NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Akan Membangunnya Sendiri

Keesokan paginya, sesuai perkiraan dokter, Kevin akhirnya diizinkan pulang dari rumah sakit. Selanjutnya, ia hanya perlu menjalani masa pemulihan dan perawatan di rumah.

Haselyn membantu Kevin membereskan barang-barangnya. Tidak banyak yang perlu dikemas karena Kevin hanya dirawat selama dua hari. Setelah semua selesai, Haselyn memapah Kevin keluar dari ruang rawat. Langkah pria itu masih sedikit tertatih, membuat Haselyn tanpa sadar memperlambat langkahnya agar Kevin tidak terlalu kesakitan.

Taksi yang telah dipesan sebelumnya sudah menunggu di depan lobi rumah sakit. “Ayo, pelan-pelan.”

Haselyn membantu Kevin masuk ke dalam taksi, lalu duduk di sampingnya. “Rumahmu di mana?” tanyanya setelah mobil mulai melaju.

Kevin menoleh ke arah sopir. “Paradise Garden, Pak.” Sopir itu mengangguk dan segera mengarahkan mobil menuju kawasan tersebut.

Haselyn menatap Kevin beberapa saat sebelum akhirnya bertanya, “Kamu tinggal di Paradise Garden?” Nada suaranya terdengar pelan, tetapi jelas menyimpan keterkejutan.

Kevin mengangguk. “Iya. Memangnya kenapa?”

Haselyn segera mengalihkan pandangannya ke luar jendela. “Nggak apa-apa.” Namun di dalam hati, ia benar-benar terkejut.

Paradise Garden bukan kawasan perumahan biasa. Tempat itu dikenal sebagai kompleks elite yang dihuni para pengusaha, pejabat, dan keluarga-keluarga kaya.

Selama ini, ia mengira Kevin hanya berasal dari keluarga yang cukup berada. Ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang duduk di sampingnya ternyata berasal dari lingkungan orang-orang berpengaruh. Untuk sesaat, Haselyn merasa ada jarak yang begitu lebar di antara mereka.

Sesampainya di rumah Kevin, Haselyn membantu pria itu turun dari taksi. Ia memapah Kevin perlahan sambil membawa tas bawaannya masuk ke dalam rumah.

Begitu pintu terbuka, Haselyn menghentikan langkahnya sejenak. Rumah itu sangat besar, tetapi terasa sunyi. Tidak ada suara televisi, tidak ada langkah kaki, bahkan tidak terdengar aktivitas apa pun.

Haselyn mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. “Rumahmu sepi sekali,” gumamnya.

Kevin menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamu dengan wajah meringis menahan nyeri. “Aku memang tinggal sendiri. Kakakku punya rumahnya sendiri.”

Haselyn masih menatap sekeliling dengan heran. “Maksudku, rumah sebesar ini masa tidak ada pembantu? Rasanya benar-benar kosong.”

“Ada,” jawab Kevin singkat. “Tapi aku tidak suka ada orang asing di sekitarku. Mereka hanya bekerja sampai jam sebelas siang, setelah itu mereka pulang.”

Haselyn mengernyit. “Kalau malam? Siapa yang merawatmu?”

Kevin mengangkat bahu pelan. “Ya, aku sendiri.” Jawaban itu membuat Haselyn terdiam. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa menyedihkan dari kalimat sederhana itu.

Kevin mencoba berdiri, tetapi tubuhnya yang masih kaku membuat gerakannya goyah. Ia menggigit bibir, menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh badannya. “Bisa bantu aku ke atas?” pintanya lirih.

Haselyn mengembuskan napas panjang. Meski amarahnya belum sepenuhnya reda, ia tetap melangkah mendekat dan meraih lengan Kevin.

“Baiklah.” Perlahan mereka menaiki tangga. Langkah Kevin berat dan tidak stabil, sementara Haselyn dengan sabar menopang sebagian berat tubuhnya hingga akhirnya mereka tiba di kamar.

Haselyn mendudukkan Kevin di tepi ranjang. “Aku masakkan makanan dulu, ya,” ucapnya.

Kevin menatap wajah Haselyn beberapa detik sebelum menggeleng pelan. “Tidak usah. Kamu pasti sudah capek.”

“Sudah, diam saja.” Tatapan Haselyn begitu tajam hingga Kevin langsung menutup mulutnya. Ia memilih menurut daripada membuat wanita itu kembali marah.

Haselyn berbalik menuju pintu. “Aku izin pakai dapurmu.”

Kevin tersenyum tipis. Senyum yang jarang muncul di wajahnya. “Kamu bisa menggunakan apa pun yang ada di rumah ini semaumu.”

Haselyn tidak menjawab. Ia hanya melangkah keluar kamar, meninggalkan Kevin yang diam-diam terus memandang punggungnya hingga sosok itu menghilang di balik pintu. Untuk pertama kalinya, rumah yang selama ini terasa dingin dan sunyi itu seolah memiliki sedikit kehangatan.

Haselyn turun ke lantai bawah dan berjalan menuju dapur. Dapur itu luas, bersih, dan tertata rapi, seolah jarang benar-benar digunakan. Ia membuka kulkas, mengambil beberapa bahan makanan, lalu mulai memasak dengan gerakan yang cekatan.

Tak butuh waktu lama, aroma masakan hangat memenuhi ruangan yang sejak tadi terasa sunyi. Setelah semuanya selesai, Haselyn menyusun makanan di atas nampan dan membawanya ke kamar Kevin.

