NovelToon NovelToon
Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: bunda Qamariah

"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."

Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.

Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.

Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.

Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Menantang

"Ah, Ratih... aku minta maaf ya. Rara itu cuma asal ngomong aja, tidak maksud apa-apa," Maharani menengahi, menghentikan kecanggungan yang diciptakan putrinya.

Ratih mengalihkan pandangannya dan memaksakan senyum yang terasa kaku di wajahnya. "Iya, tidak apa-apa. Aku mengerti kok," sahutnya.

Dari kejauhan, Yanti yang menyadari Humaira melangkah mendekat di belakang Zidan, mendadak panik.

Tak ingin putrinya melihatnya, Yanti buru-buru menyelinap dan bersembunyi di balik pilar aula.

Melodi yang sudah berada di dekat mereka tak mau kehilangan momen bisa akrab dengan Rara. Tanpa tahu situasi masih tegang, ia memasang senyum terbaiknya dan menyapa Rara.

"Bu Rara, tumben Bu Rara mau datang ke acara Oma? Biasanya Bu Rara sering absen," tanya Melodi sok akrab.

Rara menoleh sekilas seperti tak berminat menjawab. "Ibu yang ajak," jawab Rara singkat.

"Suatu keberuntungan besar buat kami karena Bu Rara berkenan hadir malam ini," puji Melodi lagi, berharap mendapat tanggapan manis.

Namun, Rara sama sekali tidak membalas. Ia hanya diam dengan raut kaku, seolah menganggap keberadaan Melodi tak lebih dari angin lalu.

Sombong sekali wanita ini! batin Lina geram. Sejak tadi Lina yang tetap bungkam, akan tetapi dadanya bergemuruh geregetan melihat bagaimana Rara tanpa ragu memojokkan ibunya dan kini mengacuhkan adiknya.

"Oh ya, kamu Melodi, kan? Putri bungsunya Ratih?" tanya Maharani saat melihat Rara sepertinya tidak berminat meladeni percakapan tersebut.

"Iya, Tante. Aku Melodi," jawab Melodi langsung memamerkan senyum manisnya.

"Wah, ternyata kamu cantik banget ya. Keren loh, Tante suka dengan karya-karya kamu yang berhasil menciptakan berbagai busana yang top. Siapa pun yang melihat pasti kagum, termasuk Tante." Puji Maharani tersenyum.

"Alhamdulillah kalau Tante suka," balas Melodi berbinar senang.

"Kamu lihat tidak gaun Tante? Ini salah satu busana rancangan kamu loh," tunjuk Maharani pada bajunya.

Melodi memerhatikan dan memang benar itu adalah salah satu gaun terlaris ciptaannya. "Tante terlihat cantik dan anggun sekali memakai gaun itu."

"Kamu beruntung ya, Ratih, punya putri yang berbakat," puji Maharani pada Ratih.

"Iya, aku memang sangat beruntung," Ratih tersenyum senang.

Maharani kemudian melihat pria di samping Melodi. "Kamu... Dokter Zidan, kan? Putranya Elisa?"

Zidan mengangguk tersenyum tipis, "Iya. Senang bertemu dengan Anda, Bu," jawab Zidan ramah.

"Tentu, saya juga senang bertemu dengan Dokter Zidan," senyum Maharani mengembang, lalu menoleh pada Elisa.

"Ternyata putramu sudah besar dan tampan ya, Elisa." Lanjut Maharani.

"Tentu saja, Kak Maharani. Tidak mungkin dia kecil terus," sahut Elisa tertawa pelan. "Kak Maharani saja yang jarang kumpul bareng kita."

"Ya, kamu tahulah... aku ini orangnya sering di rumah saja. Gimana mau kemana-mana, Rara itu cerewet sekali kalau aku terlalu banyak jalan. Katanya nanti aku sakitlah, apalah... Putriku ini protektif sekali," ujar Maharani tertawa, membuat orang-orang di sekitarnya ikut terkekeh pelan.

Di tengah gelak tawa itu, pandangan mata Maharani tiba-tiba bergeser dan jatuh tepat pada sosok Humaira yang berdiri tenang di belakang Zidan.

"Loh... ini si cantik siapa?" tanya Maharani takjub. "Manis sekali ya. Apa dia cucumu juga, Ratih?" Melihat ke arah Ratih.

Belum sempat Ratih bersuara untuk menjawab, Melodi sudah memotong duluan.

