Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sejak pulang dari pemakaman, Ruhi seolah berubah menjadi sosok yang berbeda. Ia sering terbangun tengah malam, berteriak tanpa sebab yang jelas, dan juga menangis tanpa sebab.
Suara teriakan dan jeritan panjang yang keluar dari bibirnya membuat suasana di rumah semakin mencekam.
Sejak kejadian di makam, perasaan aneh selalu datang tiba-tiba, terutama ketika ia sendirian. Ada bisikan yang sering ia dengar, yang mengingatkannya pada sesuatu yang menyeramkan. Sosok Nina, dengan senyum lebar yang mengerikan, selalu muncul di dalam mimpinya.
"Sebentar lagi giliranmu.."
Suara itu sering terdengar di telinganya, begitu dekat, seakan Nina sedang berdiri tepat di belakangnya. Ruhi memutar tubuhnya dengan cepat, berharap sosok itu hanya ada dalam pikirannya. Tetapi, tidak ada siapa-siapa. Hanya ruang kosong yang terasa semakin menyesakkan.
"Jangan ganggu AKU!" teriak Ruhi dengan sangat keras.
"Ruhi! Ada apa lagi?" Rukmini berusaha tenang, meski jelas ketakutan mulai tampak di wajahnya.
"Ibu… Nina. Dia, ada di sini. Aku mendengar suaranya. Dia ingin membalas dendam padaku," suaranya mulai terputus-putus, hampir tidak bisa keluar. "Dia bilang, sebentar lagi giliranku, Bu. Dan aku takut, aku takut akan jadi seperti dia." Ruhi merosot ke lantai, terjatuh dalam keputusasaan.
"Ruhi jangan seperti itu. Coba tenangkan dirimu. Nina sudah meninggal dan tidak akan kembali lagi." Ucapnya menenangkan. Padahal ia sendiri tau jika Nina sudah mulai kembali.
Namun, Ruhi tampaknya tidak bisa mendengarkan ibunya. Ia teriak lagi, kali ini lebih keras, memekakkan telinga. "Jangan biarkan dia datang, Bu! Jangan biarkan dia datang lagi!" ia berteriak sambil berlari ke luar kamar.
Pada saat itu, Roni pulang ke rumah, kaget melihat keadaan Ruhi yang semakin memburuk.
"Apa yang terjadi, Bu? Mbak Ruhi kenapa lagi?" Roni segera mendekat, mencoba menenangkan Ruhi. Tapi saat dia menyentuh pundaknya, Ruhi langsung berbalik, menatapnya dengan mata penuh ketakutan.
"Kau… kau juga tidak bisa membantuku!" Ruhi berteriak, tangannya terangkat, mencoba menjauh dari Roni yang hanya bisa terdiam.
"Ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Kakakmu tidak bisa hidup seperti ini," ucap Rukmini lelah.
Roni mengangguk, tetapi saat dia mencoba menyentuh tangan Ruhi lagi, tiba-tiba pintu depan rumah terbuka dengan sendirinya.
KREEEKKK!
Suara derit pintu yang terbuka begitu keras mengganggu ketenangan rumah, menambah suasana yang semakin mencekam.
"Siapa itu?" tanya Rukmini dengan cemas. Ia segera melangkah menuju pintu, namun saat ia melihat ke luar, tak ada siapa-siapa.
"Kunci saja, Bu," kata Roni, meskipun raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
Ruhi terus berteriak ketakutan, tubuhnya bergetar. Dia berlari, melompat naik turun di atas kursi. Dalam penglihatan mata Ruhi, ia sedang dikejar hantu Gendis, anak Nina, dengan wajah seram dan kepala bolong mengerikan. Gendis terus mengejarnya dengan tawa melengking yang mengusik telinganya.
Hana, yang sedang bersantai, merasa sangat terganggu oleh teriakan Ruhi. Setiap kali Ruhi melompat atau berteriak, Hana merasa kepalanya semakin pening dan dadanya emosi. Akhirnya, dengan emosi, Hana meminta pada suaminya untuk menangani keadaan ini dengan mengunci Ruhi di dalam kamar.
