Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.
Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat dari Sang Phantom
Malaikat musik memberitahuku bahwa ada sesuatu yang disebutnya sebagai kegelapan yang perlahan-lahan merusaknya.
Entah mengapa, kata-kata itu terus berputar di kepalaku.
Aku tidak mengerti apa yang dimaksudkannya. Kegelapan macam apa yang dapat merusak seseorang? Dan mengapa suara yang selama ini menjadi tempatku berlindung terdengar begitu jauh dan asing ketika membicarakannya?
Aku takut kehilangan dia.
Mungkin ketakutan itulah yang membuatku semakin gelisah.
Namun, untuk saat ini, aku hanya bisa mengesampingkan semua pertanyaan itu dan berharap Raoul segera menemukan jawaban tentang pria misterius yang kutemui di bilik lima.
Jika pria itu benar-benar mengetahui sesuatu tentang Phantom, mungkin dia adalah satu-satunya petunjuk yang kami miliki.
Tidak lama kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu.
Meg muncul dengan senyum kecil di wajahnya.
"Christine."
Aku segera menoleh, "Bagaimana?"
Meg mengangkat tangannya dengan bangga.
"Suratmu sudah sampai kepada orang yang tepat."
Aku mengembuskan napas lega, "Raoul?"
Meg mengangguk.
"Aku menyerahkannya sendiri. Awalnya aku mengira penjaga kediaman keluarga Chagny tidak akan membiarkanku masuk, tetapi ternyata mereka cukup mudah diajak bicara setelah aku mengatakan bahwa surat itu berasal darimu."
Aku tersenyum kecil, "Terima kasih, Meg. Sungguh."
"Jangan berterima kasih dulu."
Meg melangkah mendekat dan menyandarkan kedua tangannya di pinggang.
"Viscount Chagny langsung membaca suratmu. Setelah itu dia bertanya beberapa hal kepadaku."
"Apa yang dia tanyakan?"
"Apakah kau baik-baik saja."
Aku terdiam. Meg terkekeh melihat ekspresiku.
"Dan tentu saja, dia mengatakan akan datang malam ini."
"Dia benar-benar datang?"
"Katanya begitu."
Aku tidak tahu mengapa mendengar itu membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Setidaknya aku tidak harus menghadapi semua ini seorang diri.
Meg menatapku beberapa saat sebelum berkata, "Christine, berhati-hatilah."
Aku mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Karena dari wajahmu saja sudah terlihat bahwa kau akan melakukan sesuatu yang berbahaya."
Aku hampir tertawa.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa."
Meg mengangkat alis, "Kau mengatakan itu dengan wajah seseorang yang jelas-jelas sedang merencanakan sesuatu."
Aku menggeleng sambil tersenyum.
"Aku hanya ingin mengetahui kebenarannya."
"Kadang-kadang, mengetahui kebenaran justru membuat seseorang berharap tidak pernah mencarinya."
Kata-katanya membuat senyumku perlahan menghilang.
Meg kemudian menghela napas dan menepuk bahuku.
"Aku harus pergi. Kau juga sebaiknya bersiap."
"Baik."
Meg melangkah menuju pintu, lalu menoleh sekali lagi.
"Dan Christine..."
"Ya?"
"Jangan pergi sendirian."
Aku mengangguk, "Aku akan berhati-hati."
Meg tersenyum tipis sebelum meninggalkan ruangan.
Aku menatap pintu yang tertutup beberapa saat. Kemudian pandanganku beralih pada jam dinding.
Sudah larut.
Aku harus mengganti pakaian latihan sebelum bertemu Raoul.
...----------------...
Setelah selesai berganti pakaian, aku keluar dari ruang ganti.
Koridor gedung opera sudah jauh lebih sunyi daripada biasanya. Hanya beberapa lampu yang masih menyala, menciptakan bayang-bayang panjang di sepanjang dinding.
Aku baru saja berjalan beberapa langkah ketika mendengar suara langkah kaki tergesa-gesa.
Aku menoleh.
