NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6 - HANYA SEBENTAR SAJA

Sejak kapan Nalendra bisa begitu pandai mencerca? Wulan menatap pria itu, mencoba mencari jejak keseriusan di balik wajah dinginnya, tetapi Nalendra tampak benar-benar polos seolah tidak pernah mengucapkan kalimat tajam barusan. Kenapa ia tidak tahu bahwa pria itu bisa begitu sulit dijakal? Padahal dari wajahnya, tidak ada satu pun tanda bahwa ia sedang bercanda. Baru sekarang Wulan menyadari bahwa di balik ketenangan itu tersembunyi lidah yang jauh lebih tajam daripada yang pernah ia duga.

Dengan diam-diam menggerakkan tangannya ke pinggang, Wulan menatapnya dan berbicara lagi, "Kalau begitu, sekarang aku benar-benar bisa merasakan punggungku sakit." Kali ini ia bahkan tidak malu-malu lagi, mengangkat dagunya seolah menantang pria itu untuk membantah.

Nalendra meliriknya sekali lagi, lalu berkata dengan suara rendah, "Gadis kecil tidak punya pinggang." Seolah memberi penjelasan yang paling masuk akal di dunia, tanpa sedikit pun ragu.

Wulan termangu, tak sanggup mengeluarkan satu pun pembelaan.

Entah apa yang harus ia jawab. Pria ini selalu berhasil membuatnya kehabisan kata.

"Aku tidak peduli, aku sakit kepala, pinggangku sakit, hatiku pun semakin sakit, sakit di mana-mana — kau tidak boleh pergi!" Nona Ardani yang tidak bisa mengalahkan Nalendra mengatupkan bibirnya dan mulai bersikap tidak masuk akal. Wajahnya memerah, menahan malu karena kebohongannya ketahuan dua kali, tetapi ia tidak mau kalah begitu saja di depan pria ini.

Nalendra tertawa mendengar keluhannya yang tidak logis itu. Dengan kesabaran yang langka, ia membungkuk menyejajarkan pandangannya dengannya dan berkata dengan senyum rendah, "Kalau memang sakit di mana-mana, apa yang harus kulakukan? Kuusap?" Suaranya tenang, tetapi ada geli yang sulit ia sembunyikan.

Mata Wulan berbinar. Ia mengulurkan tangannya yang putih dan lembut, menekannya di pergelangan tangan Nalendra yang ramping, mengangkat wajahnya untuk menatapnya, lalu berkata sambil tersenyum, "Bisakah kau tinggal bersamaku sebentar? Selama kau di sini, rasanya aku tidak merasakan sakit sama sekali." Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa ia rencanakan, dan untuk sesaat Wulan sendiri terkejut dengan keberaniannya sendiri.

Mata Nalendra tertuju pada tangan kecilnya yang ramping, dan ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sedikit tidak terduga. Ia seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang jauh di luar perkiraannya.

Wulan pura-pura tidak melihat ekspresinya itu, lalu dengan sengaja melembutkan suaranya, "Hanya sebentar." Ia menunduk, tidak berani menatap mata pria itu, seolah sedang menunggu keputusan yang menentukan segalanya.

Nalendra hanya membalas dengan keheningan.

Nona Ardani tetap tidak tahu malu dan berkata lembut, "Sebentar saja tidak boleh?" Sekali lagi ia mendongak, matanya berkilat genit seolah tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain jawaban dari pria di hadapannya.

Pertanyaan itu kembali menggantung tanpa jawaban.

Setidaknya, pria itu juga belum bergerak untuk pergi.

Melihat ekspresinya yang masih penuh tanda tanya, Nona Ardani mengumumkan bahwa sedikit kesabarannya telah habis. Suaranya tanpa sadar meninggi, "Ini hanya sebentar! Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu!" Begitu selesai berbicara, ia pun tersadar betapa memalukannya kalimatnya sendiri, dan wajahnya semakin merah padam.

Wulan sedikit kesal. Ia masih seorang gadis kecil, mana mungkin ia berani berbuat macam-macam pada pria setinggi itu — jadi kepada siapa Nalendra menunjukkan ekspresi ragu itu? Apa ia mengira dirinya sedang menghadapi serigala lapar?

