Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.
Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.
Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.
Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.
Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.
Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.
Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Bukan Ibuku
Mendengar kabar bahwa Edris akan segera menuju wilayah Utara, Daisy langsung mencari keponakannya itu. Dia menemukan Edris sedang memeriksa beberapa dokumen kerajaan dengan wajah serius.
“Yang Mulia,” panggil Daisy.
Edris mengangkat kepalanya. Tatapannya datar, seperti biasa. Entah kenapa sejak Esmera mengungkapkan sikap bibi Daisy di masa depan, Edris jadi semakin hati-hati dengan bibinya itu."Ada apa, Bibi?”
Daisy berjalan mendekat, kemudian duduk di hadapan Edris.“Aku mendengar Baginda akan pergi ke wilayah Utara?”
“Benar.”
“Beberapa hari ini, Yang Mulia terlalu sering meninggalkan istana,” ujar Daisy, nada suaranya mulai terdengar mengeluh.“Seorang raja seharusnya tidak terlalu sibuk mengurusi urusan di luar sampai jarang berada di istana. Para bangsawan mulai membicarakannya.”
Edris hanya menatap bibinya tanpa ekspresi.“Kerajaanku masih berjalan dengan baik, bukan?”
“Tentu saja, tetapi...”
“Aku bisa mengurus kerajaanku sendiri, Bibi.” Jawaban itu membuat Daisy terdiam sesaat.
Edris kembali melihat dokumen di tangannya.“Dan mengenai kepergianku ke Utara, aku sudah menunjuk seseorang yang kupercaya untuk mengurus urusan di sini selama aku pergi. Jadi Bibi tidak perlu mengkhawatirkannya.”
Daisy tersenyum tipis.“Aku hanya mengkhawatirkan Anda, Yang Mulia.”
Edris kembali menatapnya.“Dari mana Bibi tahu jika aku akan pergi ke Utara?” Pertanyaan sederhana itu seketika membuat senyum Daisy sedikit kaku.
“Aku... tidak sengaja bertemu Bidam,” jawabnya setelah beberapa saat.“Kami berbicara sebentar, lalu dia memberitahuku.”
Tatapan Edris semakin tajam.“Bidam?”
“Iya, Yang Mulia.”
Edris tidak langsung menjawab.
Dia tahu betul bagaimana Bidam bekerja. Pengawal sekalipun asisten pribadinya itu tidak akan membocorkan rencana perjalanan kerajaan kepada siapa pun, bahkan kepada anggota keluarga kerajaan, tanpa alasan yang jelas. Apalagi Edris sudah mengatakan untuk merahasiakan keberangkatannya.
Jadi, ucapan bibi Daisy jelas tidak sepenuhnya benar. Tidak mungkin Bidam membocorkan kepergiannya hanya karena ditanya.
Edris menyandarkan punggungnya ke kursi.
Rupanya di balik wajah lembut itu, Bibi memiliki topeng lain. Bibit-bibit lancang seperti inilah yang akan membuat hidup Esmera sulit di masa depan.
Namun Edris memilih untuk menyimpannya sendiri, dia akan mencari cara agar bibinya lebih tahu seperti apa posisinya.
Daisy kemudian mengalihkan pembicaraan.“Ada satu hal lagi yang ingin aku bicarakan.”
“Apa?”
“Tentang Nona Ruby.”
Tatapan Edris berubah sedikit.“Ada apa dengan Ruby?”
“Aku sangat keberatan melihat Yang mulia terus membawanya dalam berbagai kegiatan. Terlebih lagi saat ini Esmera belum ditemukan, jadi, bukankah sebaiknya Yang mulia memusatkan perhatian pada Esmera dengan mencari tahu dimana gadis itu bersembunyi?"
Edris mengangkat sebelah alisnya.
“Para bangsawan juga banyak yang memprotes.”
“Kalau begitu, suruh mereka datang kepadaku."
Daisy terdiam.