Seseorang sedang berlari dari ujung koridor.
"Christine!"
Aku mengenali suara itu.
Raoul.
Dia berhenti beberapa langkah di hadapanku. Napasnya sedikit terengah dan dahinya dihiasi keringat. Rambut pirangnya tampak sedikit berantakan, seolah dia benar-benar datang secepat mungkin setelah menerima suratku.
"Aku harap aku tidak terlambat."
Aku menggeleng, "Belum."
Raoul mengatur napasnya sebelum menatapku dengan serius.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
Ada ketulusan dalam sorot matanya yang membuatku merasa sedikit lebih berani.
"Terima kasih sudah datang."
Aku menarik napas panjang, "Sejujurnya, aku tidak tahu kepada siapa lagi aku harus menceritakan kejadian ini. Semuanya terdengar begitu aneh sehingga aku sendiri hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat."
Raoul tidak menyela.
Dia hanya berdiri di hadapanku dan mendengarkan.
Maka aku mulai menceritakan semuanya.
Tentang sosok gelap yang kulihat.
Tentang bagaimana aku mengikutinya.
Tentang bilik lima.
Dan akhirnya, tentang pria misterius yang tiba-tiba muncul dari balik tirai dan menahanku.
Ketika aku menceritakan bagaimana pria itu menutup mulutku dan memperingatkanku mengenai Phantom, wajah Raoul seketika berubah.
Tangannya meraih bahuku.
"Astaga, Christine."
Nada suaranya terdengar lebih keras daripada sebelumnya, "Itu sangat berbahaya."
"Aku tidak terluka."
"Apakah kau yakin?"
Aku mengangguk.
Raoul menatapku beberapa detik, seolah memastikan sendiri bahwa tidak ada luka yang tersembunyi.
"Syukurlah."
Aku kemudian melanjutkan ceritaku hingga bagian ketika pria itu tiba-tiba menghilang.
"Dia jelas mengetahui sesuatu," kataku.
Raoul mengangguk perlahan, "Aku juga berpikir begitu."
"Aku merasa pria itu mungkin memiliki hubungan dengan Phantom. Mungkin dia orang kepercayaan Phantom, atau bahkan seseorang yang sedang menyelidikinya seperti kita."
Raoul mengusap dagunya.
"Teorimu masuk akal."
Dia kemudian menatapku dengan serius, "Tetapi, Christine, aku ingin kau berjanji satu hal."
"Apa?"
"Jangan pernah mengejar orang itu seorang diri lagi."
Aku terdiam, "Raoul..."
"Aku serius."
Sorot matanya berubah tegas.
"Kita tidak tahu siapa dia. Kita juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di gedung opera ini. Kau tidak boleh mempertaruhkan keselamatanmu hanya demi mendapatkan jawaban."
Aku akhirnya mengangguk, "Baiklah."
Raoul menghela napas lega.
"Bagus."
Namun sebelum percakapan kami berlanjut, sebuah suara terdengar dari ujung koridor.
"Siapa di sana?"
Kami berdua menoleh.
"Pertunjukan sudah selesai. Tidak ada alasan bagi orang luar untuk berada di dalam gedung opera selarut ini."
Aku mengenali suara tersebut.
"Madame Giry?"
Seorang wanita muncul dari balik bayangan.
Madame Giry.
Aku menatapnya dengan terkejut, "Kenapa Anda kembali?"
Madame Giry mendengus pelan.
"Aku pergi dalam keadaan yang kurang menyenangkan, bukan?"
Dia mengangkat dagunya dengan angkuh.
"Tetapi manajer baru itu akhirnya menyadari betapa pentingnya aku bagi gedung opera ini."
Aku hampir tidak percaya.
"Jadi... dia meminta Anda kembali?"
"Tentu saja."
Madame Giry tersenyum puas, "Dia bahkan datang sendiri ke rumahku."
Aku menatapnya dalam diam.
Itu aneh.
Manajer yang sebelumnya begitu marah kepadanya tidak mungkin berubah pikiran secepat itu tanpa alasan.
