Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resleting Gaun Sialan
Tepat pukul satu siang, bel pintu rumah dinas berbunyi dua kali secara konstan—pola ketukan terenkripsi khas Team Eclipse.
Ayyana yang sedang duduk bosan di sofa ruang tengah langsung bangkit. Ia mengintip lewat celah jendela terlebih dahulu, memastikan sosok yang berdiri di depan pintu adalah pria berbadan tegap dengan seragam dinas harian militer dan kacamata hitam yang tersangkut di kerahnya.
Begitu Ayyana menarik pintu baja itu terbuka, "Ocla?"
Ocla yang tadinya berdiri tegak siap memberikan laporan teknis seketika membeku di tempat.
Secara visual... sial.
Ocla tertahan selama beberapa detik.
Nyonya Kapten mereka benar-benar luar biasa. Apa yang selama ini terlihat di layar berita atau dokumen profil Sanders Corp sama sekali tidak menyamai kenyataan.
Ayyana yang berdiri di hadapannya saat ini—bahkan tanpa make-up, rambut terurai alami sedikit acak-acakan, dan tenggelam di balik sweatshirt hitam jumbo milik Chester—memancarkan pesona yang memukau.
Ada aura elegan khas bangsawan bisnis yang tak bisa disembunyikan, bahkan oleh pakaian kebesaran sang Kapten.
Pantas saja si Bos sampai pasang badan habis-habisan, batin Ocla kagum, meski dengan cepat ia berdehem pelan untuk menguasai diri.
"Selamat siang, Nona Sanders—maksud saya, Nyonya Sinclair," sapa Ocla tegas namun tetap sopan, buru-buru mengalihkan pandangannya agar tetap profesional. Ia mengangkat dua koper besar dan beberapa kantong khusus di kedua tangannya. "Logistik dan perlengkapan pribadi Nyonya sudah melewati pemeriksaan tiga tingkat dan dinyatakan bersih dari alat penyadap. Saya izinkan masuk untuk meletakkannya di dalam."
Ayyana merespons dengan anggukan singkat, menyilangkan tangan di dada sembari memberi jalan bagi pria tegap itu. "Masuk saja, letakkan di dekat tangga."
Ocla melangkah masuk dengan cekatan. Pria itu meletakkan dua koper besar beserta beberapa kantong belanja dari merek busana ternama di sudut ruang tengah dengan kehati-hatian khas prajurit yang menangani muatan berharga.
"Semua pakaian harian, gaun pengganti, hingga perlengkapan perawatan pribadi sudah disesuaikan dengan instruksi Kapten," Ocla berbalik, kembali berdiri tegap memposisikan dirinya secara formal di hadapan Ayyana. "Selain itu, Kapten meminta saya menyampaikan bahwa jadwal makan siang Nyonya sudah dikirimkan via katering khusus. Pengiriman berikutnya akan dilakukan pukul 18.00 sore."
Ayyana melirik tumpukan barang miliknya, lalu kembali menatap Ocla dengan pandangan menilai. "Kalian selalu seformal ini pada atasan termasuk... Istrinya? Chester benar-benar membuat rumah ini terasa seperti barak tentara."
Ocla terkekeh pelan, sedikit mengendurkan ketegangannya. "Kapten Zero memang kaku, Nyonya. Tapi percaya sama kami, sistem ketat ini satu-satunya alasan kenapa jaringan intelijen Harris belum berhasil menembus area ini. Di luar sana, orang-orang Harris mulai memperketat pengawasan di radius dua kilometer dari komplek ini."
Mendengar nama Harris, raut wajah Ayyana langsung berubah serius. "Kalian menemukan sesuatu?"
"Pergerakan biasa, tapi berulang. Tim siber kami yang dipimpin Zack terus memantau lalu lintas data di sekitar area ini," jawab Ocla lugas. "Selama Nyonya tidak keluar dari batas perimeter tanpa pengawalan kami, posisi Nyonya aman."
Ocla kemudian menyenggol koper paling atas dengan ujung sepatunya. "Silakan diperiksa dulu barang-barangnya, Nyonya. Kalau ada kebutuhan tambahan yang kurang, bisa langsung sampaikan ke saya atau Flyn. Kalau tidak ada hal lain, saya permisi kembali ke markas."
Ayyana tidak langsung menyentuh koper-kopernya.
Sebaliknya, wanita itu mundur setengah langkah, menatap Ocla dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan mata menyipit penuh curiga.
Intuisi seorang Sanders yang terbiasa bertransaksi di dunia bisnis yang penuh tipu daya seketika mengambil alih.
