"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 09
Suara Arga terdengar pelan. Namun membuat udara di taman belakang rumah terasa membeku. Angin sore yang tadi berhembus sejuk tiba-tiba terasa menusuk tulang.
Bi Titin yang semula menggenggam erat ponselnya perlahan mengangkat wajah. Napasnya tercekat saat melihat Arga berdiri tepat di hadapannya.
Siluet tubuhnya menjulang menutupi sisa cahaya matahari yang akan terbenam. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
Sementara senyum tipis menghiasi wajahnya. Sebuah senyum yang datar, tak mencapai matanya.
Namun, bagi Bi Titin, senyum itu jauh lebih mengerikan daripada kemarahan.
"Pak! Pak Arga ...," ucap Bi Titin dengan suara bergetar. Tangannya meremas baju di dada hingga kainnya terlipat kusut.
Tatapan Arga jatuh ke layar ponsel yang masih menyala. Nama Tasya terlihat jelas, berkilau putih di tengah senja. Sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Mau telpon siapa Bi ...?" tanya Arga santai, seolah bertanya soal cuaca.
"T-tidak, Pak. Saya hanya ...," jawab Bi Titin buru-buru sambil menekan tombol mati — layar gelap seketika, menyembunyikan nama itu.
"Hanya apa ...?" tanya Arga lagi, melangkah satu langkah ke depan.
Arga melangkah mendekat. Bayangannya kini menelan seluruh tubuh Bi Titin.
"Berikan ponselnya." ucap Arga tegas.
Bi Titin refleks mundur satu langkah. Tumitnya hampir menginjak kerikil jalan taman.
"Saya ... saya hanya ingin menanyakan kabarnya." jawab Bi Titin pelan, matanya tak berani menatap mata pria itu.
"Oh ya?" Arga tersenyum kecil. "Kalau memang hanya menanyakan kabar, kenapa Bi terlihat begitu gugup?"
"T-tidak Pak ... saya tidak gugup." sanggah Bi Titin, namun suaranya pecah di tengah kalimat.
"Benarkah?" tanya Arga menatap tajam, seolah menembus kedalaman jiwa wanita tua itu.
Kini jarak mereka tinggal selangkah. Tatapan Arga turun ke tangan Bi Titin yang gemetar, jari-jarinya keriput menekan bingkai ponsel hingga memutih.
"Kalau begitu ... kenapa tangan Bi sampai gemetar seperti itu?"
Bi Titin menggigit bibirnya. Keringat dingin mulai membasahi pelipis, menetes perlahan di sela-sela rambut yang memutih. Belum sempat ia menjawab.
"Bi Titin!"
Suara Kirana terdengar dari arah dalam rumah, lembut, namun bagaikan lonceng penyelamat bagi Bi Titin.
"Apa Bibi, ada di luar?"
Seketika wajah Arga berubah. Tatapan dingin itu lenyap seolah tidak pernah ada. Ia langsung memasang senyum hangat sempurna, menawan, membuat semua orang tertipu.
"Sayang ...," jawab Arga lembut, suaranya berubah menjadi nada yang penuh kasih sayang. "Kami di taman."
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara tongkat Kirana terdengar mendekat, berirama di atas lantai ubin. Bi Titin mengembuskan napas lega, dadanya naik turun. Beberapa detik kemudian, Kirana tiba di taman, wajahnya bersinar lembut diterangi cahaya lampu teras.
"Bi! Ternyata Bi di sini." ucap Kirana sambil tersenyum dan meraba udara mencari tangan Bi Titin.
Bi Titin segera menggenggam tangan wanita itu, hangat, halus, penuh kepolosan. "Iya, Non."
"Kok lama sekali? Aku mencari Bibi." tanya Kirana pelan, kepalanya sedikit miring.
"Maaf, Non." jawab Bi Titin, menahan isak agar tidak terdengar.
"Kami hanya mengobrol sebentar," sela Arga tenang, tangannya beralih meletakkannya di bahu Kirana.
"Iya," sahut Bi Titin.
Kirana mengangguk kecil. "Bi, nanti malam temani aku ya."
"Tentu, Non." jawab Bi Titin, matanya berkaca-kaca menatap wajah wanita yang tidak tahu apa-apa itu.
"Aku ingin bercerita sesuatu sama Bibi," ucap Kirana tulus, tersenyum lebar.
Air mata Bi Titin hampir jatuh. "Baik, Non."
Namun saat matanya bertemu Arga. Pria itu hanya tersenyum — senyum yang dingin, penuh ancaman. Seolah berkata; Aku belum selesai denganmu.
* *
Malam mulai turun. Langit pekat tanpa bulan. Rumah besar itu kembali sunyi, dinding-dindingnya terasa semakin dingin. Kirana sudah berbaring di kamarnya. Bi Titin selesai membereskan dapur, lampu-lampu mulai dipadamkan satu per satu.
Baru saja ia hendak kembali ke kamar pelayan.
"Bi,"
Suara berat itu kembali terdengar — rendah, menggelitik tulang belakang, membuat darah Bi Titin membeku.
Tubuh Bi Titin menegang. Ia menoleh perlahan. Arga berdiri di ujung lorong, bayangannya memanjang di lantai seperti monster.
"Ikut aku." perintah Arga, berbalik tanpa menunggu jawaban.
"Pak Arga, ada apa?" tanya Bi Titin ragu, kakinya terasa berat menapak lantai.
"Saya ingin bicara," jawab Arga datar.
Tanpa menunggu jawaban, Arga berjalan menuju ruang kerjanya. Bi Titin menelan ludah — tenggorokannya terasa kering. Dengan langkah berat, ia mengikuti dari belakang.