Edris melanjutkan dengan tenang.“Kenapa Bibi yang menyampaikannya?”
“Mereka hanya peduli kepada Yang Mulia.”
“Begitu?” Nada suara Edris terdengar dingin.
Daisy mengangguk.“Mereka hanya ingin Baginda memikirkan masa depan kerajaan. Seharusnya Baginda lebih memperhatikan Esmera Arrabella. Dia adalah calon ratu Anda.”
Edris diam.
Daisy kemudian menambahkan,“Jangan lupakan bahwa Yang mulia hanya bisa mendapatkan penerus dari keturunan Mitrandir. Jika bukan karena darah mereka, Baginda tidak akan bisa memiliki anak.”
Tatapan Edris seketika berubah.
Dingin.
Sangat dingin.
“Jadi?”
Daisy sedikit mengernyit.“Jadi, berhentilah bermain-main dengan Ruby dan segera menjauh darinya.”
“Bermain-main?” Edris terkekeh pendek, tetapi tidak ada kehangatan sedikit pun dalam tawanya.“Kalau para bangsawan merasa keberatan dengan apa yang kulakukan, katakan kepada mereka untuk menyampaikannya sendiri di hadapanku.”
Wajah Daisy mulai terlihat gelisah.“Yang Mulia, mereka hanya...”
“Aku tidak membutuhkan mereka untuk mengatur hidupku.”
“Tapi mereka memikirkan masa depan kerajaan.”
“Aku bukan anak kecil.” Suara Edris semakin tegas.“Aku adalah raja.”
Daisy terdiam.
Edris menatapnya lurus.“Dan aku akan melakukan apa pun yang kuinginkan.”
Untuk pertama kalinya, Daisy tidak mampu langsung membalas perkataannya. Ada sesuatu yang berbeda dari Edris hari ini.
Keponakan yang biasanya masih mau mendengarkan perkataannya, bahkan ketika tidak setuju, kini berdiri di hadapannya dengan tatapan yang begitu dingin.
“Yang Mulia...” Daisy mencoba berbicara lagi.
Namun Edris memotongnya.“Bibi.” Nada suaranya membuat Daisy terdiam.“Jangan terlalu jauh mencampuri urusanku.”
Daisy membeku.
Edris berdiri dari kursinya.“Bibi adalah adik ayahku. Aku menghormatimu karena itu.” Ia berhenti sejenak, kemudian menatap Daisy dengan tatapan yang tidak memberi ruang untuk berdebat.“Tapi Bibi bukanlah ibuku.”
Seolah petir menyambar tubuhnya, Daisy langsung membatu.
“Jadi jangan melampaui batas.”
Wajah Daisy kehilangan warna.
Selama ini, ia selalu merasa memiliki tempat khusus di sisi Edris. Ia merasa berhak menegur, menasihati, bahkan mengatur beberapa hal dalam hidup keponakannya itu.
Namun hari ini, Edris sendiri yang menarik garis batas di antara mereka. Dan untuk pertama kalinya, Daisy merasa sedikit takut kepada Raja Edris Ruan.
Ada apa dengan anak ini?
Tatapan Daisy terpaku pada punggung Edris yang mulai menjauh. Ia tidak pernah membayangkan keponakannya itu akan berbicara setajam ini kepadanya.
Terlebih lagi dengan satu kalimat yang terus terngiang di kepalanya.
Bibi bukan ibuku.
Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan mana pun.
***
Daisy meninggalkan ruangan Edris dengan langkah cepat. Pintu di belakangnya tertutup cukup keras, seolah menjadi penanda bahwa amarahnya belum juga mereda.
Wajahnya yang biasanya terlihat lembut dan penuh keanggunan kini berubah dingin. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras.
Daisy memang seperti itu.
Wajah manis dan sikap lembutnya hanya akan muncul ketika berada di hadapan sang raja. Di hadapan orang lain, terutama mereka yang dianggap menghalangi keinginannya, sisi asli Daisy jauh lebih sulit ditebak.