Nalendra terkekeh, menatapnya beberapa saat, dan akhirnya menyerah. Ia dengan santai mengambil kursi bundar kecil dari kayu pir yang tadi dipindahkan oleh Waskita, lalu duduk di hadapannya. Gerakannya tenang, tetapi di ujung matanya masih tersisa senyum yang sulit ia sembunyikan.

"Hmm, bisakah kau duduk lebih dekat denganku?" Jelas sekali Nona Ardani tidak puas dengan jarak di antara mereka, dan mulai mengajukan tuntutan baru yang jauh lebih besar. Ia menunjuk titik di sampingnya, menepuk-nepuk tempat itu seolah mengundang seekor kucing.

Nalendra mengangkat alisnya sedikit, dan ada seberkas keraguan di alisnya yang indah itu. Apakah Wulan... gila? Atau apakah gadis kecil ini sedang memainkan permainan yang tidak ia pahami?

Wulan jelas membaca pesan yang terkandung di balik matanya, dan sudut mulutnya bergerak-gerak tanpa sadar. Otaknya sangat bagus, tidak rusak ataupun kemasukan air. Ia hanya sedang mencoba memahami dunia barunya dengan cara yang masih kaku dan canggung.

"Nalendra, aku tahu kau menganggap reaksiku sekarang ini aneh. Sebenarnya, aku sendiri juga merasa cukup aneh. Tidak, bukan itu maksudku — bukan berarti aku yang aneh. Hanya saja, hal-hal yang aku alami memang aneh. Apakah kau bisa mengerti apa yang kubicarakan?" Wulan berbicara dengan setengah hati, kadang menunjuk ke arah dirinya, kadang menunjuk langit-langit kamar, seolah sedang menjelaskan teka-teki yang bahkan ia sendiri belum selesai memikirkannya. Semakin lama ia bicara, semakin kusut kalimatnya sendiri, hingga akhirnya ia pun tersadar betapa lucunya dirinya sekarang — ia, Nona Ardani yang dulu sombong dan keras kepala, kini bicara berbelit-belit seperti orang kesurupan di hadapan calon suaminya.

Setelah terus memberi isyarat dan berbicara lama, Wulan tiba-tiba seperti teringat sesuatu. Ia berhenti menggerakkan tangannya, berhenti bicara, lalu mengangkat kepalanya dengan frustrasi. Sebenarnya ia sendiri bahkan tidak tahu apa yang sedang ia bicarakan — bagaimana ia bisa berharap Nalendra memahami kata-katanya yang berantakan itu, jika ia saja tidak mampu merangkainya?

Setelah jeda, ia menundukkan kepala dan berhenti menatapnya. Sebaliknya, ia membenamkan wajahnya di antara lutut dan berkata dengan cemberut, "Apa menurutmu aku aneh?" Suaranya kecil, nyaris tenggelam oleh lipatan selimut, seperti anak kecil yang takut mendengar jawaban yang sebenarnya.

Rambut hitam sebatas pinggang Wulan tidak disanggul, melainkan tergerai longgar di punggungnya. Dari sudut pandang Nalendra, gadis di hadapannya itu tampak seperti anak kucing berbulu yang baru saja dianiaya, meringkuk kecil dan menunggu belaian. Selama ini ia hanya mengenal Wulan yang manja dan berisik; gadis yang memeluk lutut di hadapannya ini adalah orang yang sama sekali berbeda. Ada sesuatu dalam caranya bertanya yang membuat dada Nalendra terasa lebih hangat daripada biasanya.

Mata Nalendra berkedip sedikit. Ia tiba-tiba berdiri, melangkah ke sampingnya, lalu dengan lembut mengusap rambutnya dengan tangannya yang sedikit dingin. Gerakannya ringan dan pelan, seperti menyentuh sesuatu yang rapuh yang bisa pecah kapan saja, dan di dalam keheningan itu ada kelembutan yang tidak pernah Wulan dengar.

Merasakan kehangatan hening turun dari atas ubun-ubunnya, Wulan sedikit terkejut. Ia tidak berani mengangkat wajah, takut seluruh perasaan yang selama ini ia pendam akan tumpah lewat matanya. Namun di balik telapak tangan itu, untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, ia merasa aman — aman untuk menangis, aman untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa perlu berpura-pura menjadi gadis bodoh yang mengejar Pangeran Cendana.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!