NovelToon NovelToon
Switch Body, Yuk Nikah!

Switch Body, Yuk Nikah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikahmuda / Komedi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?

Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.

Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.

Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!

Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertukar Ilmu

BAB 9

Bertukar Ilmu

Tamu-tamu Daffa akhirnya pulang satu per satu karena suasana di rumah terasa semakin canggung. Sementara itu, Mayang yang masih mengkhawatirkan keadaan anaknya segera beranjak menuju kamar Daffa.

Satu kekhawatiran memang telah berlalu, tetapi kecemasan lain justru muncul. Mayang terus berada di sisi tempat tidur Daffa, memeriksa keadaannya dengan penuh perhatian.

"Emm... Ma... Daffa nggak apa-apa, kok. Nanti setelah istirahat juga baikan."

Dinda berusaha mengusir Mayang secara halus. Semakin lama wanita itu berada di dekatnya, semakin besar rasa waswas yang memenuhi pikirannya. Wajahnya bahkan mulai memucat karena takut tanpa sengaja melakukan sesuatu yang akan membuat Mayang curiga.

“Kamu sebelumnya nggak pernah seperti ini. Kamu itu jarang sakit, makanya Mama khawatir,” ungkap Mayang.

“Beneran, Ma. Daffa cuma kecapekan aja.”

Mayang hanya terdiam sejenak. Kemudian terdengar helaan napas panjang dari wanita itu.

“Ya sudah. Istirahatlah. Kalau ada apa-apa, panggil Mama. Oh, iya, nanti sebelum malam bangun dan mandi. Setelah itu kita makan malam sama Papa. Mama perhatikan kamu beberapa hari ini sering melewatkan makan malam.”

“Iya, Ma...”

Mau tidak mau, hal-hal yang selama ini Dinda hindari akhirnya harus dihadapi juga.

Begitu Mayang keluar dari kamar, Dinda langsung mengembuskan napas lega. Namun, rasa lega itu hanya bertahan sesaat. Sejak tadi ia sudah menahan keinginan untuk ke kamar mandi dan rasanya sudah tidak bisa ditunda lagi.

Dinda buru-buru masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut. Ia masih merasa canggung dengan tubuh baru yang kini ditempatinya. Terlebih lagi, tubuh itu berbeda jenis kelamin dengan dirinya.

Ia berdiri sejenak di depan pintu kamar mandi, menarik napas dalam-dalam, lalu berusaha menenangkan diri.

Dinda membuka celana yang ia kenakan, dan melorotkan habis bagian bawahnya. Meski sudah beberapa kali, namun ia masih belum terbiasa dengan tubuh laki-laki.

"Ini gimana sih gunainnya?! Apa harus di pegang biar nggak berceceran?! Hiiiy...!"

Dinda tidak berani melihat bagian bawah tubuh itu. Ia tetap menatap lurus ke depan hingga air seni yang di keluarkan kembali mengenai sesuatu dan akhirnya mengenai kakinya.

"Aaaarrrgghh, belut sialan?!"

Dinda kesal bukan main. Kedua kakinya terkena percikan air seni yang tidak tepat mengenai sasaran. Untung saja Dinda sudah antisipasi dengan melepas semua celananya hingga tidak terkena cipratan air seni. Akhirnya Dinda pun mandi membersihkan dirinya.

Saat menggosok tubuh Daffa Dinda meraba bagian roti sobek hingga pipinya merona. Dan ketika sedang asik menggosok, tanpa sengaja ia tersentuh sesuatu yang sedang lunak.

"Aaaaaagrh...?!"

Spontan Dinda melemparkan shower entah kemana. Dan kepalanya dengan reflek menunduk ke bagian bawah.

Sesuatu yang tadi tidur mirip jamur perlahan bangun. Jantung Dinda berdebar tak menentu di buatnya. Ia pun bergerak mundur dan akhirnya tergelincir lalu jatuh terduduk.

Milik Daffa yang di lihat Dinda masih sempoyongan belum berdiri dengan tegak. Ia kemudian mengambil gayung dan terus menyiramkan air ke tower itu agar tidak menegang.

