Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Tawa meremehkan Gibran memecah keheningan ruangan pasar gelap yang remang-remang itu.
Semua pasang mata menatap pemuda berjas abu-abu itu dengan raut wajah kebingungan dan tegang.
"Corak awan yang kau bilang itu hanyalah tanda bahwa batu itu pernah terbentur keras saat proses penambangan, Pak Tua."
"Di dalamnya tidak ada zamrud utuh, yang ada hanyalah batu hijau retak yang bahkan tidak pantas dijadikan asbak rokok," ucap Gibran dengan suara lantang dan telak.
Wajah Master Seno langsung memerah padam menahan amarah yang meledak di dadanya.
Selama dua puluh tahun karirnya, belum pernah ada orang yang berani mengoreksi hasil penilaiannya di depan umum.
"Bocah ingusan sepertimu tahu apa soal ilmu geologi batu giok kuno Myanmar!" bentak Master Seno sambil menudingkan tongkatnya.
"Tuan Bratasena, beli batu ini sekarang juga seharga lima belas miliar agar kita bisa membungkam mulut sampah anjing ini!" perintah Master Seno dengan napas memburu.
Bratasena Mahendra tersenyum licik dan langsung mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara.
"Lima belas miliar tunai dari Keluarga Mahendra untuk batu hitam ini!" teriak Bratasena kepada bos penyelenggara.
Para pengusaha lain hanya bisa menelan ludah dan mundur teratur tidak berani melawan harga gila tersebut.
Bos penyelenggara yang memakai jas putih tertawa kegirangan dan langsung mengetukkan palu kayunya ke atas meja.
Tok tok tok.
"Terjual kepada Tuan Besar Bratasena seharga lima belas miliar rupiah!" seru bos penyelenggara itu kegirangan.
Aurel yang berdiri di samping Gibran sedikit mengernyitkan dahinya melihat transaksi fantastis tersebut.
"Apa kau yakin batu itu kosong Gibran, Master Seno jarang sekali meleset dalam menilai batu dari Myanmar," bisik Aurel pelan merasa sedikit khawatir.
Gibran hanya membalas tatapan Aurel dengan kedipan mata sebelah yang sangat santai dan penuh pesona.
"Aku tidak pernah salah Nona, tonton saja pertunjukan lucunya sebentar lagi," balas Gibran menenangkan wanita cantik itu.
Gibran memalingkan wajahnya dari meja utama dan mulai berjalan menyusuri rak-rak batu di bagian sudut ruangan.
Rak di sudut itu berisi batu-batu berukuran sedang yang bentuknya tidak beraturan dan kurang diminati oleh para konglomerat.
Pandangan mata Gibran menyapu puluhan batu kusam tersebut dengan sangat teliti.
[Pemindaian area sudut selesai. Menemukan empat material kualitas rendah.]
[Peringatan. Mendeteksi satu fluktuasi energi emas tingkat tinggi di tumpukan paling bawah.]
Langkah Gibran langsung terhenti tepat di depan sebuah batu berwarna kuning kecokelatan yang bentuknya sangat aneh menyerupai labu siam.
Batu itu tertutup debu tebal dan sama sekali tidak memiliki corak sisik naga atau awan yang dicari para ahli giok.
[Kualitas: Giok Kuning Emas Murni tanpa serat. Nilai taksiran dasar: Dua puluh lima miliar rupiah.]
Senyum Gibran mengembang sempurna melihat angka fantastis yang kembali disuguhkan oleh sistem kesayangannya.
Ia mengangkat batu seberat lima kilogram itu dengan satu tangan dan membawanya ke meja kasir pameran.
"Bos, aku mau batu labu jelek ini, berapa harganya?" tanya Gibran meletakkan batu itu ke atas meja kaca.
Bos penyelenggara itu melirik batu Gibran dengan sebelah mata lalu mencibir pelan.
"Itu batu buangan dari tambang lokal yang sudah setahun tidak laku terjual di sini Tuan."
"Karena ini pasar VIP, aku berikan harga pas lima ratus juta rupiah saja untukmu," jawab bos itu asal-asalan.
Aurel langsung mengeluarkan kartu hitam dari tas tangannya tanpa menunggu Gibran merogoh sakunya.
"Gunakan kartu ini, anggap saja aku sedang berinvestasi pada pertunjukan komedimu malam ini Gibran," ucap Aurel dengan senyum tipis.
Gesek. Tit.
Pembayaran lima ratus juta berhasil dilakukan dalam hitungan detik tanpa ada tawar-menawar sedikit pun.
Bratasena yang melihat Gibran hanya membeli batu buangan murah langsung tertawa terbahak-bahak.
Hahahaha.
"Nona Aurel, kau menghamburkan lima ratus juta hanya untuk membelikan mainan batu kali untuk anjing peliharaanmu ini?" ejek Bratasena memancing tawa para konglomerat lain.
Master Seno melangkah maju dengan dada dibusungkan menatap Gibran dari atas ke bawah.
"Batu labu kuning itu seratnya mati total, anak TK pun tahu bahwa tidak ada energi di dalam batu mati seperti itu."
"Mari kita potong batuku dulu agar kau tahu perbedaan antara naga dan cacing tanah anak muda," sombong Master Seno sambil menunjuk mesin pemotong di tengah ruangan.
Dua orang petugas berseragam hitam dengan hati-hati mengangkat batu hitam Myanmar milik Bratasena ke atas mesin.
Suasana ruangan mendadak tegang karena semua orang ingin melihat kehebatan mata Master Seno yang legendaris itu.
"Potong tepat di tengah membelah corak awannya, perlihatkan zamrud itu kepada dunia!" perintah Master Seno dengan gaya teatrikal.
Ngiiing.
Mesin potong raksasa itu dinyalakan dan mata pisau berliannya langsung turun membelah batu seharga lima belas miliar tersebut.
Bzzzt. Crak crak.
Debu hitam langsung mengepul ke udara diiringi percikan api kecil dari gesekan batu yang sangat keras.
Semua orang menahan napas dan menjulurkan leher mereka tidak sabar melihat hasil potongannya.
Brak.
Batu itu terbelah dua dan jatuh ke sisi kiri dan kanan alas karet mesin pemotong.
Petugas langsung menyiramkan sebotol air mineral untuk membersihkan sisa debu dari permukaan batu yang baru terbelah.
Byur.
Hening.
Ruangan pasar gelap yang tadinya dipenuhi bisik-bisik kagum itu mendadak mati suara seperti tidak berpenghuni.
Tidak ada cahaya hijau zamrud yang memukau.
Yang terlihat hanyalah lapisan hijau pucat yang dipenuhi oleh ribuan garis retakan putih seperti sarang laba-laba tebal menembus sampai ke inti batu.
"R-retak? Seluruh bagian dalamnya hancur berkeping-keping seperti kaca pecah?" gumam seorang konglomerat dengan mata melotot.
"Ini zamrud sampah! Nilainya tidak lebih dari sepuluh juta rupiah untuk dijadikan hiasan akuarium!" teriak pengusaha lainnya menyadari kenyataan pahit tersebut.
Wajah Master Seno yang tadinya merah karena bangga kini berubah menjadi seputih kertas HVS kosong.
Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahi dan lehernya membasahi kerah baju batiknya.
"I-ini tidak mungkin, pasti ada kesalahan pada mesin pemotongnya yang membuat batu ini retak!" kilah Master Seno dengan suara bergetar dan panik.
Bratasena Mahendra merasa jantungnya baru saja dipukul menggunakan godam besi berukuran raksasa.
Uang lima belas miliar rupiah miliknya baru saja lenyap menjadi debu hanya karena ia terlalu mempercayai pakar tua ini.
"Tutup mulutmu Seno! Kau membuatku membuang lima belas miliar untuk sebongkah sampah akuarium malam ini!" bentak Bratasena dengan urat leher yang nyaris pecah.
Gibran bertepuk tangan pelan sambil berjalan mendekati meja mesin pemotong dengan senyum yang sangat menyebalkan.
Prok prok prok.
"Pertunjukan komedi yang sangat luar biasa Tuan Bratasena, aku sangat terhibur melihat kebodohan kalian berdua malam ini."
"Sekarang giliran batu cacing tanahku yang dipotong, petugas tolong kupas sedikit saja kulit luarnya," ucap Gibran sambil meletakkan batu labu kuningnya ke atas mesin.
Petugas yang masih syok itu mengangguk kaku dan langsung mengoperasikan mesin potong kecil di sebelahnya.
Bzzzt. Crak.
Pisau pemotong itu hanya mengupas bagian atas batu kuning Gibran setipis satu sentimeter saja.
Byur.
Begitu air disiramkan untuk membilas debu, sebuah cahaya kuning keemasan yang sangat murni memancar keluar menyilaukan mata semua orang di ruangan itu.
Cahaya itu begitu pekat dan hangat, menyerupai pancaran matahari pagi yang terkurung di dalam sebuah batu.
"Giok Kuning Emas Murni! Ya Tuhan, warnanya rata sempurna tanpa ada serat setitik pun!" teriak bos penyelenggara pasar gelap histeris.
"Ukurannya sebesar kepala bayi, ini harganya pasti tembus di angka dua puluh lima miliar rupiah tunai!" sahut pengusaha lain sambil memegangi kepalanya yang pusing melihat keajaiban itu.
Kaki Master Seno langsung lemas dan pria tua itu jatuh berlutut di lantai dengan tatapan kosong mengerikan.
Reputasinya selama dua puluh tahun sebagai pakar giok nasional hancur lebur malam ini di tangan seorang pemuda yang tidak ia kenal sama sekali.
"Mata dewa, dia memiliki mata dewa yang sesungguhnya," gumam Master Seno meracau seperti orang gila.
Bratasena mundur dua langkah hingga punggungnya menabrak meja kaca dengan napas terengah-engah.
Ia menatap cahaya kuning emas itu dengan dada yang terasa sesak dan terbakar oleh api cemburu yang luar biasa.
Bukan hanya kehilangan lima belas miliar, musuh terbesarnya justru baru saja meraup untung puluhan miliar dalam sekejap mata.
Aurel Larasati tersenyum sangat lebar dan anggun, wanita itu merasa investasinya lima ratus juta baru saja terbayar lunas dengan bunga yang gila-gilaan.
Gibran mengambil batu kuning emas itu dan menimang-nimangnya di depan wajah Bratasena yang pucat pasi.
"Bagaimana Tuan Bratasena, apakah kau mau membeli asbak rokok baruku ini seharga tiga puluh miliar malam ini?" tawar Gibran dengan ejekan psikologis yang menembus tulang.
Bratasena mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, ia membalikkan badannya dan melangkah pergi dengan langkah gontai.
"Kita lihat saja nanti di pelelangan akbar Gibran, aku akan memastikan kau keluar dari kota ini dalam keadaan mati," ancam Bratasena tanpa menoleh ke belakang.
Master Seno yang masih berlutut di lantai akhirnya digotong keluar oleh para asistennya dengan wajah tertutup jas karena terlalu malu.
Gibran dan Aurel malam itu menjadi raja dan ratu yang menguasai seluruh atensi di pasar gelap.
Dominasi Gibran semakin tidak terbantahkan, dan nama pemuda itu kini resmi menjadi teror baru bagi para pakar giok di seluruh kota.