Ceklek.
Pintu ruang kerja tertutup. Arga memutar kunci. Ruangan mendadak terasa sesak, berbau aroma tembakau dan kemewahan yang menyesakkan.
Arga berjalan menuju meja kulit hitam besar. Ia membuka sebuah laci, bunyi gesekan kayu halus. Lalu mengeluarkan sebuah map cokelat tebal.
"Bi! lihat ini." ucap Arga sambil meletakkan map itu di atas meja — bunyi plak pelan namun menakutkan.
Bi Titin membukanya perlahan. Matanya langsung membulat, napasnya tertahan. "Itu ...," suaranya tercekat. Tangannya bergetar hebat hingga kertas-kertas di dalam map berdesir.
Di dalam map terdapat belasan foto dicetak jelas, tajam. Foto rumah anaknya yang sederhana. Foto cucunya yang sedang berangkat sekolah dengan tas punggung berwarna biru. Foto menantunya yang sedang berjualan di pasar, tersenyum menyapa pembeli. Semua diambil diam-diam. Dari jarak dekat. Dari jarak jauh. Mereka dipantau. Sejak lama.
"P-Pak ..." isak Bi Titin, air matanya jatuh membasahi foto cucunya.
Arga berjalan mendekat, berdiri tepat di sampingnya. "Keluarga Bi ternyata sangat bahagia." ucapnya tenang, terlalu tenang hingga terdengar mengerikan.
Air mata Bi Titin mulai mengalir deras. "Tolong! jangan ganggu mereka." mohonnya, lututnya terasa lemas.
"Saya juga tidak mau." jawab Arga pelan, menatap lurus ke mata wanita itu. "Asal Bibi tidak membuatku kecewa."
"Apa maksud Bapak?" tanya Bi Titin gemetar, tubuhnya menggigil meski udara di ruangan itu hangat.
Arga tersenyum tipis. "Lupakan semua yang pernah Bi lihat." "Lupakan semua yang pernah Bi dengar." "Dan jangan pernah mencampuri urusanku lagi. Jika Bibi tidak ingin ...,"
Bi Titin menundukkan kepala, bahunya terisak pelan. "Tapi! Non Kirana ..."
Arga langsung memotong, suaranya meninggi sedikit, tajam seperti cambuk. "Kirana adalah istriku." "Aku tahu apa yang terbaik untuknya."
"Jika Bibi tidak ingin mati," bisiknya tajam di telinga Bi Titin.
Ruangan kembali sunyi. Hanya terdengar napas Bi Titin yang terisak tertahan. Beberapa detik berlalu, terasa seperti berjam-jam. Bi Titin mengangguk pelan, kepalanya terasa berat.
"S-saya ... mengerti," jawabnya lirih, hancur.
"Bagus." Arga menepuk bahunya pelan — sentuhan yang terasa seperti racun. "Mulai sekarang ... Bi Titin tetap bekerja seperti biasa. Anggap tidak pernah terjadi apa-apa."
* *
Di kamar. Kirana belum benar-benar tertidur. Selimut sutra terasa dingin di kulitnya. Entah mengapa, hatinya terasa gelisah. Ia perlahan duduk di tepi ranjang, kaki telanjangnya menyentuh karpet empuk.
"Kenapa ya?" gumam Kirana pelan, tangannya meremas ujung selimut. "Rasanya rumah ini semakin aneh."
Ia meraih tongkatnya. Perlahan berjalan keluar kamar, pintu tertutup pelan di belakangnya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara tongkat bergema pelan di lorong yang remang. Saat melewati ruang kerja, pendengarannya yang tajam menangkap suara samar.
... jangan pernah mencampuri urusanku ku lagi?
Kirana berhenti. Langkahnya terhenti di udara. alisnya mengernyit. Mendengar perkataan dari dalam ruang kerja suaminya?
Ia mendekat beberapa langkah, berdiri tepat di samping pintu. Pendengarannya semakin fokus, menahan napas.
Ceklek.
Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka ke luar. Kirana refleks berdiri diam, jantungnya berdegup kencang.
"Sayang?" suara Arga terdengar lembut, penuh keheranan yang dibuat-buat. "Kamu belum tidur?"
Kirana tersenyum kecil. "Sayang! Aku haus," jawabnya pelan.
"Oh." Arga mengusap kepala istrinya dengan lembut, tangannya hangat, namun Kirana merasakan getaran yang asing. "Ayo, aku antar ke dapur."
Kirana mengangguk, membiarkan suaminya menuntun langkahnya. Namun sebelum pergi, telinganya menangkap suara langkah lain dari balik ruang kerja, langkah yang lebih pelan, lebih berat, gemetar. Bukan langkah Arga.
Sementara itu, di balik pintu yang belum tertutup rapat. Bi Titin berdiri mematung di kegelapan ruangan.
Tangannya menggenggam sesuatu di balik telapak tangannya. Sebuah flashdisk kecil berwarna hitam. Benda itu tadi tanpa sengaja terjatuh dari tumpukan kertas di meja Arga saat map dibuka.
Bi Titin menatap benda itu beberapa detik di bawah cahaya remang lampu meja. Lalu perlahan menyembunyikannya ke dalam saku celemek.
Tanpa ia sadari, dari celah pintu yang sedikit terbuka, saat Arga berjalan bersama Kirana menjauh, sepasang mata kembali menoleh sekilas.
Arga tersenyum tipis di balik punggung istrinya. Senyum yang terukir dingin.
"Jadi! Bi Titin mengambilnya,"
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,