Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Ramuan pengubah warna mata
Pada paruh kedua malam, Chongyue kembali mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Bei Mingye dan merasakan bahwa suhu tubuhnya sudah tidak sedingin sebelumnya.
Chongyue menghela nafas lega.
Setidaknya, racunnya tampaknya sudah sedikit mereda.
Kini dia hanya perlu menunggu Bei Mingye terbangun, setelah itu dia bisa langsung pergi tanpa perlu mengkhawatirkan keselamatannya lagi.
Sambil bersandar di dinding gua, Chongyue terus menjaga api dan sesekali menambahkan ranting kayu ke dalam perapian sampai cahaya fajar mulai menyusup dari mulut gua.
Pada saat itulah, Bei Mingye perlahan membuka matanya.
Kesadarannya masih samar, tetapi pandangannya perlahan kembali jernih.
Di sisi lain, Chongyue tiba-tiba merasa lehernya sedikit gatal dan dia mengangkat tangan untuk menggaruknya.
Gerakannya tanpa sengaja membuat kalung dengan liontin kristal biru yang tergantung pada tali hitam di lehernya terlihat jelas.
Chongyue tidak menyadari hal itu. Dia mengambil bungkusan miliknya dan berdiri, lalu menatap Bei Mingye yang kini telah sadar.
Bei Mingye tidak mengatakan apa pun.
Dia hanya diam menatap Chongyue, tetapi tatapannya tertuju pada liontin kristal biru di leher wanita itu sebelum kembali beralih ke wajahnya.
Chongyue tidak memperhatikan perubahan kecil itu.
"Karena kau sudah bangun sekarang, aku pergi." Ucapnya, lalu berjalan keluar dari gua tanpa menoleh.
"Tunggu..."
Bei Mingye berusaha memanggil dan menahannya, tetapi tenggorokannya seolah tidak bisa mengeluarkan suara.
Dia tahu gejala racun dinginnya kembali mulai bereaksi.
Melihat sosok wanita itu yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangannya, Bei Mingye duduk bersandar pada dinding batu sambil tersenyum tipis.
Wanita itu telah menyelamatkannya.
Dia tidak pergi begitu saja setelah melihat dirinya dalam keadaan tidak sadarkan diri, melainkan memilih tinggal dan merawatnya sepanjang malam.
Tatapan Bei Mingye kemudian beralih pada perapian yang masih menyala, dan menyadari bahwa wanita itu pasti telah menjaga api sepanjang malam demi memastikan tubuhnya tetap hangat.
Bagaimana mungkin dia membiarkan wanita yang begitu menarik pergi begitu saja?
.......
Ketika Chongyue akhirnya kembali ke Kediaman Jenderal, hari sudah berganti malam.
Dia melangkah dengan hati-hati memasuki halaman kecil miliknya dan mengamati sekeliling, tetapi tidak melihat keberadaan siapapun di sana.
Chongyue bertanya-tanya apakah Xuan Qingqing atau orang lain pernah datang mencarinya selama beberapa hari terakhir?
Jika mereka datang dan mengetahui bahwa dirinya tidak berada di halamannya, alasan apa yang harus dia berikan ketika mereka bertanya nanti?
Memikirkan hal itu, Chongyue segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintu sebelum menghela nafas panjang.
Namun, setelah memikirkannya kembali, dia menyadari bahwa masalah paling mendesak saat ini bukanlah mencari alasan untuk menjelaskan kepergiannya.
Warna matanya jauh lebih penting.
Jika seseorang melihat warna mata aslinya, mereka pasti akan mencurigainya.
Chongyue segera mengeluarkan pakaian dari bungkusan dan menyisihkannya, kemudian mengambil seluruh tanaman obat yang telah dikumpulkannya selama berada di pegunungan.
Di kehidupan sebelumnya, setelah digigit oleh Katalin Loya, dia harus menjalani perawatan medis setiap bulan untuk mencegah tubuhnya berubah menjadi vampir sepenuhnya.
Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, dia pernah mempelajari ilmu pengobatan dari seorang dokter tua. Kini, pengetahuan itu menjadi salah satu dari sedikit hal yang masih bisa dia andalkan di dunia yang baru ini.
Dulu, Chongyue pernah berpikir untuk membunuh Katalin Loya dengan tangannya sendiri, kemudian keluar dari Guild dan menemukan tempat yang tenang untuk menjalani kehidupan seperti orang biasa.
Namun bagi dirinya yang sekarang, semua itu hanyalah kenangan dari kehidupan sebelumnya.
Dia tidak lagi memiliki kesempatan untuk kembali ke kehidupannya dulu.
Chongyue menumbuk tanaman obat hingga halus, kemudian merendamnya ke dalam sedikit air bersih selama dua jam.
Setelah ampas tanaman mengendap, dia memindahkan cairan yang berada di atasnya ke dalam air bersih sesuai takaran yang telah ditentukan untuk memurnikannya.
Proses tersebut harus dilakukan berulang kali dengan hati-hati, Chongyue juga terus mengerjakannya tanpa berhenti hingga fajar kembali menyingsing.
Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, akhirnya dia berhasil meracik ramuan pengubah warna mata.
Chongyue mengambil ramuan itu dan meneteskan tiga tetes ke masing-masing matanya sebelum memejamkan mata selama beberapa saat.
Rasa perih segera menyebar di kedua matanya, tetapi perlahan menghilang.
