Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Neraka x Rencana Busuk
Pagi itu, awan kelabu menggantung di atas langit Depok, seolah ikut bersimpati pada nasib Reza. Ruang kelas 201 di Gedung FIB UI mendadak berubah fungsi menjadi ruang interogasi sekelas markas KGB, dengan pendingin ruangan yang entah kenapa disetel di suhu kutub utara. Hari ini adalah hari penentuan: Ujian Lisan Bahasa Mandarin.
Reza duduk tegak di kursi kayu, kemejanya basah oleh keringat dingin meski AC menyemburkan angin sedingin es tepat ke tengkuknya. Di seberang meja, duduk Laoshi (Dosen) bernama Pak Johan, pria paruh baya dengan kacamata tebal yang tatapannya bisa menembus tulang rusuk dan membaca dosa-dosa masa lalu mahasiswanya.
"Baik, Reza," kata Pak Johan dengan suara bariton yang berat. "Coba pelafalan tone dari kalimat ini. Ingat, beda tone, beda arti. Salah sedikit, kamu bukannya bilang 'Ibu sedang naik kuda', tapi 'Kuda sedang memarahi ibu'. Silakan."
Reza menelan ludah. Tenggorokannya mendadak sekering gurun Sahara. Ia menatap deretan huruf Hanzi di kertas ujiannya seolah huruf-huruf itu adalah sandi rahasia alien. Selama berminggu-minggu ia telah menghafalnya di sela-sela mengaduk panci mi instan di Warkop, namun ditatap langsung oleh Pak Johan membuat semua hafalannya seakan menguap lewat ubun-ubun.
"Mā... má... mǎ... mà," Reza mulai melafalkan nada dasar dengan suara bergetar, mirip kaset kusut yang pitanya hampir putus.
Setiap kali Reza mengucapkan satu kalimat, Pak Johan hanya mengangguk pelan atau mencoret sesuatu di kertas penilaiannya dengan pena tinta merah. Suara goresan pena itu terdengar seperti vonis hukuman mati di telinga Reza. Selama hampir empat puluh lima menit, Reza dipaksa berpidato, menjawab pertanyaan acak, dan bercerita tentang aktivitas sehari-harinya murni dalam bahasa Mandarin. Lidahnya terasa kram, rahangnya pegal.
Ketika Pak Johan akhirnya meletakkan penanya dan berkata, "Cukup, silakan keluar," Reza merasa nyawanya baru saja ditarik kembali ke dalam raganya. Ia berdiri, membungkuk kaku seperti robot kehabisan baterai, lalu melangkah keluar kelas dengan langkah gontai.
Di luar, Poltak sudah menunggu sambil duduk bersila di lantai lorong, mengunyah roti isi daging. Melihat Reza keluar dengan wajah pucat pasi seperti mayat hidup, Poltak langsung berdiri.
"Cemana, Za? Aman ginjalmu? Nggak disuruh Laoshi itu kau push up pakai bahasa Mandarin kan?" sambut Poltak heboh.
Reza menyenderkan tubuh kurusnya ke dinding, memejamkan mata. "Otak gue berasap, Tak. Sumpah. Rasanya gue pengen restart kepala gue. Kalau sampai nilai gue jeblok, gue beneran buka cabang Warkop aja di pinggir danau Kenanga."
"Bah, optimis kau sikit! Udahlah, yang penting penderitaanmu udah lewat. Pengumumannya masih minggu depan, kan? Sekarang, kita rayakan kebebasan sementaramu ini!" Poltak menepuk punggung Reza dengan tenaga beruang, membuat Reza hampir tersungkur.
Mereka berdua berjalan menuju Kantin Sastra (Kansas) untuk makan siang. Karena ujian lisan adalah mata kuliah terakhir yang menjadi penutup minggu ujian, Reza resmi memiliki waktu luang yang sangat langka. Tidak ada tumpukan buku tebal yang harus dihafal sore ini, tidak ada keharusan mendekam di perpustakaan.
Di meja kantin, sambil menyantap seporsi nasi gila porsi kuli yang ditraktir oleh Poltak, sang sahabat dari Medan itu mengutarakan rencananya.
"Za, dengar ya. Otakmu itu isinya cuma huruf keriting sama kuah Indomie. Sekali-sekali, kau harus lihat peradaban! Sore ini, kuculik kau keliling Ibukota!" deklarasi Poltak sambil mengacungkan sendoknya. "Kita naik Metromini, terus nyambung Busway. Kita ke Monas, ke Blok M, kalau perlu kita nongkrong di Plaza Senayan biar ketularan auranya orang-orang kaya Jakarta. Gimana? Setuju kau?"
Reza mengunyah nasinya perlahan. Jujur, tawaran itu sangat menggoda. Sejak menginjakkan kaki di Jakarta, rutenya hanya berkisar antara kosan, kampus, dan warkop. Ia bahkan belum pernah melihat tugu Monas secara langsung. "Boleh deh, Tak. Tapi gue nggak bawa duit buat jajan di Senayan lho ya. Beli es teh di sana harganya bisa buat makan gue tiga hari."
"Tenang! Semua di cover oleh dompet marga Hasibuan! Hari ini kau resmi jadi turis!" Poltak tertawa menggelegar.
Namun, rencana wisata elit itu seketika hancur berkeping-keping.
Perhatian pengunjung kantin yang tadinya riuh tiba-tiba tersedot ke arah televisi tabung berukuran 21 inci yang terpasang di sudut langit-langit Kansas. Siaran acara musik mendadak terpotong oleh bumper Breaking News.