Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunci Yang Tak Sengaja Jatuh 15.
Aroma kuah bakso dan es jeruk berbaur menjadi satu, memenuhi rongga udara kantin SMA Bhineka yang bising.
Jam istirahat pertama selalu menjadi momen paling kacau sekaligus paling dinanti. Di tengah lautan seragam putih-abu-abu yang saling berdesakan, Ulfa berjalan dengan langkah tergesa. Sebagai Ketua OSIS, waktu luangnya adalah mitos. Tangan kanannya mendekap erat seendel map proposal kegiatan Class Meeting, sementara jemari kirinya sibuk meraba-raba saku rok, memastikan ponselnya tidak tertinggal.
Ulfa menghela napas panjang. Beban di pundaknya terasa dua kali lebih berat minggu ini. Bukan hanya karena urusan sekolah, tetapi juga karena kepindahan rumah barunya yang melelahkan. Ulfa harus bolak balik memindahkan barang yang masih tertinggal di rumah orang tua nya. Dalam satu rumah sebagai pasutri muda, satu atap memiliki dua kunci. Dan Ulfa membawa salah satu kuncinya.
Kring!
Bunyi logam beradu dengan lantai keramik kantin yang licin terdengar samar di antara keriuhan. Ulfa tidak mendengarnya.
Langkah kakinya terlalu cepat, didorong oleh ambisi untuk segera menemui pembina OSIS di ruang guru sebelum bel masuk berbunyi. Ia terus melangkah, meninggalkan sebuah benda kecil yang tergeletak pasrah di dekat meja pojok.
Di meja pojok itu, Zara sedang menopang dagu dengan bosan. Ia mengaduk-aduk es teh manisnya yang sudah mencair setengah. Di hadapannya, ada Langit— Mereka sempat bertengkar. Namun cepat juga untuk baikan.
Pandangan Zara tanpa sengaja turun ke lantai saat ia membetulkan posisi sepatunya. Di sana, tepat beberapa sentimeter dari kaki meja, sesuatu yang berkilau menangkap cahaya lampu kantin. Sebuah anak kunci berwujud perak berkilau, tampak sangat baru, terikat pada sebuah gantungan unik.
Zara membungkuk, memungut benda tersebut. "Loh kok ini.." gumamnya bingung, hampir tenggelam dalam tawa keras Langit yang sedang membahas taktik pertandingan horizontal.
Zara mengamati objek di telapak tangannya. Detik berikutnya, napasnya tertahan. Jantungnya melewatkan satu ketukan.
Gantungan kunci itu berbentuk miniatur teleskop kuno berbahan kuningan mini dengan ukiran rasi bintang Orion di sepanjang tabungnya. Itu bukan gantungan kunci murahan yang bisa dibeli di toko grosir depan sekolah.
Itu adalah replika kustom dari sebuah toko suvenir observatorium planetarium yang terletak di luar kota—tempat yang pernah dikunjungi Langit dua bulan lalu saat izin tidak masuk sekolah dengan alasan acara keluarga.
Zara mengerutkan kening. Mengapa benda ini terasa begitu familier?
Dengan gerakan refleks yang didorong oleh firasat aneh, Zara meraih tas ransel Langit yang digantung di sandaran kursi sebelah cowok itu. Tanpa meminta izin—karena hubungan mereka sudah di tahap saling percaya untuk membuka tas masing-masing—Zara meraba kantong kecil di bagian depan ransel Langit. Tempat di mana Langit selalu menyimpan kunci motornya.
Zara menarik keluar kunci motor Langit. Di sana, menjuntai dari cincin logamnya, adalah sebuah gantungan kunci.
Miniatur teleskop kuno berbahan kuningan. Dengan ukiran rasi bintang Orion.
Zara meletakkan kedua kunci itu berdampingan di atas meja kayu kantin. Matanya bergerak cepat, membandingkan setiap detail kecil. Mereka identik. Tekstur kuningan yang agak kasar, warna cokelat tembaga yang khas, hingga goresan kecil di bagian lensa miniatur tersebut. Satu-satunya perbedaan adalah kunci milik Langit adalah kunci motor matic, sementara kunci yang baru ia temukan adalah kunci pintu rumah model silinder modern berlabel high security.
