NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 025: Surabaya Tenggelam, Sang Buronan

Surabaya hilang lebih dulu sebagai suara.

Bukan gambar.

Bukan peta.

Suara.

Pukul empat lewat dua belas sore pada hari ketiga hujan super, radio darurat di ruang kontrol bunker menangkap siaran terputus-putus dari Jawa Timur.

"...Tanjung Perak... air masuk cepat... kendaraan terseret... warga diminta menuju bangunan tinggi..."

Derau.

Lalu suara lain, lebih panik.

"...Kenjeran tidak bisa dilewati... akses utara putus... gelombang kedua..."

Derau lagi.

Hendra duduk diam di depan panel.

Blacky meringkuk di bawah meja, tetapi telinganya tegak. Anak anjing itu belum memahami nama kota, tetapi ia memahami nada manusia yang takut.

Di layar cuaca lokal, hujan di atas Bandung masih merah pekat. Radar sederhana yang terhubung ke data terakhir jaringan publik sudah lama tidak memperbarui dengan benar, tetapi pola yang tersisa cukup jelas: awan menumpuk dari laut, menekan pulau, lalu memuntahkan air tanpa belas kasihan.

Hendra membuka peta Indonesia di layar kedua.

Surabaya.

Kota tempat ia lahir.

Kota tempat vila-vilanya dulu berdiri.

Kota tempat ia menjual aset, menipu Bos Firman, mempermalukan Ivan, dan berangkat mengambil tanker.

Di kehidupan lalu, ia masih berada di kota itu ketika rob pertama datang. Ia ingat jalan berubah sungai. Ia ingat orang-orang naik ke atap mobil. Ia ingat bau air kotor bercampur bahan bakar. Ia ingat satu ibu mengangkat anaknya di atas kepala sementara arus menyeret koper, sandal, dan pintu rumah.

Kali ini ia duduk di bunker Bandung.

Kering.

Aman.

Dengan makanan, air, obat, BBM, dan Blacky yang tidur setengah waspada di dekat kakinya.

Jarak itu terasa seperti kemenangan.

Dan seperti kehilangan.

Radio kembali menangkap suara.

"...permukaan laut naik tidak normal... beberapa kawasan rendah Surabaya sudah terendam... tim evakuasi kesulitan masuk karena arus balik..."

Hendra menutup mata sebentar.

Surabaya tidak tenggelam perlahan.

Ia ditelan oleh laporan yang semakin pendek.

Setiap siaran baru menghapus satu jalan.

Satu pelabuhan.

Satu permukiman.

Satu bagian masa lalu.

Blacky bangun dan menempelkan moncongnya ke sepatu Hendra.

Hendra menunduk, mengusap kepala kecil itu sekali.

"Kota itu sudah tidak bisa diselamatkan."

Blacky tidak menjawab.

Di dunia luar, kata-kata seperti selamat dan terlambat mulai kehilangan batas.

Hendra memindahkan frekuensi.

Radio sipil penuh tangisan dan permintaan tolong. Radio darurat pemerintah berulang kali memutar imbauan yang sama. Beberapa frekuensi komunitas hanya berisi derau, lalu potongan doa, lalu teriakan nama keluarga.

Di salah satu kanal sempit, suara formal tiba-tiba muncul.

"Unit tiga, ulangi lokasi terakhir."

Hendra berhenti memutar tombol.

Suara itu bukan penyiar.

POLRI.

Ia mengecilkan napas.

"Unit tiga tertahan di akses timur. Jalan bawah terendam. Kendaraan tidak bisa lanjut."

Suara lain masuk, lebih tajam dan lebih tenang daripada yang lain.

"Prioritas tetap pencarian rombongan Bahtiar. Cek rekaman tol terakhir, cek transaksi BBM, cek lahan milik Hendra Wijaya di Bandung. Jangan bergerak sendiri. Ulangi, jangan bergerak sendiri."

AKP Darma.

Nama itu muncul di kepala Hendra sebelum radio menyebut pangkat.

Penyidik yang dulu mencatatnya setelah Hotel Mahkota.

Orang itu bukan preman.

Bukan anak pejabat.

Bukan kontraktor tamak.

Justru karena prosedural, ia berbahaya.

Ia tidak perlu percaya pada dongeng cincin. Ia hanya perlu melihat pola: Rusli hilang, uang Firman lenyap, emas Hotel Mahkota tidak ditemukan, Hendra membeli bunker, Bahtiar menghilang setelah menuju area yang sama.

Garis-garis kecil itu cukup membuat nama Hendra naik ke meja.

Radio berderau, lalu suara Darma terdengar lagi.

"Berkas sementara: Hendra Wijaya masuk daftar pencarian. Status terkait orang hilang, bukan kesimpulan pembunuhan. Semua unit catat, jangan gunakan narasi liar. Kita butuh dia hidup untuk pemeriksaan."

Hendra tersenyum tipis.

Masih rapi.

Masih prosedural.

Masih dunia lama.

DPO.

Tiga huruf itu dulu cukup membuat orang sulit naik pesawat, membuka rekening, menginap di hotel, melewati jalan besar.

