NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 KEPANIKAN
🏥🏥🏥🏥🏥🏥🏥
Di rumah sakit...
Lorong ruang Intensive Care Unit (ICU) di lantai tiga rumah sakit itu terasa seperti lorong tanpa ujung yang memisahkan dunia orang hidup dan alam kematian.
Suasananya jauh lebih hening, steril, dan mencekam dibandingkan dengan hiruk-pikuk Instalasi Gawat Darurat di lantai dasar.
Cahaya lampu pendar putih memantul di atas lantai linoleum yang mengkilap, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang terasa dingin dan mati.
Nisa dan sang suami, Zaki, duduk bersebelahan di kursi tunggu stainless steel tepat di luar ruangan berpintu kaca ganda tersebut. Nisa tidak lagi menangis histeris seperti saat ia pertama kali tiba dan melabrak Yuda. Tenaganya telah habis terkuras.
Air matanya sudah mengering, menyisakan sepasang mata yang membengkak merah dan pandangan yang kosong. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, menatap tanpa fokus ke arah pintu kaca buram tempat putri sulungnya sedang bertaruh nyawa.
Zaki merangkul bahu istrinya dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain saling bertaut, meremas jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. Pria itu berusaha terlihat tegar layaknya sebuah karang yang menahan ombak penderitaan keluarganya.
Namun, dari rahangnya yang menegang dan getaran halus di bibirnya saat ia merapalkan doa-doa panjang dalam hati, terlihat jelas bahwa Zaki sedang berada di ambang keputusasaan yang sama.
Di balik dinding kaca berembun dan tirai yang hanya terbuka setengah itu, tubuh Haruma terbaring tak berdaya di atas ranjang medis.
Gadis yang biasanya selalu tampil ceria, melindungi adiknya, dan penuh semangat di kampus itu, kini terlihat sangat rapuh bagaikan boneka porselen yang retak.
Wajah Haruma sepucat kertas.
Sebuah tabung endotrakeal yang tersambung ke mesin ventilator terpasang di mulutnya, memaksakan oksigen masuk ke dalam paru-parunya agar dadanya tetap naik dan turun. Berbagai macam kabel elektroda menempel di dadanya, terhubung pada monitor EKG yang sejak tadi berbunyi ritmis.
Tit... Tit... Tit...
Di kedua lengannya, terpasang jarum infus yang mengalirkan cairan saline, obat-obatan penahan sakit, serta kantong darah transfusi yang menetes pelan, menggantikan cairan kehidupan yang sempat terbuang percuma di atas panggung Candi Prambanan.
Dokter Surya, dokter bedah senior yang menangani operasi Haruma, berdiri di sisi ranjang sambil meneliti catatan medis pada clipboard. Operasi penutupan luka dan perbaikan organ dalam akibat tusukan pisau pusaka itu memang telah berhasil dilakukan satu jam yang lalu.
Pendarahan internalnya berhasil dihentikan. Namun, masa kritis Haruma masih jauh dari kata selesai. Tubuhnya mengalami trauma yang teramat parah, dan gadis itu kini berada dalam kondisi koma secara medis.
Waktu menunjukkan pukul 02.15 dini hari.
Tepat pada detik yang sama ketika sosok gaib bergaun kuno menampakkan wujudnya di dalam sel tahanan Harumi, di belahan kota yang lain, ruang ICU tempat Haruma dirawat tiba-tiba mengalami anomali yang tak bisa dijelaskan oleh ilmu medis mana pun.
Ikatan batin antara dua saudara yang terlahir dengan darah tulang wangi itu bukanlah sesuatu yang bisa dipisahkan oleh jarak. Ketika Harumi di dalam penjara sana dicekik oleh teror dan rasa sakit yang luar biasa, tubuh Haruma di ruang ICU merespons dengan cara yang mengerikan.
