Bagi Roselia, musuh dia hanya satu: Gabriel, putra Adipati saingan keluarganya.
Dua keluarga Adipati itu sudah bermusuhan turun-temurun, jadi tontonan seluruh istana.
Sampai sebuah fitnah keji dari Pangeran Ke-4 menjatuhkan keluarga Roselia. Ia dibuang ke perkebunan terpencil yang kumuh.
Roselia pikir hidupnya sudah berakhir.
Sampai takdir mempertemukan mereka lagi.
Ia menemukan Gabriel — sang musuh bebuyutan yang sombong itu — hanyut pingsan di sungai dekat perkebunannya.
Saat terbangun, Gabriel menatapnya kosong.
"Siapa... aku?"
Dia hilang ingatan!
Dendam Roselia membara. Inilah kesempatannya!
Ia menjadikan pewaris Duke yang angkuh itu sebagai pesuruh kebunnya. Disuruh mencuci, memanen, tidur di gudang!
Balas dendam kecilnya terasa manis... sampai Roselia sadar, Pangeran Ke-4 yang menghancurkan keluarganya, ternyata juga dalang di balik kecelakaan Gabriel.
Mereka dijebak. Diadu domba sejak awal.
Kini, saat ingatan Gabriel perlahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat balasan berdarah
Jauh di selatan, di dalam kamar kerja perkebunan yang sepi, sebuah lilin penyegel meleleh perlahan.
Sebelum berangkat menuju tebing utara bersama Gabriel sore tadi, Roselie telah menerima balasan surat rahasia dari ayahnya—Adipati Edward von Hazel—yang hingga saat ini masih bertahan di tengah kepungan arus politik ibukota. Surat itu diletakkan di atas meja kerja Roselie, menanti untuk dibaca secara utuh.
Di ibukota, Adipati Edward menulis lembaran pualam tersebut dengan tangan gemetar di dalam kediaman Hazel yang dijaga ketat oleh prajurit Kerajaan.
Untuk Putriku Terkasih, Roselie.
Pertanyaanmu dalam surat sebelumnya mengenai situasi ibukota telah membuat jantungku berdesir. Keadaan di sini jauh lebih kelam dari yang bisa kamu bayangkan dari kejauhan.
Kediaman Adipati Valerius kini tinggal puing-puing bernoda darah. Pangeran Cedric telah mengumumkan secara resmi bahwa Keluarga Valerius melakukan tindakan makar terhadap takhta. Adipati Valerius telah dieksekusi secara rahasia di dalam penjara bawah tanah, sementara seluruh pengikut, pelayan, dan kerabat mereka ditangkap atau diasingkan tanpa pengadilan yang adil.
Nama Gabriel von Valerius kini dicap sebagai pemberontak paling berbahaya. Pangeran Cedric mengerahkan seluruh prajurit Serigala Hitam untuk memburu sisa-sisa pengikut Valerius hingga ke pelosok negeri. Seluruh aset dan nama besar Valerius telah dihapuskan dari sejarah istana.
Roselie, aku tahu betapa tajamnya persainganmu dengan Gabriel di Akademi dulu. Namun ingatlah, kehancuran Valerius adalah peringatan keras bagi keluarga kita. Pangeran Cedric kini memegang kendali penuh atas Dewan Kerajaan. Berhati-hatilah di perkebunan. Jangan terlibat dengan apa pun yang berhubungan dengan Valerius, karena satu kesalahan kecil bisa menyeret keluarga Hazel ke tiang gantungan.
Ayah juga sedang mempertimbangkan untuk pensiun dan pulang ke perkebunan kalau situasi di Ibukota sudah tidak memungkinkan, Ayahmu yang sudah tua renta ini mungkin memilih menjadi pengecut nak.... Itu lebih baik dan bisa menjaga keluarga daripada dihabisi seperti keluarga Valerius.
Semoga kamu menjaga kesehatan
Ayahmu,
Edward von Hazel.
Warta itu mempertegas satu hal: Gabriel kini adalah pria tanpa nama, tanpa keluarga, dan tanpa tempat kembali. Kehancuran total keluarganya membuat pria itu murni berdiri sebagai buronan nomor satu di seluruh negeri.
