Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.
Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.
Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.
Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alen 2
Alensky sudah duduk manis di kursinya, mulai mengikuti mata kuliah hari ini, sebenarnya tak cukup rumit karena Alen bahkan bisa menghapal apa yang saat ini di ajarkan.
Beruntung getaran ponselnya menyelamatkan dirinya dari rasa bosan, dengan semangat segera membuka pesan yang ada di sana.
"Shit!, Kak Sera, pasti nyinyir nih isinya" batin Alen dan tetap saja membuka pesan yang membuatnya penasaran.
Bait pertama.
Sudah di kelas kan kamu?
Bait ke dua.
Baik-baik di kampus baru, jangan onar lagi, awas!
Bait ke tiga.
Cari teman yang bener.
Bait ke empat.
Ditunggu Oma nanti malam.
Seketika Alen merasa gerah di tengah ruangan ber AC, tangannya pun mulai gatal saat ada kata Oma di dalam pesan yang di terima.
Jawab Alen.
'Di tunggu buat apa?'
Balasan
'Suruh kawin!"
"Kak Sera?"
"Kita!"
"APA?!"
Tanpa sengaja Alen lepas kendali dan menjerit kencang di kelasnya.
"Mahasiswa baru?, siapa nama kamu?" Sang dosen segera memberi kartu kuning seketika.
"Maaf Bu, saya Alen" jawabnya dengan takut dan juga malu jadi satu.
"Ikuti perkuliahan ini dengan baik, atau keluar saja jika hanya mengganggu di kelas saya"
"Iya Bu, maaf"
Dalam hati Alen sedang mengumpat i kakak sepupunya berkali-kali, bahkan seandainya bisa akan mengutuknya menjadi kodok biar kembali manusia setelah di cium pangerannya.
Akhirnya selesai juga, lumayan kali ini Alen memuji dirinya sendiri, mampu menghadapi kebosanan dengan baik saat menjalani mata kuliah beberapa jam di dalam kelasnya.
Hingga akhirnya jam pulang telah tiba, sebuah pesan masuk dari pak Darmo yang akan menjemputnya, seketika Alen memberi peringatan keras, jangan sampai berhenti dekat dengan universitas, setidaknya jarak lima ratus meter masih dia terima.
Saat memasuki mobil, Alen di kejutkan dengan siapa yang sudah ada di dalam sana.
"Kak Sera?"
"Hem, kali ini aku di beri tugas oleh kanjeng Oma untuk memastikan kamu langsung ke Mansion nya"
"Ck, setidaknya aku butuh mandi setelah seharian berkeringat karena mikir mata kuliah kak"
"Mikir pakek otak, kenapa yang berkeringat badanmu, harusnya kan kepalamu, jadi alsan di tolak, pak Darmo kita langsung ke Mansion sekarang juga"
"Gak bisa gitu dong kak, aku mau mendinginkan kepalaku dulu, nanti aku kesana pakek taksi!"
"Oh No, kamu pasti ke sana tengah malam nanti, Oma sudah istirahat dan alhasil hanya aku nanti yang di ceramah i dan bahkan mungkin di paksa kawin, enak saja"
Alensky mode ngambek seketika, diam tak bicara, dan hanya matanya saja melirik sana sini mengamati situasi.
"Sudah punya alasan lagi untuk menolak keinginan Oma?" Tanya Sera.
"Ngapain, aku masih kuliah, tidak mungkin juga di suruh cepet kawin"
Sera tersenyum tipis, laku berkata, "kamu belum tau saja seperti apa Oma jika sudah berurusan dengan proses berkembang biak"
"Memang kita apa, kayak hewan saja" sahut Alensky sewot sekali.
"Coba saja nanti bilang seperti itu sama Oma, mau tau kamu berani apa nggak"
"Tapi aku sudah menyiapkan alasan yang pas, tinggal kak Sera saja yang siap-siap langsung di kawinkan malam ini juga" Alensky menakut-nakuti.
PLAK
"Apa sih kak, sakit!" Teriak Alensky saat tangan Sera sudah mendarat cukup keras di tangannya.
"Makanya jangan asal ngomong, enak saja kawin dadakan, aku kan juga butuh persiapan"
"Gak perlu, kak Sera hanya cukup terlentang, telanjangg dan mengeraang"
"Alensky!"
Teriak Sera kesal setengah mati dengan kata-kata kotor adiknya yang sepertinya agak gila.
