Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.
Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11: Leng Shuang’s Scolding Iron Fist
Bau busuk lumpur bekas sarang babi hutan berduri yang mengepul dari dasar lembah samar-samar tercium sampai ke tepi jurang. Para pembunuh liar suruhan Pangeran Ke-3 meraung kesakitan di bawah sana, meratapi tulang-tulang mereka yang patah akibat hempasan manipulasi ruang tak terlihat milik Mu Xuanyuan.
Di atas jurang, Xuanyuan melangkah santai kembali menuju tempat perkemahannya. Ia membawa buah merah segar yang akhirnya berhasil ia petik—tentu saja dengan bantuan sentilan energi Qi tak terlihat dari ujung jarinya.
"Lihat! Aku dapat buah besar!" seru Xuanyuan gembira seraya memperlihatkan buah itu kepada Gu Juechen dengan senyum polosnya.
Gu Juechen menerima buah tersebut seraya membungkuk hormat. "Kerja bagus, Yang Mulia. Buah ini tampaknya sangat renyah."
Sementara itu, Leng Yan masih duduk di atas karpet sutranya dengan pose dramatis. Kipas emasnya menutupi separuh wajahnya, sementara matanya menatap Xuanyuan dengan binar pemujaan yang semakin tak terkendali.
"Sungguh sebuah pertunjukan manipulasi spasial yang sangat memikat, Pangeranku..." bisik Leng Yan dengan suara mendayu-dayu yang puitis. "Cara kau menjatuhkan tikus-tikus kotor itu ke dalam lumpur tanpa mengotori sehelai pun benang sutra di jubahmu... Khh! Hatiku benar-benar meleleh!"
Leng Yan bangkit berdiri dengan gerakan seanggun kelopak bunga bertiup angin. Ia merentangkan tangannya, melangkah maju menuju Xuanyuan. "Biarkan aku memberimu pelukan kemenangan sebagai bentuk apresiasi atas—"
TAK!
Belum sempat kaki Leng Yan melangkah dua depa, tinju besi berbalut pelindung kulit tebal milik Leng Shuang melesat cepat bagaikan kilat dan mendarat telak di puncak kepala Leng Yan.
"Aduh!" jerit Leng Yan dramatis seraya memegangi kepalanya yang kini berbenjol kecil, matanya berkaca-kaca. "Shuang'er! Tanganmu itu terbuat dari batu meteorit atau apa?! Kenapa selalu memukul kakakmu yang rupawan ini?!"
"Karena kepala rupawanmu itu perlu dipukul setiap lima menit agar otaknya tidak geser!" bentak Leng Shuang penuh emosi seraya mengibaskan kepalan tangannya. Matanya melotot tajam ke arah sang kakak. "Sudah kubilang berapa kali?! Pangeran Ke-14 sedang berpura-pura gila demi menjaga penyamarannya! Jika kau terus-terusan memeluknya atau berpuisi puitis di depannya, para pengawal kerajaan yang mengintai di hutan ini akan curiga!"
"Tapi dia sangat tampan saat berpura-pura polos!" racau Leng Yan tak mau kalah seraya menunjuk Xuanyuan yang sedang asyik memakan buah dengan wajah tanpa dosa. "Lihat pipinya saat mengunyah! Apakah kau tidak punya rasa estetika sedikit pun, Shuang'er?!"
"Estetika matamu!" tembak Leng Shuang seraya melayangkan tatapan iron fist yang sanggup membuat prajurit paling keras kepala pun bungkam. "Jika kau tidak bisa menjaga kelakuanmu, aku akan menyuruh para pengawal Paviliun Redup untuk membawamu pulang dan menguncimu di ruang bawah tanah selama tiga bulan!"
Leng Yan merajuk pelan, mendesis seraya mengusap benjolan di kepalanya dengan kipas emas. "Adik yang tidak memiliki kelembutan sedikit pun... pantas saja sampai sekarang tidak ada pria yang berani melamarmu."
"KAU BILANG APA?!" teriak Leng Shuang seraya menarik separuh pedangnya dari sarung, aura membunuh dingin langsung meledak dari tubuhnya.
