Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.
**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.
Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:
*"Om… aku mencintaimu."*
*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*
Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?
Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.
Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Butik Nabra
Dua minggu setelah Om Bram memintaku memberinya waktu, Dinda menyeretku ke Central Park Mall.
"Kamu butuh baju yang tidak berwarna abu-abu, putih, atau biru tua," katanya sambil membongkar gantungan di sebuah toko. "Selera kamu seperti direktur perusahaan yang sedang menyamar jadi mahasiswa."
"Aku suka warna tenang."
"Kamu meniru Om Bram."
Aku memasukkan kembali blus yang dipegangnya. "Nggak semua hal tentangku berkaitan dengan Om Bram."
Dinda menatap sisi leherku yang tertutup kerah tinggi, lalu tersenyum penuh arti. "Tentu."
Aku menarik kerah lebih rapat. Bekas sentuhan bibir Om Bram hampir tidak terlihat, hanya warna samar yang mungkin juga bisa dianggap iritasi kulit. Bekas gigitan di lehernya justru lebih jelas. Pagi setelah kejadian, dia mengirim foto dengan satu kalimat.
`Puas?`
Aku membalas bahwa dia bisa memakai kemeja berkerah tinggi. Sejak itu kami tidak pernah membicarakannya lagi, tetapi foto tersebut masih kusimpan.
Hari ini Om Bram sedang berada di Surabaya untuk pertemuan kerja. Sebelum pesawat lepas landas, dia mengirim pesan bahwa dia akan pulang lusa. Nomorku sudah kubuka dari blokir, meski aku belum mengembalikannya ke daftar percakapan teratas.
Setelah hampir satu jam, Dinda menyerah memaksaku membeli baju merah. Kami keluar dari toko dan berjalan menuju eskalator ketika cahaya merah muda menarik perhatian.
Sebuah butik baru berdiri di sudut atrium. Balon putih dan merah muda membingkai pintu, rangkaian bunga memenuhi sisi kaca, dan beberapa pelanggan berfoto di depan papan nama.
`Nabra Boutique.`
Huruf neon merah muda itu begitu besar hingga sulit diabaikan.
Dinda berhenti di sampingku.
"Nabra," katanya perlahan. "Itu kayak gabungan nama, ya? Na-dia... Bra-mantyo?"
Pegangan kantong belanja menekan telapak tanganku.
"Bisa juga nama lain."
"Bisa." Dinda memandang papan itu lagi. "Tapi kebetulannya menyebalkan."
Di balik kaca, seorang perempuan memberi instruksi kepada beberapa pegawai. Rambutnya disanggul rendah dan gaun kerjanya berwarna krem.
Nadia.
Aku seharusnya meneruskan langkah. Om Bram sudah menjelaskan bahwa mereka tidak pernah memiliki hubungan. Dia juga telah menolak Nadia malam itu. Sebuah nama toko tidak mengubah fakta.
Namun kakiku justru bergerak menuju pintu.
"Kar," bisik Dinda. "Kita nggak harus masuk."
"Aku cuma mau lihat."
Seorang pegawai menyambut kami dan menawarkan minuman pembukaan. Aku menolak, lalu menyentuh gaun yang dipajang di rak terdekat agar terlihat seperti pelanggan biasa.
Nadia berbalik.
Mata kami bertemu.
Senyumnya tidak hilang, tetapi instruksinya kepada pegawai terputus sepersekian detik. Dia berjalan mendekat dengan langkah tenang.
"Sekar. Tidak menyangka kamu datang ke pembukaan tokoku."
"Kami kebetulan lewat."
"Semoga ada yang cocok. Koleksi ini dibuat untuk perempuan muda yang sedang mencari identitas."
Dinda berdiri sedikit lebih dekat kepadaku. "Nama tokonya unik."
"Aku membuatnya bertahun-tahun lalu," jawab Nadia. "Ada kenangan yang terlalu bagus untuk dibuang hanya karena waktu berlalu."
"Kalau dibuat bertahun-tahun lalu, kenapa baru dibuka sekarang?" tanya Dinda.
Nadia menatapnya dengan senyum tipis. "Karena dulu aku berada di luar negeri. Jakarta baru terasa seperti rumah lagi setelah aku menemukan alasan untuk kembali."
"Alasannya bisnis?"
"Bisnis salah satunya."
Dinda ingin bertanya lagi, tetapi aku menyentuh lengannya. Nadia sedang menanam kalimat agar aku membawa pulang makna yang dia inginkan. Aku tidak mau memberinya kepuasan melihatku terpancing.
Dia mengucapkan kalimat itu sambil menatapku.