Surat itu segera dikirim ke Roselie dengan jalur khusus. Hazel tau, kondisinya saat ini seperti terkekang, dia jadi tahanan rumahan untuk sementara karena kasusnya masih dalam proses penyelidikan. Karena itu pula, dia tidak bisa bertindak kepada antek antek Pangeran Cedric. Hazel tahu, ria harus segera menemukan bukti bahwa dia tidak bersalah dalam menyalahgunakan wewenangnya sebagai pemimpin.
Hazel hanya berharap kalau putrinya baik baik saja.
***
Sementara itu, di tepi tebing utara yang diterpa angin dingin pegunungan...
Suasana mendadak membeku. Lima penunggang kuda berzirah hitam berhenti sekitar lima puluh langkah di depan semak belukar tempat Gabriel dan Roselie bersembunyi. Kuda-kuda hitam milik prajurit itu menghentakkan kaki ke tanah basah, mengeluarkan hembusan napas beruap.
"Cari di sekitar sini!" seru komandan regu musuh dengan suara serak di balik helm besinya. "Laporan menyebutkan ada jejak kuda liar melewati jalur bukit utara. Jangan lewatkan satu pun rongga pohon atau gua!"
Di balik dinding batu, dada Roselie berdebar hebat. Posisinya yang berdempetan di belakang punggung lebar Gabriel membuat dia bisa merasakan ketegangan luar biasa dari otot-otot pria itu.
Gabriel tidak bergerak sedikit pun. Matanya yang dingin dan tajam menembus celah semak-semak, menghitung jumlah musuh, jarak tempuh, serta arah angin. Meskipun ingatannya diklaim terhapus bersih, insting bertarung yang terpatri di dalam sumsum tulang seorang Komandan Ksatria Valerius bekerja secara alami tanpa perlu diperintah.
'Dua di sisi kiri membawa busur, satu komandan di tengah berpedang panjang, dua sisanya memegang tombak...' batin Gabriel menganalisis situasi dalam hitungan detik.
Gabriel menurunkan tubuhnya sedikit, memutar kepalanya seraya berbisik tepat di samping telinga Roselie. Hembusan napas hangatnya membuat Roselie sedikit merinding.
"Nona... tetaplah merapat di balik batu ini. Apapun yang terjadi, jangan pernah keluar dari perlindungan saya," bisik Gabriel sangat halus.
Roselie menatap profil samping wajah Gabriel. Tidak ada lagi raut canggung atau bingung seperti saat di meja sarapan tadi pagi. Wajah pria di hadapannya saat ini murni milik seorang pertarung perkasa yang siap menerkam mangsanya.
"Gabriel... mereka berzirah lengkap. Kau hanya membawa pisau berburu," bisik Roselie cemas, jemarinya secara tidak sadar meremas mantel hijau zamrudnya sendiri.
"Jumlah mereka tidak masalah, Nona," jawab Gabriel datar, memegang gagang pisau berburu dengan erat. "Yang penting adalah memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa kembali untuk melapor."
Salah satu prajurit berzirah hitam melangkah turun dari kudanya, memegang tombak seraya berjalan pelan menuju arah pohon willow tua raksasa—lokasi persis tempat dokumen rahasia itu disembunyikan di rongga batangnya!
"Lihat! Ada bekas gesekan tali kekang di pohon willow itu!" teriak prajurit itu.
Roselie menahan napasnya. ‘Sial... kalau mereka menemukan dokumennya sekarang, selesai sudah semuanya!’
Gabriel melirik Roselie sekilas, memberikan tatapan menenangkan yang teramat dalam, lalu berbisik pelan, "Tunggu saya di sini, Roselie."
Sebelum Roselie sempat melarang, tubuh tinggi Gabriel melesat keluar dari balik semak-semak bagaikan bayangan hitam yang tak bersuara!
panik Khan Rosalie..
kebayang malunya gimana 🥲. Rosalie udh donk jangan sandiwara trus. Gabriel udh inget itu 😭😭😭
eeehhhh🤭🤭🤭
trus gimana donk.. satu2nya jalan keluar Gabriel terjun ke sungai.. tapi..... 😮💨😮💨
. Gabriel udh inget lagi...🤭🤭🤭 gmNa nasib Rosalie yang mentah2 membohongi Gabriel..🤣🤣🤣 aduuhh pasti abis ini Gabriel pura2 deh sama Rosalie.. mau ngapain coba dia🤣, nggak mungkin kalo nggak balas dendam