📍Update 🚥 16 : 16 WIB
Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?
❣️ I write what I want to write. ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 - Dizzy
Pagi itu aku berangkat bekerja dengan malas.
Kemarin malam Liam kembali membuatku kesal. Belum selesai urusanku dengan laki-laki itu, ibu malah menyuruhku kencan buta. Dan sore ini aku harus benar-benar menjalani kencan buta itu.
Aku masuk ke ruanganku dengan lesu.
“Pagi...” sapaku malas.
“Pagi...” jawab semua orang.
“Kamu kenapa lagi, Elle?” tanya Bintang.
“Iya nih. Benar-benar kayak nggak punya semangat hidup,” ujar Rendi.
“Emang,” jawabku singkat begitu duduk di kursiku.
Aku langsung merebahkan tubuh di atas meja.
Mona yang melihatku langsung mendekat.
“Kamu kenapa sih, Elle? Cerita sama aku,” ucap Mona.
Aku langsung duduk tegak.
“Mon...” panggilku.
“Iya?”
Aku melihat ke sekeliling. Setelah memastikan tidak ada yang terlalu memperhatikan kami, aku berdiri.
“Ayo ke rooftop.”
“Ngapain ke rooftop?” tanya Mona.
“Udah, ayo ikut aja.”
Mona akhirnya berdiri.
Aku dan Mona berjalan menuju pintu ruangan.
“Kalian mau ke mana?” tanya Bintang.
“Ke toilet bentar,” jawabku bohong.
Saat tepat berada di depan pintu, Aldi masuk. Kami berdua bertatapan.
“Kalian mau ke mana?” tanyanya.
“Toilet,” jawabku singkat lalu langsung keluar ruangan.
Mona mengikutiku dari belakang.
Kami naik lift menuju rooftop.
Begitu sampai di rooftop, angin pagi langsung menerpa tubuh kami.
Mona menatapku.
“Ada apa sih, Elle?”
“Ibu...” jawabku.
“Ibu kamu kenapa?”
“Ibu nyuruh aku...”
“Ibu kamu nyuruh kamu apa, Elle? Ngomong yang jelas.”
Aku menarik napas.
“Ibu nyuruh aku kencan buta.”
“Apa?!” Mona langsung terkejut. “Ibu kamu nyuruh kencan buta?”
Aku mengangguk.
“Hahahaha...”
Mona malah tertawa.
Aku langsung menatapnya kesal.
“Kenapa kamu malah ketawa?”
“Soalnya lucu. Ibu kamu nyuruh kencan buta. Udah kayak di film aja, Elle.” Mona masih tertawa kecil. “Ibu kamu nyuruh kamu nikah itu wajar, tapi nyuruh kamu kencan buta itu kayak ibu kamu udah frustrasi. Udah nyerah.”
“Ah, nggak tahu lah,” jawabku kesal.
“Emang kencan butanya sama siapa, Elle?”
“Sama ponakannya tetangga yang kerja di kota ini.”
“Orangnya gimana?”
Aku langsung menunjukkan foto Beni di ponselku.
Mona melihat foto itu beberapa saat.
“Lumayan juga. Dia kerja apa, Elle?”
“Katanya kerja di perusahaan properti.”
“Wah, bagus tuh.”
“Ah, kenapa kamu bilang gitu? Aku nggak mau ikut kencan buta, lho.”
“Kenapa sih? Lumayan, lho, ini.”
Aku terdiam.
Aku belum bisa menjelaskan tentang masa laluku.
“Nggak apa-apa,” jawabku akhirnya.
“Coba kenal dulu. Siapa tahu cocok.”
“Aku bilang ke Ibu sih gitu.”
“Nah... ya udah.”
Aku mengangguk.
“Nanti kamu temenin aku, ya. Takut dia ngapa-ngapain.”
“Oke. Siap.”
Aku mengangguk.
“Eh, sama Kak Davin juga, ya? Biar ada cowoknya,” lanjut Mona.
