NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 SEBUAH SUDUT HANYA UNTUK MEREKA

Bara muncul di sisinya, tanpa suara, seperti biasa.

"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.

"Entahlah," jawab Maya, menyandarkan kepala di bahunya. "Tapi kurasa aku akan baik-baik saja."

"Apa yang dia katakan?"

"Dia minta maaf."

"Dan kamu?"

"Aku bilang aku tidak memaafkannya. Tapi aku menghargai dia sudah datang."

Bara mengangguk.

"Itu awal yang baik."

"Kalau kamu, akan memaafkan?" tanya Maya, mengangkat pandangan ke arahnya. "Kalau ada yang mengkhianatimu, akan kamu maafkan?"

Bara butuh waktu untuk menjawab.

"Tidak," katanya akhirnya. "Aku tidak memaafkan. Aku melupakan. Atau aku bertahan hidup. Tapi memaafkan... aku tak tahu caranya."

"Aku juga," Maya mengakui. "Tapi aku ingin belajar. Bukan demi mereka. Demi diriku sendiri. Supaya tidak memikul amarah ini seumur hidup."

Bara melingkarkan sebelah lengan di tubuh Maya dan menariknya mendekat.

"Kalau begitu ayo kita belajar bersama."

Maya tersenyum.

"Bersama," ulangnya.

* * *

Malam itu, sehabis makan malam, Bara membawanya ke bangunan itu.

Mereka belum pernah ke sana bersama. Bara ingin itu menjadi kejutan. Mobil menyusuri jalan-jalan di kawasan utara, yang diterangi lampu jalan model lama, lalu berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai berfasad bata ekspos, dengan jendela-jendela lebar yang menghadap ke jalan.

"Turun," kata Bara.

Maya turun dari mobil dengan kaki gemetar. Bara melangkah ke pintu, memasukkan kunci ke lubangnya, lalu membukanya. Lampu di dalam menyala otomatis.

Ruangan itu lapang, terang, dengan dinding putih dan lantai kayu. Jendela-jendelanya membiarkan cahaya bulan masuk, melemparkan bayang-bayang panjang keperakan. Di atas, sebuah tangga melingkar menuju lantai dua yang pernah Bara ceritakan: dua kamar, sebuah dapur kecil, satu kamar mandi. Ruang untuk ditinggali, seandainya suatu hari ia mau. Tapi Maya tak sanggup memikirkan itu sekarang. Ia hanya bisa menatap dinding-dinding kosong itu dan mengisinya dengan khayalannya.

Lukisan. Patung. Instalasi. Seniman-seniman muda, yang belum dikenal, yang layak mendapat kesempatan. Galerinya. Mimpinya.

"Sempurna," bisiknya, dengan suara tercekat.

"Kamu suka?"

Maya berbalik menghadapnya. Bara berdiri di ambang pintu, dengan kedua tangan di saku dan raut yang bukan raut seorang mafioso. Itu raut seorang laki-laki yang ingin menyenangkan hati, yang ingin melihatnya bahagia, yang tidak yakin apakah ia telah berhasil.

"Aku sangat suka," jawab Maya. "Ini jauh lebih dari yang pernah kuimpikan."

"Kalau begitu ini milikmu."

Maya melintasi ruangan menghampirinya. Ia menggenggam kedua tangan Bara dan menatap matanya.

"Tak pernah ada yang melakukan hal seperti ini untukku," katanya. "Tak pernah ada yang mendengarkan mimpiku dan menganggapnya sungguh-sungguh. Tak pernah ada yang percaya padaku seperti kamu."

"Aku percaya padamu," jawab Bara. "Sejak hari pertama."

Maya berjinjit dan menciumnya. Ciuman yang lembut, lambat, sarat oleh rasa syukur yang tak bisa diungkapkan kata-kata.

Ketika mereka melepaskan diri, Maya menangis. Tapi itu air mata yang baik.

"Ayo kita pulang," kata Bara, mengusap pipi Maya dengan kedua ibu jarinya.

"Inilah rumahku," jawab Maya, memandang ruangan itu, dinding-dinding kosongnya, jendela-jendela yang terbuka ke arah jalan. "Mimpi ini. Bersamamu."

Bara menggenggam tangannya.

"Kalau begitu, ayo kita bermimpi bersama."

Mereka keluar dari bangunan itu, mengunci pintunya, lalu berjalan ke arah mobil di bawah cahaya bulan.

Maya tak menoleh ke belakang.

Ia sudah tak perlu lagi melakukannya.

Minggu-minggu berikutnya adalah pusaran kesibukan. Maya menceburkan diri sepenuhnya ke dalam galeri itu dengan energi yang bahkan mengejutkan Bara. Ia menghabiskan berjam-jam di sana, mengecat dinding, memilih perabot, bertemu para seniman, mempelajari seluk-beluk menjadi pedagang seni dengan kelahapan yang tak pernah ia tunjukkan bahkan semasa kuliah.

Marta, yang semula mengamati dengan penuh keraguan, akhirnya menjelma menjadi sekutu tak terduga baginya. Perempuan tua itu ternyata punya kepekaan estetika yang tak Maya sangka, dan bersama-sama mereka menyeleksi setiap detail: lampu-lampu hangat yang menonjolkan lukisan cat minyak, tumpuan besi tempa untuk patung-patung, sofa beledu merah anggur tempat para kolektor bisa duduk untuk bernegosiasi.

Bara memilih menjaga jarak, mengamati dari kejauhan. Ia tak ikut campur, tak memberi perintah, tak memaksakan seleranya. Ia hanya ada di sana, di balik bayang-bayang, dengan cek terbuka dan kesabaran tak terbatas dari seseorang yang tahu ia tengah menyaksikan sesuatu yang indah sedang lahir.

"Kamu tidak mau berkomentar apa-apa?" tanya Maya suatu sore, sewaktu mereka menggantung lukisan terakhir.

Bara bersandar di kusen pintu, kedua lengannya bersedekap di dada, dengan raut yang tak bisa Maya baca.

"Aku tidak mengerti seni," jawabnya. "Komentarku tak ada nilainya."

"Komentarmu berarti segalanya untukku."

Bara menegakkan tubuh perlahan. Ia berjalan ke arah Maya, menatap matanya, lalu mengalihkan pandangan ke lukisan yang baru saja mereka gantung: sebuah karya abstrak cat minyak dari seorang seniman lokal, penuh warna biru pekat dan kilau keemasan.

"Aku suka yang ini," katanya. "Kelihatan seperti badai. Tapi badai yang indah. Jenis badai yang menakutkan tapi membuat orang ingin tinggal untuk menontonnya."

Maya tersenyum.

"Kamu lebih penyair daripada penampilanmu, Bara Prakoso."

"Jangan bilang siapa-siapa. Aku punya reputasi yang harus dijaga."

Mereka berciuman. Ciuman singkat dan lembut, yang kini sudah menjadi kebiasaan. Tapi Maya menyadari bahwa ciuman Bara semakin lama semakin panjang. Dan itu ia sukai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!