"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24. Kecemburuan
Adam menceritakan semuanya pada pengacara itu..
Setelah pengacara itu mendengarkan cerita Adam dan melihat dokumen yang di bawa Adam, dia yang sangat excited memajukan tubuhnya, menautkan jemarinya yang dingin dengan raut penuh kecemasan.
"Bagaimana, Pak Pengacara? Dengan bukti tes DNA 99,99 persen ini, kita EPi mengajukan gugatan hak asuh atau setidaknya hak akses wali ke pengadilan, kan?" tanya Adam sabar menunggu kepastian.
Pria paruh baya di hadapannya menghela napas panjang, melepas kacamata bacanya lalu meletakkannya di atas meja kerja. Ia menatap Adam dengan pandangan empati yang bercampur ketegasan profesional.
"Secara teori biologis, Anda memang ayahnya, Pak Adam," ujar pengacara itu dengan nada suara tenang. "Tetapi secara hukum perdata dan hukum keluarga, posisinya sama sekali tidak menguntungkan Anda. Anak ini lahir setelah proses perceraian selesai tanpa ada pencatatan pengakuan anak dari Anda di awal kelahiran. Hak asuh anak di bawah umur secara mutlak jatuh ke tangan ibu kandung. Apalagi Dokter Fitri memiliki kemampuan finansial, mental, dan sosial yang sangat stabil."
"Tapi saya cuma minta izin bertemu dan memberikan nafkah bulanan!" potong Adam nekat, suaranya parau menahan rasa frustrasi yang siap meledak. "Saya ini ayah kandungnya, Pak! Masa pengadilan tidak bisa memberikan akses sedikit pun untuk saya?"
Pengacara itu menggelengkan kepala pelan. "Jika Dokter Fitri mengajukan keberatan dengan alasan perlindungan psikologis anak sambil membawa rekam jejak masa lalu perceraian Anda dan ketidakikutsertaan Anda selama proses kehamilan hingga kelahiran, Hakim hampir pasti akan menolak tuntutan Anda. Memaksa jalur hukum justru hanya akan membuang uang Anda yang tersisa dan makin memperkeruh suasana."
"Tapi dialah darah daging saya satu-satunya!" seru Adam dengan mata memerah, meninju pelan pegangan kursi. "Apa tidak ada celah sama sekali?"
"Celah hukum selalu ada, Pak Adam," balas pengacara itu jujur. "Tapi biayanya sangat besar, prosesnya bertahun-tahun, dan peluang menang Anda di bawah sepuluh persen. Apakah Anda siap finansial untuk bertarung di pengadilan melawan pengacara kelas atas yang sanggup disewa keluarga Dokter Fitri?"
Kata-kata sang pengacara menghantam dada Adam bagai vonis mati. Lidahnya mendadak kelu. Seluruh tabungan sisa yang ia kumpulkan mati-matian dari pekerjaan penyelia lapangan tak akan pernah sanggup membiayai sengketa hukum yang berlarut-larut.
Adam keluar dari kantor pengacara itu lalu duduk di dalam kemudi mobil tua nya itu.
"Bagaimana lagi agar bisa mendapatkan kamu lagi Fitri.." ucap Adam dengan serius.
Lalu Adam nyalakan mobil nya dan menuju ke rumah sakit tempat Fitri bekerja kembali.
Matahari sore menyemburkan warna jingga di atas langit kota Bandung, memantulkan bayangan panjang di area taman Rumah Sakit Medika Utama. Adam duduk menyendiri di salah satu bangku kayu di balik deretan tanaman hias, menyembunyikan wajah kusamnya di balik topi hitam. Sudah menjadi kebiasaannya belakangan ini untuk mengamati Fitri dari kejauhan sebelum wanita itu pulang kerja.
