NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Ejekan Pria dari Masa Lalu

Aira menyapu air mata yang menghiasi pipinya dengan punggung tangan, meninggalkan bekas riasan yang samar di kulitnya.

Rasa sesak di dadanya belum juga menghilang, tapi insting bertahannya menolak untuk menyerah begitu saja. Terkunci di dalam ruangan bukan berarti permainannya selesai.

Ia bangkit berdiri dengan gerakan cepat. Matanya langsung menyapu sekeliling ruangan itu.

Balkon.

Aira menelan ludah. Ini kesempatan terakhir gue, batinnya nekat.

Ruang Santorini ada di lantai dua, di bawah sana ada kanopi. Kalau ia bisa memanjat pagar balkon dan melompat ke atas kanopi, ia hanya perlu merosot sedikit untuk mencapai area taman belakang—tempat yang sepi dari jangkauan pengawal Papi Surya.

Aira mengangkat gaunnya. Dengan langkah seribu, ia berlari kecil menuju pintu kaca balkon.

Tapi baru saja satu kakinya melangkah menyeberangi ambang pintu balkon—

Sreek!

Tubuh Aira tiba-tiba tertarik ke belakang secara kasar. Gaunnya menegang di bagian pinggang, menahan langkahnya.

"Aduh!" Aira hampir kehilangan keseimbangan dan terjengkang ke belakang.

Buru-buru ia berbalik dengan raut muka emosi tingkat tinggi, siap menyembur siapapun pelayan atau pengawal yang berani menyentuhnya. "Siapa sih yang berani-beraninya nginjak gaun gue—"

Kalimat itu terputus di udara. Tenggorokan Aira serasa disumbat gumpalan batu.

Di belakangnya, seorang pria berdiri sangat tegap. Satu ujung sepatu kulit hitamnya yang mengkilap menapak mantap di atas ekor gaun milik Aira.

Pria itu memakai tuxedo hitam buatan penjahit kelas atas, dipadukan dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu yang terpasang sempurna. Wajahnya... garis rahang yang tegas, hidung bangir, serta mata elang beriris cokelat yang kini menatap Aira tanpa berkedip.

Devan.

Pria yang delapan tahun lalu mencampakkannya di hari ulang tahunnya sendiri. Pria yang kemarin pernah ia lihat tersenyum manis pada wanita lain di restoran Italia.

Aira membeku. Otaknya loading parah. Pikirannya acak-acakan bagaikan benang kusut. Kenapa Devan bisa ada di dalam ruangan terkunci ini?! Kenapa pria itu mengenakan baju pengantin laki-laki?!

Devan masih menatapnya dari atas ke bawah. Dari sanggul Aira yang sedikit berantakan, ronce melati yang tinggal separuh, sepatu flat berdebu yang melekat di kakinya, sampai raut wajah Aira yang penuh dengan jejak air mata.

Bukannya panik atau merasa bersalah karena menginjak gaunnya, sudut bibir Devan justru terangkat pelan.

Sebuah cengiran tipis—cengiran khas yang sangat Aira benci dari zaman mereka masih sekolah dulu—muncul di wajah tampannya.

"Masih sama," suara Devan terdengar amat berat, bergelombang halus, tapi sarat akan ejekan yang begitu kentara. "Delapan tahun berlalu, tapi kelakuan kamu pas lagi panik tetep nggak berubah. Selalu konyol."

Aira menghentakkan kakinya dengan kasar. "Lepasin sepatu lu dari gaun gue, Devan!" desis Aira tajam. Suaranya dingin, ketus, dan penuh penolakan.

Devan tidak memasukkan perintah itu ke dalam hati. Pria itu malah sengaja menekan ujung sepatunya sedikit lebih kuat di atas gaun Aira, membuat Aira makin tidak bisa bergerak.

"Lepasin?" Devan memiringkan kepalanya sedikit, berpura-pura berpikir. Tangannya melipat santai di depan dada. "Nggak mau. Kalau aku lepasin, kamu mau ngapain? Mau manjat pagar balkon itu terus lompat ke kanopi di bawah?"

Aira mendelik. Kok ini cowok bisa tahu rencana gue?!

"Bukan urusan lu!" sembur Aira, membuang mukanya ke arah lain, menolak menatap mata Devan langsung. "Lu ngapain sih ada di sini?! Ini ruang privat keluarga! Lu nyusup ke sini cuma buat ngrecokin gue ya?!"

Devan terkekeh pelan. Suara tawa rendahnya membuat bulu kuduk Aira berdiri. Devan melangkah lebih dekat, sengaja tidak mengangkat sepatunya dari gaun Aira, memaksa jarak di antara mereka makin dekat.

"Nyusup?" Devan menaikkan satu alisnya. "Aira, Aira... IQ kamu yang cuma seadanya itu ternyata nggak nambah ya dari zaman SMA."

"Maksud lu apa ngatain gue bego?!" Aira berbalik menatap Devan dengan tatapan melotot penuh dendam.

