Pantas saja dia tak diharapkan dan dibenci oleh keluarganya. Ternyata dia adalah anak yang lahir dari rahim orang ketiga.
Mutiara Anjani, Seorang gadis yang selalu terlihat kuat dihadapan orang lain. Tiada yang tahu bahwa gadis itu menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Semua tertutup oleh sikapnya yang ceria dan terkadang angkuh itu.
Semua orang yang pernah dekat dengannya menjauh perlahan karena hadirnya orang baru termasuk sahabatnya sendiri. Dia menjadi sendiri, Hingga seorang pria hadir menjadi pendukungnya serta satu-satunya pria yang berjanji akan selalu menjaganya sampai nanti.
••••••
"Aku selalu merasa sendiri, Aku ingin melupakan segalanya dan tidak ingin mengingat rasa sakit ini lagi.." Mutiara Anjani.
"Tapi perlu diketahui, Bahwa akulah yang akan menjagamu sampai nanti.." Muhammad Al Ghazi Maulana...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Yang Dipertahankan
Acara pertunangan ini berjalan dengan lancar. Hanya calon prianya saja yang diganti. Pria yang menjadi tunangan Mutiara pada malam ini bukanlah Kendra. Melainkan seorang pria yang namanya tidak ada dalam undangan yang tersebar.
Muhammad Al Ghazi Maulana. Seorang pria yang nyatanya bukan pria biasa. Namun pria itu rela menjadi pria biasa hanya demi bisa dekat dengan gadis pujaannya.
Didalam kendaraan roda empat itu, Mutiara duduk di kursi depan bersama Ghazi yang fokus dengan kemudinya. Kepala gadis itu menunduk malu, Jika biasanya Mutiara mudah berkomunikasi dengan pria yang jadi bodyguard nya ini. Tapi setelah menjadi tunangannya, Mutiara seolah canggung ketika hendak bicara dengan pria yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari dirinya itu.
"Kenapa Adek diam saja dari tadi? " Mutiara mengangkat kepalanya. Ia menoleh pada Ghazi yang memanggilnya dengan sebutan 'Adek'
"Mas, Mas tadi panggil aku apa?
"Adek? Kenapa? Kamu gak suka?" Mutiara menggelengkan kepalanya. Dia sangat suka dengan panggilan itu.
"Apa Mas harus tetap panggil Nona, Saja?" Tanya nya..
"Eng.. Enggak! Mas Ghazi sekarang adalah tunanganku, Jadi jangan panggil Nona lagi.." Tentu saja Mutiara melarang Ghazi memanggilnya Nona. Nona itu adalah panggilan sebuah Majikan dan pekerjanya.
Tapi tadi pria itu memanggilnya dengan sebutan Adek. Sebuah panggilan yang Mutiara ingin ia dengar dari bibir kakaknya Atta.
"Panggil aku Adek seperti tadi Mas. Aku gak keberatan kok.." Mutiara tidak malu lagi. Menurutnya, Panggilan itu sangat indah didengar untuk sepasang tunangan seperti mereka.
"Kita langsung pulang?" Mutiara dian sejenak, Pulang? Dia malas pulang..
"Mas, Bisakah Mas bawa aku kepantai.. Aku ingin melihat suasana pantai dimalam hari.." Ghazi mengangguk. Pantai memanglah tempat kesukaan Mutiara, Bahkan sejak dulu.
Entahlah mungkin saja karena pantai punya pemandangan dengan lautan yang cukup luas dan indah. Bagi Mutiara, Pantai adalah tempat yang nyaman sehingga membuat hatinya yang sering kacau itu tenang..
Begitu sampai, Mutiara melepas sepatu high-heels nya lalu melangkah mendekati sebuah ombak yang seperti biasa selalu naik turun itu.
Malam yang gelap tak membuat Mutiara takut berada disana. Suasana dipantai ini cukup membuatnya tenang dan nyaman. Suara debur ombak saling bersautan terdengar begitu indah ditelinganya.
