NovelToon NovelToon
Garis Yang Tak Kupilih

Garis Yang Tak Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Pagi hari yang cerah menyelimuti kompleks Pondok Pesantren Al-Hidayah.

Udara segar membelah kompleks saat Jeffry dan Puja sibuk mengemas barang-barang ke dalam beberapa kardus dan tas besar.

Hari itu, mereka resmi akan pindah ke rumah baru yang berjarak beberapa kilometer dari pesantren—sebuah hunian asri yang disiapkan untuk tempat mereka membangun rumah tangga secara mandiri.

Usai memuat barang ke dalam bagasi mobil, Jeffry dan Puja melangkah menuju teras kediaman utama untuk berpamitan kepada Kyai Ali.

"Abah, kami pamit berangkat ke rumah baru," ucap Jeffry seraya membungkuk takzim dan mencium tangan sang ayah, diikuti Puja yang melakukan hal serupa.

"Hati-hati di jalan, Le, Nduk," tutur Kyai Ali dengan senyum penuh keberkahan.

"Jadikan rumah baru kalian sebagai tempat yang penuh dzikir dan kasih sayang."

Tiba-tiba, Bibi Ningsih dan Ningrum muncul dari arah samping rumah dengan senyum yang dipaksakan.

"Aduh, Abah... masa Jeffry dan Puja cuma berdua yang pindahan?" potong Bibi Ningsih manis-manis berkulit buaya.

"Kasihan kan Puja belum terbiasa urus rumah besar. Bagaimana kalau Bibi dan Ningrum ikut mengantar secara 'sukarela'? Sekalian bantu merapikan barang-barang di sana, hitung-hitung bentuk kepedulian keluarga pada keponakan sendiri."

Jeffry tertegun sejenak. Ia menangkap gelagat tak biasa dari bibinya.

"Terima kasih banyak atas tawaran Bibi, tapi tidak usah repot-repot. Biar Jeffry dan Puja saja yang pelan-pelan merapikan rumah."

"Lho, kok menolak bantuan keluarga sendiri, Jeff?" sergah Bibi Ningsih cepat, memasang raut tersinggung.

"Ini kan bentuk restu keluarga juga. Sebagai bibi, rasa-rasanya tidak enak kalau lepas tangan begitu saja melihat keponakannya sibuk sendirian."

Menggunakan dalih "restu keluarga" dan perasaan tidak enak hati di hadapan Abah, Jeffry akhirnya tak bisa menolak lagi. Pria itu menghela napas pendek dan mengangguk pelan.

"Baiklah kalau Bibi dan Ningrum memaksa... mari kita berangkat."

Sesampainya di rumah baru yang bernuansa tenang dan bersih, suasana kerja bakti dimulai.

Jeffry mengangkut kardus-kardus berat dari mobil ke dalam ruang tamu, sementara Puja mulai menyapu dan membersihkan area dapur.

Di sinilah niat terselubung Ningrum mulai dijalankan.

Wanita itu sengaja memantau setiap pergerakan Jeffry, mencari celah untuk melancarkan rencana sabotasenya.

Ketika melihat Jeffry sedang membawa kardus sedang menuju area tangga, Ningrum bergegas mendekati tumpukan kardus di dekat pintu utama.

Ia mengangkat sebuah kardus yang relatif ringan, lalu secara sengaja melangkahkan kakinya dengan canggung hingga seolah-olah terpeleset.

"Aww! Mas Jeffry... tolong!" jerit Ningrum melengking, menjatuhkan kardus ke lantai dan memegangi pergelangan kakinya seraya meluruh ke lantai.

Jeffry yang mendengar jeritan itu langsung menghentikan langkahnya dan menoleh cemas.

"Ningrum? Ada apa?"

"Aduh... sakit banget, Mas..." ringis Ningrum dengan raut wajah dibuat seolah menahan kesakitan yang amat sangat, menatap Jeffry dengan pendar mata yang mengharapkan belas kasihan.

"Kaki Ningrum terkilir pas angkat kardus ini... nggak kuat berdiri, Mas..."

"Mas, biar aku saja yang memapah Ningrum," potong Puja cepat sebelum Jeffry sempat melangkah mendekati sepupunya itu.