Sekarang bandara mati.

Rekening tidak bisa membeli air.

Hotel menjadi tempat orang berebut lantai tinggi.

Jalan besar berubah sungai.

Dan tim yang ingin mencarinya bahkan tidak bisa menembus akses timur.

Suara unit tiga kembali.

"Pak, jalur alternatif longsor. Kami dapat laporan air dari selatan naik juga. Sinyal peta mati. Kami mundur ke pos sementara."

Darma menjawab lebih keras, tetapi radio memotong separuh.

"Jangan kehilangan berkas... kirim salinan..."

Derau.

"...server tidak tersambung..."

Derau panjang.

Lalu kanal itu pecah oleh suara lain yang masuk tanpa izin.

"Semua unit pesisir, prioritas evakuasi! Gelombang masuk! Ulangi, gelombang masuk!"

Setelah itu tidak ada lagi percakapan tentang Hendra.

Hanya air.

Hanya pos yang hilang.

Hanya jalan yang putus.

Hendra duduk lebih lama daripada yang diperlukan.

Ia tidak takut pada DPO itu.

Tidak lagi.

Tetapi ia menghormati ancamannya sebagai catatan.

Nama Hendra Wijaya sudah masuk buku kecil hukum lama. AKP Darma akan mengingatnya kalau selamat. Dan orang yang bisa mengingat pola di tengah bencana tidak boleh diremehkan.

Hendra membuka file log pribadi.

Ia mengetik:

DPO sementara. Sumber: kanal POLRI. AKP Darma. Motif: Bahtiar hilang. Status pengejaran: terputus oleh banjir/rob/tsunami. Risiko jangka panjang: informan pasca-kiamat.

Ia menyimpan catatan itu di tablet dan salinan lokal.

Blacky menatap layar, lalu menatap Hendra.

"Bukan makanan," kata Hendra.

Blacky menguap kecil, seolah kecewa.

Hendra hampir tertawa, tetapi radio kembali mengeluarkan suara yang membuat ruangan dingin itu terasa lebih sempit.

"...Surabaya bagian utara... evakuasi tidak memungkinkan... ulangi, evakuasi tidak memungkinkan..."

Kata itu menggantung.

Tidak memungkinkan.

Kalimat yang diucapkan orang ketika mereka sudah kalah tetapi belum berani menyebutnya kalah.

Hendra melihat peta lagi.

Ia membayangkan rumah-rumah di dataran rendah, jalan menuju pelabuhan, toko-toko yang dulu ramai, pos polisi yang kini mungkin kemasukan air, kantor kecil tempat orang masih mencoba menstempel surat di tengah listrik padam.

Semua itu tenggelam dalam warna yang tidak muncul di peta digital.

Warna lumpur.

Warna solar.

Warna langit yang tidak berhenti menumpahkan air.

Di bunker, pompa drainase bekerja stabil. Tangki penampung air hujan mulai terisi. Filter awal berputar. Genset masih diam karena baterai utama cukup. Suhu dalam 22°C.

Hendra memiliki terlalu banyak air bersih.

Di luar, orang mati karena air yang terlalu banyak.

Kiamat tidak pernah adil.

Ia hanya menghitung siapa yang siap.

Malam turun, tetapi hujan tidak berubah menjadi malam. Ia tetap putih di layar kamera, tetap keras di atap, tetap seperti dinding bergerak di luar pagar.

Beberapa kali radio menangkap nama kota lain.

Semarang.

Gresik.

Madura.

Jalur pantai.

Lalu semuanya bercampur.

Menjelang tengah malam, satu siaran resmi terakhir dari Surabaya masuk dengan suara yang hampir tenggelam derau.

"...kepada warga yang masih mendengar... naik ke lantai tertinggi... jangan kembali mengambil barang... jangan..."

Suara itu terpotong.

Tidak kembali.

Hendra menurunkan volume.

Blacky naik ke pangkuan kakinya tanpa diminta, tubuh kecilnya hangat.

Hendra membiarkannya.

Di kehidupan lalu, ia kehilangan Surabaya sambil berlari di dalamnya.

Kali ini, ia kehilangan Surabaya dari ruang yang aman.

Rasanya berbeda.

Lukanya tetap ada.

Pukul satu dini hari, kanal POLRI hidup lagi hanya beberapa detik.

Suara Darma muncul, jauh, pecah, tetapi masih tegas.

"Semua data orang hilang simpan manual. Kalau jaringan mati, bawa berkas fisik. Nama Hendra Wijaya tetap..."

Sambungan putus.

Tidak ada akhir kalimat.

Hendra menatap radio.

Lalu ia mematikannya.

Untuk malam itu, cukup.

Ia berdiri, mengangkat Blacky, dan berjalan ke pintu dalam bunker. Sebelum masuk, ia menoleh sekali ke layar peta yang masih menampilkan Surabaya seolah kota itu tetap utuh.

Peta terlambat memahami kenyataan.

Sama seperti hukum.

Di atas meja, catatan DPO sudah tersimpan.

Di luar, hujan terus menghapus jalan.

Hukum lama baru saja menuliskan namanya, lalu air merobek kertasnya.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!