Namun, sore ini pemandangan di area teras klinik spesialis anak terasa amat berbeda. Fitri melangkah keluar bukan hanya bersama pengasuh dan Aiden, melainkan didampingi oleh seorang pria tegap berusia pertengahan tiga puluh tahun. Pria itu mengenakan jas dokter bertuliskan Dr. Danu, Sp.BA, memancarkan aura ketenangan, wibawa, dan ketampanan matang yang sangat karismatik.
"Aiden, sepedanya ditaruh di bagasi mobil Dokter Danu dulu ya, Sayang," ujar Fitri dengan suara lembut dan senyuman hangat yang mengembang di bibirnya.
"Asyik! Makasih, Uncle Danu!" seru Aiden riang, melompat-lompat kecil sembari menyerahkan sepeda roda tiganya.
Dokter Danu tertawa renyah, berlutut menyamakan tingginya dengan Aiden lalu mengusap lembut kepala balita tersebut. "Sama-sama, Anak Pintar. Hari ini kita jadi makan es krim rasa cokelat favorit Aiden, kan?"
"Jadi dong! Ibu sudah janji!" sahut Aiden gembira, menyodorkan tangannya untuk digenggam oleh Dokter Danu.
Fitri terkekeh pelan melihat tingkah manja putranya. "Mas Danu ini terlalu memanjakan Aiden. Nanti dia bisa ketagihan minta es krim terus tiap sore."
Dokter Danu bangkit berdiri, menatap Fitri dengan pendar mata yang begitu tulus dan penuh perhatian. "Tidak apa-apa, Fitri. Melihat Aiden tertawa lepas seperti ini sudah membuat rasa lelahku setelah operasi seharian hilang seketika."
Dari balik rimbunnya tanaman hias, Adam mengepalkan kedua telapak tangannya rapat-rapat. Matanya memerah menahan gelombang cemburu yang membakar ulu hatinya bagai kobaran api unggun. Darahnya mendidih menyaksikan keakraban manis antara pria asing itu dengan anak dan mantan istrinya.
Dokter Danu adalah seorang dokter spesialis bedah anak terkemuka, pria terpandang dari keluarga terhormat yang tidak hanya sukses secara finansial, tetapi juga memiliki kepribadian yang sangat santun. Kehadirannya di sisi Fitri terasa begitu sempurna—sebuah kontras tajam jika dibandingkan dengan Adam yang kini hancur dan tak punya apa-apa lagi.
"Kenapa harus pria itu...?" bisik Adam lirih, giginya bergelut menahan rasa sakit di dadanya.
Melihat Danu merangkul pundak Fitri secara alami saat menyeberang jalan menuju area parkir vip, dada Adam serasa dihantam gumpalan batu raksasa. Pria itu memberikan perlindungan, rasa aman, dan kasih sayang yang dulu sengaja dibuang oleh Adam demi mengejar kebohongan Rosa.
Aiden membukakan pintu mobil SUV hitam milik Dokter Danu, lalu melambaikan tangan kecilnya dengan penuh keceriaan sebelum masuk ke kabin penumpang. Fitri duduk di samping kemudi, tersenyum renyah menanggapi gurauan Dokter Danu sebelum mobil mewah itu melaju perlahan meninggalkan area hospital.
"Uncle.. mau gendong.." Ucap Aiden merentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi kepada Danu.
"Ya ampun.. ayo ayo.. uncle gendong Aiden tinggi-tinggi setinggi awan.." Jawab Danu menggendong Aiden.
"Yeeeeeyyyy... Aku jadi pesawat yeeeee ngeeengggg" ucap Aiden dengan ceria.
"Aiden..pegangan.. nanti jatuh.. tangan nya jangan ke atas.." Ucap Fitri tersenyum.
Adam bangkit dari bangku taman dengan tubuh gemetar hebat. Rasa cemburu gila yang membakar jiwanya kini menjelma menjadi tekad nekat baru. Ia tidak bisa diam saja menyaksikan putranya memanggil pria lain dengan sebutan hangat, sementara dirinya terasing di luar lingkaran kebahagiaan tersebut.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.