Ketika membuka matanya kembali, Chongyue segera berjalan menuju meja rias dan mengambil sebuah cermin.
Dia menatap pantulan wajahnya.
Warna mata kristal biru yang mungkin menimbulkan masalah baginya telah berubah menjadi hitam pekat.
Chongyue menghela nafas lega dan berbisik, "Berhasil."
Namun, keberhasilannya membuat tubuhnya benar-benar kelelahan. Dia telah menghabiskan satu malam penuh untuk mengawasi Bei Mingye dan satu malam berikutnya untuk meracik ramuan obat, yang berarti dia tidak beristirahat selama dua hari dua malam berturut-turut.
Jika tubuhnya di kehidupan sebelumnya, tidak tidur selama beberapa hari bukanlah masalah besar, tetapi tubuhnya yang sekarang sangat lemah dan jelas tidak mampu menanggung kondisi seperti itu.
Setelah merapikan sisa bahan dan peralatan yang digunakan untuk meracik ramuan, Chongyue membersihkan diri sebentar sebelum akhirnya berbaring di ranjang untuk beristirahat.
Begitu kepalanya menyentuh bantal, rasa lelah yang selama ini ditahannya langsung mengambil alih kesadarannya.
Ketika Chongyue terbangun kembali, hari sudah bergeser menuju sore menjelang senja.
Setelah tidur cukup lama, dia merasa tenaganya yang terkuras selama beberapa hari terakhir telah pulih. Dia segera bangkit dari ranjang dan bersiap pergi ke dapur untuk mengambil makanan.
Namun, sebelum keluar dari kamar, dia kembali mengingat bagaimana kehidupan Xuan Chongyue sebelumnya.
Gadis itu selalu harus mengambil makanannya sendiri ke dapur, sementara para pelayan dapur hanya mengizinkannya mengambil makanan sisa setiap kali dia datang.
Tidak hanya itu, mereka bahkan menetapkan aturan yang sangat tidak masuk akal bahwa Xuan Chongyue hanya diperbolehkan mengambil makanan satu kali dalam sehari.
Chongyue berdiri diam beberapa saat di depan pintu.
Dia tidak menyangka bahwa bahkan untuk mendapatkan makanan pun, Xuan Chongyue harus menerima perlakuan seperti itu.
Setelah beberapa hari terakhir bertahan hidup di pegunungan dan sekarang kembali ke Kediaman Jenderal, Chongyue menyadari satu hal.
Mungkin tantangan terbesar yang harus dihadapinya bukanlah binatang spiritual ataupun pegunungan yang berbahaya.
Melainkan kehidupan di dalam kediaman ini sendiri.
"Tidak punya cukup makanan dan pakaian hangat, pantas saja tubuh ini begitu kurus!"
Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Chongyue berjalan menuju dapur.
Karena kegiatan memasak selalu dipenuhi asap, panas, dan jelaga minyak, bangunan dapur tentu tidak mungkin berada di area halaman depan. Letaknya berada cukup jauh di bagian belakang kediaman, terpisah dari tempat tinggal para anggota keluarga utama.
Meskipun halaman kecil tempat tinggal Chongyue berada di tempat yang terpencil dan terasing, lokasinya tidak terlalu jauh dari area dapur utama.
Setelah berjalan selama beberapa menit, melintasi taman buatan dan berbelok di beberapa tikungan lorong, Chongyue akhirnya tiba di halaman tempat dapur berada.
Hari baru saja memasuki waktu senja, bahkan belum waktunya makan malam, tetapi para pelayan di dapur sudah terlihat sangat sibuk.
Mereka berlalu-lalang menyiapkan berbagai macam kue manis yang tampaknya diperuntukkan bagi para nona muda di kediaman.
Chongyue tidak langsung turun.
Dia justru naik ke atas sebuah pohon dan duduk santai di salah satu dahannya. Dari sana, dia mengamati keadaan di sekitar dapur selama beberapa saat untuk memastikan tidak ada yang memperhatikannya.
Setelah merasa situasinya cukup aman, Chongyue bersiap melompat turun.
Namun, tepat saat dia hendak bergerak, sebuah suara melengking dan tajam tiba-tiba terdengar dari bawah.
"Mengapa kalian lambat sekali, hah? Mengapa kue-kue pesanan Nona Muda belum diantar juga?"
Gerakan Chongyue langsung terhenti.
Seorang pelayan dapur segera menjawab dengan nada meminta maaf, "Saudari Cui Cui, mohon tunggu sebentar lagi. Kue kembang sepatu pesanan Nona Muda sebentar lagi siap. Setelah selesai, kami akan segera mengantarkannya."
Mendengar jawaban itu, pelayan bernama Cui Cui mendengus dingin.
"Kue kembang sepatu buatan Kediaman Jenderal kami adalah yang terbaik di seluruh ibu kota. Saat ini Yang Mulia Putra Mahkota sedang mengobrol bersama Nona Muda. Jika kalian sampai terlambat, kalian sendiri yang akan menanggung akibatnya!"
Setelah melontarkan ancaman itu, Cui Cui berbalik dan pergi dengan langkah angkuh.
Begitu sosoknya menghilang dari pandangan, pelayan dapur tadi langsung menghela napas lega.
"Cepat pergi dan periksa apakah kue kembang sepatu itu sudah siap!"
Para pelayan bawahannya segera menjalankan perintah.