Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.
Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.
Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.
Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sinar matahari perlahan menembus kaca mobil, merayap tepat di atas wajah tampan dengan garis wajah yang tegas dan indah itu.
Merasakan hangat yang sedikit meresahkan, Alexander perlahan mengerjapkan matanya. Entah ini hanya perasaannya atau bukan, tapi mulutnya terasa sedikit sakit untuk dibuka. Lebih tepatnya, bibirnya terasa berat dan, ya, … sakit.
Seperti tombol lampu yang sekali klik, mata Alexander langsung terbuka. Dengan segenap tenaga dia menegakkan punggung, hanya untuk mendengar suara ringisan kecil.
“Nng.”
“Oh Tuhan, apa ini?!”
Dengan mata terbelalak, Alexander menatap tubuh lain yang berada dalam pelukannya. Yang sialnya, mereka berdua sama-sama tidak mengenakan apa pun.
“Apa ini? Ini gila! Ini tidak benar!”
Alexander menyisir keras rambutnya dengan jari-jari. Bayangan mengenai kejadian subuh tadi akhirnya terlintas di benaknya.
Apalagi yang bisa diharapkan tidak terjadi apabila lawan jenis dengan alkohol di tubuh mereka berbagi ciuman di ruang sempit?
Alexander merutuki dirinya dalam hati.
Dia memiliki kekasih. Bahkan sudah bertunangan, hanya tinggal sedikit waktu lagi sampai mereka menikah.
Atas dasar moral dan nilai-nilai konservatif yang dianutnya, Alexander sangat menghormati hubungan mereka dengan tidak pernah melakukan hal-hal yang melewati batas. Memang ada ciuman dan skin ship, tapi tidak pernah lebih dari itu.
Pengalaman seperti ini bahkan hanya pernah terjadi sekali, ketika dia berusia dua puluh satu tahun. Itu pun bukan karena keinginannya sendiri, melainkan sisi gelap pergaulan ketika beberapa teman mempermainkannya dengan alkohol dan wanita.
Sejak saat itu, Alexander semakin menarik batas dalam pergaulan. Dia menghormati wanita, nilai-nilai yang dipegangnya, dan dirinya sendiri.
Tapi sekarang?
Kepala Alexander berdenyut hebat. Dia tidak menyangka akan mengkhianati kekasihnya dan menjadi brengsek seperti ini.
Belum lagi gadis di sampingnya. Dari wajah cantiknya, Alexander tahu gadis ini masih muda. Mungkin memiliki jarak usia yang cukup jauh darinya.
Sial benar.
Dia merasa seperti binatang buas.
Mengingat bagaimana dirinya bisa begitu tidak terkendali bahkan sampai sedikit kasar dalam panasnya suasana tadi subuh, Alexander menggeleng keras.
“Aku pria bermartabat. Aku sangat berpendidikan dan tidak pernah kasar terhadap perempuan,” gumamnya, berusaha menenangkan diri.
Tapi bayangan itu kembali melintas.
Alexander hanya bisa mengusap wajah dengan frustrasi.
DRRRTTTT. DRRRTTTT. DRRRTTTT.
Getaran ponsel tiba-tiba mengambil alih suasana, datang dari sisi gadis di sebelahnya.
Soraya, gadis itu, sangat peka terhadap suara ponsel. Refleks dia langsung terbangun dan mengambilnya dari atas meja.
Sedikit terperanjat melihat nomor dari negara C, dia segera mendudukkan diri untuk mengangkat panggilan.
Tapi belum sempat diangkat, matanya bertemu dengan Alexander.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
“AKHHHHH!”
Soraya berteriak ketika akhirnya melihat keadaan dirinya sendiri. Dia hampir meloncat sebelum kembali ditenangkan oleh getaran ponsel yang masih masuk.
Ingatan mengenai kejadian tadi subuh segera kembali. Dia menyambar bajunya untuk menutupi diri, sementara Alexander menutup tubuhnya dengan jaket.
Setelah sedikit aman, Alexander yang hendak bicara justru dikejutkan Soraya yang mengangkat tangan, memberi tanda stop.
Wanita muda itu mengusap layar dan seketika mengubah ekspresinya.
“Halo?”
“ ….”
“Iya, benar. Saya sendiri Soraya.”
“ ….”
“Ooooh, ya, ya. Tentu saja. Terima kasih banyak. Saya sangat menantikan hal ini,” katanya dengan senyum merekah.
Alexander hanya bisa menatap.
Dia mulai bertanya-tanya apakah anak-anak muda sekarang memang seperti ini. Soraya tampak terlalu bebas bagi pria se-konservatif dirinya.
Begitu panggilan dimatikan, Soraya memberi kode kepada Alexander agar menatap keluar jendela selagi dia mengenakan pakaian.
Setelah selesai, barulah keduanya siap berbicara.
“Nona, mari bicarakan hal ini dengan baik. Pertama-tama, saya bersalah dan sangat memohon—”
“Aku tahu, Paman. Aku juga sama bersalahnya karena masuk mobil Paman sembarangan saat mabuk. Maaf juga untuk bibir Paman.”
Alexander terdiam.
Apa-apaan dengan Paman?
“Nona, dengar—”
Ponsel Soraya kembali berbunyi. Pesan masuk berturut-turut membuat perhatiannya teralihkan.
“Baik, Nona. Bisa kita bicara?”
“Mm, mau bicara apa ya, Paman?”
“Oke, pertama jangan panggil Paman. Saya baru berusia kepala tiga dan belum menikah.”
Soraya mengangkat kepala. Dia menatap Alexander dari atas sampai bawah sebelum mengangguk.
