NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:991
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Bab 9: Penempaan Tiga Jalur, Rasa Sakit Tak Bertara, dan Puncak Evolusi Jasmani

​Angin malam di perbatasan ibu kota berembus kencang membawa uap dingin saat Wiliam melesat di antara bayang-bayang pepohonan. Di balik jubah overcoat hitam barunya, beberapa kantong kain tebal terikat rapi di pinggangnya, memuat ratusan inti monster bernilai tinggi yang berhasil ia kumpulkan dari dalam Dungeon Jurang Jiwa Abadi. Setelah mengamankan sisa-sisa jejak pertempuran dari bos Balor, Wiliam memutuskan untuk segera kembali ke kediaman Pendragon sebelum langit benar-benar menyingsingkan cahaya fajar.

​Dengan gerakan sehalus bulu yang jatuh, Wiliam melompati pagar batu mansion dan melayang naik menuju balkon kamar tidurnya di lantai dua. Ia mendorong pelan jendela kaca yang sengaja ia tinggalkan tanpa terkunci, lalu menyelinap masuk ke dalam kegelapan kamarnya.

​Namun, saat kedua kakinya mendarat di atas karpet tebal, bau lilin aromaterapi yang menenangkan mendadak menusuk hidungnya—sebuah aroma yang sangat dihafalkannya, namun sama sekali tidak seharusnya ada di kamarnya pada pukul tiga dini hari.

​Wiliam membeku seketika.

​Di atas kursi bersandar tinggi di sudut kamar, terduduk sesosok wanita anggun mengenakan gaun tidur sutra berwarna kelabu tua. Kedua tangannya bersedekap di dada, sementara salah satu kakinya menyilang kaku. Eleanor Pendragon—ibu kandung Wiliam—sedang menatap anak bungsu dengan sepasang mata hijau yang berkilat dingin di dalam kegelapan.

​"Bagus sekali," suara Eleanor bergema halus namun sarat akan ancaman yang sanggup membekukan darah. "Jam tiga pagi, lewat jendela... kau pikir kamar ini adalah penginapan murah di Distrik Bawah, Wiliam?"

​Wiliam menelan air liurnya kaku. Tanpa sempat menyusun kata-kata pembelaan, Eleanor mendadak berdiri dan melangkah maju dengan kecepatan yang sangat mengejutkan untuk seorang wanita bangsawan.

​Ctek!

​"Auw! A-Aduh! Ibu! Sakit!" jerit Wiliam spontan saat jemari lentik ibunya dengan presisi sempurna mencengkeram dan memutar telinga kanannya kencang-kencang!

​"Anak nakal!" omel Eleanor seraya menarik jewerannya ke atas, membuat Wiliam harus berjinjit seraya memegangi tangan ibunya dengan kedua tangan. "Ibu menunggumu di sini sejak tengah malam! Dari mana saja kau jam segini baru pulang, hah?!"

​"Ampun, Ibu! Ampun! Lepaskan dulu!" ringis Wiliam dengan wajah meringis kesakitan—sebuah pemandangan konyol yang sangat bertolak belakang dengan sosok Hantu Topeng yang baru saja membantai bos dungeon beberapa jam lalu.

​Eleanor tidak melepaskan genggamannya, malah memiringkan telinga Wiliam lebih kencang. Ia mengendus udara di sekitar pakaian Wiliam, lalu alisnya bertaut tajam. "Kenapa pakaianmu baunya seperti minyak tempa, bau jelaga, dan... bau darah monster racun?! Apa yang kau lakukan di luar sana?!"

​Wiliam memutar otaknya kencang, mencoba menyusun kebohongan instan. "Aku... aku tadi hanya jalan-jalan di pasar malam Distrik Bawah, Bu! Lalu aku tidak sengaja tersenggol oleh pemburu yang baru pulang membawa hasil buruan! Sungguh!"

​Mendengar alasan itu, sepasang mata hijau Eleanor mendadak berpendarkan pola melingkar keemasan tipis—sebuah sihir warisan keluarga maternalnya, Mata Penglihat Kejujuran (Eye of Verity), yang sanggup membaca fluktuasi detak jantung dan emosi seseorang saat berbohong.

​"Bohong," kata Eleanor dingin.

​SRET!

​"AAAKKKH! Ibu! Ampun! Telingaku bisa putus!" raung Wiliam makin kencang saat Eleanor memberikan satu putaran ekstra pada telinganya.

​"Kau berani membohongi ibumu sendiri menggunakan alasan konyol seperti itu?!" tegur Eleanor seraya bertolak pinggang. "Ibu melahirkanmu, Wiliam! Ibu tahu persis kapan kau berkata jujur dan kapan kau sedang mengarang cerita!"

