“Nikah sama aku saja, Aluna.”
Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.
Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.
Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal
mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bubur Abalone Hangat
Sebelum hari semakin malam, Rafa pun mengantar Aluna pulang walau dengan berat hati.
Mobil yang ia bawa dikemudikan dengan kecepatan yang sanga pelan, Aluna yang dari tadi kesal karena sangat lama dijalan akhirnya menegur Rafa.
"Kok lambat banget sih Rafa bawa mobilnya?" Tanya Aluna sedikit kesal.
"Kamu ngantuk? Mau aku gantiin nyetirnya?." Aluna pun menawarkan diri untuk menggantikan Rafa menyetir mobil.
Rafa yang mendengar Omelan Aluna hanya bisa mendecak kesal pula disampingnya.
"Gak peka banget sih. Artinya aku tuh masih mau lama-lama sama kamu, Al." Jelas Rafa
Aluna menatap Rafa dengan tatapan heran pada sahabatnya itu.
"Ya udah kalau sampai dirumah kamu mampir aja, atau sekalian nginap aja kamu." Kali ini Aluna malah menawarkan agar Rafa menginap saja dirumahnya.
Toh besok masih hari Minggu, jadi masih libur kerja, pikir Aluna.
"Kamu sih dari tadi ditawari nginap di apartemen aja gak mau.
"Ya gak mau lah, enak aja."
Rafa mengcebik kesal mendengar Aluna yang sama sekali tidak berniat menghiburnya.
"By the way Rafa, enak ga sih tinggal sendirian di apartemen?." Tanya Aluna penasaran
Sejak lama Rafa sudah memilih keluar dari rumahnya, saat orangtuanya bercerai ia lebih memilih untuk tinggal sendiri di apartemen pemberian Mamanya.
"Enak banget, nyaman dan gak ada yang ngatur."
"Tapi kadang sepi juga sih, makanya seru banget kalau ada kamu. Aku jadi sadar tinggal berlama-lama dengan orang yang membuat kita nyaman, ternyata rasa sepi itu jadi hilang."
"Aku pikir aku gak bisa kalau ada orang yang tinggal sama aku di apartemen itu, tapi nyatanya aku malah pengen banget tinggal sama kamu disana."
Penuturan Rafa membuat Aluna terdiam, ia jadi membayangkan bagaimana jika ia tinggal sendiri di apartemen.
Sebenarnya Aluna pernah hampir tinggal sendiri saat bertengkar dengan Andrew, dia punya apartemen kecil dulu yang dibelikan oleh kakek neneknya.
Tapi baru sehari Aluna pergi dari rumahnya, besok harinya Papanya datang menjemputnya. Ia dipaksa pulang dan apartemen itu langsung dijual oleh Papanya, sejak saat itu Aluna menjadi Princess bak Rapunzel yang memiliki menara tingginya sendiri.
Bedanya ia masih bisa keluar rumah, sedangkan Rapunzel terkurung di menara tingginya.
***
Setelah jalan yang terasa panjang untuk Aluna, akhirnya mereka berdua sampai dikediaman Aluna.
"Mau mampir gak?." Tanya Aluna menawarkan
"Lain kali aja, salam sama om dan Tante yah." Jawab Rafa menitipkan salam pada kedua orang tua Aluna.
"Ya udah aku masuk dulu, makasih yah udah diantar pulang."
"Besok aku jemput lagi yah."
Aluna yang baru saja ingin berbalik dan masuk langsung mengurungkan niatnya.
"Gak mau." Tolaknya
"Loh kenapa?." Tanya Rafa terdengar sedikit kecewa
"Aku capek aku mau tidur seharian besok." Jawab Aluna yang sudah membayangkan besok ia hanya bermalas-malasan diatas kasurnya seharian besok.
"Bisa tidur di tempatku kan, mau kamu tidur dari pagi sampai malam juga boleh."
Rafa yang tidak gentar malah menawarkan Aluna pindah tempat tidur di apartemennya, gadis itu langsung menghadiahkan tatapan tajam untuk Rafa.
"Gak, aku mager! Udah sana pulang, hati-hati nyetirnya." Kata Aluna berpesan
"Ya udah iya." Jawab Rafa dengan wajah cemberut.
Ia lalu mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumah Aluna.
"Bocah ngambekan banget." Gumam Aluna tersenyum melihat wajah cemberut Rafa tadi.
