Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELAJARAN PERTAMA DARI MPU RANAJAYA
Mpu Ranajaya menegaskan bahwa ilmu warisan Mpu Bharada adalah wadah yang sangat panas. Jika raga dan jiwanya masih kotor oleh hawa nafsu biasa, tubuh Sena bisa hancur terbakar dari dalam.
Sena diwajibkan mandi kembang di bawah pancuran air es lereng bukit pada tengah malam kaji, lalu menguras seluruh energi kebatinan didalam dirinya yang terkontaminasi oleh emosi agar kondisinya benar-benar murni
Kemudian mpu Ranajaya meletakkan telapak tangannya di kepala Sena, mengalirkan hawa murni untuk memeriksa setiap simpul saraf dan struktur badannya. Hasilnya Masih ada sisa-sisa bercak kotoran emosi, amarah, yang dinilai belum murni untuk menampung ilmu Mpu Bharada.
Mpu Ranajaya menolak memulai ajaran inti sebelum Sena bersih total. Sena diperintahkan untuk bertapa mutih dilanjutkan dengan Puasa Patigeni dikurung di dalam gua gelap tanpa cahaya, tanpa makanan, dan tanpa minum selama tujuh hari tujuh malam.
Dalam gua yang gulita itu, Sena terpaksa menahan rasa lapar, haus yang mencekik, serta ilusi-ilusi gaib yang mencoba merusak pikirannya.
Setelah melewati siksaan tapa dan puasa berat tersebut hingga tubuhnya kurus namun memancarkan aura murni, Mpu Ranajaya kembali memeriksa raga Sena dan akhirnya menyatakan bahwa wadah fisiknya baru siap untuk menerima ajaran Mpu Bharada.
Setelah penderitaan tapa mutih dan puasa patigeni usai, raga Sena kini bersih bagaikan bejana kosong yang murni. Mpu Ranajaya mendudukkannya bersila di atas batu punden, tepat berhadapan.
"Resi dan pertapa sejati tidak bertarung seperti prajurit di medan laga," ujar Mpu Ranajaya, suaranya tenang namun sarat kekuasaan. "Mereka tidak mengandalkan otot, ayunan pedang, atau adu fisik yang kasar. Senjata utama seorang resi adalah kata-kata getaran mantra sakti yang sanggup merubah realitas, mengutuk takhta, dan memerintah alam."
Mpu Ranajaya mulai membisikkan deretan mantra gaib ke telinga Sena.
Bahasa yang digunakan Mpu Ranajaya sama sekali asing bagi Sena. Itu bukan bahasa Jawa Kuno sehari-hari, melainkan suku kata kuno yang penuh aura magis, berat, dan aneh di lidah. Setiap kali Mpu Ranajaya melepaskan satu kalimat mantra, udara di sekeliling mereka bergetar, daun-daun berguguran mendadak berhenti di udara, dan api di punden batu meliuk-liuk mengikuti irama ucapannya.
Sena memejamkan mata, memfokuskan ingatan dan batinnya untuk mencerna susunan suku kata asing tersebut.
Mpu Ranajaya melatih Sena cara memusatkan hawa murni dari dalam dadanya ke tenggorokan, lalu menghembuskannya bersama ucapan mantra. Di bawah bimbingan Mpu Ranajaya, Sena belajar bahwa mantra gaib bukan sekadar dibaca, melainkan "dijiwai" hingga setiap suku kata yang keluar dari mulutnya menjadi energi nyata yang bisa meremukkan mental musuh atau mengendalikan elemen di sekitarnya.
Saat Sena melafalkan bait demi bait mantra asing itu, udara di sekitarnya tidak lagi sekadar bergetar. Setiap suku kata Kawi Purba yang keluar dari mulutnya memicu resonansi aneh yang tersinkronisasi sempurna dengan gelombang alam di sekelilingnya.
Bisikan-bisikan gaib itu seolah bertindak seperti command code yang memicu dan mengaktifkan sebuah sistem tersembunyi yang tertanam di dalam jalurnya alam semesta sebuah mekanisme gaib yang selama ini terkunci bagi manusia biasa.
Di dalam benaknya, Sena merasakan sebuah denyutan halus, mirip seperti saat sebuah interface atau system prompt mendadak aktif di kepalanya. Realitas di sekitarnya terasa bisa diatur dan diprogram ulang hanya melalui kombinasi getaran suara dan energi batin.
