NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

BAB 1

DARAH DI MALAM HUJAN

"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"

Setetes darah jatuh dari bulu mata pemuda itu sebelum kapas di tangannya sempat menyentuh luka.

Lani berhenti di anak tangga terakhir.

Hujan memukul kaca-kaca tinggi vila Menteng itu seperti segenggam kerikil. Ruang tamu hanya diterangi lampu di atas meja konsol, cukup terang untuk memperlihatkan darah di pelipis Rey, sudut bibirnya yang pecah, dan memar gelap yang mulai naik ke tulang pipi.

Pemuda itu duduk di lantai, bersandar pada sisi sofa seolah marmer dingin jauh lebih layak menampungnya daripada rumah milik ayahnya sendiri. Kotak P3K terbuka di depan lutut. Beberapa kapas bernoda merah berserakan di atas karpet putih.

Pemandangan itu seharusnya membuat Lani kembali ke kamar.

Apalagi cara Rey menatapnya. Tajam, penuh jijik, seolah bukan dia yang pulang membawa darah ke rumah ini, melainkan Lani yang tertangkap melakukan kejahatan.

Lani mengeratkan sabuk baju tidur sutranya. Kain warna sampanye itu terlalu tipis untuk udara dingin, tetapi tadi ia hanya berniat turun mengambil air. Mbak yang biasa menginap sudah pulang setelah makan malam. Gunawan tidur di lantai atas. Tak ada seorang pun yang akan membereskan darah Rey jika ia membiarkannya.

"Aku cuma mau ambil minum," kata Lani.

Rey membuang kapas yang sudah merah. "Dapur di sana. Mata lo kenapa malah ke gue?"

"Karena darahmu menetes ke karpet."

"Takut Papa marah karpet mahalnya kotor?"

Nada mengejek itu membuat jemari Lani mengencang di pagar tangga. Belum satu minggu Rey kembali ke Jakarta, tetapi rumah ini sudah terasa seperti ruangan yang kehabisan udara. Gunawan mengatakan putranya berkelahi di luar negeri, membuat masalah dengan kampus, lalu dipulangkan agar bisa diawasi. Tidak ada penjelasan tentang siapa yang memukulnya malam ini.

Lani berjalan melewatinya menuju dapur.

"Tenang saja," katanya tanpa menoleh. "Aku tidak cukup peduli pada karpet ayahmu."

Pintu kulkas mengembuskan udara dingin ke wajahnya. Saat menuang air, bayangan beberapa menit lalu melintas begitu saja.

Gunawan berbaring membelakanginya dengan napas berat, lalu menarik selimut sampai bahu.

"Mei, matikan lampunya. Besok saya ada rapat pagi."

Tidak ada pertanyaan apakah Lani baik-baik saja. Tidak pernah ada.

Enam bulan tinggal di vila itu mengajarinya bahwa perhatian Gunawan selalu mempunyai bentuk yang bisa dihitung. Tagihan rumah sakit Papa Lie. Utang kedua kokonya. Apartemen yang dijanjikan jika Lani memberinya seorang anak perempuan. Uang tunai yang jumlahnya cukup besar untuk membeli kebebasan, asalkan tubuh Lani berhasil memberi apa yang laki-laki itu inginkan.

Malam ini tubuh Gunawan bahkan tidak mampu menyelesaikan keinginannya sendiri.

Lani menenggak air. Dingin menjalar sampai ke dada, tetapi rasa sesak itu tidak ikut turun.

Dari ruang tamu terdengar desis tertahan.

Ia memejamkan mata sebentar. Abaikan. Naik ke kamar. Tidur.

Desis kedua terdengar, diikuti bunyi botol antiseptik jatuh.

Lani meletakkan gelas lebih keras daripada yang ia maksudkan.

Rey sedang mencoba membersihkan luka di dekat matanya ketika ia kembali. Tangannya gemetar tipis. Bukan takut, mungkin karena menahan sakit atau amarah. Cairan antiseptik mengalir ke pipi bersama darah.

"Berikan," ujar Lani.

Rey mendongak. "Apa?"

"Kapasnya. Kalau caramu begini, antiseptiknya masuk mata."