"Ya habisnya kamu aneh," ejek Devan santai, mengamati riasan wajah Aira yang sedikit luntur dengan tatapan geli. "Bukannya mikir kenapa aku bisa ada di dalam ruangan ini lengkap pake tuxedo, kamu malah mikir aku nyusup? Kamu pikir sistem keamanan Hermawan Group selemah itu sampai orang luar bisa bebas masuk ke ruang privat pengantin?"

Aira menggigit bibirnya erat-erat. Hatinya ketakutan, tapi gengsinya melarang Aira buat berpikir ke arah sana. Nggak, nggak mungkin Devan calon suaminya. Ini pasti cuma kebetulan jelek!

"Gue nggak peduli!" potong Aira cepat, menutupi rasa gugupnya dengan nada galak. "Gue nggak peduli lu mau datang sebagai tamu undangan, sebagai panitia, atau sebagai temannya Papi! Yang jelas, angkat kaki lu SEKARANG dari baju gue!"

Devan malah makin maju. Kini jarak mereka hanya tinggal selangkah. Aroma parfum citrus-woody yang begitu intens dari tubuh Devan mengurung indra penciuman Aira, membawa memori masa lalu yang berusaha ia kubur.

Devan menunduk sedikit, sejajar dengan wajah Aira. "Kamu beneran mau lompat dari balkon, Calista? Pake gaun seberat ini?"

Aira merinding saat Devan menyebut nama tengahnya. Tangannya mengepal rapat di samping tubuh. "Jangan panggil gue pake nama itu! Dan mau gue melompat, mau gue patah tulang, itu sama sekali bukan urusan lu, Devan Argawinata!"

"Tentu saja jadi urusan aku," bisik Devan santai. Matanya menatap lekat-lekat bibir Aira yang mengerucut kesal. "Kamu tahu betapa repotnya aku kalau calon pengantinku mendadak patah kaki tepat di hari pernikahan kita?"

Dua detik.

Tiga detik.

Kata-kata Devan terngiang-ngiang di udara seperti gaung yang memekakkan kepalanya.

Aira membelalakkan matanya. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga.

"C-calon... pengantin... lu?" bisik Aira terbata-bata. Seluruh persendian di tubuhnya terasa melumpuh seketika. "Lu... lu ngomong apa sih? Lu bercanda kan?! Lu jangan gila ya, Devan!"

Devan akhirnya menarik kaki kanannya dari atas gaun Aira. Pria itu berdiri tegak, merapikan lengan tuxedo-nya dengan gerakan santai yang amat sangat menyebalkan di mata Aira.

"Pria dari keluarga Argawinata. Anak tunggal Om Bramantyo," Devan menyebutkan identitasnya satu per satu dengan nada yang teramat tenang. "Siapa lagi yang punya inisial D di kartu ucapan itu kalau bukan aku, Calista?"

Brak!

Serasa ada hantaman meteor yang menghancurkan seluruh logika Aira saat itu juga.

Surat ucapan berinisial D.

Pernikahan privat yang super ketat.

Sosok Devan di restoran Italia kemarin.

Semuanya menyambung menjadi satu garis lurus yang sangat mengerikan.

"N-nggak..." Aira menggelengkan kepalanya panik, memundurkan langkahnya sampai punggungnya menabrak pagar besi balkon. tangannya mencengkeram besi itu erat-erat. "Nggak mungkin! Papi nggak mungkin nemuin gue sama lu! Lu... lu kan udah pergi ke luar negeri! Lu bilang lu udah nggak cinta sama gue! Lu udah mencampakkan gue delapan tahun lalu!"

Mendengar kalimat terakhir Aira, tatapan geli di mata Devan surut sedikit. berganti dengan tatapan amat dalam yang sangat sulit dibaca. Namun, dengan cepat pria itu kembali memasang topeng dingin dan santainya.

"Waktu berubah, Aira," kata Devan pelan, melangkah mendekati Aira yang kini sudah terdesak di pagar balkon. "Dan orang tua kita merasa kita berdua adalah pasangan bisnis yang sangat serasi."

"Pasangan bisnis?!" Aira tertawa histeris, air mata kembali menetes di pipinya. "Ini pernikahan, Devan! Bukan investasi saham! Lu pikir gue mau nikah sama cowok brengsek yang udah bikin masa muda gue hancur?!"

"Bukannya dari awal kamu emang mau terima perjodohan ini cuma demi kartu kredit kamu yang dibekuin sama Om Surya?" tembak Devan tepat sasaran.

Aira tersentak hebat. Wajahnya memerah padam karena malu dan tertangkap basah. "G-gue..."

Devan tersenyum tipis—senyum yang bernuansa mengejek. Ia memajukan tubuhnya, menghimpit Aira di pagar balkon. Kedua tangannya terulur dan mendarat di besi pagar di samping kiri dan kanan kepala Aira, mengunci wanita itu sepenuhnya.