Namun, yang paling membuatnya tidak terima bukanlah ucapan Edris semata.
Untuk pertama kalinya, keponakannya sendiri berani mengucapkan kata-kata setajam itu kepadanya.
"Berani sekali kau bicara seperti itu padaku, Edris..." gumam Daisy dengan suara rendah.
Dia terus berjalan menuju kamarnya."Sejak kapan kau berani menentang bibimu sendiri?" Daisy berhenti sesaat di lorong. Jemarinya mengepal. Kemudian sebuah nama muncul di dalam pikirannya.
Ruby.
Wanita yang akhir-akhir ini selalu berada di sekitar Edris. Apa karena dia?
Daisy mengetahui nama itu bukan dari Edris, melainkan dari anak buahnya yang telah mengawasi keadaan di sekitar sang raja.
"Ruby..." bisiknya penuh kebencian.
Daisy kembali melangkah."Entah dari mana wanita itu berasal, tetapi jelas dia sudah memberikan pengaruh buruk kepada Edris."
Ia tidak tahu siapa Ruby sebenarnya. Tidak mengetahui asal-usulnya, latar belakangnya, maupun alasan mengapa Edris membiarkan wanita asing itu berada begitu dekat dengannya.
Dan justru ketidaktahuan itulah yang membuat Daisy semakin curiga."Seorang wanita yang tidak jelas asal-usulnya tiba-tiba muncul dan membuat Edris berubah..." Daisy mendengus."Aku tidak percaya itu sebuah kebetulan. Kehadiran tepat di saat calon ratu menghilang, apa jangan-jangan?"
Begitu sampai di kamarnya, Daisy segera masuk dan menutup pintu."Jangan biarkan siapa pun menggangguku."
Pelayan yang berada di luar langsung menundukkan kepala."Baik, Nyonya."
Daisy berjalan ke tengah ruangan. Ia bahkan tidak sempat duduk ketika langsung memanggil orang kepercayaannya.
Beberapa saat kemudian, seorang pria berpakaian gelap masuk dan membungkuk hormat.
"Nyonya."
Daisy menoleh."Harus berapa lama lagi aku menunggu? Kenapa Esmera belum juga ditemukan!"
Para ksatria itu menunduk,"Kami kesulitan mengenali wajah Nona Esmera, Nyonya."
Daisy terdiam, itu alasan yang cukup masuk akal karena memang tidak ada yang tahu wajah Esmera, gadis itu tersembunyi, hanya Mily yang tahu wajahnya tetapi sialnya, pelayan itu memiliki ingatan yang payah, sehingga lukisan wajah Esmera tidak jelas.
Tatapan Daisy menjadi semakin tajam."Aku tidak peduli bagaimana caramu menemukannya. Yang terpenting, aku ingin tahu di mana dia berada."
"Baik, Nyonya."
Namun sebelum pria itu pergi, Daisy kembali memanggilnya."Tunggu."
Pria tersebut berhenti. Daisy menatapnya dengan serius."Jangan sampai ada seorang pun yang tahu bahwa calon ratu mereka telah menghilang."
Pria itu mengangguk.
"Jika berita ini sampai tersebar, akan muncul terlalu banyak pertanyaan." Daisy mengepalkan tangannya."Bayangkan apa yang akan terjadi jika rakyat mengetahui calon ratu Raja Edris tiba-tiba melarikan diri entah ke mana."
Ia menarik napas panjang."Itu akan menjadi bahan pembicaraan seluruh kerajaan. Para bangsawan akan mulai bertanya-tanya. Musuh-musuh Edris juga akan memanfaatkannya."
Daisy kemudian menoleh."Jadi, cari dia secara diam-diam."
Aku harus segera menemukan gadis itu, sebelum hubungan Edris dan Ruby belum terlalu jauh.