Awalnya, suhu di dalam ruang isolasi ICU itu merosot drastis hanya dalam hitungan detik. Udara steril yang biasanya berbau alkohol dan obat-obatan mendadak disusupi oleh aroma yang asing dan pekat.
Aroma bunga yang layu bercampur dengan bau kemenyan yang terbakar tipis.
Dokter Surya dan dua orang perawat yang sedang berjaga di dalam ruangan saling berpandangan, menyadari hawa dingin yang tiba-tiba menusuk tulang mereka, membuat bulu kuduk mereka serempak meremang.
Lampu neon di langit-langit ruang ICU mulai berkedip-kedip tak wajar.
Bzzzt... Bzzzt...
Suara dengungan listrik terdengar mengganggu telinga.
Lalu, tanpa peringatan apa pun, tubuh Haruma yang sejak tadi terbaring kaku bagai mayat, tiba-tiba mengejang hebat.
Punggung Haruma melengkung ke atas, terangkat dari kasur medis seolah ada tangan tak kasatmata yang menarik tubuhnya dari bawah.
Matanya yang tertutup rapat bergerak-gerak liar di balik kelopaknya, seakan ia sedang melihat mimpi buruk yang paling mengerikan di alam bawah sadarnya. Jari-jemari tangannya mencengkeram sprei ranjang dengan sangat kuat hingga urat-uratnya menonjol.
"Dokter! Pasien mengalami kejang!" teriak salah seorang perawat dengan panik, segera berlari mendekati ranjang dan menahan bahu Haruma agar tidak terjatuh.
"Berikan Diazepam 5 miligram intravena, sekarang! Jaga selang intubasinya jangan sampai terlepas!" perintah Dokter Surya cepat, suaranya meninggi mengalahkan suara alarm peringatan dari mesin-mesin medis yang mulai berbunyi bersahutan.
Perawat lainnya dengan sigap menyuntikkan obat antikejang ke dalam selang infus Haruma.
Namun, obat penenang dosis tinggi yang seharusnya bisa melumpuhkan otot manusia normal dalam hitungan detik itu, sama sekali tidak memberikan efek.
Tubuh Haruma terus meronta dengan kekuatan yang tidak wajar untuk ukuran seorang gadis yang baru saja kehilangan banyak darah. Kain kassa tebal yang membalut perutnya tiba-tiba menunjukkan bercak merah. Pendarahan internalnya kembali terbuka.
Bukan hanya itu, bercak darah yang merembes keluar dari perutnya memiliki warna merah yang sangat pekat, nyaris menghitam, dan mengeluarkan bau anyir yang membuat perawat yang menahannya merasa mual.
Di luar ruangan, Zaki dan Nisa yang mendengar keributan langsung terlonjak dari kursi tunggu mereka.
Nisa menempelkan wajahnya dan kedua telapak tangannya ke kaca buram ruang ICU. Matanya terbelalak lebar melihat kekacauan yang terjadi di dalam. Tubuh putrinya mengejang hebat, dikelilingi oleh dokter dan perawat yang tampak kewalahan.
"Mas... Mas Zaki!! Ada apa dengan Haruma?! Kenapa dia seperti itu, Mas?!" jerit Nisa histeris. Kepanikan yang sempat mereda kini meledak berkali-kali lipat lebih dahsyat.
Nisa memukul-mukul pintu kaca ruang ICU dengan putus asa. "Dokter!! Tolong anak saya, Dokter!! Haruma!! Harumaaa!!"
"Sayang, tenang!! Jangan ganggu dokter, mereka sedang menanganinya!!" Zaki menarik pinggang istrinya dengan sekuat tenaga, memeluknya dari belakang agar Nisa tidak mendobrak masuk dan mengganggu jalannya tindakan darurat.
Namun Zaki sendiri tak kuasa menahan air matanya saat melihat putri angkatnya tersiksa seperti itu.
Di dalam ruangan, situasi berubah dari kritis menjadi fatal.