"Dia asisten toko baju aku, Tante," potong Melodi cepat.

Zidan langsung menoleh menatap Melodi dengan raut wajah tidak senang. Hatinya terusik—bagaimana bisa Melodi begitu tega memperkenalkan Humaira sebagai asisten toko, padahal kenyataannya wanita itu adalah istri sahnya.

Maharani mengamati Humaira dari atas sampai bawah dengan kening sedikit berkerut. "Oh, asisten ya? Wah, tapi sama sekali tidak kelihatan seperti asisten. Pakaiannya terlihat sangat elegan dan anggun. Kamu cantik sekali, Nak. Bahkan Nenek pikir kamu cucunya Ratih, soalnya wajahmu ada kemiripan dengannya."

"Ah... cuma perasaan Tante saja kok," sahut Melodi buru-buru menimpali, memotong pandangan Maharani. "Humaira ini cuma anak dari keluarga biasa-biasa saja."

"Oh, benarkah?"

"Iya, Tante. Dia ini anak haram dari wanita simpanan!" Tanpa ragu, Melodi melontarkan kata-kata kejam itu di depan semua orang.

Sejak awal, tujuannya mengajak Humaira ke pesta memang sengaja untuk menginjak-injak dan mempermalukannya di hadapan kalangan atas. Karena dia mau balas dendam, menganggap Humaira sudah mengambil perhatian Zidan darinya.

Aku sudah menduganya. Tidak mungkin mereka mengajakku kemari kalau bukan berniat mempermalukanku, batin Humaira. tetap berusaha berdiri tegar meski hatinya perih.

Maharani mengerutkan bibirnya kecut, terkejut dengan gaya bicara Melodi. "Kok kamu ngomongnya seperti itu sih? Tidak bagus loh didengar orang banyak." Tegur Maharani dengan tersenyum.

"Memangnya apa yang salah, Tante? Kenyataan memang begitu kok. Ibunya kan hamil duluan baru menikah sama suami orang, jadi istri simpanan. Ya sudah, makanya aku bilang anak haram," cerocos Melodi tanpa rasa bersalah.

"Melodi..." Bisik Zidan memintanya berhenti merendahkan Humaira. Tapi wanita itu tak peduli.

"Maaf ya, Nak Melodi... tapi walaupun dia asisten kamu, tidak pantas bicara sekasar itu," ucap Maharani lagi.

"Sudahlah, Maharani! Tidak penting membahas itu," potong Ratih cepat, langsung menyela sebelum Rara ikut menimpali.

Ratih takut, kalau sampai Rara yang mengambil alih pembicaraan, habislah Melodi dikuliti oleh mulut pedas CEO tersebut.

Maharani menghela napas, lalu berusaha mengalihkan suasana. "Oh iya, kalian berdua sudah menikah, kan?" tanya Maharani pada Zidan dan Melodi.

"Maaf ya, Zidan... Tante tidak sempat datang ke acara pernikahan kalian waktu itu. Tante sedang ada urusan di Kanada," lanjut Maharani merasa tak enak hati.

Zidan membuka mulut, ingin bicara yang sejujurnya—bahwa ia dan Melodi belum menikah, melainkan Humaira-lah istri sahnya.

Namun, Elisa buru-buru memotong ucapan putranya.

"Iya, mereka sudah menikah kok, Kak Maharani! Tidak apa-apa kalau Kak Maharani tidak sempat datang waktu itu, kita semua maklum. Benar kan, Kak Ratih?" potong Elisa cepat sembari melirik Ratih.

Ratih yang sudah kena mental akibat sindiran Rara tadi tampak sangat gugup. Namun, mau tidak mau Ratih harus mengangguk mengiyakan. Ia tidak mungkin membantah, karena jika jujur sekarang, itu sama saja mempermalukan Elisa, terutama Melodi yang sudah terlanjur berbohong di depan Keluarga Dirgantara.

Rara yang berdiri di sana hanya menyilangkan dada, tak peduli.

"Iya... memang seperti itu," jawab Ratih dengan suara yang terdengar sedikit gugup.

Humaira menatap Zidan dari samping. Ia terus memperhatikan suaminya yang hanya diam mematung. Pria itu sama sekali tidak menyela, membela, atau sekadar membetulkan rentetan kebohongan yang membumbung tinggi di depan mereka.

Detik demi detik berlalu, dan Zidan tetap memilih bungkam. Hati Humaira mencelos. Matanya berkaca-kaca, lalu ia menundukkan kepala.