"Sayang," panggil Zara. Suaranya rendah, namun ada nada mendesak yang membuat Langit langsung menoleh dan menghentikan tawa bersamanya dengan anak-anak basket.
"Kenapa, Bee?" tanya Langit, menggunakan panggilan sayang candaan mereka. Matanya mengikuti arah telunjuk Zara yang menunjuk ke atas meja.
"Ini punya kamu?" Zara mengangkat kunci rumah baru yang tadi ia temukan.
Langit menatap dua benda di meja, lalu meraba saku celananya secara otomatis sebelum melihat ke arah kunci motornya sendiri yang sudah dikeluarkan Zara.
Wajah cowok itu tampak panik selama beberapa detik. 'Sial Ulfa!' Dalam hati sejenak. Sebelum ia menjawab "Bukan. Kunci saya yang itu, kan? Gantungan kunci saya cuma ada satu, yang saya beli waktu ke Lembang kemarin."
"Terus ini punya siapa?" bisik Zara, lebih kepada dirinya sendiri. "Gantungan ini langka, kan? Kamu bilang waktu itu cuma diproduksi terbatas untuk pameran astronomi tahunan."
Langit mengambil kunci rumah barunya itu, memutarnya di sela jari. "Iya, emang. Kok bisa ada yang punya persis ya di sekolah kita? Jatuh di mana tadi?" Tanyanya mulai bersandiwara.
"Di sini. Pas ada orang lewat," kata Zara. Pikirannya mendadak berputar ke belakang, mencoba mengingat siapa saja yang berjalan melewati meja mereka dalam satu menit terakhir. Hanya ada beberapa orang, dan salah satunya adalah...
"Ulfa," cetus Zara pelan.
Ia ingat betul jaket almamater OSIS yang khas dan map besar berwarna biru yang dibawa gadis itu. Ulfa berjalan terburu-buru melewati sisi kiri meja mereka tepat sebelum benda ini terdengar berdenting di lantai.
Ekspresi Langit tidak berubah drastis, tetap datar, namun ada kilatan tipis di matanya yang ditangkap oleh radar sensitif seorang kekasih bernama Zara. "Ulfa Ketua OSIS? Mungkin cuma kebetulan sama, Ra. Lagian banyak orang yang suka astronomi."
"Tapi ini terlalu spesifik, Yang," bantah Zara telak. Ia menolak menganggap ini sebagai kebetulan biasa. Jarak tempuh dari kota mereka ke observatorium itu memakan waktu enam jam perjalanan darat. Mengapa dua orang di sekolah yang sama, yang tampaknya tidak pernah akur, memiliki benda sekecil dan seunik ini dalam waktu yang bersamaan?
Zara mengambil kembali kunci rumah tersebut dari tangan Langit. Dinginnya logam terasa menjalar ke ujung jarinya, membawa sebuah perasaan tidak nyaman yang asing di ulu hatinya. Hubungannya dengan Langit selama ini adem ayem, tanpa drama besar.
Namun, melihat gantungan kunci itu, ada sebuah riak kecil yang tenang namun dalam, mulai mengusik permukaan air yang selama ini tenang.
"Saya balikin ke dia dulu ya. Kasihan, ini kayaknya kunci penting, ada kode nomor rumahnya di balik gantungan," ucap Zara sambil berdiri dari kursinya.
Langit mengangguk dalam ketenangan nya— Walau hati nya sedang berdegup kencang akan takut ketahuan, Tapi ia percaya pada Ulfa untuk menambal keteledorannya sendiri.
Pria itu kembali meraih kunci motornya dan memasukkannya ke dalam saku. "Yaudah. Jangan lama-lama, bentar lagi bel."
Zara berjalan meninggalkan kantin dengan langkah lambat. Di tangannya, miniatur teleskop itu terasa berat. Ia tahu ia tidak boleh menuduh apa pun secara sembarangan. Ini hanya sebuah gantungan kunci.
Sebuah probabilitas matematis yang kecil, namun tetap mungkin terjadi di dunia nyata. Namun, naluri perempuannya membisikkan sesuatu yang lain, bahwa di balik kemiripan benda mati ini, ada sebuah cerita hidup yang belum ia ketahui.
Dan langkah kaki Zara membawanya menuju ruang OSIS, siap mencari tahu kebenaran dari pemilik asli serpihan logam tersebut.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