Ruhi berteriak lagi saat Roni memaksanya masuk ke kamar. Rukmini tak bisa berbuat lebih, hanya menatap pasrah.
"Mas, kita perlu bicara," ucap Hana serius setelah pintu kamar Ruhi terkunci.
"Ada apa, Han?"
"Kita tidak bisa terus-menerus terganggu sepanjang waktu. Bagaimana kalau Mbakmu kita letakkan saja di rumah sakit jiwa?"
Sontak saja perkataan Hana tak diterima Rukmini yang juga sedang duduk di sana.
"Apa katamu?! Kau pikir Ruhi gila sampai harus dibawa ke rumah sakit jiwa?!" ketus Rukmini membelalakkan mata.
"Memang dia sudah gila kok," celetuk Hana tanpa rasa bersalah.
Rukmini ingin sekali meremas mulut Hana saat itu juga. Namun, Roni justru menyela, "Sepertinya perkataan Hana ada benarnya, Bu."
Rukmini mendelik tajam pada anak laki-lakinya. Roni mencoba memberi pemahaman pada ibunya. "Bukan hanya kita, Bu, yang terganggu. Tapi para tetangga juga lama-kelamaan akan merasa risih. Aku tidak mau ambil risiko."
Rukmini masih belum terima jika sang anak akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Namun dia juga tak bisa berbuat apa-apa.
Keesokan harinya, Ruhi akhirnya dibawa ke rumah sakit jiwa. Wanita itu memberontak hebat dan berteriak histeris bahwa dirinya masih waras. Namun perilakunya yang tiba-tiba berteriak dan mengamuk membuat Roni semakin yakin bahwa kakaknya memang telah hilang akal.
***
Beralih ke suasana kampung.
Malam ini Pak Rudi dan Pak Rahmad bersiap untuk menjalankan tugas ronda malamnya. Dengan senter di tangan dan jaket tebal untuk melindungi diri dari angin malam, mereka mulai berkeliling kampung, memeriksa dan memastikan semua pintu rumah warga terkunci.
Sesekali mereka berhenti untuk mengobrol sebentar, bercanda ringan untuk mengusir rasa kantuk. "Sepertinya malam ini cukup tenang, ya?" ujar Pak Rudi sambil menyinari jalan setapak di depan mereka.
Pak Rahmad mengangguk sambil tersenyum. "Iya, semoga terus seperti ini. Kalau kampung aman, kita juga tenang."
Malam semakin larut, dan suasana sekitar semakin sunyi. Hanya suara langkah kaki Pak Rudi dan Pak Rahmad yang terdengar di antara desir angin malam.
Di tengah kesunyian, terdengar suara gemerisik dari arah hutan dekat batas desa yang membuat keduanya berhenti sejenak, menajamkan pendengaran.
"Tunggu… kau dengar itu?" bisik Pak Rahmad, suaranya terdengar sedikit gemetar.
Pak Rudi menyorotkan senter ke arah semak, berusaha mencari sumber suara, tetapi hanya kegelapan pekat yang terlihat di antara pepohonan. Perlahan, suara gemerisik berubah menjadi suara langkah kaki yang berat dan lambat, seolah-olah ada sesuatu yang bergerak mendekat.
Pak Rudi dan Pak Rahmad saling pandang, merasakan kecemasan yang sama.
"Mungkin hanya hewan liar," kata Pak Rudi mencoba menenangkan, meskipun hatinya merasa ada yang tidak beres.
Namun, suara itu semakin mendekat, dan tiba-tiba mereka melihat sekelebat bayangan putih di balik pohon besar. Pak Rahmad menahan napas, sementara Pak Rudi tanpa sadar menggenggam erat senter di tangannya. "Siapa di sana?!" seru Pak Rudi bergetar.