​"Baik! Baik! Aku mengaku! Aku akan jujur! Tapi lepaskan dulu jewerannya, Bu, mohon!" ratap Wiliam dengan wajah memohon yang sangat menggemaskan.

​Eleanor menghela napas panjang, lalu melepaskan jewerannya. Wiliam seketika mundur satu langkah, mengelus-elus telinganya yang kini memerah padam dan terasa panas membara.

​Eleanor menatap putra bungsunya itu dengan pandangan yang perlahan melunak. Berbeda dengan Julius sang suami atau kedua kakak laki-laki Wiliam yang menganggap Wiliam sebagai produk gagal keluarga Pendragon karena tidak memiliki aura pedang konvensional, Eleanor adalah salah satu dari sedikit orang di mansion yang mengetahui rahasia anaknya.

​Sebagai seorang wanita berdarah bangsawan penyihir yang memiliki Eye of Verity, Eleanor sejak lama telah menyadari bahwa aliran mana di dalam tubuh Wiliam bukan tidak ada, melainkan terlalu murni, terlalu dalam, dan sengaja disembunyikan di balik dinding isolasi bawaan. Itulah alasan utama mengapa Eleanor selalu memberikan perhatian ekstra, menyayangi, dan melindunginya dari perlakuan kasar anggota keluarga lainnya—meskipun perhatian itu sering kali diwujudkan dalam bentuk omelan dan jeweran keras jika Wiliam bertindak berbahaya.

​"Bicara yang jujur sekarang," kata Eleanor seraya bersedekap dada kembali. "Dari mana kau sebenarnya?"

​Wiliam menghela napas pasrah, menyadari tidak ada gunanya berbohong di depan sihir mata ibunya. "Aku baru saja pulang dari Dungeon Jurang Jiwa Abadi di Pegunungan Kelabu."

​Eleanor membelalak kaget. "Dungeon tingkat bahaya tinggi?! Kau gila, Wiliam?! Kau pergi ke tempat berbahaya seperti itu sendirian?!"

​"Aku harus menguji teknik pedang baru dan beberapa sihir yang baru aku selaraskan, Bu," jelas Wiliam pelan, suaranya kini kembali tenang. "Aku tidak bisa terus-terusan menahannya di dalam mansion atau area latihan akademi tanpa memicu kecurigaan. Dan aku tidak terluka parah, aku berhasil mengalahkan bosnya."

​Eleanor memejamkan matanya rapat-rapat, mengurut pelipisnya yang terasa pening mendengar penuturan santai anak bungsunya. "Wiliam... Ibu tahu kau memiliki kekuatan yang jauh melampaui apa yang dipikirkan ayah dan kakak-kakakmu. Tapi kau ini masih tujuh belas tahun! Kau bergerak sendirian di dalam kegelapan, bertarung melawan monster dan iblis... bagaimana jika sesuatu terjadi padamu? Bagaimana jika kau tidak pernah kembali?!"

​Eleanor melangkah mendekat, memeluk tubuh tegap Wiliam dengan erat. Aroma harum bunga melati dari ibunya menyelimuti Wiliam, membuat pemuda itu perlahan menepuk-nepuk punggung ibunya dengan lembut.

​"Ibu tidak peduli seberapa kuat dirimu di luar sana," bisik Eleanor lembut di ceruk leher Wiliam. "Bagi Ibu, kau tetaplah putra kecil Ibu yang harus dilindungi. Jangan pernah membahayakan nyawamu secara ceroboh seperti ini lagi, mengerti?"

​"Iya, Bu... aku janji," sahut Wiliam pelan.

​Eleanor melepaskan pelukannya, menyapu air mata kecil di sudut matanya, lalu kembali menatap Wiliam dengan raut tegas. "Sekarang, masuk ke kamar mandi, bersihkan seluruh bau darah racun dan jelaga ini dari tubuhmu, lalu segera tidur! Besok kau harus sekolah di akademi!"

​"Baik, Bu," angguk Wiliam menurut.

​Eleanor berbalik dan berjalan keluar dari kamar Wiliam, menutup pintu dengan pelan.

​Setelah memastikan langkah kaki ibunya sudah menghilang di koridor mansion, Wiliam melangkah ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dengan air dingin. Namun, alih-alih merebahkan diri di tempat tidur empuknya, pikiran Wiliam berkecamuk hebat.