Puja berjalan mendekati Ningrum yang masih meringis dramatis di lantai.

Dengan senyum manis yang tenang namun penuh arti, Puja mengulurkan tangannya seolah ingin membantu Ningrum berdiri.

Namun, saat tubuhnya merapat, kaki Puja secara "tidak sengaja" menginjak bagian ujung kaki Ningrum dengan cukup kuat.

"Aduh!" jerit Ningrum spontan.

Saking kaget dan sakitnya, wanita itu langsung meloncat berdiri dan melangkah mundur beberapa langkah dengan sangat lincah.

Puja tersenyum tipis menatap Ningrum yang kini berdiri tegap tanpa celah sedikit pun.

"Alhamdulillah, Ningrum ternyata tidak jadi terkilir ya," ucap Puja halus, nada suaranya begitu tenang namun sarat akan sindiran telak.

Ningrum membeku. Wajahnya seketika memerah padam menahan malu, menyadari sandiwaranya terbongkar habis di depan Jeffry dan Puja.

Jeffry yang memperhatikan kejadian itu hanya bisa menggeleng pelan dengan senyum tipis yang tertahan, mulai paham dengan dinamika yang sedang terjadi.

"Lain kali hati-hati ya, Ningrum. Kalau belum biasa angkat barang berat, biar Mas Jeffry atau aku saja yang rapikan," tambah Puja santai seraya mengambil kembali kardus yang sempat dijatuhkan Ningrum, lalu melangkah menuju area dapur dengan kepala tegak.

Setelah semua barang selesai ditata dan dirapikan, Puja melangkah mendekati Bibi Ningsih dan Ningrum seraya menyerahkan dua kotak nasi hangat beserta amplop berisi uang transport.

"Terima kasih sudah datang dan membantu. Sekarang Bibi dan Ningrum boleh pulang, sisanya biar aku sama Mas Jeffry saja yang selesaikan," ucap Puja sopan namun tegas, tak memberikan ruang untuk penolakan lagi.

"Tapi... kita kan masih bisa bantu-bantu yang lain, Puja," potong Ningrum dengan raut wajah enggan, masih belum mau menyerahkan kesempatannya untuk berdekatan dengan Jeffry.

"Sudah, Ningrum, tidak apa-apa. Kembalilah ke pondok," ucap Jeffry menengahi dengan nada baritonnya yang dingin dan tidak bisa dibantah.

Jeffry melangkah ke tepi jalan depan rumah lalu memanggil sebuah becak yang melintas.

"Pak, tolong antarkan Bibi dan sepupu saya kembali ke kompleks Pesantren Al-Hidayah, ya."

Bibi Ningsih dan Ningrum tak bisa berkata-kata lagi.

Dengan wajah bersungut-sungut dan bibir bersungut cemberut, mereka berdua akhirnya terpaksa menerima nasi kotak tersebut, naik ke atas becak, dan berlalu meninggalkan rumah baru Jeffry dan Puja.

Puja bernapas lega menatap kepergian becak itu, sementara Jeffry menghampirinya, menyunggingkan senyum hangat yang siap menyambut ketenangan di rumah baru mereka.

"Sepertinya ada yang cemburu nih," ucap Jeffry terkekeh pelan, menatap Puja dengan pandangan menggoda seraya mendekat.

"Bukan cemburu, Mas! Tapi lihat sepupumu yang genit itu," dengus Puja seraya melipat tangan di dada, memalingkan wajahnya yang sedikit memerah.

"Seharusnya dia sadar diri kalau kalian berdua itu saudara sepupu!"

Jeffry tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang menggemaskan saat meluapkan kekesalannya. Senyumnya mengembang makin lebar, merasa gemas melihat betapa jujurnya kepedulian Puja sekarang.

"Iya, iya... Terima kasih ya sudah menjagaku," ujar Jeffry lembut seraya mengusap puncak kepala Puja.

"Ayo, sekarang kita makan dulu. Setelah itu kita ke kampus kamu untuk mendaftar."

Puja mendongak, menatap suaminya dengan binar mata yang kembali bersemangat.

"Beneran jadi mendaftar hari ini, Mas?"

"Tentu saja jadi," jawab Jeffry mantap dengan senyum hangat.