"Bukan urusan lo."

"Benar. Tapi kalau matamu rusak, papamu akan membuat semua orang di rumah ini ikut repot."

Lani berjongkok sebelum ia sempat berubah pikiran. Aroma hujan melekat pada jaket hitam Rey, bercampur logam darah dan alkohol yang samar. Ada sobekan di buku-buku jarinya. Luka itu bukan luka seseorang yang hanya dipukul. Rey pasti memukul balik, mungkin lebih keras.

Ia mengambil kapas baru, menuangkan antiseptik secukupnya, lalu mengangkat tangan.

Rey menangkap pergelangan tangannya.

Gerakannya begitu cepat hingga cairan dari kapas memercik ke karpet.

"Gue bilang jangan sentuh gue."

Cengkeramannya membuat tulang pergelangan Lani berdenyut. Dari jarak sedekat ini, Rey tampak lebih muda dan lebih berantakan. Usianya baru dua puluh tahun, tetapi sorot matanya seperti orang yang sudah lama tidur dengan pisau di bawah bantal.

Ada luka yang lebih buruk daripada yang terlihat di wajahnya. Lani mengenali cara seseorang menyembunyikannya dengan kemarahan.

Ia juga mengenali bahaya.

"Lepaskan."

Rey justru menarik tangannya lebih dekat. Pandangannya turun ke kerah baju tidur Lani, lalu kembali ke wajahnya. Kebencian di sana menebal.

"Pakai begini turun tengah malam," katanya. "Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"

Kalimat itu mengenai tempat yang sejak tadi berusaha Lani matikan.

Ia tidak malu pada pilihan yang dibuatnya. Saat rumah sakit meminta uang muka untuk operasi Papa, orang-orang yang paling lantang bicara soal harga diri tidak satu pun datang membawa bantuan. Gunawan datang. Gunawan membayar. Lani tahu persis harga yang kemudian diminta laki-laki itu.

Namun mengetahui harga dirinya sendiri berbeda dengan membiarkan seorang anak manja meludahinya.

"Lepaskan tanganku, Rey."

"Takut ketahuan?"

"Oleh siapa? Papamu sedang tidur."

Senyum Rey miring, dingin. "Justru itu. Dia tidur di atas, simpanannya sibuk jongkok di depan anaknya. Pemandangan bagus."

Lani menarik tangannya sekali. Rey tidak melepas.

"Kamu baru pulang dan tidak tahu apa-apa tentang aku."

"Gue tahu cukup banyak." Jempol Rey menekan nadinya. "Lo tidur sama Papa demi uang. Sekarang lo berkeliaran di rumah ini seolah pemiliknya. Perempuan kayak lo selalu tahu cara cari kesempatan."

Hujan bergemuruh di balik kaca. Lani mendengar napasnya sendiri, pelan tetapi berat. Ia bisa berteriak. Gunawan mungkin akan turun. Rey akan dimarahi, mungkin diusir lagi, dan Lani harus menjelaskan mengapa ia berjongkok di depan pemuda setengah telanjang dengan kapas di tangan.

Rumah itu akan tetap milik Gunawan. Rey akan tetap putranya.

Lani tetap orang yang bisa diganti kapan saja.

Ia menurunkan pandangan ke tangan Rey yang mencengkeramnya.

"Aku ingin menolong karena wajahmu penuh darah," katanya. "Bukan karena aku tertarik."

Rey tertawa pendek. "Yakin?"

"Sangat yakin."

"Jangan sok suci."

Kesabaran Lani putus tanpa bunyi.

Ia mengangkat wajah dan menatap tepat ke mata Rey. "Kamu belum pantas kulirik. Bulu saja mungkin belum tumbuh semua."

Cengkeraman itu mengendur.

Hanya setengah detik, tetapi cukup untuk membuat Lani mengira ia menang.

Lalu kotak P3K tersapu oleh lutut Rey.

Botol antiseptik menggelinding di marmer. Gunting kecil berdenting. Rey berdiri dan menarik Lani bersamanya sampai telapak kakinya kehilangan pijakan. Punggungnya menghantam sofa. Udara terlempar dari paru-parunya.