​Integrasi esensi Sihir Petir Purba dari Raja Pertama, keberadaan api hitam Void Inferno, serta lonjakan Level 13 telah menuntut wadah fisik yang jauh lebih kokoh dari sekadar tubuh manusia biasa. Jika ia membiarkan tubuhnya berada di tingkat ketahanan saat ini, kekuatan destruktif yang tersimpan di dalam intinya bisa menghancurkan organ dalamnya sendiri di pertarungan masa depan.

​Wiliam berjalan ke meja belajarnya, mengambil selembar kertas perkamen dan pena bulu. Ia menuliskan sebuah surat singkat yang ditujukan untuk ibunya:

​Ibu, maafkan aku. Aku harus pergi mengasingkan diri selama beberapa waktu untuk menyelesaikan penempaan fondasiku. Jangan mencariku, aku akan kembali setelah semuanya selesai dalam keadaan selamat.

​— Wiliam.

​Wiliam meletakkan surat itu di atas tempat tidurnya, lalu kembali melompat keluar melalui jendela balkon, menghilang ke dalam kegelapan malam dengan kecepatan penuh.

​Tujuan Wiliam adalah sebuah gua batu terpencil yang tersembunyi di balik jeram air terjun raksasa di Hutan Kuno Barat—sebuah tempat yang sepenuhnya terisolasi dari jangkauan sihir pengintai mana pun.

​Wiliam mendarat di dalam gua yang lembap dan dingin. Dengan satu kibasan tangan, ia menyebarkan jimat-jimat pelindung kedap suara dan penghalang aura di sekitar mulut gua.

​Wiliam melangkah ke tengah gua yang lapang, lalu membuka ruang penyimpanan dimensinya.

​SZZZZT!

​Seketika itu pula, cahaya berwarna-warni memancar memenuhi gua saat gunungan inti monster melimpah ruah jatuh terhempas ke lantai batu! Puluhan inti monster tingkat rendah, belasan inti monster tingkat menengah, hingga inti kristal batu raksasa milik bos Balor yang memancarkan pendar merah pekat terkumpul menjadi sebuah bukit kecil di hadapannya.

​Wiliam duduk bersila di atas lantai batu kaku, menatap gunungan kristal mana tersebut dengan mata merahnya yang berkilat serius.

​Ia bermaksud melakukan sesuatu yang dianggap mustahil dan tabu oleh para penyihir benua: Penempaan Tiga Jalur Abadi (Triple-Path Foundation Forging).

​Sebagaimana yang pernah ia baca dalam sebuah kitab perkamen kuno era primordial di ruang terlarang Pendragon, untuk mencapai puncak kekuatan sejati, seorang praktisi tidak boleh hanya mengandalkan Jalur Mana (sihir) atau Jalur Pedang (teknik fisik). Mereka harus membuka Jalur Penempaan Tubuh (Body Refining Path) untuk menembus batas biologis mortal dan menyatukan ketiganya menjadi Tubuh Demigod (Setengah Dewa).

​Proses ini membutuhkan tiga hal: pembentukan Wadah Cadangan Mana Sekunder di dalam organ jantung, peleburan dan restrukturisasi jaringan sel fisik, serta evolusi permanen pada organ mata sihir.

​"Mari kita mulai," bisik Wiliam pada dirinya sendiri.

​Wiliam merogoh tangan kirinya, mengambil tiga inti monster tingkat tinggi sekaligus kristal inti milik bos Balor, lalu menelannya bulat-bulat ke dalam perutnya!

​BOOOOMMM!

​Seketika itu pula, ledakan energi mana beracun, liar, dan sangat masif meletus di dalam lambung Wiliam! Energi mentah itu mengamuk bagaikan gelombang lahar cair, mencoba merobek dinding perut dan organ dalam Wiliam dari dalam!

​"Khhh...!" Wiliam menggertakkan giginya kencang hingga gusi dan bibirnya berdarah.

​Ia menarik napas dalam-dalam, memicu Pernapasan Pedang Kegelapan tingkat maksimum untuk memaksakan energi liar tersebut masuk ke dalam saluran darahnya. Wiliam mulai menghancurkan jaringan organ dalamnya secara sengaja!

​KRRRACK! KRRRACK!

​Rasa sakit yang tercipta berada di tingkat yang tak terbayangkan oleh akal sehat manusia biasa. Setiap serat ototnya dilebur secara perlahan oleh mana cair, tulang-tulangnya retak dan hancur berkeping-keping sebelum disusun kembali dalam kerapatan atom yang lebih padat dari baja kehampaan! Paru-parunya, hatinya, dan ginjalnya seolah-olah dicelupkan ke dalam lautan asam membara, dihancurkan menjadi cairan sel murni, lalu dibentuk ulang menggunakan pendar darah Elf dan mana petir purba!