"Mimpimu tidak boleh tertunda lagi."

Mendengar janji dan dukungan Jeffry, kekesalan Puja pada Ningrum mendadak menguap tanpa bekas, berganti dengan rasa bahagia dan haru yang menyelimuti langkah awal mereka di rumah baru tersebut.

Selesai makan nasi bungkus, mereka berangkat menuju kampus.

Di sepanjang perjalanan, Jeffry melihat raut wajah istrinya yang sangat bahagia.

Binar mata Puja memancarkan antusiasme yang begitu meletup-letup, impian yang sempat redup kini benar-benar ada di depan mata.

Sesampainya di kampus, Jeffry dan Puja melangkah masuk ke ruang pendaftaran.

"Puja?" panggilan seorang pria memecah perhatian mereka.

Puja menoleh saat mendengar suara yang tak asing itu.

"Mas Andy?" seru Puja terkejut.

"Kamu kuliah di sini juga?" tanya Andy dengan senyum mengembang ramah.

"I-iya..." jawab Puja sedikit canggung.

"Ehem..." Jeffry berdehem pelan, memotong percakapan itu seraya melangkah maju dan berdiri tepat di samping Puja dengan wibawa yang tenang.

Andy menatap Jeffry sejenak lalu tersenyum santai.

"Dia sepupu kamu, ya?" ucap Andy menebak asal.

"Perkenalkan, aku Andy, kakak kelas Puja dulu di SMA."

"Ini, Mas Jeffry. I-iya, dia sepupuku," ucap Puja terbata-bata, menundukkan kepalanya karena gugup.

Jeffry melirik dingin ke arah istrinya yang baru saja berbohong di depan pria lain.

Ada rasa kecewa dan kecemburuan yang mendadak menyengat dadanya.

"Ayo, kita lekas mendaftar," ucap Jeffry datar, memotong pembicaraan dengan Andy dan menarik pelan lengan Puja menuju loket pendaftaran.

Andy yang melihat perubahan canggung itu hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum bingung.

"O-oh... iya, silakan. Sampai ketemu di kampus ya, Ja!"

Jeffry tetap menyelesaikan seluruh berkas pendaftaran istrinya hingga membayarnya di bagian administrasi.

Sepanjang proses itu, pria itu lebih banyak diam, menjaga formalitas meski hatinya diliputi kekecewaan.

Setelah menyelesaikan proses administrasi dan pendaftaran, Jeffry melangkah cepat menuju area parkiran tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Puja mengekor di belakangnya dengan perasaan membuncah penuh penyesalan.

Sesampainya di samping mobil, Puja memberanikan diri menarik kain lengan baju Jeffry.

"Mas, maaf..." bisik Puja dengan suara yang mulai bergetar.

Jeffry menghentikan langkahnya, membalikkan badan lalu menatap Puja lurus-lurus.

Sorot matanya yang biasa teduh kini dibalut kekecewaan yang dalam.

"Belum kuliah saja kamu sudah berbohong?" tanya Jeffry pelan, namun nadanya begitu menusuk.

"Kenapa kamu harus menyembunyikan status kita di depan pria itu, Puja?"

"Mas..." panggil Puja lirih, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Jeffry langsung mengajak Puja pulang ke rumah baru mereka tanpa banyak bicara.

Sesampainya di rumah, Jeffry melangkah cepat masuk ke dalam kamar utama. Puja yang panik dan merasa bersalah bergegas menyusul dari belakang.

"Mas..." panggil Puja lirih seraya berdiri di dekat pintu kamar yang setengah terbuka.

Jeffry membalikkan badan, menatap Puja dengan raut wajah dingin dan senyum pait yang kaku.

"Ada apa lagi? Bukankah aku cuma sepupumu?" sindir Jeffry pelan, namun suaranya terasa begitu menohok.

"Mas, aku minta maaf..." bisik Puja, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos menetes membasahi pipi.

"Aku panik dan bingung saat Mas Andy tiba-tiba tanya begitu. Aku takut dibilang aneh atau bikin canggung di kampus, makanya lidahku reflek bilang begitu... Aku nggak ada maksud menyembunyikan status kita atau mengabaikan Mas Jeffry."