"T-tidak ada! Aku tidak bilang apa-apa!" seru Leng Yan cepat-cepat bersembunyi di balik tubuh Feng Wuchen yang tinggi tegap dan kaku seperti patung.
Feng Wuchen yang mendadak dijadikan perisai hanya menatap Leng Yan dengan sudut mata berkedut, sementara Gu Juechen menahan tawa sampai pundaknya bergetar.
Xuanyuan yang menyaksikan adegan pertengkaran saudara kembar itu hanya bisa menggelengkan kepala seraya terkekeh pelan dalam hati. Pertunjukan komedi di depannya sungguh lebih menghibur daripada persaingan tahta kekaisaran yang membosankan.
"Nona Leng Shuang," panggil Xuanyuan ramah, memudarkan sejenak nada cempreng buatan pada suaranya. "Terima kasih telah 'menjinakkan' kakakmu. Namun, ada baiknya kalian berdua kembali ke perbatasan hutan sekarang."
Leng Shuang langsung menyarungkan pedangnya dan membungkuk hormat. "Apakah ada perkembangan baru, Yang Mulia?"
Xuanyuan melirik ke arah utara Hutan Kabut Abadi, di mana aura energi spiritual yang sangat pekat dan liar mulai bergolak hebat. "Aura binatang buas yang digiring oleh pasukan Po Jun sudah mendekati wilayah perburuan Pangeran Ke-3. Pertunjukan utama akan segera dimulai, dan aku tidak ingin keberadaan kalian di sini mengalihkan perhatian Lu Cangqiong dari 'hadiah' yang sudah kusiapkan untuknya."
Leng Shuang mengangguk mengerti. "Hamba paham. Hamba akan memastikan Paviliun Redup mengawasi dari jauh dan menutup semua jalur melarikan diri untuk pengawal Pangeran Ke-3."
Ia lalu menoleh ke arah kakaknya yang masih bersembunyi di belakang Feng Wuchen. "Ayo pergi, Kakak! Jangan sampai aku harus menyeretmu lagi!"
"Ah... Pangeran Xuanyuan..." Leng Yan menatap Xuanyuan dengan pandangan penuh berat hati seraya mengibaskan kipas emasnya secara dramatis. "Sampai jumpa di perkemahan utama nanti malam. Aku akan menyiapkan teh terbaik untuk menyambut kemenanganmu atas tikus-tikus kekaisaran itu!"
Dengan tarikan kasar pada kerah bajunya oleh Leng Shuang, Leng Yan akhirnya melayang mundur dan melompati rimbun pepohonan, lenyap bersama adiknya di balik kabut biru hutan.
Tepi sungai kembali tenang.
Xuanyuan menyapu sisa buah di tangannya, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang sangat memikat dan penuh intrik. "Wuchen, Juechen."
"Hamba, Yang Mulia!" sahut kedua pengawal pribadinya serempak.
"Mari kita mengemas kemah santai ini. Sudah waktunya Pangeran Ke-14 yang 'gila dan ketakutan' berlari-lari menuju arena utama perburuan sambil berteriak minta tolong."
Gu Juechen tersenyum lebar seraya membereskan kursi lipat mereka. "Siap, Yang Mulia. Hamba sudah tidak sabar melihat wajah Pangeran Ke-3 saat mendapati hadiah binatang buas tingkat tinggi yang Anda kirimkan."
Dengan kecepatan kilat yang tak terlihat mata fana, perkemahan mewah itu dibongkar dan disimpan kembali ke dalam celah ruang dimensi. Xuanyuan mengacak-acak kembali rambut hitamnya yang rapi, menempelkan sedikit debu di pipinya, dan mengambil burung kayu kesayangannya.
"Tolong! Ada monster! Kupu-kupu giginya besar!" teriak Xuanyuan dengan suara cemprengnya yang panik seraya berlari-lari kecil menuju ke arah utara hutan.
Feng Wuchen dan Gu Juechen mengikuti dari belakang dengan langkah santai, bersiap menyaksikan kehancuran ego Pangeran Ke-3 dalam babak selanjutnya.