Tidak ada jawaban, hanya kesunyian yang semakin dalam.
Tiba-tiba, kepulan asap pekat muncul dari arah pohon besar itu. Bau daging hangus yang menyengat langsung memenuhi udara, membuat Pak Rudi dan Pak Rahmad menutup hidung sambil mundur dengan cepat.
"Asap apa ini? Dan bau apa ini?!" bisik Pak Rahmad panik.
Pak Rudi mengarahkan senter ke kepulan asap itu, namun yang tampak hanya asap kelabu yang terus mengepul tebal. Di balik asap, tampak sosok samar seperti bayangan. Namun lama-kelamaan asap itu membentuk seseorang dengan kulit mengelupas yang tampak gelap dan rusak, seolah-olah terbakar.
Keduanya langsung merinding hebat. Pak Rahmad menelan ludah, berbisik,
"Pak Rudi, apakah bapak melihat juga?"
Pak Rudi mengangguk patah-patah.
Sebelum mereka melangkah lebih jauh, sosok itu mendekat perlahan. Suara gesekan dari tubuhnya yang seperti terbakar terdengar mengerikan. Pak Rudi menarik lengan Pak Rahmad, memberi isyarat untuk segera kabur.
"Cepat kita pergi!" ucap Pak Rudi panik.
Saat mereka berbalik berlari, tiba-tiba terdengar suara ganda yang bergema dari segala arah: "Pak... tolooonggg..."
Langkah mereka terhenti seketika. Suara itu terdengar sangat menyayat hati namun mengancam. "Pak tolooonggg... jangan pergi..."
Tiba-tiba angin berhembus kencang, membuat dedaunan beterbangan. Sosok menyeramkan muncul tepat di hadapan mereka, menghalangi jalan! Sosok wanita berambut panjang berantakan dengan mata menyorot kepedihan dan amarah, tengah menggendong seorang anak kecil.
Pak Rudi merasa darahnya membeku. Ia mengenali wujud itu. "N-Nina...?" bisiknya tak percaya.
Sosok Nina menatap Pak Rudi dengan tajam. Suaranya menggema tajam, "Pak... kenapa kau diam saja saat aku menderita? Aku dan anakku... tak ada yang peduli..."
Pak Rudi teringat masa lalu. Dulu dialah tokoh masyarakat yang paling lantang menyuarakan pengasingan Nina dari desa.
"N-Nina… aku… aku hanya…," Pak Rudi tergagap ketakutan.
Nina tersenyum dingin. "Kalian semua akan merasakan apa yang kurasakan. Tidak akan ada yang luput!"
Pak Rahmad yang sudah tidak kuat menahan rasa takut akhirnya mengambil langkah seribu, tega meninggalkan Pak Rudi sendirian.
"Pak Rudi, maafin saya!" teriak Pak Rahmad sambil berlari kencang menyelamatkan dirinya.
Sosok Nina menyeringai tajam. Dengan kekuatan gaib yang dahsyat, ia mengangkat sebuah kayu gelondongan besar lalu melemparnya ke arah Pak Rudi.
BUKKK!
"Aaaaakkkkhh" lolongan suara pak Rudi menggema memecah kesunyian malam.
Kayu itu menghantam keras kaki Pak Rudi hingga ia tersungkur dan menjerit kesakitan.
***
Keesokan harinya, desa digemparkan oleh pengakuan Pak Rahmad. Dengan wajah pucat, ia menceritakan teror arwah Nina. Kondisi Pak Rudi yang terbaring dengan kaki patah menjadi bukti nyata bahwa dendam Nina bukan sekedar isapan jempol.
Kabar penampakan Nina yang mengerikan itu akhirnya sampai ke telinga keluarga Roni. Mereka kini sadar dan meyakini bahwa Ruhi tidak sekedar gila biasa, melainkan telah di ganggu oleh teror arwah Nina.
🤨🤨🤨🤨🤨
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...
💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🤣
Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...
Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