NovelToon NovelToon
Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fahmishodiq Abdullah

Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerja sama yang rumit

Tanda tangan kerja sama antara PT Cahaya Abadi Investama dan PT Sentosa Abadi Grup akhirnya diteken satu minggu setelah pertemuan pertama itu—dengan syarat tegas dari pihak Kirana: kontraktor lama dikembalikan, dan setiap keputusan besar proyek harus melalui persetujuan tim analis independen, bukan preferensi pribadi siapa pun.

Rangga menyetujui semua syarat itu tanpa banyak protes, meski ia tahu keputusan tersebut secara tidak langsung menampar keputusannya sendiri beberapa bulan lalu.

Konsekuensi dari kerja sama itu, tentu saja, mengharuskan Kirana dan Rangga bertemu lebih sering—rapat evaluasi mingguan, peninjauan lokasi proyek, dan koordinasi dengan kontraktor yang kini kembali dipegang oleh tim lama.

"Saya cuma mau memastikan," kata Kirana di rapat kedua mereka, menunjuk data di layar proyektor, "progres minggu ini sudah sesuai target?"

"Sudah," jawab Rangga, mencoba terdengar seprofesional mungkin. "Kontraktor lama bilang mereka bisa kejar keterlambatan dalam dua bulan, kalau tidak ada perubahan mendadak lagi."

"Bagus," kata Kirana singkat, mencatat sesuatu di laptopnya.

Suasana di antara mereka selalu berjarak seperti itu—formal, seperlunya, tanpa basa-basi personal. Tapi Rangga memperhatikan hal-hal kecil yang dulu tidak pernah benar-benar ia sadari: cara Kirana menjelaskan sesuatu dengan tenang meski situasinya rumit, cara ia mendengarkan pendapat tim mudanya tanpa merasa perlu mendominasi, cara ia tidak pernah terlihat gentar meski berhadapan dengan jajaran direksi yang jauh lebih senior.

Dulu aku nggak pernah benar-benar memperhatikan ini, pikir Rangga suatu sore, saat rapat evaluasi selesai dan Kirana sedang merapikan berkasnya. Atau mungkin aku memang nggak pernah mau memperhatikan.

Sementara itu, di sisi lain kota, Vania menerima paket informasi dari kenalannya di dunia media—sebuah folder digital berisi rekam jejak Kirana sejak sebelum menikah dengan Rangga: riwayat pendidikan, latar belakang keluarga, hingga detail kecil tentang almarhum ayahnya yang dulu memiliki perusahaan investasi.

Vania membaca setiap detail dengan teliti, mencari celah yang bisa ia manfaatkan. Sebagian besar informasi itu justru menunjukkan sisi positif Kirana—anak yang berbakti, latar belakang keluarga yang sederhana tapi jujur, tidak ada skandal atau catatan buruk apa pun.

"Membosankan," gumam Vania kesal, hampir menutup folder itu—sebelum matanya berhenti pada satu dokumen yang terselip di bagian akhir: catatan lama tentang kebangkrutan perusahaan ayah Kirana, PT Cahaya Abadi Investama, lengkap dengan beberapa laporan utang yang belum sepenuhnya terselesaikan saat itu.

Sebuah ide licik mulai terbentuk di kepala Vania.

Kalau aku bisa buat orang-orang percaya bahwa Cahaya Abadi Investama masih menyimpan masalah utang lama yang belum jelas... reputasi Kirana sebagai investor terpercaya bisa runtuh seketika.

Ia tersenyum tipis, menutup laptopnya, dan mulai menyusun rencana.

Beberapa hari kemudian, sebuah unggahan anonim muncul di forum bisnis lokal—tempat para pengusaha dan investor sering bertukar informasi. Judulnya provokatif:

"Waspada! PT Cahaya Abadi Investama Diduga Masih Punya Utang Lama yang Belum Selesai—Apakah Aman Berinvestasi dengan Mereka?"

Isinya mengaitkan nama almarhum ayah Kirana dengan kebangkrutan lama perusahaan, tanpa menyebutkan konteks bahwa utang tersebut sudah lama diselesaikan sebagian besar oleh Pak Hadi sebelum Kirana bergabung, dan sisanya sudah masuk proses restrukturisasi resmi bertahun-tahun lalu.

Kabar itu menyebar cepat, terutama di kalangan pengusaha kecil yang baru saja mempertimbangkan bekerja sama dengan Cahaya Abadi Investama.