“Ah, nanti kamu malah pacaran sama Kak Davin lagi. Nggak jagain aku.”
“Nggak, kok.”
Aku diam menatapnya.
“Serius.” Mona mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Oke,” jawabku.
Mona tersenyum.
Lalu Mona membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada Davin.
Tak lama kemudian, Davin membalas.
“Kak Davin mau,” ucap Mona.
Aku mengangguk.
“Ya udah, yuk. Kita balik ke ruangan.”
Mona mengangguk.
Kami pun turun dan kembali ke ruangan.
“Kalian dari mana?” tanya Doni.
“Dari toilet, Mas,” jawabku.
“Oh... Oh iya, Elle. Tadi tim kreatif udah kasih revisinya. Coba kamu cek, terus kirim ke klien.”
Kirim ke klien lagi?
Astaga...
“Oke, Mas.”
Aku dan Mona langsung kembali ke meja masing-masing.
Aku membuka komputer lalu mengecek email. Kulihat hasil revisi dari tim kreatif.
Setelah membacanya dengan teliti, aku mengangguk kecil.
Hasil revisinya sudah sesuai dengan yang Liam minta.
Aku pun langsung mengirim hasil revisi tersebut ke email Adinata Food.
Setelah itu, aku mengambil ponsel dan membuka riwayat pesanku dengan Liam.
Sesuai arahannya, kali ini aku akan langsung mengabari Liam, bukan Davin.
Aku mengetik pesan.
[ Aku tadi kirim hasil revisinya. Coba kamu cek. Udah sesuai sama yang kamu mau atau belum. ]
Begitu pesan itu terkirim, mataku tertuju pada tulisan “Tambahkan kontak.”
Sepertinya memang aku harus menyimpan nomornya setidaknya selama kerja sama kami berlangsung.
Aku pun menekan pilihan tersebut.
Namun, tiba-tiba aku bingung harus menamai nomor Liam apa.
Liam?
Ah, tidak!
Apa, ya?
Mantan?
My Ex?
Tidak! Tidak!
Aku menggelengkan kepala.
Aku bahkan tidak mau mengakui laki-laki itu sebagai mantanku.
Lalu apa?
Aku berpikir sejenak.
Apa yang sangat Liam sekali?
Aku kembali memikirkan sifatnya.
Menyebalkan.
Ya.
Itu dia.
Aku langsung membuka Google Translate di komputer. Aku mengetik kata “menyebalkan” pada kolom bahasa Indonesia, lalu memilih bahasa Spanyol sebagai bahasa terjemahannya.
Beberapa detik kemudian, muncul satu kata.
Fastidioso.
Aku tersenyum kecil.
Nah, ini cocok.
Aku pun menyimpan nomor Liam dengan nama Fastidioso.
Setelah itu, aku kembali mengerjakan pekerjaanku yang lain.
Beberapa saat kemudian, Liam membalas pesanku.
[ Udah sesuai sama yang aku mau. Silakan dilanjutkan. Aku senang kamu langsung hubungi aku. ]
Aku mengernyitkan dahi.
“Kan dia sendiri yang nyuruh,” gumamku.
“Ada apa, Elle?” tanya Mona.
Aku menoleh.
“Eh, nggak apa-apa, kok.”
“Apa ada masalah sama klien?”
“Nggak, kok. Udah sesuai katanya.”
Mona mengangguk.
Aku pun langsung mengabari tim kreatif mengenai persetujuan Liam, lalu kembali mengerjakan pekerjaanku yang lain.
Sore harinya, setelah pulang kerja, aku dan Mona langsung menuju Rose Cafe menggunakan taksi. Mona mengatakan Davin akan menyusul.
Sore itu langit terlihat cerah, tetapi hatiku justru terasa mendung. Aku benar-benar tidak ingin menjalani kencan buta ini.
Aku belum ingin menjalin hubungan dengan siapa pun lagi.
