Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.
Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.
Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Bunga Tidur
Malam telah larut ketika mobil hitam milik Brian berhenti di halaman Rumah Sakit Citra Medika.
Tanpa banyak bicara, Brian turun dari mobil.
Tongkat hitam berada di tangan kanannya, menopang langkahnya yang masih sedikit berat akibat cedera yang belum sepenuhnya pulih.
Tatapannya lurus ke depan. Malam ini, hanya ada satu tujuan.
Rania.
Saat Brian hampir memasuki gedung rumah sakit, seorang pria berpakaian serba hitam menghampirinya.
"Tuan, semuanya sudah diatur. Anda bisa langsung memasuki ruangan Nyonya."
Brian hanya mengangkat satu tangan. Tidak ada ucapan.
Pria itu langsung menundukkan kepala, kemudian mundur dan pergi.
Beberapa saat kemudian...
Klik! Pintu ruangan VIP terbuka.
Brian masuk. Suasana di dalam begitu sunyi. Hanya suara lembut alat monitor yang terdengar dari sisi ranjang.
Pandangan Brian langsung jatuh kepada seorang wanita yang terbaring di sana.
Rania Almira.
Untuk beberapa detik, Brian hanya berdiri diam.
Tiga minggu.
Sudah tiga minggu sejak terakhir kali ia melihat wanita itu.
Dan kini...
Rania berada tepat di hadapannya. Brian melangkah mendekat. Tongkat hitamnya ia letakkan di sisi ranjang.
"Kau sampai jatuh pingsan." Suara Brian terdengar lirih. "Berita itu pasti mengejutkanmu, bukan?"
Brian kemudian duduk di sisi ranjang. Ttapannya masih tertuju pada wajah Rania yang terlihat pucat.
Namun perlahan, tangan Brian bergerak. Jemarinya menyentuh perut Rania yang masih tampak datar.
Gerakannya berhenti. Brian menahan napas. Tangannya sedikit gemetar. Di balik perut yang belum menunjukkan perubahan besar itu...
Ada anaknya. Darah dagingnya. Brian menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah.
Sesuatu yang dahulu pernah ia pikir tidak akan pernah terjadi.
Sesuatu yang bahkan sempat ia kubur dalam-dalam setelah mendengar dirinya tidak mungkin memiliki keturunan.
Namun sekarang...
Harapan itu kembali hidup. "Anakku..." bisiknya. Jemari Brian tetap berada di sana beberapa saat.
Hatinya terasa aneh.
Hangat.
Takut.
Bahagia.
Dan sekaligus sesak.
Ia tidak tahu bagaimana masa depan mereka nanti. Namun satu hal yang Brian tahu, ia tidak akan membiarkan anak itu tumbuh tanpa dirinya.
Tiba-tiba.
Sebuah tangan bergerak perlahan. Menyentuh lengannya.
Brian langsung mengangkat wajah.
Kelopak mata Rania bergerak.
Perlahan...
Mata wanita itu terbuka. Air mata langsung menggenang di sudut matanya.
"Brian...?" Suara Rania bergetar.
Brian membeku.
Rania menatap wajah di hadapannya dengan pandangan yang masih samar. "Benarkah itu kau?"
Brian tidak menjawab.
Rania mengangkat tangannya, berusaha menyentuh wajah pria tersebut.
Air matanya jatuh. "Ya Tuhan..." Napasnya bergetar. "Apa aku sedang bermimpi?" Rania mencoba melihat sekeliling.
Dinding putih.
Aroma obat.
Suara alat medis.
Ini bukan kamar di Villa Daffa. Ia berada di rumah sakit. Rania kembali menatap Brian.
Lalu tersenyum kecil di antara air matanya. "Ya..." Ia menggeleng pelan. "Ini pasti mimpi."
Brian terdiam.
Untuk sesaat, pria itu hanya menatap wanita yang selama tiga minggu terakhir terus memenuhi pikirannya.
Rania kemudian mengangkat tangannya. Jemarinya menyentuh rahang Brian dengan ragu.
Hangat.
Nyata.
"Maafkan aku..." Suara Rania nyaris tidak terdengar.
Brian menahan napas.
Namun sebelum pria itu sempat mengatakan apa pun, Rania bergerak mendekat.
Matanya terpejam.
Bibirnya menyentuh bibir Brian dalam sebuah kecupan yang penuh kerinduan.
Brian terdiam.
Ia tahu seharusnya ia menghentikannya. Namun setelah tiga minggu kehilangan wanita ini...
Ia tidak sanggup.
Tangannya perlahan terangkat, menopang sisi tubuh Rania dengan hati-hati.
Ciuman itu berlangsung singkat, tetapi cukup untuk membuat dada keduanya terasa sesak.
Rania menangis.
Entah karena bahagia, atau karena rasa bersalah yang selama ini ia pendam.
Ketika mereka akhirnya menjauh, napas Rania terdengar bergetar.
Brian menatapnya lama.
Rania masih memejamkan mata. "Ini mimpi tergila yang pernah aku alami..." gumamnya. Ia tersenyum tipis sebelum perlahan merebahkan tubuhnya kembali.
Brian hanya terdiam.
Kemudian sudut bibirnya terangkat. "Bodoh," gumam Brian lirih, tangannya merapikan selimut Rania. "Masih sama seperti dulu."
Brian berdiri. Ia mengambil tongkat hitamnya, kemudian menatap Rania sekali lagi.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan.
Tentang perceraian mereka.
Tentang anak mereka.
Tentang Daffa.
Tentang perasaannya sendiri.
Namun malam ini bukan waktunya. Biarkan Rania mengira semuanya hanyalah bunga tidur.
Brian berbalik menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia kembali menoleh. "Sampai jumpa lagi, Rania Almira."
Tatapannya dalam.
"Nanti, kita akan bertemu dalam keadaan kau benar-benar sadar." Senyum tipis muncul di bibirnya. "Dan saat itu..."
Brian menggenggam tongkatnya lebih erat. "Kau tidak akan bisa menganggapku sebagai mimpi lagi."
Klik! Pintu tertutup.
Brian meninggalkan ruangan itu.
Sementara Rania masih terbaring dengan mata terpejam, tidak mengetahui bahwa pria yang selama ini berusaha ia lupakan...
Benar-benar datang menemuinya.
Dan lebih buruk lagi.
Brian kini tahu bahwa Rania masih menyimpan perasaan untuknya.
Bersambung...