Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Perangkap Dimensi Darah
Kubah energi berwarna merah pekat meledak dari pusat pusaran cahaya, meluas dengan kecepatan yang mustahil dihindari. Dalam hitungan detik, kubah transparan itu menelan radius satu kilometer dari pusat persimpangan Distrik Gangnam, menjebak segalanya yang berada di dalam jangkauannya.
Pemandangan kota sore yang hancur seketika lenyap.
Aspal jalanan yang retak berubah menjadi tanah gersang berwarna hitam legam yang mengepulkan asap. Gedung-gedung pencakar langit tergantikan oleh tebing-tebing batu bergerigi yang menjulang tinggi, mengalirkan lahar panas dari celah-celahnya. Udara yang sebelumnya hanya berbau asap kendaraan kini terasa mencekik, dipenuhi aroma belerang dan daging terbakar.
[Peringatan Mutlak!]
[Anda telah ditarik ke dalam 'Gerbang Merah'.]
[Hubungan ruang dan waktu dengan dunia luar telah diputus sepenuhnya.]
[Misi Darurat: Bertahan hidup dari gelombang pasukan iblis atau bunuh Penguasa Labirin untuk membuka jalan keluar.]
Dari kejauhan, terdengar jeritan melengking dari kelompok warga sipil yang menolak ikut dengan Do-Yoon. Jeritan itu tidak berlangsung lama. Suara cabikan daging dan kunyahan tulang yang menjijikkan segera menggantikan tangisan minta tolong mereka.
Yoo Ji-Ah mundur selangkah, mendekapkan adiknya lebih erat ke dadanya. Wajah gadis itu sepucat kertas melihat perubahan lingkungan yang begitu ekstrem hanya dalam kedipan mata.
"D-Do-Yoon... apa yang baru saja terjadi? Di mana kita?" tanya Ji-Ah, napasnya memburu karena udara yang tiba-tiba menjadi sangat tipis dan panas.
"Kita berada di dalam perut monster besar, secara kiasan," jawab Do-Yoon tenang. Ia memutar lehernya hingga terdengar bunyi tulang berderak, matanya yang kelam menyapu lautan api di sekeliling mereka. "Ini adalah Gerbang Merah. Sebuah labirin dimensi independen. Tidak ada pintu keluar, tidak ada bala bantuan. Satu-satunya cara untuk kembali ke Bumi adalah dengan memenggal kepala penguasa tempat ini."
Do-Yoon tahu betul apa itu Gerbang Merah. Di kehidupan sebelumnya, fenomena ini adalah mimpi buruk tingkat tertinggi bagi para Pemburu. Labirin jenis ini biasanya baru muncul setidaknya tiga tahun setelah tahap percobaan Sistem dimulai, saat umat manusia sudah memiliki Serikat Pemburu yang terorganisir.
Kemunculannya di hari pertama kiamat adalah sebuah kemustahilan matematis. Kecuali, ada yang campur tangan.
[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' tertawa terbahak-bahak melihat Anda terjebak!]
[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' mengirimkan pesan: "Mari kita lihat seberapa lama kesombonganmu bertahan di neraka kecilku, manusia cacat."]
Do-Yoon mendengus geli saat membaca pesan yang mengambang di layar birunya.
Dewa Tombak Api. Rasi Bintang picik yang marah karena tawarannya ditolak mentah-mentah beberapa jam yang lalu. Makhluk dari dimensi atas itu pasti telah menggunakan sebagian besar poin otoritas kosmiknya hanya untuk memaksa Sistem memunculkan Gerbang Merah di koordinat Do-Yoon berada.
"Kau pikir ini adalah hukuman mati untukku?" gumam Do-Yoon sambil mengusap mata kapak raksasanya, membiarkan darah goblin yang mengering mengelupas dari bilah besinya. "Bagi seorang Pembangkit dengan kelas tingkat Mitos yang kelaparan... ini adalah prasmanan makan malam yang kau sajikan secara gratis, Dewa Bodoh."
Bumi bergetar pelan. Dari balik kabut belerang yang kemerahan, puluhan siluet bertubuh kerdil berlarian mendekat. Mereka adalah Iblis Kerdil—makhluk berkulit merah seukuran anak-anak dengan tanduk tajam, sayap kelelawar kecil di punggung, dan cakar yang menyala oleh bara api.
KIEEEK!