“Makan dulu.” Haselyn meletakkan nampan di atas nakas, lalu membantu Kevin duduk bersandar di kepala ranjang.

Saat menyuapkan sesendok makanan ke mulut Kevin, Haselyn bertanya, “Kamu punya kamar tamu?”

Kevin yang sedang mengunyah tampak sedikit tersedak. “A-ada.” Kevin menatap Haselyn dengan bingung. “Memangnya kenapa?”

“Aku akan menginap malam ini untuk menjagamu.” Jawaban itu membuat Kevin terdiam beberapa detik. Senyum tipis perlahan mengembang di wajahnya, senyum yang sulit ia sembunyikan.

“Kamar tamunya di sebelah kamar ini,” katanya pelan. Tatapan Kevin yang terus tertuju padanya membuat Haselyn merasa tidak nyaman.

“Jangan berpikir aku sudah memaafkanmu,” ucapnya tegas. “Jangan salah paham. Aku menginap karena rasa kemanusiaanku masih terlalu tinggi. Aku tidak mau kamu tiba-tiba mati sendirian di rumah sebesar ini saat kondisimu masih seperti sekarang.”

Kevin menundukkan kepala sebentar, lalu tersenyum tipis. “Iya, aku tahu.” Apa pun alasan yang Haselyn berikan, kehadiran wanita itu di rumahnya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bersyukur.

“Kalau begitu, cepat habiskan makanannya. Aku juga mau istirahat.”

“Iya, Haselyn.” Kevin menurut tanpa membantah lagi. Ia menghabiskan makanan yang disuapkan Haselyn dengan cepat.

“Sudah selesai?” Kevin mengangguk.

“Aku bawa piringnya ke bawah. Kalau ada apa-apa, panggil saja aku.”  Haselyn membawa nampan kosong keluar kamar. Setelah mencuci piring di dapur, ia tidak langsung masuk ke kamar tamu. Rasa penasarannya membuat ia berkeliling sebentar mengamati rumah Kevin.

“Rumahnya besar sekali…” Matanya menyapu setiap sudut rumah itu. Ruang tamunya luas, dapurnya modern, lorong-lorongnya panjang, dan setiap ruangan tampak tertata dengan selera yang mahal.

Saat membuka pintu belakang, Haselyn bahkan menemukan halaman yang sangat luas dengan kolam renang, taman yang terawat, dan garasi yang mampu menampung beberapa mobil sekaligus.

“Dia tinggal sendirian di rumah sebesar ini?” Ia menggeleng pelan. “Kalau memang sekaya ini, harusnya dia bisa menyewa seseorang untuk merawatnya saat sakit.”

Namun ia teringat jawaban Kevin. Aku tidak suka ada orang asing di sekitarku.

Haselyn mengerutkan kening. “Padahal aku juga orang asing.” Aneh. Kevin justru terlihat sangat nyaman dengan kehadirannya. Bahkan sejak tadi, pria itu seolah berharap ia tetap berada di rumah ini.

Haselyn mengembuskan napas pelan. “Sudahlah. Mandi dulu saja.”

Ia kembali ke lantai atas dan masuk ke kamar tamu yang berada tepat di sebelah kamar Kevin.

Begitu pintu dibuka, ia kembali dibuat terkejut. “Kamarnya juga luas…”

Kamar itu hampir sebesar ruang tamu di rumah kebanyakan orang. Tempat tidurnya besar, pencahayaannya hangat, dan kamar mandinya terlihat mewah.

Matanya berbinar saat melihat sesuatu di sudut kamar mandi.

“Jangan-jangan…” Ia melangkah cepat mendekat.

“Benar ada bathtub.” Senyum kecil langsung terbit di wajahnya.

“Berendam dulu sepertinya enak.” Haselyn mengisi bathtub dengan air hangat, lalu perlahan merendam tubuhnya. Kehangatan air membuat otot-ototnya yang tegang sejak beberapa hari terakhir mulai mengendur.

“Nyaman sekali…” Ia memejamkan mata. Tanpa sadar, kenangan tentang rumah orang tuanya kembali menghampiri.

Di rumah orang tuanya dulu memang ada bathtub, tetapi hanya di kamar Nisrina dan Faeyza. Sementara kamarnya sendiri selalu menjadi yang paling sederhana. Ukurannya memang sama, sama-sama memiliki kamar mandi dalam, tetapi isinya jauh berbeda.

Di kamar kedua kakaknya terdapat lemari besar, meja belajar, dekorasi yang indah, serta kamar mandi dengan bathtub dan shower modern. Sedangkan kamarnya hanya berisi tempat tidur, satu lemari kecil, dan kamar mandi sederhana dengan ember besar dan gayung.

Haselyn terkekeh pelan. “Suatu hari nanti…”

Ia membuka mata dan menatap langit-langit kamar mandi. “Aku akan membangun rumahku sendiri.”

Rumah yang nyaman. Rumah yang memiliki semua fasilitas yang ia inginkan. Rumah yang bukan diberikan karena belas kasihan siapa pun.

“Aku akan membangunnya dengan hasil usahaku sendiri.” Tatapannya berubah penuh keyakinan.

Jika orang tuanya tidak pernah memberikan perlakuan yang sama, ia tidak akan menghabiskan hidupnya untuk meratapi itu. Haselyn  akan menciptakan kehidupannya sendiri. Dan suatu hari nanti, semua yang pernah tidak ia miliki akan ia dapatkan dengan tangannya sendiri.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!