NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kartu nama

Angin sore Eastbridge menerpa wajah mereka. Suara mesin motor Ninja hitam menjadi satu-satunya bunyi di antara keheningan.

Di lampu merah kedua, Jayden menurunkan standar samping motornya. Ia menghentikan kendaraan lebih lama dari biasanya.

Keheningan masih menyelimuti mereka. Namun kali ini tidak canggung. Hanya terasa berat.

Jayden menoleh ke belakang. Visor helmnya dibuka sedikit. Dari balik kaca, matanya mencari mata Cheyrin.

"Chey," panggilnya pelan.

Cheyrin mengangkat wajahnya. Di balik helm, alisnya bertaut samar.

Jayden tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mengulurkan tangan kanannya ke belakang. Jarinya mencari tangan Cheyrin yang sedari tadi hanya memegang ujung jaketnya.

Begitu bertemu, Jayden menggenggam tangan itu. Lalu menariknya perlahan dan meletakkannya di atas perutnya, tepat di atas jaket kulit yang ia kenakan. Hangat.

Tangannya sendiri menahan tangan Cheyrin di sana. Tidak dilepaskan.

"Udah lega?" tanya Jayden. Suaranya rendah dan serak. Bukan karena lelah. Melainkan karena ia menahan banyak hal.

Cheyrin terkejut. Tubuhnya menegang sesaat. Namun ia tidak menarik tangannya.

Ia terdiam beberapa detik. Jantungnya berdegup tidak karuan. Karena genggaman Jayden besar dan hangat.

Akhirnya Cheyrin mengangguk. Pelan. Di punggung Jayden.

"Hm," jawabnya lirih. Hampir tenggelam oleh suara angin. "Lega."

Jayden menghela napas panjang. Bahunya yang sejak tadi tegang, perlahan mengendur.

Ia tertawa kecil. Kali ini tulus. Tanpa ada nada mengejek seperti biasanya.

"Baguslah," gumamnya. Jarinya mengusap punggung tangan Cheyrin sekali, sebelum akhirnya melepaskannya dan kembali menggenggam stang. "Gue khawatir. Kirain Putri Es beneran membeku."

Lampu berubah hijau.

Motor kembali melaju.

Kali ini genggaman Cheyrin di perut Jayden tidak dilepaskan. Bahkan semakin erat. Dagunya menyandar di punggung Jayden lebih lama dari sebelumnya. Seolah ingin memastikan bahwa punggung itu... masih miliknya.

Dan Jayden, di balik helmnya, tersenyum. Senyum yang lebar.

Karena baru kali ini, "Putri Es"-nya yang meleleh terlebih dahulu.

L'Evanne. Restoran fine dining dengan lampu kristal dan alunan piano lembut.

Pukul 19.30. Jam makan malam.

Cheyrin membawa nampan berisi dua gelas wine untuk meja VIP. Langkahnya cepat tapi hati-hati seperti biasa. Wajahnya datar, fokus.

Sial. Kakinya tersangkut kaki kursi yang sedikit maju. Tubuhnya oleng ke depan.

"Shit," gumamnya pelan.

Ia berhasil menjaga keseimbangan. Gelas tidak jatuh. Tapi air wine di salah satu gelas tumpah sedikit. Membasahi taplak meja tamu.

Tamunya mengerutkan dahi. Cheyrin langsung membungkuk 90 derajat. "Maaf, Pak. Saya akan ganti taplaknya sekarang juga."

Manager, Pak Riko, langsung muncul. Wajahnya merah, tapi suaranya ditahan serendah mungkin.

Ia mendekat ke Cheyrin, berbisik dengan nada tajam. "Cheyrin. Ikut saya ke belakang sekarang."

Beberapa tamu sempat melirik karena gerak-geriknya, tapi Pak Riko langsung memasang senyum profesional ke arah meja VIP. "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Pak. Kami segera perbaiki."

Begitu di area pantry yang sepi, baru kedok profesional itu lepas.

"Ini sudah kali kedua minggu ini!" desis Pak Riko. "Kalau tidak bisa fokus, lebih baik pulang saja! Tamu L'Evanne bayar mahal. Kita jual ketenangan, bukan kecerobohan!"

Tangan Cheyrin dingin. Ia menunduk dalam-dalam. "Iya, Pak. Maaf."

Tepat saat Pak Riko menarik napas untuk melontarkan teguran berikutnya, langkah kaki terdengar dari arah belakang.

Pelan. Rapi. Suara sepatu pantofel di lantai marmer.

Kedua orang di pantry langsung menoleh.

Semua staf yang lewat spontan berhenti dan membungkuk. "Selamat malam, Tuan Evan."

Pak Riko langsung menegang. Ekspresinya berubah 180 derajat. Dari marah jadi kaku, lalu membungkuk dalam. "Selamat malam, Tuan. Maaf mengganggu waktu Bapak."

Evan. Pemilik L'Evanne. Jas hitam tanpa dasi. Rambut rapi disisir ke belakang. Wajahnya tegas tapi tidak dingin. Matanya menyapu situasi: Cheyrin yang masih menunduk, Pak Riko yang berkeringat, dan noda wine di serbet yang baru dibawa Cheyrin.

