan Tante Suminah, rahasia tentang Jarvis dan zirah nano-cell ini bakal gue bawa sampai ke liang kubur. Nggak bakal ada satu orang pun, mau itu Nadeo, polisi, atau pihak mana pun, yang akan tahu tentang keajaiban yang lu miliki ini dari mulut gue."
"Terima kasih banyak, Dim," sahut Bayu tulus, mengukir senyuman leganya yang paling hangat.
"Gue yang harusnya terima kasih sama lu, Bay," balas Dimas, menepuk bahu Bayu pelan. "Lu sudah menganggap gue sebagai saudara kandung lu sendiri dengan membagi beban rahasia sebesar ini. Mulai malam ini, gue bukan cuma sahabat lu, tapi gue adalah benteng pertama yang bakal melindungi lu dari belakang. Kalau ada orang yang mau mengganggu lu atau mencoba merebut Jarvis, mereka harus melangkahi mayat gue dulu."
"Tidak perlu sampai sejauh itu, Dim," kekeh Bayu santai. "Kita punya Jarvis dan zirah ini untuk memastikan kita berdua tetap aman."
"Konfirmasi kesepakatan kemitraan," sela Jarvis. "Profil Dimas telah dimasukkan ke dalam protokol enkripsi prioritas Alpha. Dimas kini memiliki akses perintah darurat tingkat dua pada sistem komunikasi saya."
Dimas membelalakkan matanya bangga. "Serius, Jarvis?! Gue punya akses perintah darurat?!"
"Benar, Dimas. Jika terjadi situasi bahaya yang mengancam Pengguna Bayu saat Anda berada di dekatnya, perintah suara Anda dapat memicu sinyal evakuasi otomatis," jelas Jarvis presisi.
"Gokil!" seru Dimas sambil tertawa lepas. "Gue resmi jadi wakil komandan di tim ini!"
Bayu ikut tertawa renyah, merasakan kelegaan yang luar biasa besar membuncah di dalam dadanya. Beban berat rahasia yang selama ini menghimpit pikirannya telah terbagi rata bersama sahabat sejatinya. Rasa takut akan ketidakpastian masa depan kini melebur menjadi keberanian dan kepastian yang kokoh.
"Sekarang," kata Bayu seraya menyandarkan punggungnya ke jok mobil yang nyaman, "semua rahasia sudah terungkap, Ibu sudah aman di ruang VIP, dan zirah nano-cell sudah teruji sempurna. Kita bisa pulang dengan tenang."
Dimas memutar kunci kontak mobil, membuat mesin sedan hitam itu menderum halus seraya menyalakan lampu utamanya kembali.
"Siap, Bos Bayu!" sahut Dimas penuh semangat, memutar kemudi dan mengarahkan mobil keluar dari area tambang tua menuju jalan raya kota. "Malam ini kita tidur nyenyak, dan besok kita hadapi dunia dengan kepala tegak."
Mobil melaju mulus membelah kegelapan malam di bawah naungan langit yang penuh bintang. Di dalam kabin yang hangat itu, ikatan persahabatan antara Bayu dan Dimas telah bertransformasi menjadi ikatan kepercayaan mutlak yang tak tergoyahkan, siap menghadapi apa pun rintangan yang membentang di masa depan.