Jeffry menarik napas panjang, membuang udara dingin yang sempat menguasai dadanya.

Melihat lelehan air mata di pipi Puja dan gestur tubuhnya yang begitu ketakutan, amarah di dada pria itu pelan-pelan terkikis habis, berganti dengan rasa iba dan kelembutan seorang suami.

Jeffry melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka.

Pria itu mengulurkan tangannya, merengkuh lembut jemari Puja yang dingin dan gemetar, lalu membawanya duduk di tepi ranjang.

"Puja..." panggil Jeffry dengan suara baritonnya yang kini kembali tenang dan teduh.

Puja menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata suaminya. Isakannya masih terdengar samar-samar.

"Aku mengerti kamu panik," tutur Jeffry lembut sembari mengusap perlahan punggung tangan Puja.

"Dunia kampus adalah hal baru untukmu. Bertemu teman lama di tempat baru bisa membuat siapa pun gugup. Tapi Puja... di dalam pernikahan, kejujuran adalah pondasi utama."

Jeffry menangkup kedua pipi Puja, mengangkat wajah istrinya pelan-pelan agar mata mereka saling bertatap.

"Pernikahan kita bukan sesuatu yang memalukan," lanjut Jeffry dengan pendar mata yang begitu tulus.

"Aku adalah suamimu, pria yang sah mendampingimu di hadapan Allah dan hukum. Ketika kamu menyebutku 'sepupu' di depan pria lain, jujur, hatiku terasa dicubit. Bukan sekadar cemburu, tapi aku merasa posisiku sebagai suami tidak dihargai."

Air mata Puja kembali menetes menembus jemari Jeffry yang menangkup pipinya.

Nasihat yang disampaikan tanpa nada membentak itu justru menghantam hatinya jauh lebih keras.

"Maafkan aku, Mas..." bisik Puja terbata-bata.

"Aku bersalah. Aku janji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Mulai sekarang, di depan siapa pun, aku akan jujur kalau Mas Jeffry adalah suamiku."

Jeffry menyunggingkan senyum tipis yang hangat.

Pria itu mengambil saputangan di sakunya, mengusap lelehan air mata di pipi Puja dengan penuh kelembutan.

"Aku sudah memaafkanmu, Dek. Jangan menangis lagi," ucap Jeffry pelan.

"Aku tidak melarangmu berteman dengan siapa pun di kampus, termasuk dengan kakak kelasmu itu. Tapi tolong, jaga kehormatan dirimu dan pernikahan kita. Tegaskan batasannya."

"Iya, Mas. Aku janji," jawab Puja mantap, menatap lurus ke dalam manik mata Jeffry yang menenangkan.

Gumpalan ganjalan di dada mereka akhirnya mencair sepenuhnya.

Puja memberanikan diri mendekat, menyandarkan kepalanya sejenak di dada bidang Jeffry—mencari kehangatan dan rasa aman yang kini ia sadari hanya bisa ia dapatkan dari suaminya.

Jeffry melingkarkan armadanya, merengkuh Puja dengan lembut seraya mengecup puncak kepalanya yang terbalut kerudung.

Di kamar yang tenang itu, kebohongan kecil tadi justru menjadi pelajaran berharga yang makin mengokohkan ikatan rasa di antara mereka.

1
Manis
mohon koreksi biar nggak bingung
my name is pho: sudah kak
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Manis
Ningsih jg kayanya bukan istri keduanya abah Ali deh, tapi ibunya ningrum
Manis
Ningrum di awal2 kan sepupu Jefry bukan adik tiri
Nha_A
ini yg mantunya siapa sih sebenarnya? si laki bangun menyambut mertua, si perempuan mau bangkit dari t4 tidur nyambut mertua,gimana konsepnya itu?
Manis
aslinya berjilbab nggak sih? paragraf bawah katanya berhijab
my name is pho: berhijab kak
terima saja koreksinya 🙏
total 1 replies
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuttttttttt kak
LIANI LA BUNGA YANI
aku suka noveeelnyaaa😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
sri hastuti
jangan keras kepala puja, siapa tau jefry bisa mau mengerti dan sayang sm km , hrs ada keterbukaan, blm tentu kl km gak menikah ibu tirimu setuju km kuliah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!