Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EMPAT BELAS
'Sial, sial, sial! Kenapa aku ingin menciumnya lagi sekarang? Kenapa kepalaku jadi sangat mesum begini saat melihatnya?'
Mendengar jeritan batin itu, refleks jemari Amara langsung bergerak cepat merapatkan kembali kancing baju tidurnya yang terbuka. Wajahnya merona merah padam, antara malu dan terkejut luar biasa.
Rasa ingin buang air kecil sudah tidak bisa ditahan lagi, namun kakinya benar-benar lemas dan selangkangannya terasa sangat perih untuk digerakkan. Dengan keberanian yang tersisa, Amara mendongak menatap wajah dingin suaminya.
"Kak Zain... bisakah kamu menggendongku ke kamar mandi?" bisik Amara lirih.
Seketika, raut wajah dingin Zain tampak sedikit membeku. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria bersikap angkuh itu melangkah mendekat. Namun, saat kedua tangan tegapnya menyusup di bawah lipatan lutut dan punggung Amara lalu membopongnya, tubuh Zain bergetar amat kencang.
’Dag... dig... dug... Ya Tuhan, jantungku mau melompat keluar! Amara masih wangi sekali... Wangi manis buah yang membuatku gila! Ingin sekali aku membenamkan wajahku di lehernya dan menciumnya sampai pagi!’
Amara spontan mengeratkan pelukannya di leher Zain, menahan tawa yang hampir saja pecah. Suara batin Zain yang berbanding terbalik seribu derajat dengan ekspresi mukanya yang sedingin es benar-benar membuat dada Amara bergetar.
"Kak Zain..." panggil Amara lembut di depan telinganya.
Zain mendadak mematung tepat di depan pintu kamar mandi yang terbuka. Tatapannya menegang lurus ke depan.
"Oh... Iya, maaf!" sahut Zain kaku, suaranya terdengar datar. "Aku akan tunggu di luar."
Zain menaruh Amara perlahan di atas kloset, lalu berbalik cepat dan menutup pintu kamar mandi.
Begitu pintu terpasang rapat, Zain menyandarkan punggungnya di daun pintu. Pria yang di luar dikenal sebagai profesor dingin dan angkuh itu kini meremas dadanya sendiri yang berdegup kencang bagai dihantam palu. Ia mengangkat kedua tangannya yang bergetar hebat bagai pasien tremor.
’Zain... Zain... Otakmu sungguh bodoh dan tak berdaya! Amara pasti menganggapku sebagai pria mesum yang menjijikkan setelah ini. Bagaimana ini?’
Zain mendongakkan kepala, lalu dengan sengaja menghirup aroma tubuh Amara yang masih tertinggal menempel di kain kemejanya.
’Huaaa... Wangi sekali! Zain suka... Zain sangat suka aroma istriku!’
Di dalam kamar mandi, Amara yang sedang membasuh diri hampir tersedak menahan tawa. Aroma tubuhku? Pria ini benar-benar tidak terduga!
"Kak Zain, aku sudah selesai!" panggil Amara dari dalam.
Pintu langsung terbuka. Dengan wajah sok tenang namun pergerakan yang sangat cepat, Zain kembali membopong Amara keluar dan merebahkannya sangat perlahan di atas kasur.
Setelah memastikan Amara aman, Zain berbalik terburu-buru melangkah menuju wastafel kamar mandi luar. Pria itu memutar keran air, menyambar sabun cuci tangan, dan menggosok kedua tangannya secara kalap dan berulang kali.
Gemericik air bersahutan dengan erangan batin Zain yang sangat memilukan.
’Tangan ini sudah kotor... Tangan ini tadi malam menyentuh dan mengotorinya. Pasti Amara akan merasa jijik padaku! Aku harus menghilangkan setiap bekas noda ini supaya Amara tidak merasa jijik saat kusentuh nanti. Harus bersih! Sialan, kenapa sabun cuci tangan ini cepat sekali habis?’
Di atas ranjang, Amara yang mendengar deru air dan jeritan batin Zain mendadak terpaku. Air matanya menetes pelan menelusuri pipi.
Selama empat tahun pernikahan dingin mereka, Amara selalu mengira Zain merasa jijik untuk menyentuh kulitnya. Namun detik ini, rahasia besar itu membentang telanjang di dalam kepalanya. Zain tidak pernah merasa jijik padanya, pria itu hanya terlalu merasa bersalah dan takut jika dirinya akan mengotori Amara.