Tepat saat Harumi menjerit histeris di dalam sel penjaranya, tubuh Haruma di atas ranjang ICU tiba-tiba tersentak keras ke bawah, lalu terdiam sepenuhnya.
Kejangnya berhenti seketika.
Namun, penghentian kejang itu bukanlah sebuah pertanda baik.
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT...!!!
Suara alarm dari monitor elektrokardiogram (EKG) berteriak panjang dan melengking. Kurva detak jantung yang tadinya bergerak liar kini jatuh menjadi satu garis lurus hijau yang konstan. Gelombang otaknya melemah. Tekanan darahnya merosot hingga tidak terdeteksi.
Jantung Haruma berhenti berdetak. Untuk kedua kalinya dalam satu malam.
"Nadi tidak teraba! Henti jantung!" teriak perawat yang memegang pergelangan tangan Haruma. Wajah perawat itu sepucat pasiennya.
Dokter Surya mengumpat tertahan. Ini sama sekali tidak masuk akal.
Kondisi hemodinamik pasien sudah distabilkan, tidak ada alasan medis logis mengapa jantungnya bisa berhenti secara tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda gagal jantung sebelumnya.
"Mulai resusitasi jantung paru (RJP)! Siapkan Epinephrine 1 miligram!" seru Dokter Surya seraya melompat naik ke atas step stool di samping ranjang.
Ia meletakkan kedua telapak tangannya yang saling bertumpuk di tengah dada Haruma, lalu mulai melakukan kompresi dada dengan ritme yang cepat dan dalam.
Satu... dua... tiga... empat...
"Epinephrine masuk, Dok!" lapor perawat.
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT!!!
Suara kematian itu terus menggema, menolak untuk berhenti.
Di luar pintu kaca, Nisa merosot jatuh ke lantai. Kakinya tak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Ia meraung sejadi-jadinya, meneriakkan nama Haruma dengan suara yang menyayat hati, memohon kepada Tuhan untuk mengambil nyawanya saja sebagai ganti nyawa putrinya.
Zaki ikut terduduk memeluk istrinya, menangis tersedu-sedu menatap garis lurus di monitor itu dari kejauhan.
"Siapkan defibrillator! Charge 200 joule!" perintah Dokter Surya dengan keringat yang mulai bercucuran membasahi masker bedahnya. Ia menghentikan kompresi dadanya, membiarkan perawat menempelkan pad alat pacu jantung ke dada Haruma.
"Semua mundur! Clear!"
BAMMM!!!
Tubuh Haruma kembali tersentak ke atas saat aliran listrik bertenaga tinggi menghantam otot jantungnya. Namun, layar monitor masih menunjukkan garis lurus.
Entitas gelap yang menyelimuti garis keturunan "Tulang Wangi" mereka rupanya tidak akan membiarkan mangsanya lepas begitu saja. Iblis dari masa lalu itu mengikat nyawa Haruma, menarik jiwanya ke dalam dimensi yang lebih gelap dan dingin.
Sementara tim medis berjuang dengan ilmu pengetahuan yang rasional untuk menarik kembali nyawa gadis itu, mereka tidak menyadari bahwa pertempuran yang sesungguhnya tidak terjadi di ruang ICU tersebut.
Pertempuran itu terjadi di alam bawah sadar Haruma.
Di mana saat ini, jiwa gadis itu tengah berdiri sendirian di tengah pelataran Candi Prambanan yang gelap gulita. Di sana, ia tidak melihat para perawat atau dokter.
Ia melihat ribuan bayangan hitam bersinar merah yang mengepungnya, dan sosok wanita bergaun kuno yang sedang menancapkan kuku-kuku hitamnya ke dalam jantungnya.
Nyawa Haruma perlahan memudar, terseret jauh dari dunia nyata, meninggalkan kepanikan, tangisan, dan keputusasaan bagi orang-orang yang mencintainya.
Kutukan itu, nyatanya tidak bisa disembuhkan oleh jarum suntik maupun sengatan listrik.
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda