NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: songjihee

Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.

Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.

Tidak ada pesta.

Tidak ada cinta.

Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.

Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.

Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09. Gelisah Naya

Jakarta pada pukul 20.00 WIB.

Naya dan Bunda menyiapkan makan malam bersama. Atmosfer di area dapur terasa hangat oleh uap masakan yang mengepul dari atas kompor. Naya berdiri di sisi meja pantry, tangannya cekatan mengaduk kuah sup di dalam panci sementara matanya menatap kosong ke depan.

Di sampingnya, sang Bunda tengah sibuk menata piring dan mangkuk lauk pauk. Sementara Ayah masih di kamar mandi, baru saja pulang bekerja.

Sekilas, Naya tampak sibuk dengan urusan dapur, berlagak seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal, hatinya terus dilanda panik yang berusaha mati-matian ia tahan. Menyiapkan alasan kalau-kalau Ayah bertanya keberadaannya kemarin malam.

Bagaimanapun, ia harus meredam ketakutannya. Jangan sampai ceroboh, menunjukkan sedih, atau kelepasan menangis.

Naya menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya tepat ketika derit pintu kamar mandi terbuka dan langkah kaki Ayah mendekati area ruang makan.

Meja makan sudah tertata, Naya mematikan kompor lalu meraih dua sarung tangan untuk membawa panci untuk di letakkan di tengah-tengah.

"Waw, tumben sekali hari ini Naya yang memasak," tegur Majaya—Ayahnya dengan nada menggoda. "Semoga enggak keasinan, ya."

Naya mengerti, dan ia paham betul maksud Ayah ini. Dengan ekspresi setengah kesal seperti biasa, Naya memberengut. "Ayah, itu kan udah kejadian lama. Naya udah bisa nakar bumbu yang bener sekarang," decaknya.

"Masa? Percaya enggak, ya?" goda Ayah lagi.

"Ish, Ayah!"

Bunda yang menonton drama ayah anak itu terkekeh. "Sudah-sudah, ayo makan dulu. Nanti lagi becandanya."

"Siap," sahut keduanya bersamaan.

Lantas mereka pun langsung menyantap makanan, Ayah juga mengomentari kalau masakan Naya hari ini enak, tidak asin seperti sebelum-sebelumnya. Naya pun membanggakan diri, senang atas pujian ayahnya.

Selama makan, mereka berbagi cerita, tertawa kecil bersama dan bergurau ria. Percakapan yang tidak ada habisnya sebab Ayah selalu punya cerita, dan Bunda yang pandai menanggapi ocehan Ayah.

Hangat. Naya menyukai situasi ini. Karena untuk beberapa menit, ia bisa berpura-pura bahwa semuanya masih sama seperti kemarin. Bahwa, hidupnya masih baik-baik saja. Bahwa tidak ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Juga, perempuan itu berharap, agar keluarganya tetap begini, utuh, bahagia, dan bersama.

Naya sesekali mengomentari cerita ayahnya tentang kerjaan di kantor, tentang pertemuan tak terduga Ayah dan teman lamanya yang telah lama hilang kontak.

"Ih kok Ayah langsung nanya gitu ke teman Ayah? Gimana kalo temen Ayah enggak nyaman?" tanggap Naya mendengar cerita ayahnya.

"Lho, apa salahnya Ayah bertanya, kan Ayah juga ingin tahu kehidupan teman Ayah."

Naya mengangguk. "Iya, Ayah, tapi baru bertemu dan langsung bertanya hal pribadi itu agak gimana gitu. Kalo dia tersinggung gimana?"

Ayah menepis kekhawatiran Naya dengan kibasan tangan santai seraya mengunyah perkedelnya. "Enggak mungkin. Kalau sesama bapak-bapak ketemu teman lama, ya pertanyaannya sekitaran itu, kan. Kayak 'sekarang kerja di mana? Anak udah berapa? Anakmu udah pada nikah belum? Udah bercucu, kah?' Itu cuma basa-basi akrab karena udah lama enggak ketemu."

​Naya meringis pelan, menyesap kuah supnya yang mulai dingin. "Tetap aja, Yah. Kadang kan ada orang yang enggak suka ditanya hal-hal kayak gitu. Nanti kalau ternyata dia punya masalah pribadi perihal itu gimana? Kan kasihan."

​"Naya, kamu ini terlalu perasa," sahut Ayah terkekeh pelan. "Namanya juga sudah tua, yang dibahas ya seputar keluarga. Kemarin pas Ayah bilang anak Ayah cuma satu, terus udah kerja di kantor bagus, teman Ayah itu langsung semangat banget," beritahu Ayah.

Mendengarnya, Naya menaikkan satu alisnya.

​"Semangat gimana maksud Ayah?" Bunda menimpali, menatap suaminya penasaran seraya meletakkan sendok.

​Ayah tersenyum lebar, matanya berbinar menatap Naya yang mendadak menegang di tempatnya. "Ya semangat lah. Dia langsung nawarin, 'Wah, pas banget dong! Anakku yang kedua juga belum nikah, mapan, usianya kayaknya enggak jauh beda sama anakmu. Gimana kalau kita kenalin mereka?'"