Kedua wanita cantik itu segera turun dari mobil, kemudian merapikan bajunya dan kini berjalan menuju ke pintu utama Mansion yang ada di dalam sana.
"Memang apa alasanmu?" Rupanya Sera penasaran juga melihat adiknya itu terlihat santai sekali saat ini.
"Rahasia dong kak, lihat saja nanti" sahut Alensky.
"Aku juga, lihat saja nanti" balas Sera tak mau kalah dengan adiknya
Akhirnya mereka berdua memasuki pintu dan di sambut oleh sang Oma yang sepertinya sudah tak sabar menunggu kedua Cucu nya yang cantik sekali.
"Apa kabar kalian?, Oma kangen sekali" sang Oma menyambut dengan ruang gembira, tidak mengerti sama sekali jika kedua wanita itu hatinya sedang kebat kebit akan rencana yang juga belum di ceritakan.
"Baik Oma" jawab Sera lalu berpelukan.
"Lalu kamu cantik?" Oma kini menatap Alensky yang sepertinya sedang berusaha tersenyum sekuat tenaga.
"Baik juga Oma" lalu mendapat pelukan hangat dari Alena.
"Baiklah, ayo kita makan malam, Oma sudah menyiapkan semua makanan kesukaan kalian" Alena sangat bahagia, kedua cucunya sudah ada di dekatnya untuk makan malam bersama.
Rupanya Sera dan Alensky tak kuat menahan diri, makanan yang tersaji semuanya memang favorit nya sekali, hingga hampir semua hidangan itu hanya sedikit tersisa, dan Sang Oma tersenyum senang.
"Setidaknya setelah ini kalian siapa mendengarkan rencana Oma" ucapnya pelan, namun berhasil membuat kedua cucunya itu seketika tidak naf-su makan, untung sudah kenyang.
"Memang rencana apa Oma?" Tanya Sera.
"Usia kalian sudah matang"
"Dan kami belum siap beranak sekarang" sahut Alensky.
"Alen!"
Sera langsung mendelik memperingatkan.
"Kan memang gitu kak"
"Diam" sahut Sera dengan tatapan tajam.
Alensky laku terdiam kembali, duduk manis melihat ke arah sang Oma yang sudah bersiap mengeluarkan titahnya, dasar Kanjeng Oma, batin Alen.
"Sera, usia mu sudah cukup matang sekarang, jadi Oma sudah mengatur pertemuan ku dengan seseorang"
"Lagi?" Sahut Sera dengan wajah pasrahnya.
"Dan kau Alen, Oma ingin menuntun mu agar tidak terlalu kaget dengan dunia perjodohan, jadi bertunangan atau teman dekat boleh juga, Oma akan mengatur siapa nanti orangnya"
"Ya Tuhan, Oma aku masih kecil"
"Kecil kepala mu?" Sahur Sera.
"Ish, jangan ikut campur" balas Alensky.
"Oma tidak akan bernegosiasi lagi dengan dua wanita yang sudah amat sangat nakal dan tidak pernah bergaul dengan lelaki selain dari keluarga sendiri, apa kalian ini tidak normal?" Oma mulai kesal.
"Aku tidak butuh laki-laki Oma, ada kakak dan juga adik sepupu dari keluarga kita yang sudah membuat kita kadang penat mengurusi tingkahnya" ucap Sera.
"Iya, dan mereka saja sudah cukup membuat dunia kita kadang jungkir balik, buat apa nambah masalah lagi Oma?"
"Inilah yang Oma khawatirkan, kalian tidak pernah merasakan jatuh cinta, tentu saja hidup kalian akan hampa"
"TIDAK" Jawaban dari kedua cucunya serempak.
"Berati kalian memang kelainan, dan Oma tidak bisa membiarkan, lama-lama kalian akan sakit dan bisa-bisa tidak suka sama Laki-laki, tapi malah suka sama_" Oma melihat bergantian lalu berteriak, "TIDAK!"
Alen dan Sera sampai Terjingkat kaget mendengar teriakan sang Oma yang persis di drama-drama Korea.
"Ya Tuhan, Oma!, kami normal, okey?" Alensky tak tahan lagi, sedangkan Sera hanya mengelus dadanya, tenang, dunia masih belum gonjang ganjing sampai Oma mendapatkan laki-laki yang akan di korbankan lagi.