Pagi itu, Dimas masuk ke ruko dengan wajah panik, membawa laptopnya. "Bu Kirana, ini... ada unggahan yang bikin nama kita jadi jelek di forum bisnis."

Kirana membaca unggahan itu dengan cepat, wajahnya tetap tenang meski di dalam hati ada gejolak yang sulit ia sembunyikan.

"Siapa yang menulis ini?" tanya Pak Hadi, yang ikut membaca dari balik bahu Kirana, ekspresinya berubah tegang.

"Akunnya anonim," jawab Dimas. "Tapi sudah dibagikan ratusan kali sejak semalam."

Kirana menutup laptop itu perlahan, menarik napas dalam-dalam. Ia mengenali pola serangan seperti ini—setengah fakta, dibumbui ketakutan, cukup untuk membuat orang ragu tanpa harus benar-benar berbohong secara terang-terangan.

"Ini bukan kebetulan," katanya pelan. "Seseorang sengaja menggali masa lalu keluarga saya untuk menjatuhkan reputasi kita sekarang."

Hari itu juga, dua klien kecil menghubungi ruko, menyatakan keraguan untuk melanjutkan kerja sama sampai "masalah utang" itu jelas. Salah satunya bahkan Bu Darmi, yang menelepon dengan suara khawatir.

"Kirana, Nak, ini beneran soal utang lama keluargamu? Ibu nggak masalah sih, cuma... tetangga-tetangga mulai nanya-nanya."

"Itu tidak benar sepenuhnya, Bu," jawab Kirana, mencoba menenangkan meski suaranya sendiri sedikit bergetar. "Ada utang lama memang, tapi sudah selesai bertahun-tahun lalu. Saya akan buat klarifikasi resmi hari ini juga."

Setelah menutup telepon, Kirana duduk diam sesaat, memijat pelipisnya. Ini pertama kalinya sejak bisnis kecil-kecilannya berkembang, ia menghadapi serangan yang benar-benar personal, bukan sekadar tantangan bisnis biasa.

"Kita lawan dengan data," katanya akhirnya, menatap timnya yang menunggu arahan. "Dimas, siapkan seluruh dokumen restrukturisasi utang lama perusahaan, lengkap dengan bukti pelunasan dan surat resmi dari pihak bank. Kita terbitkan klarifikasi resmi sore ini, dengan bukti yang tidak bisa dibantah siapa pun."

Pak Hadi menatap Kirana dengan campuran kagum dan khawatir. "Kamu yakin bisa selesai secepat itu?"

"Harus bisa," jawab Kirana tegas. "Karena kalau saya diam sekarang, orang akan mengira tuduhan itu benar."

Di apartemennya, Vania memantau perkembangan unggahan itu dengan puas, melihat jumlah share yang terus bertambah sepanjang pagi. Ia belum tahu bahwa Kirana bukan lagi wanita penurut yang dulu ia kenal—yang akan menangis diam-diam dan membiarkan tuduhan itu berlalu begitu saja.

Ponselnya berdering. Pesan dari kenalannya di media.

"Ada pihak yang barusan hubungi redaksi kami, minta ruang untuk klarifikasi resmi sore ini. Katanya bawa bukti lengkap. Kamu yakin mau lanjut sampai sejauh ini?"

Vania menatap layar itu lama, senyum di wajahnya perlahan memudar.

Bukti lengkap? pikirnya, sedikit gelisah. Secepat itu?

Ia belum tahu, bahwa langkah balasan Kirana sore itu akan menjadi awal dari kejatuhannya sendiri—meski, untuk saat ini, ia masih terlalu percaya diri untuk menyadarinya.

1
Kumbang di taman
semangat selalu 😍
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih atas kunjungannya
total 1 replies
Kumbang di taman
sukses selalu Author 👍
Adinda
toko utamanya Kirana atau dimas Dan alya,kalau bisa libatkan toko pemeran utamanya Dan tokoh yang jadi pendamping hidup Kirana,jadi ceritanya makin seru.
Fahmishodiq Abdullah: ok kak masukan saya terima kak,makasih atas masukan dan sarannya
total 1 replies
Detie Kurniawati
cerita yg tak aku pahami ahirnya??
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih kak kritiknya,saya akan mencoba memperbaruhinya
total 2 replies
Heny
Hadir thor
Fahmishodiq Abdullah: makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!