NovelToon NovelToon
Dewi Angin Utara

Dewi Angin Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.

Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.

Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.

Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.

Sementara Utara tetap mengingatnya.

Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 — POV ATLANTIS

BAB 2 — POV ATLANTIS

Atlantis terlihat berbeda dari kerajaan Agharta. Mereka kerajaan agak lebih muda dari Mu dan Agartha, mereka dulunya satu ras dengan bangsa Mu, mereka belajar tentang ilmu pengetahuan mengendalikan kristal, menggabungkan dengan energi.

Mereka juga dikenal sebagai bangsa yang suka bertarung. Karena teknologi mereka sudah maju, mereka memiliki persenjataan yang jauh lebih maju dibanding bangsa lain.

istana Atlantis menjulang megah, dengan dikelilingi oleh kanal kanal, sebagai sumber energi.

Menara-menara tinggi berwarna putih keemasan berdiri di tengah kota. Pilar-pilar besar mengelilingi istana, sementara cahaya biru berkilauan dari berbagai bangunan.

Di pusat Atlantis, sebuah ruang pertemuan besar dipenuhi para pemimpin dan panglima perang.

Di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar yang memancarkan cahaya biru.

Salah satu panglima menunjuk sebuah wilayah yang muncul di atas meja.

“Agharta.”

Beberapa orang langsung memperhatikan.

“Kerajaan itu masih bertahan?”

“Masih. Tapi mereka tidak akan bertahan lama.”

Seorang pria yang duduk di kursi utama tersenyum tipis.

“Banul Jan sudah melemahkan wilayah Mu. Jika kita bergerak sekarang, Agharta akan kesulitan menghadapi dua ancaman sekaligus.”

Panglima lain mengangguk.

“Lalu bagaimana dengan Pasukan Langit?”

Ruangan mendadak hening.

“Kabar terakhir, mereka akan turun.”

“Bersama Azazil.”

Beberapa orang saling berpandangan.

Pria di kursi utama justru tertawa kecil.

“Bagus.”

“Bagus?”

“Biarkan mereka turun.”

Ia berdiri dan berjalan mendekati peta cahaya di tengah ruangan.

“Jika Pasukan Langit menyerang Banul Jan, kita bisa menggunakan kekacauan itu untuk mengambil wilayah Agharta.”

Salah satu panglima mengernyit.

“Dan jika Agharta menutup gerbang?”

“Serang dari luar.”

“Pertahanan mereka sangat kuat.”

Pria itu tersenyum.

“Tidak ada pertahanan yang tidak bisa ditembus.”

Tangannya menyentuh cahaya di atas peta.

Seketika muncul gambaran tembok besar Agharta.

“Pertama, putus jalur mereka menuju Mu.”

Ia menggeser tangannya.

“Lalu kepung wilayah luar.”

Cahaya berubah, menunjukkan beberapa titik di sekitar Agharta.

“Jangan langsung menyerang istana.”

Para panglima menatapnya.

“Kita paksa mereka keluar.”

Ruangan kembali hening.

“Jika para Penjaga Agharta keluar untuk membantu wilayah mereka...” katanya pelan, “kita hancurkan pertahanan mereka dari dalam.”

Salah satu panglima tersenyum.

“Dan setelah itu?”

Pria itu menatap peta Agharta.

“Ambil pengetahuan mereka.”

Senyumnya semakin lebar.

“Sudah terlalu lama Agharta menyembunyikan apa yang mereka miliki.”

Di luar istana, cahaya Atlantis terus menyala.

Sementara jauh di utara, langit mulai dipenuhi awan gelap.

Perang semakin dekat.

......................

FIRASAT ALAM

Hari itu, langit Agharta tiba-tiba berubah.

Angin yang biasanya sejuk mulai berembus lebih kencang. Awan gelap perlahan berkumpul, menutupi langit yang sebelumnya tenang.

Petir menyambar dari kejauhan.

DUAAAARRR

Beberapa Penjaga yang sedang berada di luar istana langsung menoleh ke langit.

“Kenapa tiba-tiba seperti ini?”

Tidak ada yang menjawab.

Cahaya biru dari kristal-kristal pelindung Agharta mulai berdenyut lebih cepat.

Para Penjaga mulai cemas. Master Yao, berlari menuju, balkon melihat

"Astaga, secepat inikah" suaranya menyiratkan ketakutan.

Beifeng, terlonjak dari ranjang, berlari ke menuju jendela, " zhuin, Agartha, bumiku"

Utara berdiri di depan istana, menatap langit dengan wajah serius.

Di sisi lain, jauh dari Agharta...

Atlantis juga melihat perubahan yang sama.

Namun mereka tidak terlihat cemas.

Justru beberapa pemimpin Atlantis tersenyum puas.

“Lihat.”

Petir kembali menyambar langit.

“Alam mulai berpihak kepada kita.”

Salah satu panglima tertawa kecil.

“Bahkan langit sepertinya tahu siapa yang akan menang.”

Mereka melihat perubahan alam itu sebagai pertanda kemenangan.

Mereka tidak tahu...

bahwa apa yang mereka anggap sebagai keberuntungan sebenarnya adalah awal dari bencana yang jauh lebih besar.

Dan kali ini, bukan hanya Agharta yang akan terkena dampaknya.

Atlantis juga.

1
Aralum
ikuti terus yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!