​Deg.

​Sendok di genggaman Naya berdenting menghantam dasar piring. Senyum kaku yang sejak tadi ia pertahankan mendadak luntur. Darahnya berdesir, menghantarkan gelombang dingin yang menjalar cepat sampai ke seluruh ujung jarinya.

​"Ayah... becanda, kan?" suara Naya terdengar begitu lirih, nyaris seperti bisikan panik yang tertahan di tenggorokan.

​"Lho, Ayah serius," balas Ayah santai, tidak menyadari raut wajah putrinya yang berubah pucat pasi. "Ayah bilang ke dia, coba dibilangin dulu ke anaknya. Kalau mau, ya nanti kita atur jadwal makan malam bareng. Kamu kan udah dewasa. Sudah waktunya untuk ke arah sana, menikah."

​"Naya enggak mau, Yah!" potong Naya terburu-buru, nadanya sedikit meninggi hingga membuat Bunda dan Ayah refleks menoleh terkejut.

​Menyadari reaksinya yang terlalu reaktif, Naya dengan cepat menundukkan kepala.

Tangannya yang bergetar di bawah meja meremas kuat kain celananya sendiri. Kata 'menikah' terasa seperti duri yang menusuknya. Bukan karena ia tidak ingin menikah. Bukan juga karena laki-laki yang dimaksud ayahnya. Hanya saja, setelah kejadian tadi malam, kata itu terasa terlalu menakutkan.

​Pikiran Naya melayang jauh. Sesaat ia mengatur nafasnya yang sedikit berantakan, berusaha mengembalikan ekspresinya seperti awal.

​"Anu, m-maksud Naya... Naya masih mau fokus kerja, Yah," cicit Naya kemudian, matanya menatap nanar ke arah nasi di piringnya, mati-matian menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata agar tidak pecah di depan kedua orang tuanya.

Padahal Naya sudah berusaha agar nampak biasa, dan hanya karena kata-kata Ayah barusan membuatnya ke-trigger.

Dan justru itulah Ayah dan Bunda merasa aneh. Mereka berdua berpandangan, masing-masing memang merasa ada keanehan pada putri mereka hari ini.

Namun, tak satu pun dari mereka langsung bertanya. Mereka mengira Naya hanya sedang tidak siap membicarakan pernikahan.

Naya menyuap makanannya sedikit rakus, ingin cepat menghabiskan makanan dan kembali ke kamarnya.

Suasana hangat yang sempat tercipta di meja makan itu mendadak membeku dalam sepersekian detik.

​Ayah yang tadinya bersandar santai di kursi sambil tersenyum kini mengubah posisi, menatap putrinya dengan sorot mata yang perlahan berubah serius. Gurauan serius soal perjodohan tadi lenyap begitu saja, digantikan oleh ketegasan seorang ayah yang menyimpan kecemasan mendalam sejak malam kemarin.

​"Oh iya," ucap Ayah dengan nada rendah, namun begitu menohok pendengaran Naya. "Kemarin malam, kamu kenapa enggak angkat panggilan Ayah? Ponselmu juga kenapa enggak aktif? Kamu dimana?"

Uhuk! Uhuk!

​Naya terbatuk hingga dadanya terasa sakit dan wajahnya memerah padam. Pertanyaan itu, padahal Naya sudah mewanti-wanti, tapi tetap saja ia terkejut mendengarnya ketika pertanyaan itu benar-benar meluncur dari bibir sang Ayah, ketakutan yang ia pendam sejak tadi diam-diam meledak, menjadikannya sesak.

​Bunda langsung bergerak panik, mengusap-usap punggung Naya sambil menyodorkan segelas air putih. "Makanya kalau makan jangan buru-buru, Sayang. Minum dulu, minum."

​Naya menerima gelas itu dengan jemari yang sedikit gemetar. Meneguk airnya tergesa-gesa, berusaha meredakan sensasi terbakar di kerongkongannya, sekaligus menyembunyikan rasa takutnya.

​Di seberang meja, Ayah masih menatapnya lekat-lekat, menunggu jawaban. Tatapan itu seperti menuntut kejujuran, Naya bisa merasakan hal itu.

​"Ayah gimana, sih, kan udah Bunda bilang di chat tadi. Kenapa bertanya lagi?" Bunda mengambil alih jawaban yang seharusnya Naya berikan. "Naya nginep di rumah Gea, teman kantornya, Ayah gak baca chat Bunda, ya?"

Ayah mengerutkan kening. "Oh, Bunda udah kasih tahu?"

"Iya. Tadi siang."

Naya menunduk semakin dalam. Dalam hati ia mengembuskan napas lega. Setidaknya untuk pertanyaan itu, ia tidak perlu mengarang jawaban lain.

Ayah akhirnya mengangguk pelan. "Ya sudah. Ayah cuma khawatir. Lain kali kalau pulang telat, kabarin. Jangan bikin Ayah sama Bunda panik."

