"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Mobil merah itu melesat kencang membelah jalanan kota yang mulai senja. Di kursi kemudi, Anya melirik sekilas ke samping, lalu kembali fokus menyetir sambil tersenyum geli.
Di kursi penumpang, Kara duduk sambil melipat tangannya di depan dada, wajahnya tertekuk malas, dan bibirnya mengerucut sebal, sementara kedua matanya menatap tajam ke luar jendela.
"Lo kesel kenapa sih, Ra?" tanya Anya yang memecah keheningan, sambil melirik sekilas kearah Kara.
Kara langsung menghembuskan nafas panjang. Ia menolehkan kepalanya perlahan ke arah Anya.
"Ternyata, orang yang dijodohin sama gue itu si Erlangga. Bukan pria tua kaya raya."
Ckittt!
Karena kaget, kaki Anya hampir saja menginjak rem. Namun buru-buru ia urungkan dan hanya mengurangi kecepatannya saja.
"Erlangga? Demi apa?!" Mata Anya langsung membelalak lebar. "Bukannya dia Musuh bebuyutan lo?!"
Tentu saja Anya sangat mengenal Erlangga. Dulu mereka bertiga bersekolah di tempat yang sama, dan sering melihat mereka bertengkar karena hal yang sepele.
Kara langsung mendengus kasar sambil memutar bola matanya malas. "Ya siapa lagi kalau bukan dia! Lo tahu sendiri kan, kekayaan keluarga Erlangga itu cuma setara sama keluarga gue. Padahal, cita-cita gue tuh pengen punya suami yang kekayaannya jauh di atas keluarga gue. Biar gue beneran bisa jadi pengangguran yang kaya raya!"
Anya langsung terkekeh pelan. "Bukannya lo sekarang udah jadi pengangguran ya?"
"Pengangguran sih iya," jawab Kara. "Tapi kayanya belum. Kalau kaya monyet... iya."
Bwa-ha-ha-ha!
Anya langsung tertawa keras sampai tubuhnya terguncang di kursi kemudi. "Jadi, lo sadar kalau sekarang lo kaya monyet?"
Kara langsung menatap Anya tajam. "ANYA, SIALAN!" teriaknya kesal sambil melemparkan tisu ke wajah sahabatnya itu.
Anya langsung menepis tisu itu dari wajahnya, lalu mengusap pelan air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Terus... terus lo terima gitu aja perjodohan itu? Kok bisa sih?"
"Gue udah terlanjur nerima. Ya... gue akuin sih, gue emang bodoh banget. Kenapa juga gue nggak cari tahu dulu siapa namanya. Kemarin, pas orang tua gue bilang mau ngejodohin gue sama orang kaya, otak mata duitan gue langsung bilang iya-iya aja. Sialan banget, kan?"
"Ya salah lo sendiri, sih. Kenapa kebodohan lo itu lo pelihara."
Kara langsung mencibir kesal. "Kayaknya kebodohan gue ini ketularan lo, deh!"
"Yeee... enak aja!" sahut Anya tak terima.
"Lo ada ide nggak sih, biar perjodohan gila ini bisa batal?" tanya Kara sambil menatap melas ke arah sahabatnya itu.
Anya mengetuk-ngetuk jarinya di setir mobil. "Kenapa lo nggak coba bikin Erlangga ilfil atau kesel setengah mati sama lo?"
"Lo pikir gue belum nyoba?!" Kara langsung menegakkan tubuhnya, ia mulai bercerita dengan nada yang berapi-api. "Gue udah lakuin semua cara, Anya! Mulai dari sengaja bikin dia nunggu berjam-jam, sampai dandanan gue yang sengaja gue bikin mirip gembel kayak gini. Bahkan, pas gue porotin dia dengan memborong hampir seisi toko Candra Loka, dia sama sekali nggak marah! Malah iya-iya aja."
Kara langsung bergidik ngeri. "Yang lebih parah lagi, gue sengaja puter musik kencang-kencang di dalam mobil, eh... malah dia ngiket gue! Dia bilangnya gue berisik! Psikopat banget nggak sih tuh orang?!"
Anya langsung meringis membayangkan kejadian itu. "Tunggu-tunggu, jadi lo tadi ke butik elit itu bareng sama dia? Terus... dia beneran bisa bayar semua belanjaan lo gitu?"
Kara mengangguk lemas, kepalanya terkulai ke sandaran kursi. "Iya. Tapi gue nggak yakin kalau dia beneran kaya sekarang. Jangan-jangan dia habis ngutang di bank."
"Siapa tahu Erlangga sekarang udah beneran sukses dan kaya raya? Kita kan udah lama nggak tahu kabar dia, Ra."
"Nggak mungkin ah," tepis Kara cepat. "Udah lah, nggak usah bahas dia lagi. Enek tau nggak. Mending lo sekarang mikir, gimana caranya bikin sahabat baik lo ini ceria lagi."
Anya langsung diam sejenak. Lalu tiba-tiba sebuah ide gila muncul di kepalanya. Ia menoleh pelan ke arah Kara dengan senyuman nakal yang melebar.
"Gimana kalau malam ini kita ke club aja? Kita minum sampai puas, terus sewa gigolo buat nemenin kita malam ini!"
"Gigolo?" Mata Kara langsung melebar.
"Iya! Kita party dan lupain semua masalah ini. Gimana?"
Senyum Kara yang tadinya menghilang, perlahan mulai muncul kembali. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyetujui ide gila tersebut. "Ide lo bagus juga! Yuk... berangkat!"