Beberapa saat kemudian, kami sampai di Rose Cafe.
Setelah membayar taksi, kami langsung masuk ke kafe itu. Aku melihat ke setiap sudut ruangan, tetapi tidak menemukan sosok Beni seperti yang ada di foto.
“Nggak ada orangnya. Apa dia belum datang, ya?” ujar Mona.
“Mungkin. Ya udah, yuk, kita ke sana,” ucapku sambil menunjuk sebuah meja kosong.
Mona mengangguk.
Kami menuju meja tersebut.
“Aku duduk di sini, kamu duduk di situ. Jangan sampai kelihatan kita saling kenal. Kalau Kak Davin datang, langsung suruh duduk sama kamu aja,” ucapku.
“Oke, siap.”
Aku pun duduk di meja sebelah kanan, dekat jendela. Mona duduk di meja tepat di sebelahku.
Tak lama kemudian, seorang pegawai kafe menghampiriku untuk menanyakan pesanan.
Aku memesan satu gelas minuman.
Setelah itu, pegawai tersebut menghampiri meja Mona. Mona juga memesan satu gelas minuman.
Begitu pegawai itu pergi, aku langsung membuka ponsel dan melihat media sosial sambil menunggu Beni.
Tak lama kemudian, pegawai kafe datang membawa minumanku.
Namun, di belakang pegawai itu ada seorang laki-laki yang terlihat familiar.
“Elle?” panggil laki-laki itu begitu pegawai kafe pergi.
“Beni?” tanyaku.
Laki-laki itu mengangguk lalu duduk di depanku.
Aku melirik Mona sebentar sebelum kembali menatap Beni.
“Udah lama nunggu, Elle?” tanya Beni.
“Nggak, kok. Aku belum lama sampai.”
“Oh, syukurlah...” ucap Beni. “Tadi aku harus ketemu calon pembeli rumah dulu.”
“Iya, nggak apa-apa. Ngomong-ngomong, kamu kerja di perusahaan properti mana?”
“Imperial Homes.”
“Ah... bukannya itu yang jual rumah-rumah mahal?” tanyaku.
“Ya, lumayan lah. Tapi ada sistem cicilan, kok.”
“Kalau jual rumah gitu, kamu dapat bonus nggak kalau ada yang jadi beli?”
“Dapet. Sepuluh persen.”
“Wah, lumayan juga, ya?” ucapku tak percaya.
“Ya, gitu deh.” Beni tersenyum kecil. “Oh iya, katanya kamu kerja di agensi kreatif. Di perusahaan mana?”
“Imajinasi Creative.”
“Ah...” Beni mengangguk. “Oh iya, Elle...”
Tepat saat itu, Ada orang masuk ke dalam kafe.
Dari tempatku duduk, aku bisa melihatnya dengan jelas.
Davin.
Dan seseorang yang sangat kukenal berjalan di depannya.
Liam.
Kenapa Liam ada di sini?
Liam melihat ke sekeliling kafe.
Aku refleks memalingkan wajah dan menutupi wajahku dengan sebelah tangan agar Liam tidak melihatku.
“Ada apa?” tanya Beni.
“Nggak apa-apa,” jawabku cepat.
Aku berusaha tetap tenang.
Namun, tak lama kemudian, aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah mejaku.
Semakin dekat.
Lalu terdengar suara yang sangat kukenal.
“Sayang...”
Mataku membelalak.
Itu suara Liam.
Kenapa Liam memanggilku seperti itu?
“Sayang... apa yang kamu lakukan di sini?” ucap Liam.
Aku langsung menoleh dan menatapnya.
Kulihat Davin yang berdiri di belakang Liam terlihat terkejut.
Mona yang duduk di meja sebelahku juga tak kalah terkejut.
Beni yang duduk di depanku bahkan terlihat lebih bingung.
Aku menatap Liam dengan tatapan tidak percaya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa Liam bersikap seperti itu?
Apa yang sedang dia rencanakan kepadaku?