​"ARGHHHHHH!" Wiliam tidak sanggup menahan raungan kesakitan saat jantungnya dipaksa terbelah secara gaib untuk membentuk sebuah Inti Cadangan Mana Sekunder di dalam bilik kirinya!

​Sensasi rasanya seperti mati dan dihidupkan kembali secara berulang-ulang ratusan kali dalam setiap detiknya. Darah hitam pekat bercampur racun kotoran tubuh keluar dari seluruh pori-pori kulitnya, membungkus tubuh Wiliam dalam sebuah kepompong darah kering yang mengerikan.

​Namun, siksaan itu belum berakhir.

​Sambil menahan peleburan organ fisiknya, Wiliam mulai mengarahkan sebagian lahar mana murni langsung menuju ke kedua rongga matanya untuk memicu Evolusi Permanen Eye of the Void.

​STAB!

​Rasa sakit di matanya seribu kali lebih menyiksa daripada peleburan organ dalam! Rasanya bagaikan sepasang jarum besi yang membara dicolokkan dan diputar-putar langsung di dalam saraf otak belakangnya!

​Di balik kepompong darah kering, kulit di seluruh tubuh Wiliam mulai memancarkan retakan-retakan garis berwarna emas cair—pendar darah Elf dan petir purba yang menyatu menembus lapisan sel baru. Jika mental dan kesadaran jiwa Wiliam tumbang atau pingsan walau hanya satu milidetik saja selama proses ini, dorongan energi liar itu akan meledakkan kepalanya menjadi debu!

​"Aku... tidak boleh... tumbang di sini...!" batin Wiliam meraung di dalam ruang kesadarannya yang gelap. Wajah Anya yang tersenyum di pasar malam, kenangan bersama Leo dan Reno, serta wajah ibunya yang khawatir menjadi jangkar utama yang menahan jiwanya agar tetap sadar di ambang maut.

​Hari pertama berlalu... Fajar menyingsing di luar gua, namun Wiliam di dalam kepompong darahnya masih membeku kaku dalam siksaan penempaan sel.

​Hari kedua... Hari ketiga... Pagi berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam...

​Satu minggu berlalu...

​Seluruh isi gua berguncang pelan oleh aura gaib yang berdegup bagaikan detak jantung raksasa dari dalam kepompong darah Wiliam.

​Dua minggu penuh telah berlalu tanpa ada satu pun murid akademi atau penghuni Pendragon yang tahu di mana keberadaan sang anak bungsu.

​Hingga pada malam hari ke-empat belas...

​BOOOOOOOOOOMMMMMMMM!

​Sebuah ledakan tekanan aura yang luar biasa masif dan sangat murni mendadak meletus dari tengah gua! Kepompong darah kering itu hancur berkeping-keping menjadi abu perak!

​Tubuh Wiliam melayang perlahan dua meter di udara, memancarkan pendar cahaya keemasan bercampur dengan gumpalan aura kegelapan yang bergerak anggun bagaikan lidah api abadi.

​Rambut hitamnya kini memiliki beberapa helai garis perak yang berkilau di ujungnya. Kulitnya menjadi sangat bersih, mulus, dan memancarkan pendar porselen yang kokoh bagaikan baja primordial. Ketika ia membuka kedua matanya, sepasang mata merah menyala dengan pola ukiran lingkaran bertingkat dan susunan jaring kosmik berputar anggun di dalam pupilnya—sebuah evolusi mata sempurna yang sanggup melihat struktur molekul sihir dan garis takdir musuh!

​Dan tidak hanya itu—di punggung tangan kanannya, muncul sebuah tato kecil berbentuk lingkaran hitam dengan pola-pola ukiran petir dan bunga kuno yang memancarkan pendar redup: Segel Wadah Demigod.

​Wiliam telah berhasil menyelesaikan Penempaan Tiga Jalur. Ia kini memegang Jalur Pedang, Jalur Mana, dan Jalur Penempaan Tubuh secara bersamaan—sebuah pencapaian yang menempatkan fisiknya hanya satu langkah lagi menuju struktur tubuh Demigod sejati!

​Tubuh Wiliam turun perlahan, mendarat mulus di atas lantai batu gua. Ia menghembuskan napas panjang, dan helaan napasnya mengeluarkan percikan petir keperakan kecil yang menguap di udara.

​Wiliam meraba dadanya, merasakan dua detak jantung yang berdenyut sangat stabil di dalam tubuhnya—satu jantung fisik, dan satu Inti Cadangan Mana yang menyimpan lahar energi tak terbatas.

​"Dua minggu..." bisik Wiliam dari balik suara barunya yang terdengar lebih mantap dan jernih. "Saatnya pulang."