Meski tempat itu cukup gelap, Akan tetapi masih ada sinar rembulan yang mampu meneranginya.
Mutiara duduk diatas pasir putih itu. Tak ada satu patah katapun yang keluar dari bibirnya. Kejadian tadi masih sangat Mutiara ingat.
Kendra..
Pria itu kenapa sekarang jadi seperti ini? Racun apa yang telah Hazel berikan sehingga membuat pria itu begitu benci padanya.
"Jangan terlalu dipikirkan.." Ucap Ghazi yang ikut duduk disana. Bahkan pria itu juga menyelimuti tubuh Mutiara dengan jas putih mahal miliknya.
"Aku sedang tidak memikirkan apapun, Mas.. Aku hanya sedang memikirkan Mas Ghazi.." Ghazi langsung menatap gadis itu. Mutiara yang ditatap hanya tertawa..
"Hahahaha... Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu, Mas?" Ghazi menggelengkan kepalanya..
"Memangnya Mas kenapa?" Mutiara menghela nafas panjang.
"Enggak.. Aku cuma mikir aja, Sekarang kita udah bertunangan. Gimana reaksi keluarga Mas kalau dengar Mas ngelamar aku? Apa mereka gak marah? Secara keluarga Mas juga bukan keluarga biasa loh?" Kata Mutiara, Sejak awal Ghazi sudah berkata yang sejujurnya, Bukan? Kalau pria itu lahir dari keluarga yang kaya raya. Menjadi bodyguard hanya lah kegabutan nya saja.
Dan Mutiara jelas percaya. Bagaimana tidak percaya, Dimana ada seorang bodyguard yang langsung membawa mobil mewah dan mampu membeli perhiasan dengan harga yang luar biasa.
"Mas, Kamu belum jawab pertanyaan aku.." Ghazi tersenyum. Untuk keluarganya, Tentu saja Abi dan Ummanya sudah tahu. Untuk para saudaranya, Mereka tidak terlalu penting. Sudah tahu atau tidak terserah..
"Kamu tidak perlu memikirkan itu, Yang penting sekarang. Kamu harus tahu kalau kamu adalah orang yang akan Mas pertahankan.." Mutiara merasa terharu. Pantas saja pria itu tadi sempat menghilang. Karena rupanya, Ghazi tengah menyiapkan kejutan istimewa untuknya.
...****************...
Masih dimalam yang sama, Kendra berdiri diatas balkon kamarnya. Sebatang rokok ia apit dengan dua jarinya.
Ia hisap benda bernikotin itu seraya menatap lurus kedepan. Bayangan Mutiara yang menerima lamaran Ghazi tadi masih pria itu ingat.
"Sudah malam, Kenapa tidak tidur?" Fathan masuk ke kamar keponakannnya itu lalu ikut berdiri disana.
"Sedang tidak bisa tidur.." Jawabnya dengan kembali menyesap rokoknya.
"Memikirkan Tiara?" Kendra tidak menjawab. Kejadian dihotel tadi sungguh membuatnya malu. Mutiara tidak memikirkan perasaannya sama sekali.
Tapi apakah Kendra juga memikirkan perasaan Mutiara? Harusnya sebelum merasa paling tersakiti, Kendra harus lebih dulu pikirkan perasaan orang lain.
"Om lihat, Bahkan Mama dan Papa saja ikut menyalahkan ku atas kejadian ini.." Fathan menepuk pelan pundak Kendra.
"Mungkin saja mereka hanya sedikit kecewa.. Jangan terlalu dipikirkan..
"Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan Om? Om tahu sendiri kan? Om Ilyasa tidak pernah pulang ke negara ini.. Dia mengabaikan Hazel yang selaku putrinya. Kalau bukan kita yang melindunginya siapa lagi? Ibunya sudah tiada, Dia sedang butuh kasih sayang dari kita,Om. Hazel itu hanya gadis polos yang tidak tahu apa-apa.. Dia gadis yang lemah. Dia tidak mampu melawan siapapun. Cukup dulu saja dia menderita. Untuk sekarang jangan.. " Bagi Kendra, Hazel memang gadis yang lemah. Tidak tahu saja seperti apa sifat asli gadis manipulatif itu. Andai saja ia tahu, Tindakan apa yang akan Kendra berikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas.." Diandra masuk kedalam kamarnya, Wanita itu mendekati sang suami lalu memeluknya dari belakang.
"Tadi Mama telfon, Kamu disuruh kesana.." Galih terdiam, Ini pasti ada hubungan dengan masalah yang semalam. Hari ini pria itu memang berniat datang untuk bertemu orangtuanya. Tentu saja ingin berbicara tentang acara semalam yang terancam gagal itu.
"Hm, Aku sudah tahu.." Hawab Galih datar. Pria itu melepaskan tangan Diandra yang melingkar diperutnya. Mungkin saja kalau yang memeluknya adalah Anjani dia akan merasa bahagia. Tapi ini Diandra, Wanita yang tak pernah ia lihat dalam masa depannya.
Galih berlalu pergi begitu saja. Diandra hanya bisa menatap kepergian suaminya itu dengan hati yang hancur.
Sudah tiga puluh tahun lebih, Sikap Galih masih tetap sama seperti dulu. Banyak orang yang mengatakan kalau cinta itu akan hadir dengan adanya terbiasa, Tapi kenapa itu tidak berlaku pada Galih sama sekali?
Sementara itu, Galih benar-benar datang ke kediaman orangtuanya. Galih tahu apa yang akan dilakukan oleh kedua orangtuanya. Pasti akan membahas tentang kejadian semalam..
Dan benar saja, Semua itu sudah ada dalam otak Galih. Dia diminta datang hanya untuk dimarahi.
"Kamu, Juga!? Bagaimana bisa kamu restui bodyguard itu melamar putrimu yang tidak tahu diri itu. Sudah enak-enak mau bertunangan dengan keluarga Gunawan malah dibatalkan.." Mahima, Wanita yang gila harta itu marah karena Mutiara yang dengan mudah mengambil sikap.
"Yang dikatakan Mama kamu itu benar. Mutiara harus menikah dengan orang yang setara, Yang kaya raya. Bukannya malah sama bodyguard miskin.. Kalau sudah seperti ini bagaimana mau berkembang perusahaan kita?.." Galih hanya diam saja mendengarkan. Pada kenyataannya meskipun tak pernah diharapkan oleh keluarganya, Mutiara tetap dibutuhkan.
Anggap saja Mutiara hanya dimanfaatkan saja oleh keluarganya, Agar perusahaannya semakin maju dengan Mutiara menikah dengan pria yang lahir dari keluarga kaya.
"Memang seperti itu peraturan dalam keluarga kita ini, Supaya putri pelayan itu ada gunanya.." Disebut sebagai putri pelayan Galih jelas tidak terima.
"Jangan pernah sebut Mutiara sebagai anak pelayan, Ma!.
"Kenapa? Memang itu faktanya, kan?
"Dan pada faktanya wanita yang Mama sebut pelayan itu adalah wanita yang membuat Diandra hidup sampai sekarang!!" Mahima diam, Kalau bukan karena jantung Anjani, Apa mungkin Diandra masih bernafas sampai sekarang. Kalau bukan mata Anjani apa mungkin Diandra bisa melihat sekarang?
"Mutiara, Dia adalah satu-satunya cinta yang aku pertahankan. Jangan sampai kalian menyentuhnya, Karena aku tidak akan tinggal diam.." Usai mengatakan itu, Galih langsung pergi. Mutiara adalah hatinya, Mutiara adalah nyawanya dan Mutiara adalah cintanya yang sampai kapanpun akan Galih jaga dan ia pertahankan.
•
•
•
TBC