"Tunggu," potong Ayyana dingin, suaranya sarat ketegangan. "Bagaimana saya bisa yakin kamu benar-benar Ocla?"
Ocla tertegun sejenak, menghentikan posisinya yang hendak berbalik menuju pintu.
"Secara personal, saya belum pernah bertemu kalian sama sekali," lanjut Ayyana, menunjuk dadanya sendiri lalu mengarah pada Ocla. "Di pernikahan kemarin, semuanya bergerak terlalu cepat. Saya tidak kenal wajahmu, tidak tahu wajah Flyn, Zack, atau siapa pun yang Chester sebut sebagai Team Eclipse. Bagaimana kalau kamu ini utusan Harris yang menggunakan seragam militer dan membawa koper berisi pelacak?"
Ocla menyunggingkan senyum tipis—bukan senyum mengejek, melainkan apresiasi atas kewaspadaan Ayyana yang dinilainya sangat tepat untuk situasi hidup-mati ini.
"Pertanyaan dan analisis yang bagus, Nyonya," puji Ocla tenang. Pria itu menyilangkan tangannya di belakang punggung, tidak menunjukkan pergerakan mengancam. "Kapten sudah memperkirakan Nyonya akan menanyakan hal ini."
Ocla merogoh saku dalam jaket seragamnya, menarik sebuah koin logam tebal berwarna perak gelap dengan ukiran emblem khusus berbentuk gerhana bulan dan sangkur silang, lalu meletakkannya di atas meja kopi dekat Ayyana.
"Ini koin enkripsi fisik Team Eclipse. Hanya ada lima di dunia—satu di tangan Kapten, dan empat sisanya di kami," terang Ocla lugas. "Selain itu, Kapten memberi instruksi: jika Nyonya ragu, sebutkan kode identifikasi verbal khusus yang hanya diketahui kamu dan Kapten."
Ayyana menatap koin berat di atas meja itu, lalu mengalihkan pandangan kembali ke wajah Ocla.
"Kode apa?" tanyanya menantang.
Ocla berdehem pelan, raut wajahnya agak canggung saat mengucapkan kalimat dari atasan kakunya itu. "Kata Kapten... jawabannya adalah 'resleting gaun sialan'."
Ayyana seketika membeku.
Matanya membelalak kecil saat frasa konyol namun memalukan itu meluncur mulus dari mulut Ocla.
Wajahnya merona merah padam dalam hitungan detik—antara menahan malu luar biasa dan amarah yang mendadak tersulut kembali pada pria kaku yang saat ini sedang berada di markas besar.
Chester gila! batin Ayyana menjerit histeris. Dari sekian banyak kata sandi taktis di dunia militer, pria itu malah memilih kalimat umpatannya kemarin malam saat terjebak dalam gaun pengantin.
Ocla berusaha keras menjaga raut wajah netralnya, meski sudut bibirnya berkedut menahan tawa. "Kapten bilang, cuma Nyonya dan beliau yang ada di lokasi saat kalimat itu diucapkan. Jadi, identitas saya terverifikasi, Nyonya?"
Ayyana menghembuskan napas kasar, membuang mukanya ke samping demi menyembunyikan rona merah di pipinya. "Ya. Terverifikasi. Sekarang kamu boleh keluar."
"Siap, Nyonya Sinclair," sahut Ocla tegas, sedikit membungkukkan badan sebelum memutar tumitnya dan melangkah keluar menuju pintu depan. "Saya akan bersiap di radius luar bersama Flyn. Selamat beristirahat."
"Terimakasih." Pintu baja itu kembali tertutup dengan bunyi klik yang mantap. Begitu menyadari dirinya sendirian di ruang tengah, Ayyana langsung menyambar ponselnya di atas meja. Jemarinya mengetik pesan singkat dengan kecepatan tinggi ke nomor sang Kapten.
Kamu sengaja, kan?! Kata sandi macam apa itu, Chester?!
Di tempat lain, di dalam ruang rapat taktis Markas Besar, ponsel khusus di dalam saku seragam Chester bergetar singkat.
Chester menarik ponsel itu, membaca pesan bernada histeris dari Ayyana di bawah tatapan heran beberapa perwira di sekeliling meja rapat.
Wajah Chester tetap dingin tanpa ekspresi, namun ada kilat tipis kepuasan di matanya saat jemarinya membalas cepat:
Kata sandi paling efektif adalah hal yang paling ingin kamu lupakan. Pakaianmu sudah diperiksa. Langsung ganti baju dan kunci pintu.