Apa yang kau harapkan darinya, Humaira? Dia tidak akan pernah membelamu, batinnya sembari tersenyum miris.

Entah mengapa, kali ini hatinya benar-benar terasa hancur. Bukan hanya karena perlakuan Melodi saja, akan tetapi juga karena ia tak menyangka bahwa oma dan ibu mertuanya sendiri benar-benar tega menganggapnya sebagai orang asing dan menolak mengakuinya.

Drama yang sangat bagus. Saking bagusnya, aku sampai terharu, batin Humaira lagi.

Tanpa Humaira sadari, dari tadi ada sepasang mata tajam yang terus memperhatikannya dari jarak yang tak terlalu jauh. Sosok itu menyimak setiap kebohongan, serta mendengar jelas setiap kata-kata kejam yang ditujukan pada Humaira.

Tiba-tiba, Melodi melirik dan memberikan kode pada salah satu pelayan. Acara malam ini tampaknya memang sudah dirancang sejak awal sebagai jebakan untuk mempermalukan Humaira hingga tak tak punya muka.

Seorang pelayan melangkah mendekat sambil membawa baki berisi minuman. "Mbak, ini ada minuman," ujarnya ramah.

Humaira yang tidak menaruh curiga langsung mengambil gelas tersebut dan meneguknya sedikit untuk menenangkan dada yang sesak.

"Saya ke toilet dulu," ujar Humaira, tanpa menyebut nama siapa pun, yang terpenting ia sudah berpamitan. Perasaannya sudah sangat tidak enak dan tubuhnya terasa semakin tak nyaman.

Namun, saat Humaira baru melangkah selangkah, Melodi dengan cepat dan halus menjulurkan sedikit kakinya—sebuah gerakan licik yang tak disadari oleh orang-orang di sekitarnya.

Bruk!

Humaira tersandung dan tubuhnya terhuyung hilang keseimbangan.

Byurrr!

Air merah di dalam gelas yang dipegang Humaira tumpah, membasahi gaun mewah Rara tepat di bagian depan.

"Aduh! Humaira! Kamu ini gimana sih?!" pekik Melodi bersuara keras, sengaja memancing perhatian seluruh isi ruangan sambil berpura-pura terkejut.

Ratih kaget setengah mati melihat gaun milik Rara ternoda.

Sementara Rara berdiri menunduk melihat noda di gaunnya dengan raut wajah yang sulit ditebak.

"Aduh! Makanya kalau jalan itu pakai mata dong! Niat kamu memang mau membasahi pakaian Bu Rara?! Kamu sengaja, ya?!" bentak Melodi dengan suara melengking, berpura-pura sangat panik padahal hatinya bersorak puas melihat jebakannya berhasil.

"Kamu ini benar-benar tidak berpendidikan ya!" cerca Ratih ikut menunjuk muka Humaira menyalahkan cucunya itu.

"Memang dasar anak tidak tahu diri! Sudah dibiarkan ikut, malah bikin kekacauan! Kamu mau mempermalukan keluarga ini di depan Bu Rara?!" Melodi terus mengoceh.

Humaira mengeluarkan sapu tangan kecil dari balik gaunnya dan mengelap gaun Rara yang sudah basah.

"Ma-maaf... saya tidak sengaja... tadi seperti ada yang menyandung..." Ucap Humaira terus mengelap lembut gaun Rara yang hanya diam membiarkannya.

"Alasan! Siapa yang menyandung kamu?!" Ketus Melodi.

Zidan yang berdiri di samping Melodi, hanya diam. Matanya menatap Humaira yang kesulitan. Ada desakan dalam dirinya untuk maju membantu istrinya itu.

Namun, tatapan tajam dari bundanya, Elisa, dan genggaman erat Melodi di tangannya membuat Zidan kembali menahan diri dan memilih tetap bungkam.

Rara yang gaun mewahnya basah, justru hanya berdiri tenang melihat Humaira. Bukannya meledak marah pada Humaira seperti yang dipikirkan Ratih dan Melodi, netra Rara justru tertuju pada Melodi.

"Berisik," ucap Rara yang langsung membuat Melodi kaget dan bungkam.

Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh memegang lembut pergelangan tangan Humaira yang masih fokus mengelap gaun Rara.

"Sayang, kamu juga ada disini? Kenapa tidak ngomong kalau kamu juga mau datang? Tadi aku pasti menjemputmu dirumah," ucap sebuah suara bariton bernada hangat dan lembut.