Aku menahan dorongan untuk menanyakan apakah kenangan itu pernah menjadi miliknya atau hanya sesuatu yang dia klaim. Om Bram memintaku memberi waktu, bukan memulai pertengkaran di toko orang.
"Selamat atas pembukaannya," kataku.
Nadia mengangguk. Pandangannya turun ke garis kerah bajuku. Kainnya bergeser sedikit saat aku menoleh, memperlihatkan warna samar di kulit.
Mata Nadia menggelap.
Hanya sesaat. Setelah itu dia kembali tersenyum dan beralih menyambut pelanggan lain tanpa menanyakan apa pun.
"Dia lihat," bisik Dinda.
"Lihat apa?"
"Jangan pura-pura polos."
Aku mengambil satu syal dari rak. "Kita beli ini lalu pergi."
Di meja kasir, antrean bergerak lambat. Seorang pegawai perempuan paruh baya memasukkan barang ke kantong. Tubuhnya lebih berisi, riasannya tebal, dan rambutnya ditutup sebagian dengan syal bermotif.
Ketika giliranku tiba, dia tetap menunduk.
"Nomor anggota?" tanyanya dengan suara sengaja direndahkan.
Aku membeku.
Ada sesuatu pada cara dia mengucapkan kata terakhir. Tekanan suaranya, gerakan tangan saat merapikan ujung kertas, atau mungkin bentuk rahang yang terlihat dari samping. Semuanya terasa seperti ingatan buruk yang belum memiliki wajah.
"Kar?" Dinda menyentuh sikuku.
"Nggak ada," jawabku.
Pegawai itu memindai syal. Kartu nama di dadanya bertuliskan `Bu Nar`.
"Mau pakai kartu atau tunai?"
Kali ini suaranya lebih serak. Dia batuk kecil dan memalingkan wajah. Aku mencoba melihat matanya, tetapi bulu mata palsu dan bingkai kacamata besar menyembunyikan banyak bagian.
"Kartu."
Tanganku menyodorkan kartu debit. Jari pegawai itu menyentuh ujung kartu, lalu cepat menarik diri. Ada noda kecil bekas luka di dekat ibu jarinya. Aku pernah melihat tangan dengan luka serupa menggenggam kartu remi di meja dapur Bekasi.
Napas di dadaku tersangkut.
Tidak mungkin.
Bu Win sudah menghilang dari hidupku setelah kasus sekolah. Menurut kabar terakhir dari pekerja sosial, dia pindah-pindah kontrakan dan Reno pergi bekerja ke luar pulau. Tidak ada alasan dia berada di butik Nadia.
"PIN-nya, Mbak," kata pegawai itu.
Aku memasukkan angka dengan tangan kaku.
Saat transaksi selesai, dia mendorong kantong belanja tanpa mengangkat wajah. "Terima kasih. Datang lagi."
Kalimat biasa itu membuat tengkukku dingin.
Aku dan Dinda keluar dari toko. Begitu melewati pintu, aku menoleh. Bu Nar sudah melayani pelanggan lain, hanya punggungnya yang terlihat.
"Kamu kenal pegawai tadi?" tanya Dinda.
"Nggak tahu. Wajahnya seperti seseorang."
"Siapa?"
"Mungkin aku salah."
Dinda menahan langkah di dekat eskalator. "Kalau tubuhmu bilang ada yang nggak beres, jangan langsung abaikan. Tapi jangan juga menuduh tanpa bukti. Kita simpan ciri-cirinya dulu."
"Aku takut cuma sedang melihat hantu masa lalu di wajah orang lain."
"Kalau begitu foto akan membantu kamu memeriksa saat sudah tenang." Dia melirik butik. "Dan soal Nadia, nama toko itu bukan bukti dia memiliki Om Bram. Itu cuma bukti dia ingin semua orang memikirkan nama mereka dalam satu napas."
Kalimat tersebut tidak membuatku nyaman. Justru karena Dinda benar, papan merah muda itu terasa lebih mengganggu. Nadia telah mengubah keinginannya menjadi merek yang bisa dilihat ribuan orang setiap hari.
Sebelum turun dengan eskalator, aku memotret papan `Nabra Boutique`. Bu Nar kebetulan terlihat buram di sudut foto, berdiri di belakang meja kasir.
Di dalam mobil menuju kos, aku memperbesar gambar itu. Wajahnya tidak cukup jelas untuk dikenali. Aku hendak menghapusnya, lalu teringat bekas luka di dekat ibu jari.
Aku membuat album baru di ponsel, memindahkan foto tersebut ke dalamnya, dan memberi nama album itu satu tanda tanya.