"Ini belut gimana caranya biar tidur lagi?! Aarrghh! Kenapa nggak sekalian amnesia aja sih, biar gue lupa kalau pernah jadi perempuan?!"

Semakin di lihat benda tumpul itu nyaris berdiri tegak. Dinda yang wajahnya sudah memerah akhirnya menutupi matanya dengan ke dua tangannya. Ia mencoba membayangkan pemandangan indah agar tidak terus teringat pemandangan yang baru saja menyerang kesehatan jantungnya.

Lama-lama perasaan itu mulai tenang. Dan ketika Dinda melihat ke bawah sana, benda itu mulai kembali seperti jamur. Namun jika di lihat lagi lebih lama, jamur itu kembali tumbuh dan mulai berkembang.

"Harus cepet mandi, jangan dilihat lagi!"

Dengan segenap kekuatan yang ada, Dinda meneruskan perjuangannya untuk menyelesaikan mandinya.

***

Saat makan malam tiba, Dinda berusaha bersikap setenang mungkin di kursinya. Di sampingnya, Papa dan Mama Daffa juga sedang menikmati makan malam bersama.

“Kamu masih kelihatan pucat, Daffa.”

“Emm... tapi Daffa udah nggak apa-apa kok, Ma.”

“Kurangi aktivitasmu di luar,” ujar Papa Daffa.

Dinda yang mendengarnya langsung menelan ludah dengan gugup.

“Iya, Pa.”

“Ehem!”

Tiba-tiba Papa Daffa tersedak. Mayang yang duduk di sampingnya pun sempat tertegun, sebelum akhirnya tersenyum tipis.

Selesai makan, Dinda langsung membereskan piring-piring kotor, mengikuti kebiasaan yang selama ini ia lakukan di rumahnya sendiri. Dengan cekatan, ia mencuci seluruh piring, lalu menatanya dengan rapi di tempat pengeringan.

Tanpa sepengetahuan Dinda, Mayang terus memperhatikannya dari kejauhan. Wanita paruh baya itu sempat tertegun melihat perubahan sikap anaknya. Namun, alih-alih curiga, Mayang justru tersenyum lega.

Setidaknya, putranya yang biasanya pendiam dan cuek kini terlihat lebih peduli terhadap keadaan rumah.

Setelah semuanya selesai, Dinda menaiki tangga dan kembali ke kamar Daffa. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan berbaring terlentang.

Pikirannya kembali mengingat percakapan singkat saat makan malam tadi.

Ada sesuatu dari sikap Papa dan Mama Daffa yang membuatnya semakin tidak nyaman.

Jangan-jangan mereka mulai menyadari ada yang berubah dari gue?

Dinda kemudian meraih ponselnya dan mengirim pesan ke Daffa.

Dinda : Bang, lu tetap beresin piringkan? Kasihan Ibu gue kalau lu nggak bantuin loh, Bang.

Dalam sekian detik pesan Dinda sudah mendapat balasan.

Daffa : Udah. Kemarin pecah 2, hari ini pecah 2 juga. Cuma bedanya hari ini dua-duanya mangkok yang pecah.

Dinda : Yasalam Bang Daffa....! Lu bener-bener deh! Pasti Ibu ngomelkan?

Daffa : Iya lah, apa lagi?

Dinda : Hadeh....

Daffa  : Eh Cil, Gue mau nanya...

Dinda : Bisa nggak sih Bang, manggil nama gue yang bener

Daffa : Nggak

Dinda memutar bola matanya, jengah.

Daffa : Emm... Kalau pipis, lu berdiri apa jongkok?

Astaga..! Bang Daffa ngapain nanya yang beginian sih?!

Wajah Dinda langsung merona mendengar pertanyaan Daffa. Ia ragu untuk membalas. Beberapa kata sempat diketiknya, tetapi baru dua detik kemudian langsung ia hapus lagi. Ia kembali mengetik, lalu menghapusnya lagi, seolah kesulitan menemukan jawaban yang tepat.