Aluna lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya saat mobil Rafa sudah keluar dari halaman rumahnya.
Saat masuk ke dalam, ia melihat Abra yang sedang duduk di ruang tamu.
"Kak Abra, ngapain disini? Nungguin aku yah?." Tanyanya, tapi ada sedikit rasa takut saat Abra menatapnya lama
"Kakak mau ngomong sama kamu."
Satu kalimat dari Abra membuat Aluna was-was sendiri, ia jadi berpikir apa mungkin Kai sudah memberitahu kakaknya? Tapi Kai sudah janji akan menjaga rahasianya selama sebulan.
Aluna langsung membuang jauh-jauh pikirannya.
"Penting gak kak? Kalau gak buru-buru bisa besok aja gak? Aku ngantuk banget." Pinta Aluna yang memang sudah sangat lelah setelah seharian di apartemen Rafa.
Melihat wajah adiknya yang memang sudah terlihat lelah, ditambah waktu sudah lewat pukul sembilan malam membuat Abra tidak tega sendiri.
"Ya udah besok aja." Jawabnya kemudian, Aluna pun tersenyum karena Abra sangat pengertian padanya.
"Aluna naik dulu yah." Katanya berpamitan dan beranjak dari sana
***
"Adek lo baru punya sesuatu yang mau dia jaga, lo cukup kasih dia waktu sebulan dan setelahnya terserah Lo mau ngapain."
Kata-kata Kai mampir lagi dipikiran Abra, rasanya ia ingin segera menyuruh Aluna malam ini juga untuk berhenti.
Tetapi ada satu sisi dalam dirinya yang membuatnya tidak tega, kata-kata Kai terdengar meyakinkan sekarang baginya, berbeda saat tadi ia masih emosi.
Tapi tetap saja, memikirkan adiknya bekerja di perusahaan sahabatnya rasanya sangat berat, ia tidak yakin adiknya bisa bertahan bekerja sedangkan Aluna sendiri tidak pernah benar-benar bekerja.
***
Pagi hari berikutnya, Aluna bangun dari tidurnya dan seperti rencananya kemarin ia hanya ingin bermalas-malasan dikamarnya hari ini, menikmati hari liburnya dan mengisi ulang tenaganya untuk menghadapi hari kerja besok.
Tok tok
Dengan malas Aluna turun dari tempat tidur karena mendengar suara ketukan pintu didepan kamarnya.
"Sarapan."
Wajah Rafa muncul sepagi ini dirumahnya tepatnya didepan kamarnya saat ia membuka pintu.
"Pagi banget kesini."
Aluna terkejut karena sepagi ini Rafa sudah ada dirumahnya, belum lagi seingatnya kemarin Rafa sedang ngambek.
"Ini udah jam 9 tau, kamu belum sarapan kan?." Tebaknya
"Belumlah orang baru bangun." Jawab Aluna mengucek matanya yang masih terasa buram
"Boleh masuk?." Tanya Rafa meminta izin
"Masuk aja, tapi kamar aku masih berantakan."
Aluna mempersilahkan Rafa masuk, ia berjalan lebih dulu dan diikuti Rafa dibelakangnya.
"Kayak sama siapa aja sih." Gumam Rafa
"Dibawah ada siapa aja?."
"Gak ada siapa-siapa, tadi aku papasan sama om dan Tante, mereka mau keluar katanya." Jelas Rafa yang tadi sempat bertemu dengan kedua orangtua Aluna didepan pintu
"Oh gitu. Bentar yah aku cuci muka dulu."
Sementara Aluna ke kamar mandi, Rafa langsung sibuk mengeluarkan makanan dari paper bag yang ia bawa.
Ada banyak pilihan makanan yang ia bawakan pagi untuk sarapan Aluna.
"Banyak banget cuma buat sarapan, Rafa."
"Biar kamu kenyang."
Aluna lalu duduk di samping Rafa dan mengambil bubur abalone yang tampak sangat enak dimatanya.
Saat suapan pertamanya, ia tersenyum karena bubur tersebut sangat enak dan masih hangat, rasa hangatnya ikut masuk ke dalam hatinya.
"Ini enak banget sumpah."
"Ya udah habiskan."
Rafa juga ikut sarapan bersama Aluna, ia memang sengaja membeli dua bubur abalone untuk dirinya dan juga Aluna agar mereka bisa sarapan bersama pagi ini.