Sebelum sempat bangkit, tubuh tinggi Rey sudah menutup jalan.

"Ulangi," katanya.

Lani mendorong dadanya. Di balik kaus hitam yang basah, otot pemuda itu mengeras seperti dinding. "Minggir."

"Ulangi apa yang lo bilang."

"Kamu mendengarnya."

Rahang Rey bergerak. Setetes darah baru keluar dari luka di pelipis, meluncur ke ujung bulu mata, lalu jatuh di sisi leher Lani. Hangat. Bau besi memenuhi napasnya.

"Umur gue dua puluh," bisik Rey. "Jangan panggil gue anak kecil."

"Kalau tidak mau dianggap anak kecil, jangan bertingkah seperti anak kecil."

Mata Rey menggelap.

Tangannya meraih dagu Lani. Jari-jarinya menekan sampai bibir Lani terbuka oleh rasa sakit. Tangan yang lain menahan pergelangan Lani di atas bantalan sofa.

"Satu foto," ucapnya. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh hujan. "Cuma perlu satu foto lo sama gue dalam posisi begini."

Lani berhenti meronta.

"Satpam depan bakal lihat. Mbak yang kerja di sini bakal dengar. Besok ibu-ibu satu jalan ini punya bahan baru buat grup WhatsApp mereka." Rey mendekat sampai napasnya menyentuh pipi Lani. "Lusa, orang-orang di bisnis Papa juga tahu. Simpanan Gunawan Tio menggoda anak majikannya sendiri."

Dada Lani naik turun. "Kamu tidak akan melakukan itu."

"Lo bahkan nggak kenal gue."

"Aku kenal papamu. Dia akan menghancurkanmu kalau kamu mempermalukan nama keluarga."

Alih-alih mundur, Rey tersenyum. Tidak ada kehangatan sedikit pun di sana.

"Papa mungkin marah sama gue. Tapi lo?" Tatapannya menyapu baju tidur sutra Lani yang tersingkap di lutut. "Lo bakal pergi ke mana setelah semua orang percaya lo menggoda gue? Balik ke keluarga yang utangnya dibayar Papa? Ketemu mantan yang mamanya pernah mengusir lo?"

Darah di wajah Lani seperti berhenti mengalir.

Rey tahu tentang Leo. Tentang Tante Lanny. Entah dari siapa, tetapi ia sengaja memilih luka yang paling dalam.

"Tutup mulutmu," desis Lani.

"Kenapa? Sakit?"

"Aku bilang, tutup mulutmu."

Suara Lani naik satu tingkat. Dari lantai atas terdengar bunyi ranjang berderit.

Keduanya membeku.

Kemudian suara berat Gunawan terdengar samar dari arah kamar.

"Mei?"

Lani membuka mulut, tetapi telapak Rey menutupnya lebih dulu.

Panik menyambar seluruh tubuhnya. Ia menggeliat, menendang sisi sofa, berusaha menggigit telapak itu. Rey menahan lebih kuat. Lututnya menekan bantalan di antara kedua kaki Lani tanpa menyentuh lebih jauh, tetapi cukup untuk mengurungnya.

"Diam," bisiknya di dekat telinga Lani. "Kalau Papa turun dan lihat kita, gue nggak perlu ambil foto. Lo bakal keluar dari rumah ini malam ini juga."

Langkah terdengar di lantai atas.

Lani mencengkeram lengan Rey. Kukunya menembus kulit, tetapi pemuda itu hanya menatapnya, menantang, seolah menunggu ia pecah lebih dulu.

Lalu Lani merasakan sesuatu yang ganjil.

Di antara ancaman Rey, tubuh yang menindihnya, dan baju tidur yang sengaja dipermalukan oleh tatapannya, tidak ada satu pun tanda bahwa pemuda itu benar-benar menginginkannya.

Semua ini hanya amarah. Panggung murahan untuk menutupi luka dan harga diri yang retak.

Pandangan Lani turun sepersekian detik.

Saat menatap Rey kembali, rasa takutnya belum hilang. Namun di balik telapak tangan yang membungkam mulutnya, bahunya mulai bergetar.

Ia tertawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!