Namun, Dinda tidak bisa terus mengelak. Mau tak mau, ia harus menjelaskan semuanya kepada Daffa. Bagaimanapun juga, itu menyangkut tubuh aslinya sendiri.

Dinda : ya jongkok lah, jangan bilang lu kencing berdiri pakai tubuh gue, Bang ?!

Daffa : Nggak lah.. gue cuma nanya.

Padahal beberapa kali Daffa melakukannya dengan berdiri karena lupa.

Dinda : Anu..., Emm.. Mumpung Lu bahas ini, gue mau nanya juga Bang.

Daffa : Apa?

Dinda : Itu .. kalau pipis, gimana caranya biar nggak kocar kacir airnya?

Kali ini Daffa yang tegang.

Oh shit!! Dinda pasti selama ini udah sering lihatin Joni! Gue mesti bilang apa?

Sama seperti Dinda, Daffa juga terlihat ragu-ragu membalas pesan Dinda.

Daffa : Mesti di pegang Cil, biar terarah hidupnya.

Dinda tidak sanggup lagi melanjutkan obrolan mereka saking malunya. Padahal ia masih ingin menanyakan perihal junior Daffa yang selalu hidup tanpa diminta setiap kali ia bangun dari tidurnya. Minim pengetahuan yang membuatnya kerap mendapat serangan jantung dadakan.

Tanpa saling melihat, keduanya sudah terlihat sangat pasrah dengan keadaan yang mereka alami. Notif pesan pun hening sesaat. Sampai setengah jam kemudian, Dinda kembali mengirimkan pesan kepada Daffa.

Dinda : Bang..., ada yang perlu gue jelasin. Ini soal datang bulan...

Daffa langsung duduk ketika membaca pesan yang baru saja di kirim Dinda kepadanya.

Daffa: Maksudnya?

Dinda : Emm.. Ya lu tahu kan Bang, cewek-cewek pasti datang bulan. Dan tubuh gue nggak lama lagi kayaknya.

Daffa : Maksud lu, nggak lama lagi lu datang bulan?"

Dinda : Iya...

"Oh shit! Gue lupa kalau cewek pasti datang bulan!"

Daffa meracau sendiri. Dan saat ia sedang kebingungan, sesuatu tiba-tiba terasa mengalir dari bagian bawah sana.

"Kok gue berasa pipis di celana?" Gumam Daffa bingung.

Daffa lalu ke kamar mandi untuk memeriksa dan sekaligus mengganti celana yang terasa sedikit basah.

Alih-alih menemukan air seni, Daffa malah melihat ada noda darah.

Seketika Daffa mendadak tegang dan membeku di tempat. Hingga menit-menit berlalu, pesan dari Dinda terus masuk tanpa mendapatkan balasan.

Dinda : Bang, kok lu nggak bales chat gue sih? Penting loh ini!

Dinda : Bang...

Dinda : Bang oi...!

Dinda : Masih hidup kan lu, Bang?!🙄

-

-

-

Bersambung...

Jangan lupa like dan komen ya, terima kasih 🙏😊

1
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
awalnya pacaran nih ye wkwkwk
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
pasti Lo bakalan diterima
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
Alhamdulillah akhirnya tubuh mereka kembali lagi sprti semula
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ciee mangat bgt dapp
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
bayangin juga gada yg tegang 😂
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
bu mayang ternyata udah suka sama dinda jadi mantunya ya 🤣
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ngebet amat bang
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
harusnya kamu percaya anakmu dulu sii
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
jangan lupa undangan nya 🤣
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
berawal dari kesalahan pahaman Maslaah nya jadi rumit.
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
lah salah paham ternyata 🤣🤣🤣
salahin nggak pake kacamata itu
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
ribet kan jadinya
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
jadi gak lamaran nya
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ketawa Aja dulu
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
lama yg pasti Kamu
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
yg Bayarin km dap
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
meluk meluk segala, tau tau ada rasa eakkk wkwkwk
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
tiwi otw patah hati
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
udh deh kalian jadian aja
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
dih dr dulu juga dibully luh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!