Dia sempat mengira Alexander sudah menikah mengingat penampilannya yang sangat formal.
“Nah, dengar.”
Alexander mengulurkan tangannya.
“Namaku Alexander. Alexander Kim.”
Soraya hanya menerima uluran tangannya tanpa menyebutkan nama. Alexander yang sudah mendengar namanya dari pembicaraan telepon tadi tidak terlalu tersinggung.
“Nona, apa yang terjadi di antara kita benar-benar kesalahan. Saya sungguh minta maaf. Kalau ada yang bisa dilakukan untuk menebus kesalahan, tolong katakan. Walaupun berat—”
“Okey. Pertama tidak usah saya sayaan. Aku saja, biar lebih santai sebut dirinya Paman. Dan ah, ini dia!”
Soraya tiba-tiba mengeluarkan beberapa lembar mata uang dari sakunya dan memberikannya kepada Alexander.
Entah kenapa, tangan Alexander terulur begitu saja.
“Paman, eh salah. Alexander. Eh tidak, Kak Alexander lebih cocok. Ambil uang ini dan obati lukamu. Setahuku ada apotek tidak jauh dari sini. Soal tadi subuh, lupakan saja. Aku tahu itu tidak sengaja, jadi anggap saja tidak terjadi apa-apa.”
“Apa?”
Alexander tertegun.
Anggap saja tidak terjadi apa-apa?
Dia tidak memakai pengaman. Bagaimana dengan kemungkinan wanita muda di depannya ini mengandung anaknya?
Tidak mungkin dia membiarkannya begitu saja.
“Dengar, Kak Alexander. Aku sedikit terburu-buru sekarang. Maaf atas ….”
Suara Soraya tenggelam sejenak.
“Mmm, maaf atas kekasaranku. Kalau ada yang bisa kita lakukan untuk hal ini, mari lupakan semuanya dengan damai, okey?”
Soraya hendak pergi ketika tangannya tiba-tiba ditahan.
Dia berbalik dan mendapati Alexander sedang menatapnya dengan pergolakan emosi.
Pria itu sempat berpikir Soraya terlalu liar. Namun dia segera menekan pemikiran tersebut.
Dia tidak pantas menghakimi ketika dirinya sendiri telah bersalah.
“Dengar, Nona. Saya eh...” Alexander menjeda. “Aku pikir kamu tidak mengerti. Kita tidak memakai pengaman sama sekali dan bisa saja ….”
“Hamil?”
Soraya justru tertawa.
“Ohaha-hahaa.”
Ada kesenduan di matanya, meski tetap tertutup tawa.
“Tidak. Aku tidak akan hamil. Setidaknya itu yang dikatakan rekam medis aku. Jadi jangan khawatir.”
“Rekam medis?”
Soraya mengangguk dengan pahit.
“Mm. Jadi mari berpisah. Apa pun yang terjadi di sini, sampai di sini. Kalau kebetulan kita bertemu di luar sana, maka kita orang asing. Tapi aku lebih yakin kita tidak akan bertemu lagi.”
Dia tersenyum kecil.
“Selamat tinggal.”
Soraya berbalik dan hendak turun.
Namun Alexander kembali menahan tangannya.
Ketika Soraya mendongakkan kepala, mata hitam Alexander langsung bertemu dengannya.
Tubuh mereka kembali dekat, persis seperti tadi subuh.
Tanpa berkata apa-apa, Alexander membalikkan tubuh Soraya perlahan.
Dia membereskan ikatan crop-top satin yang memiliki tali-talian di belakang punggung terbuka wanita itu. Satu per satu tali diikatnya hingga rapi.
Setelah selesai, Alexander mengambil jas bersih dari kursi kemudi dan memakaikannya ke pundak Soraya.
Semua dilakukan tanpa kata.
Soraya sedikit syok dengan perlakuan itu.
Dia langsung tahu bahwa Alexander adalah seorang gentleman.
Namun sebelum sempat turun, Alexander kembali membuka telapak tangannya.
Sebuah kartu hitam tergeletak di sana.
“Ini?”
“Jangan tersinggung. Ambillah. Ini bukan uang tutup mulut, pembayaran, atau semacamnya. Aku hanya tidak tahu harus melakukan apa sebagai penanggung rasa bersalah.”
Alis Soraya yang sempat mengernyit perlahan terangkat.
Senyumnya bahkan mulai merekah.
Untuk sesaat Alexander mengira semuanya berjalan baik.
Sampai Soraya membuka ponselnya dan memperlihatkan sebuah video, di mana dia membayar teman-temannya menggunakan jenis kartu yang sama.
DEG.
Aliran darah di otak Alexander seolah terhenti.
Malu.
Dia baru saja memberikan sesuatu yang ternyata sudah dimiliki wanita itu.
Lalu apa artinya ini?
Tidak mungkin seseorang seusia Soraya memiliki kartu seperti itu.
Atau kecuali …
“Kamu punya sugar daddy?”
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Alexander.
Senyum Soraya langsung lenyap.
“Heh, orang tua brengsek! Jangan kurang ajar, ya! Cantik-cantik begini dibilang punya sugar daddy. Yang benar saja!”
Alexander terkesiap, hendak membenarkan ucapannya.
Belum sempat, tulang keringnya sudah ditendang.
“AKKHH!”
“Mengatai orang lain punya sugar daddy, tidak sadar diri! Dia yang terlihat seperti sugar daddy, dih!”
Soraya pergi sambil mengomel tanpa mau menoleh lagi.
Begitulah roller coaster di pagi terakhir keduanya di negara Thavara.
Mungkin seperti kata Soraya.
Keduanya memang tidak akan bertemu lagi.