Kak Zain... Kenapa kamu memikirkan hal semacam itu? Aku tidak pernah merasa jijik padamu... batin Amara pilu.
Beberapa menit kemudian, Zain keluar dari kamar mandi dengan langkah tegap, mengeringkan tangannya menggunakan handuk kecil.
"Kak Zain..." panggil Amara lembut, menatapnya dengan mata yang basah.
"Iya, Amara?" sahut Zain datar, menunjukkan wibawa dinginnya.
Amara mengangkat tangannya, lalu menepuk ruang kosong di atas kasur di sampingnya. "Duduklah di sini."
Zain ragu sejenak, namun kakinya tetap melangkah menurut. Begitu Zain duduk di tepi ranjang, Amara tanpa ragu menyambar dan menggenggam kedua tangan tegap suaminya.
Isak tangis Amara pecah seketika saat melihat kedua punggung tangan Zain memerah parah, membengkak, bahkan di beberapa bagian kulitnya tampak lecet mengelupas akibat digosok sabun secara berlebihan.
Zain mematung kaku saat air mata Amara menetes tepat jatuh di atas punggung tangannya yang lecet.
’Amara menangis... Amara menangis lagi! Apa aku telah membuatnya sedih dan ketakutan?Bagaimana ini... Aku ingin sekali merengkuhnya dan menghapus air mata itu dengan jemariku! Tapi sialan sekali, air mata itu bisa menyentuh pipi mulus istriku dengan bebas sementara aku tidak! Setelah hari ini, aku akan melakukan penelitian laboratorium untuk menciptakan obat khusus agar Amara tidak bisa mengeluarkan air mata lagi! Air mata sialan itu harus lenyap dan musnah dari matanya!’
Amara hampir saja tertawa di tengah tangisnya mendengar ide gila dan absurd yang dilahirkan oleh otak jenius suaminya itu.
"Kak Zain... pasti ini sakit sekali, ya?" bisik Amara mengusap lembut bekas lecet di tangan Zain.
"Tidak," sahut Zain pendek dan tegas, mempertahankan topeng angkuhnya.
Namun di saat bersamaan, suara batinnya merintih kekanak-kanakan. ’Sakit... Perih dan panas sekali! Tapi tidak apa-apa, aku rela menahannya asal kamu tidak jijik padaku, Amara...’
Amara menggigit bibir bawahnya, menahan kekehannya agar tidak meledak. Ia menatap dalam-dalam manik mata Zain yang kelam.
"Kak Zain, jangan pernah lakukan hal ini lagi," kata Amara tulus, mengusap punggung tangan Zain yang memerah. "Jangan mencuci tanganmu berulang kali seperti ini. Tangan Kak Zain ini sudah sangat bersih, tidak kotor sama sekali. Kalau Kak Zain terus begini, Kak Zain cuma akan menyakiti diri Kak Zain sendiri."
Zain berkedip terpaku, menatap tangannya yang digenggam hangat oleh Amara. Keangkuhannya mendadak melumer seketika.
"Ba-baik..." jawab Zain terbata, matanya membelalak tak percaya.
Namun tiba-tiba Zain berdiri, kembali memasang wajah kaku dan dingin. Amara kebingungan.
"Aku akan ke bawah. Jangan lakukan hal apapun yang akan membuatku repot. Semalam saja tingkah lakumu membuatku kesusahan dan merepotkan! Jangan banyak tingkah!" ucap Zain tegas, Amara sampai melotot. Dia ingat semalam telah melakukan hal bodoh, sungguh amara saat ini ingin menenggelamkan dirinya di samudra terdalam.
"Maaf, kak Zain. Amara salah," cicit Amara merasa bersalah.
Zain berjalan dengan langkah tegap, meninggalkan Amara di kamarnya dalam keadaan membisu. Di balik tembok Zain menghela napas dalam dan panjang.
'Aku harus berterima kasih dan memberikan hadiah untuk orang yang menjebak Amara hingga akhirnya aku bisa melakukan hubungan suami istri dengan Amara! Tidak! Aku harus memberi hukuman kepada penjahat itu terlebih dahulu, agar tidak macam-macam dengan tikus kecilku ini!'
Amara mendengar dengan jelas ucapan Zain itu, hampir saja menyembuhkan air yang tengah dia minum. Satu hal yang Amara ingat.
"Yunda...."
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