"Mereka datang," ucap Do-Yoon datar. Ia menoleh ke arah Ji-Ah. "Turunkan adikmu. Berdirilah di depannya. Aku ingin melihat hasil dari Pembangkitan tingkat Pahlawan milikmu."
Ji-Ah menelan ludah. Ia menurunkan Ji-Hye yang gemetar hebat, lalu menggenggam parang berkarat dengan kedua tangannya. Kelas barunya, 'Ahli Pedang Angin Bersih', bereaksi terhadap niat bertarungnya. Aliran energi sejuk berwarna hijau pucat mulai menyelimuti bilah parang yang kotor tersebut, menghilangkan rasa berat dari senjata itu.
"Jika kau membiarkan satu ekor saja menyentuh adikmu, kau mati. Paham?" ancam Do-Yoon tanpa belas kasihan.
Ji-Ah mengangguk tegas. Matanya tidak lagi memancarkan keraguan. "Aku paham."
Tiga ekor Iblis Kerdil melompat ke udara secara bersamaan, menerjang langsung ke arah Ji-Ah dengan cakar api yang siap mencabik wajahnya.
Bukannya mundur, Ji-Ah justru melangkah maju. Ingatan otot dari latihan anggarnya selama bertahun-tahun kini disempurnakan oleh refleks superhuman dari kelasnya.
WUSSH!
Ia mengayunkan parang itu dalam satu tebasan horizontal yang sangat cepat. Energi sihir berelemen angin melesat dari bilah senjatanya, membentuk bilah sabit tak kasat mata yang membelah udara.
Crat! Crat! Crat!
Ketiga Iblis Kerdil itu terbelah menjadi dua bagian di udara sebelum sempat mendarat. Darah hitam menyembur, namun angin dari tebasan Ji-Ah meniup percikan darah itu menjauh dari tubuhnya dan adiknya.
[Anda telah mengalahkan Iblis Kerdil.]
[Anda mendapatkan 40 Poin Pengalaman.]
[Tingkat Anda telah naik!]
Mata Do-Yoon sedikit melebar. Ia tersenyum puas. Kemampuan adaptasi gadis itu benar-benar luar biasa. Aliran energi sihirnya sangat murni. Tidak heran di masa depan ia ditakuti sebagai Permaisuri Pedang.
"Kerja bagus. Tapi simpan perayaanmu nanti. Tuan rumah yang sebenarnya baru saja tiba," ucap Do-Yoon seraya menatap ke arah gundukan batu magma di depan mereka.
Di atas gundukan batu tersebut, seekor makhluk setinggi tiga meter melangkah keluar dari dalam lahar. Seluruh tubuhnya dibalut baju zirah hitam yang menyatu dengan dagingnya. Makhluk itu menunggangi seekor kuda kerangka yang tapaknya mengobarkan api biru, sementara di tangan kanannya, ia memegang sebuah tombak bergerigi yang berderak oleh aliran listrik merah.
[Pemimpin Pasukan Garis Depan: Ksatria Iblis Tingkat D telah muncul!]
Aura yang dipancarkan oleh Ksatria Iblis itu membuat napas Ji-Ah kembali sesak. Itu bukanlah lawan yang bisa dihadapi oleh Pembangkit pemula yang baru berada di tingkat kedua. Insting bertahan hidup Ji-Ah berteriak agar ia segera melarikan diri.
Namun, Han Do-Yoon justru melangkah santai ke depan, menyilangkan kapak raksasa di bahunya.
"Ji-Ah," panggil Do-Yoon tanpa menoleh. "Kau urus sisa Iblis Kerdil yang bersembunyi. Jangan biarkan satu pun menggangguku."
"T-tapi monster berkuda itu... aura sihirnya terlalu mengerikan! Kau tidak bisa melawannya sendirian!" seru Ji-Ah panik.
"Mengerikan?" Do-Yoon tertawa pelan. Tawanya terdengar dingin dan hampa, membuat bulu kuduk meremang. Energi sihir berwarna hitam pekat, yang jauh lebih gelap dari malam tanpa bintang, mulai merembes keluar dari bawah sepatunya, menelan cahaya api di sekitarnya.
Keahlian tingkat Mitosnya, Mata Kehampaan, aktif.
"Makhluk rendahan ini bahkan tidak pantas memoles sepatuku di masa lalu," bisik Do-Yoon. Ia menekuk lututnya, bersiap melesat bagaikan peluru meriam. "Waktunya panen besar."
jangan lupa hadir juga 😉