Madame Giry tampaknya membaca keraguanku.
"Kau tidak percaya padaku?"
"Bukan begitu. Aku hanya..."
"Aku tidak memiliki alasan untuk berbohong."
Dia memotong perkataanku.
"Manajer itu datang sendiri dan memintaku kembali. Dan tentu saja, aku harus berterima kasih kepada Phantom."
Aku membeku, "Phantom?"
Raoul yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Madame Giry, mengapa Anda begitu yakin bahwa Phantom membantu Anda?"
Madame Giry menoleh kepadanya.
"Kau siapa?"
"Perkenankan aku memperkenalkan diri."
Raoul berdiri lebih tegak.
"Aku Raoul Chagny."
Mata Madame Giry sedikit melebar, "Viscount Chagny?"
Dia segera mengubah sikapnya.
"Maafkan nada bicaraku. Aku hanya menjalankan tugasku."
Raoul mengangguk singkat, "Kau tadi mengatakan bahwa Phantom membantumu."
"Benar."
"Bagaimana?"
Madame Giry terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Dia meninggalkan sebuah surat."
"Sebuah surat?"
Aku ikut bertanya.
Madame Giry mengangguk, "Di kantor yang terkunci."
Wajah Raoul berubah serius, "Bagaimana dia bisa masuk?"
"Itulah Phantom."
Madame Giry mengangkat bahu.
"Dia dapat muncul di tempat mana pun yang dia inginkan."
Aku merasakan bulu kudukku meremang.
Madame Giry melanjutkan, "Manajer itu sangat ketakutan setelah membaca surat tersebut. Dia bahkan datang ke rumahku dengan wajah pucat dan memohon agar aku kembali."
"Jadi Phantom mengirim surat kepada manajer?" tanya Raoul.
"Ya."
"Dan apa isi suratnya?"
Madame Giry tersenyum tipis.
"Itu bukan urusanmu."
Raoul tidak menyerah, "Kalau begitu, setidaknya beri tahu kami mengapa Anda begitu yakin bahwa Phantom membantu Anda."
Madame Giry menatapnya cukup lama.
"Karena aku mengenalnya."
Aku menahan napas.
"Anda mengenalnya?"
Madame Giry mengangguk.
"Lebih baik daripada kebanyakan orang di tempat ini."
Aku merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungku.
Jadi selama ini...
Semua orang di gedung opera takut kepada Phantom.
Semua orang membicarakannya dengan suara berbisik.
Namun Madame Giry justru berbicara seolah-olah Phantom adalah seseorang yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun.
Raoul tampaknya memikirkan hal yang sama.
"Dia tidak pernah menyakitimu?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena aku menghormatinya."
Madame Giry menatap kami tajam, "Dan dia menghormatiku."
"Anda yakin itu bukan sekadar rasa takut?"
Madame Giry mendengus, "Aku tidak takut padanya."
Dia melangkah lebih dekat, "Orang-orang di gedung opera ini terlalu cepat menyebut seseorang sebagai monster hanya karena mereka tidak memahami dirinya."
Aku menatapnya dengan penuh perhatian.
Apa yang sebenarnya Madame Giry ketahui?
Madame Giry melanjutkan, "Phantom memiliki aturannya sendiri. Salah satunya adalah bilik lima."
Raoul langsung tertarik.
"Bilik lima?"
"Ya."
"Kenapa bilik itu begitu penting?"
Madame Giry memandang kami bergantian, "Bilik lima bukan sekadar bilik."
Suaranya menjadi lebih rendah.
"Di sanalah dia sering muncul."
Jantungku berdetak lebih cepat.
Aku teringat kembali pada sosok misterius yang kulihat memasuki bilik itu.
Pria bertopeng.
Suara yang memperingatkanku.
Semuanya seakan terhubung.
Raoul bertanya lagi, "Apakah kau pernah melihat Phantom di sana?"
Madame Giry terdiam.
Ekspresi angkuh di wajahnya menghilang.
"Aku pernah melihat sesuatu."
"Apa?"