"Kamu mau kabur karena takut dimiskinkan kalau nolak, kan?" bisik Devan tepat di depan wajah Aira. Hawa nafas hangatnya menerpa kulit pipi Aira yang dingin. "Tapi sekarang kamu terjebak di sini. Sama aku. Mantan kamu yang paling kamu benci."

"Lepasin gue, Devan!" Aira mendorong dada Devan dengan kedua telapak tangannya, tapi tubuh Devan yang kekar sama sekali tidak bergeming sedikit pun. Terasa seperti mendorong tembok. "Gue gak mau nikah sama lu! Mending kartu gue dibekuin selamanya daripada harus sama lu!"

"Sayangnya, keputusan itu udah bukan di tangan kamu lagi," ujar Devan dingin, tatapannya terkunci pada mata Aira yang berair. "Di bawah sana penuh pengawal. Pintu depan dikunci. Dan kalau kamu nekat melompat dari balkon ini..."

Devan melirik ke bawah balkon sebentar, lalu kembali menatap Aira dengan cengiran menyebalkan. "...tingginya lima meter, Aira. Paling ringan kaki kamu patah dua-duanya, dan kita tetep bakal nikah di ruang ICU rumah sakit."

"Lu... lu jahat banget, Devan! Lu psikopat!" jerit Aira, memukul dada Devan bertubi-tubi dengan kepalan tangannya.

Devan membiarkan pukulan-pukulan lemah itu mendarat di dadanya tanpa mencoba membalas atau menghindar. Ia hanya menatap Aira yang meluapkan seluruh emosi dan amarahnya. Reaksi heboh, wajah memerah, dan rengekan panik dari Aira... persis seperti Aira yang dulu selalu berhasil membuat hatinya bergejolak.

Setelah Aira merasa lelah dan pukulannya melemah, Devan menahan kedua pergelangan tangan Aira dalam satu genggaman tangannya yang besar dan hangat.

"Udah puas mukulnya?" tanya Devan santai.

"Gue benci sama lu..." tangis Aira pecah lagi, menundukkan kepalanya, tidak mau Devan melihat kelemahannya. "Gue benci banget sama lu, Devan..."

Devan diam sejenak. Jemarinya yang bebas bergerak pelan, menyentuh dagu Aira lalu mengangkatnya perlahan agar mata mereka kembali bertemu. Ibu jarinya mengusap air mata di pipi Aira dengan sangat lembut—sebuah gestur langka yang membuat jantung Aira mencelus.

"Benci aja sepuas kamu, Aira," kata Devan dengan nada suara yang mendadak berubah sangat dalam dan serius. "Tapi hari ini, mau kamu nangis atau mengamuk... kamu tetep bakal turun ke bawah sebagai pengantin aku."

Klek.

Suara pintu Ruang Santorini yang dibuka dari luar memutus ketegangan intens di antara mereka. Papi Surya dan Mami Maya melangkah masuk dengan raut wajah tegang.

"Devan? Aira?" Papi Surya tertegun melihat mereka berdua berdiri sangat dekat di area balkon.

Devan langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Aira, berbalik dengan sangat tenang membelakangi Aira, lalu menatap calon mertuanya dengan sopan.

"Semuanya aman, Om Surya," ujar Devan dengan suara wibawa yang sempurna. "Aira cuma sedikit tegang. Kami siap turun ke bawah sekarang."

Aira menatap punggung Devan dengan raut syok, marah, dan tidak percaya. Pria ini... bener-bener aktingnya juara!

Papi Surya menghembuskan napas lega. "Baguslah kalau begitu. Penghulu sudah siap di bawah. Ayo turun."

Devan berbalik lagi menatap Aira. Ia mengulurkan tangannya di depan Aira, membiarkan jemarinya terbuka di udara, menanti Aira menyambutnya.

"Ayo, Calista," panggil Devan dengan senyuman tipis yang sarat akan kemenangan. "Acara pernikahan kita udah mau dimulai."

Aira menatap tangan Devan dengan tatapan seolah-olah tangan itu beracun. Namun saat melirik Papi Surya yang berdiri di pintu dengan tatapan mengancam soal pembekuan rekening, Aira tahu... ia sudah benar-benar kehabisan jalan keluar.

Dengan gigi gemeretak menahan murka, Aira menepis tangan Devan dengan kasar, lalu berjalan melewati Devan begitu saja menuju pintu.

"Gue gak sudi pegang tangan lu," desis Aira pelan saat melewati bahu Devan.

Devan cuma tertawa kecil di dalam hati, memandangi langkah Aira yang penuh dengan amarah. Perang baru saja dimulai, Aira.

1
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
Fazira
semangat Kak 💪
Fazira
seru kak , lanjutkan 😍😍
zeylin
Wowwww baguss banget
Ael
🤭
Fazira
Ihh gemezz banget sih mereka 😍😍
Ael
next next 💪💪
nebula🌌
sukaaa
semangat thorr💪💪😍
Fazira
😍😍
Fazira
😍😍😍
Ael
next
Ael
lanjut
Fazira
lucu banget aira🤣
siapa ya yang di ruangan itu🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!