Cheyrin tidak berani mendongak. Ini pertama kalinya ia melihat owner langsung. Selama 1 bulan kerja, Evan jarang datang ke restoran.

Evan berjalan mendekat. Berhenti tepat di depan mereka. Ia melirik serbet di tangan Cheyrin sekilas, lalu menatap Cheyrin dari atas.

"Kamu nggak sengaja," ucap Evan. Suaranya rendah, tenang. Tidak ada nada menyalahkan. "Lantai pantry memang licin. Dan saya lihat kursi di area VIP tadi terlalu maju."

Ia lalu menoleh ke Pak Riko. "Pak Riko, gantikan taplaknya. Dan untuk ke depannya, jika ada masalah dengan staf, selesaikan baik-baik. Bukan dengan emosi. Kita jual pelayanan, bukan rasa takut."

Pak Riko langsung mengangguk cepat. Keringat di pelipisnya makin banyak. "Siap, Tuan. Saya paham. Maaf atas kelancangan saya, Tuan."

Evan mengangguk singkat. Sebelum pergi, matanya kembali ke Cheyrin sedetik. "Angkat kepalamu. Bekerja dengan baik. Kesalahan kecil bukan akhir dunia."

Lalu ia berjalan pergi, diikuti dua asistennya.

Keheningan menyelimuti pantry beberapa detik. Pak Riko mengusap wajahnya, lalu melirik Cheyrin dengan kesal tapi suaranya sudah melunak. "Sudah. Ganti taplaknya. Hati-hati lain kali."

20 menit setelah kejadian taplak, seorang staf menghampiri station Cheyrin.

"Cheyrin, Tuan Evan minta kamu ke ruangannya sekarang," ucapnya cepat lalu pergi.

Darah Cheyrin seakan berhenti mengalir. Tangannya yang sedang melipat serbet jadi berhenti.

Dipanggil ke ruangan owner? Setelah baru saja ditegur manager?

Pikirannya langsung kacau. Gue dipecat? Atau dimarahi langsung sama ownernya?

Gengsinya menyuruhnya tenang. Tapi jantungnya tidak bisa bohong. Ia menarik napas dalam, merapikan celemeknya, lalu melangkah.

Tok. Tok.

"Masuk," suara rendah Evan terdengar dari dalam.

Cheyrin membuka pintu perlahan. Ruangan itu luas, minimalis, dominan hitam dan kayu. Aroma kopi tipis mengisi udara.

Evan duduk di kursi kerjanya, punggung tegak. Matanya masih menatap layar laptop. Jari-jarinya berhenti mengetik saat Cheyrin masuk. Ia menutup laptopnya pelan.

Cheyrin menunduk. "Permisi, Pak..."

"Angkat kepala," potong Evan. Nadanya datar, tapi tidak keras. "Dan jangan panggil saya Pak."

Cheyrin mendongak sedikit. Mata mereka bertemu sepersekian detik. Mata Evan tajam, tapi tidak mengintimidasi.

"Duduk," Evan menunjuk kursi di depan mejanya. Setelah Cheyrin duduk dengan kaku, ia bersandar. "Saya panggil bukan untuk memarahi kamu. Saya cuma mau tanya. Bagaimana perasaan kamu selama bekerja di L'Evanne?"

Cheyrin terkejut. Pertanyaan itu tidak ia duga. Ia meremas ujung celemeknya di bawah meja. "S-saya... baik-baik saja, Pak. Maaf atas kejadian tadi. Itu kelalaian saya."

"Pak lagi," Evan menghela napas pelan. Ia menyandarkan dagu ke telapak tangan. "Saya bilang jangan panggil saya Pak. Cukup Evan. Biar lebih akrab."

Wajah Cheyrin langsung memanas. "Tidak... tidak sopan, Pak Evan. Anda owner di sini. Saya hanya karyawan. Memanggil nama langsung itu... kurang ajar."

Evan menatapnya lama. Ada sesuatu di sorot matanya yang sulit Cheyrin artikan. Bukan marah. Lebih seperti... menilai.

Ruangan hening beberapa detik. Hanya suara AC yang terdengar.

Akhirnya Evan mengangguk kecil, seolah kalah berunding. "Baik. Saya mengerti kamu orangnya kaku soal sopan santun."

Ia membuka laci, mengambil kartu nama, lalu meletakkannya di meja. Mendorongnya ke arah Cheyrin. "Tapi begini saja. Saat ada orang lain, panggil saya Pak Evan. Saat tidak ada orang lain... panggil Evan saja. Deal?"

Cheyrin menatap kartu nama itu. Jari-jarinya ragu mengambilnya. "Tapi..."

"Anggap saja perintah dari atasan," potong Evan lagi, kali ini dengan senyum tipis di ujung bibirnya. "Saya tidak suka suasana canggung di kantor saya. L'Evanne harus terasa seperti rumah. Setuju, Cheyrin?"

Nama Cheyrin disebut langsung oleh Evan. Pelan. Jelas.

Cheyrin menelan ludah. Ia akhirnya mengambil kartu nama itu. "Baik... Pak Evan."

Evan tertawa kecil. Pelan. "Kita mulai dari situ dulu. Nggak apa-apa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!