"Iya, Yah," jawab Naya lirih. Maafin Naya, lanjutnya dalam hati.

Naya pun kembali ingin menyuapkan nasi ke mulutnya, tapi belum sempat sendok menyentuh mulut, Naya terpaku kala ponselnya yang tergeletak di samping piring tiba-tiba berdering.

Layar ponsel itu menyala, menampilkan satu nama yang baru ia simpan beberapa jam lalu.

Ibra.

Darah Naya seolah berhenti mengalir. Sendok yang masih menggantung di depan bibirnya perlahan turun. Jemarinya menegang, tanpa sadar mencengkeram gagang sendok dengan kuat, tertegun pada layar yang terus bergetar di atas meja.

Nama itu terasa seperti menariknya kembali ke suasana pagi tadi. Ke hotel. Ke mobil. Ke sungai. Ke semua hal yang ingin Naya lupakan.

Bunda yang duduk di sebelahnya mulai memperhatikan perubahan raut putrinya.

"Naya?"

Naya tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada ponsel.

Ayah ikut melirik. "Itu siapa? Pacarmu?"

Jantung Naya serasa jatuh ke dasar perutnya.

"Bukan, Yah."

Tangannya bergerak cepat, hampir menjatuhkan sendok yang masih digenggamnya. Ia meraih ponsel itu dan langsung menekan tombol volume, membuat deringnya berhenti.

Layar masih menyala, masih dengan nama Ibra disana.

Naya pun buru-buru membalik ponselnya hingga layarnya menghadap meja. Persetan, Naya kepalang takut.

"Teman kantor?" tanya Bunda pelan.

Naya mengangguk agak kikuk. Hanya itu yang sanggup ia lakukan.

"Kenapa enggak diangkat?" tanya Ayah, masih menatap ponsel Naya yang kini sudah terbalik di atas meja. "Takutnya penting."

Naya menggeleng cepat. "Enggak, Yah. Dia iseng aja."

Ayah mengangkat sebelah alisnya. "Iseng?"

"Iya..." jawab Naya pelan. Senyumnya dipaksakan, sementara tangannya bertautan di bawah meja.

"Paling mau minta traktir karena Naya dapat bonus," dustanya lancar.

"Ohh, enggak apa-apa. Traktir aja," ujar Ayah seraya kembali menyendok makanannya, tidak terlalu memikirkan hal tersebut.

Namun Naya tidak bisa. Sebab orang bernama Ibra itu bukan temannya, dia orang asing, yang mendadak hadir.

Pandangannya kembali jatuh pada ponsel yang masih tergeletak di samping piring. Ibra, nama itu masih terbayang jelas di kepalanya.

Dan meskipun panggilan tadi sudah berhenti, jantung Naya justru berdetak semakin kencang. Naya masih tidak tahu harus apa, yang ia tahu, dia harus menjauh.

Meski Naya tidak tahu siapa Ibra di kantor itu, tapi yang jelas, mereka tetap satu perusahaan, satu kantor, yang kemungkinan bisa bertemu. Tidak boleh! Naya tidak boleh bertemu dengannya lagi!

Tentang tanggung jawab yang di janjikan, Naya tidak tertarik dan kini ia hanya berharap agar ketakutannya tidak terjadi.

Begitulah, Naya dan rasa gelisahnya.

1
Agus Tina
Naya ...
Agus Tina
Ayolah Naya, Ibra ... putuskan cepat keburu perut Naya nggak bisa ditutupi lagi, apalagi modelan Naya hamil yg mualnya parah kayaknya ... berabe nanti kalau orang kantor sama orangtuanya menyadari perubahan itu ...
Agus Tina
Naya keras kepala sekali ...
Enz99
bagus sekali
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤😘😘😘💞💞💞🥰🥰🥰👍👍👍👌👌👌
Agus Tina
Thor kutunggu up nya ...
Agus Tina
Naya, Ibra ... lama sekali kalian memutuskan .... greregaten banget
Agus Tina
Penasaran banget ... double up thor
Agus Tina
Ayolah Naya yg penting nikah aja dulu, nggak tinggal bareng juga gak pa2 sampai trauma kamu sembuh. Lama2 gregeten sama Naya ...
Makasih thor lanjut up ya
Agus Tina
Terimakasih sudah update ... ditunggu kelanjutannya
ronaaksara: terimakasih sudah rela menunggu🫶
total 1 replies
Agus Tina
Thor ,lama banget Naya ngambil keputusannya jadi pusing sendiri sama gregetan pakai banget ...
Aksara Nirmaya
akhirnyaa updateee, thanksss kakkk🫰
Aksara Nirmaya
kakkk kapannn updateeee😭😭
ronaaksara: haii, segera yaa. Masih sibuk rl😭😭
total 1 replies
Aksara Nirmaya
Ceritanya baguss, semangat kakk
ronaaksara: terimakasihhh, kamu juga yaa💪💪
total 1 replies
licy
alurnya sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!