Pria itu menarik pelan Humaira dan membawanya berdiri di sampingnya.

Perlakuan manis pria itu, membuat semua orang yang mendengarnya langsung terperangah. Melihat sosok pria bertubuh tegap dan berkarisma tinggi berdiri disamping Humaira.

Humaira segera mendongak, saat mendengar pria itu baru saja memanggilnya 'sayang' merasa suara itu sangat familiar.

DEG!

Dia sangat kaget saat netranya bertemu dengan pria itu. Pak Alva? Batin Humaira ingin menjauh, tapi pria itu justru memeluk pinggangnya, membuatnya tak bisa berkutik.

Rara menoleh ke arah pria itu dengan alis terangkat. "Dia pacarmu, Va?" tanya Rara dengan nada suara yang melunak.

"Iya, Ma," jawab Alva tenang, lalu kemudian menatap mata Zidan dengan tatapan menantang, seolah mengatakan: kalau kau tidak bisa membela dan melindungi wanitamu? Maka aku yang mengambil alih posisimu.

Ma? Batin Humaira kaget, saat baru sadar pria yang beberapa waktu lalu dia temui, dan memberinya tawaran menarik, adalah seorang pengacara ternama yang sering menjadi perbincangan panas di kalangan hukum. Sekaligus putra direktur Rara.

"Ini... ada apa ini?"

1
bunda n3
kamu salah pilih lawan zidan
Miranti Husna💥
pokoknya, mereka harus segera bercerai. aku nggk mau tahu. alva ama humaira harus nikah
Miranti Husna💥
arkhhhhhhhhb sumpah, satu cowok ini bener² bukin kesal baget zidannnnnnn alva rebut aja tu isterinya 😡
Miranti Husna💥
kak, kenapa ini barusan pendk banget updt bab nya kak.
Miranti Husna💥
🤣ngaku qja va, bilang kalau itu ankmu, biat dia bggk dpt apa² dasar pak direktor bikin Gemas....!!!
bunda n3
semoga aja Alva mengakui kalau itu anaknya😄
Miranti Husna💥
waduh. bakal ketahuan ni humaira sama zidan kalo lagi berbadan 2
Miranti Husna💥
Kayaknya alva itu serius suka sama humaira.
bunda n3
alamat Zidan tahu nih
Syakirah Dzaky
Alva kayakx emang mencintai Humairah dgn tulus , ayolah Humairah terima pak Alva , aku suka keluarga nya
bunda n3
Humaira terlalu overthinking
Miranti Husna💥
🤣 kocak! ternyata keluarga alva itu nggk semenyeramkan yg di luar 🤣 mereka itu sangat humoris, udah lengkap. astaga... tidak sabar menanti moment pernikahan mrka. semoga cepat bersatu ya🤭
Miranti Husna💥
cemburu, marah dan kecewa. hanya sebatas itu sj kemampuan mu zidan. tk punya perjuangan sm sekali 🤦
bunda n3
Mungkin dimata kamu Humaira itu ga berarti Zidan, tapi dimata orang lain dia sangat istimewa
bunda Qamariah: bener banget say
total 1 replies
partini
pacar setingan lah,
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂
bunda Qamariah: iya, emg. sekarang kebanyakan author2 baru say
total 5 replies
Syakirah Dzaky
Aduh tdk sabar liat Humairah cerai dan zidan trus nikah dgn pak Alva , pasti Humairah akan di ratukan dan sangat di syg di keluarga nya Alva . Tp ngomong2 apa judul novel org tua nya Alva Thor?
bunda Qamariah: aku tidak ada buat kak🤭 tapi kalo banyak yang mau, bisa kok dibuatkan
total 1 replies
Miranti Husna💥
noh, liat zidan, kamu sendiri kan yg kenak batunya. awalnya kamu membiarkan melodi untuk ngaku² hubungan kalian..sekgg alva gunakan itu sebagai umpan untuk membungkam mu
Miranti Husna💥
Dasar para manusia munafik dan toxic 😤 enak aja mau manfaatin humaira setelah berpikr humaira dkat sama org kaya😡 emang ibu sama anak sama saja! gila harta
bunda Qamariah: bener kak🤧
total 1 replies
bunda n3
Zidan secara tidak langsung menghina ibunya Humaira
bunda n3
nah Zidan, orang yang akan merebut istrimu ada di depanmu, blak-blakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!