Mpu Ranajaya mengangguk pelan, menyadari bahwa muridnya telah berhasil menyentuh pilar utama dari ajaran mantra.
"Kau merasakannya, Sena?" bisik Mpu Ranajaya, suaranya kini memotong getaran mantra. "Mantra bukanlah sekadar kata-kata magis. Mantra adalah kunci untuk meretas tatanan alam. Ketika ucapanmu menyatu dengan getaran bumi dan langit, alam akan tunduk dan menjalankan perintahmu tanpa membantah."
Sena menghentikan lafalannya. Pendar aura yang memancar dari tubuhnya perlahan meredup, namun tatapan matanya kini jauh lebih tajam.
"Gokil..." batin Sena dengan senyum tipis yang merekah di bibirnya. "Ternyata mantra klenik di zaman ini fungsinya persis kayak kodingan sistem. Sekali perintahnya klop sama alam, langsung muncul fungsinya. Kalau begini caranya."
Mpu Ranajaya tidak membiarkan Sena bersenang-senang lama dengan keberhasilan kecilnya. Tanpa rasa kasihan, sang Resi melemparkan ratusan rontal kuno dan membisikkan barisan mantra baru yang tak berujung.
Sena diwajibkan menghafal dan menguasai ribuan bait mantra sebuah kompilasi instruksi rumit yang strukturnya persis seperti barisan kode pemrograman source code untuk meretas hukum alam. Setiap bait memiliki nada, intonasi, dan kombinasi getaran batin yang sangat spesifik. Salah satu suku kata saja terpleset, dampaknya bisa memicu error gaib yang berisiko merusak simpul saraf batinnya sendiri.
Hari demi hari berlalu di punden batu itu, dan Sena mulai merasa otaknya mau pecah.
Bagi Sena, ujian ini ratusan kali lipat lebih menyiksa daripada disuruh memukuli batu, menanjak gunung, atau dibantai pasukan jin di kawah meteorit. Latihan fisik setidaknya membuat tubuh bernapas dan bergerak, sedangkan hafalan baris kode alam ini memaksa otaknya bekerja tanpa henti hingga pelipisnya berdenyut hebat dan matanya memerah karena kelelahan mental.
"Anjirlah..." jerit Sena dalam hati, memegangi kepalanya yang serasa mau meledak di tengah malam yang dingin. "Di masa depan gue kabur dari kodingan komputer, kenapa di zaman kuno ini gue malah disuruh ngehapalin ribuan baris 'script' klenik?! Ini sih bukan latihan kanuragan, tapi boot camp software engineer versi gaib."
Mpu Ranajaya yang duduk tak jauh darinya hanya mengawasi dengan mata tajam tanpa kompromi.
"Jangan cuma dihafal di otak, Sena!" tegur Mpu Ranajaya tajam, suaranya menggelegar di tengah keheningan malam. "Mantra ini harus menyatu dengan alir darahmu! Setiap bait adalah perintah mutlak untuk alam. Jika pikiranmu ragu satu detik saja, alam akan menolak perintahmu"
Dengan gigi bertaut rapat, Sena memejamkan mata dan kembali memaksa kapasitas otaknya bekerja maksimal. Memanfaatkan kemampuan berpikir terstruktur dari era modern, ia mulai mengelompokkan ribuan bait mantra tersebut ke dalam bentuk algoritma dan fungsi-fungsi logis di dalam kepalanya agar lebih mudah dicerna.
Siksaan hafalan skala raksasa itu terus berlanjut, menggembleng mental Sena hingga ia benar-benar siap menjadi programmer alam semesta.
---
Dalam waktu dua tahun akhirnya Sena berhasil menguasai semua mantra yang diajarkan gurunya, tidak hanya menghafal Sena juga mengklasifikasikan mantra-mantra itu menjadi Sigar bumi, Penunduk sukma, Kalacakra dan mantra-mantra utilitas.
Mpu Ranajaya juga membocorkan rahasia tentang pantangan- pantangan mantra dan juga syarat- syarat khusus untuk mengaktifkan manta yang lain, disana dia membahas secara terperinci juga tentang sebab akibat dari mantra itu hingga sang pembaca berpikir dua kali untuk menggunakannya.