​Wiliam mengenakan kembali pakaian, overcoat hitam, dan perlengkapannya, lalu melangkah keluar dari gua menembus tirai air terjun.

​Sementara itu, suasana di kediaman utama keluarga Pendragon berada dalam ketegangan puncak.

​Di dalam ruang keluarga yang megah, Julius Pendragon—sang kepala keluarga—duduk di kursi kebesarannya dengan wajah gelap penuh amarah. Di sampingnya, berdiri dua putra tertuanya, Julius Jr. dan Hector, yang memasang raut wajah kesal dan dingin. Sementara Eleanor duduk di sudut ruangan seraya menggenggam sapu tangannya dengan raut wajah sangat cemas.

​Wiliam telah menghilang tanpa kabar selama dua minggu penuh! Ia tidak hanya membolos dari Akademi Sihir Kerajaan hingga memicu teguran resmi dari pihak sekolah, tetapi juga membuat ibunya menangis cemas setiap malam!

​Kriiet.

​Pintu besar ruang keluarga didorong terbuka. Wiliam melangkah masuk dengan tenang, membawa tas kain kecil di bahunya.

​"Aku pulang," ucap Wiliam datar.

​Seketika itu pula, seluruh pandangan di ruangan tertuju padanya.

​"Wiliam!" jerit Eleanor gembira seraya langsung berlari menghampiri dan memeluk tubuh anak bungsunya. "Kau dari mana saja, Nak?! Dua minggu kau menghilang tanpa kabar! Ibu sangat mencemaskanmu!"

​Namun, sebelum Wiliam sempat membalas pelukan ibunya, dua langkah kaki tegap menghampirinya dengan nada bermusuhan yang sangat kental.

​"Dasar anak tidak tahu diri!" bentak Hector seraya mendorong bahu Wiliam kasar—namun, anehnya, tubuh Wiliam tidak bergeser sedikit pun, malah tangan Hector yang terasa sakit seolah-olah baru saja menabrak dinding benteng baja!

​Hector mengerjap kaget memegangi pergelangan tangannya, namun rasa gengsinya mengabaikan hal itu. "Kau tahu berapa kali Ibu menangis mencemaskanmu, hah?! Kau menghilang selama dua minggu tanpa peduli pada keluarga ini!"

​Julius Jr. ikut melangkah maju dengan tatapan hina. "Kau ini memang anak pembawa sial, Wiliam! Tidak punya bakat sihir, mempermalukan nama Pendragon di akademi dengan membolos dua minggu penuh, dan sekarang kau membuat Ibu sakit karena mencemaskanmu! Harusnya kau tidak usah kembali sekalian!"

​Wiliam menatap kedua kakaknya dengan pandangan mata yang sangat dingin dan datar. Dengan ketahanan fisik dan intinya saat ini, ejekan atau dorongan dari Hector dan Julius Jr. terasa seperti gigitan nyamuk yang tak bernilai.

​"Cukup!" suara menggelegar dari Julius Pendragon memotong perdebatan tersebut.

​Sang kepala keluarga berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mendekati Wiliam dengan aura kepemimpinan yang menekan. "Wiliam. Kau telah melanggar aturan keluarga dan aturan akademi. Menghilang dua minggu tanpa izin, membuat ibumu khawatir, dan mencoreng nama baik Pendragon sebagai murid pembolos."

​Julius menatap anak bungsunya dengan mata dingin. "Sebagai hukumannya, kau dilarang keluar dari area mansion selama satu bulan setelah jam sekolah, seluruh fasilitas uang saku bulananmu dipotong total, dan kau harus membersihkan seluruh ruang latihan pedang utama setiap sore sendirian!"

​Eleanor hendak memprotes. "Julius, dia baru saja kembali—"

​"Tidak ada bantahan, Eleanor!" potong Julius tegas. "Anak ini harus belajar disiplin dan tanggung jawab!"

​Wiliam menatap ayahnya sejenak, lalu menyunggingkan senyum tipis yang tak terartikan. "Baik, Ayah. Aku menerima hukumannya."

​Bagi Wiliam, hukuman dikurung di mansion dan membersihkan ruang latihan justru adalah kesempatan sempurna untuk terus mengasah koordinasi Tubuh Demigod barunya tanpa ada gangguan dari luar. Dengan ketenangan yang tak tergoyahkan, Wiliam membungkuk sopan pada ibunya, mengabaikan tatapan benci kedua kakaknya, lalu melangkah tenang menuju kamarnya untuk menyusun langkah catur berikutnya di dalam kegelapan.

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!