**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Kamu Punya Berapa Kakak?
Sabtu pagi, Naila turun dari balkon dengan keranjang lemon dan langsung memeluk Radhika.
"Mas baik banget."
Tubuh Radhika menegang. Detak yang baru tenang kembali kacau. Ia mendorong bahu Naila dan melepaskan pelukan.
"Sudah besar jangan begitu. Kayak anak kecil."
Senyum Naila hilang. "Maaf. Aku nggak akan begitu lagi."
Matanya memerah ketika berbalik. Radhika langsung menyesal. Ia menangkap dagu Naila, melihat air yang hampir jatuh, lalu menariknya kembali ke dada.
"Iya, iya. Boleh peluk. Jangan nangis."
"Katanya aku sudah besar."
"Mas salah ngomong."
"Besok kalau aku peluk lagi, Mas dorong?"
"Nggak."
"Kalau lusa?"
Radhika menghela napas. "Peluk saja kalau mau."
Naila mengusap mata di kemejanya, lalu tersenyum. Radhika tahu ia baru saja menghancurkan keputusan menjaga jarak dalam waktu kurang dari satu menit.
Naila memeluk lebih erat. Baginya, pelukan itu hanya tempat paling aman. Bagi Radhika, setiap sentuhan sekarang membuat tubuhnya lupa pada batas yang hendak dijaga. Ia membenci hilangnya kendali, tetapi lebih tidak tahan melihat Naila menangis.
Di dapur, Radhika mengganti lima lemon yang dipetik Naila dengan buah lebih matang dari cabang tinggi. Ia naik tangga pendek, memetiknya, lalu mencuci buah dalam larutan air garam. Setelah dibilas, lemon dikeringkan sampai tidak ada air tersisa.
"Kalau basah, cepat rusak," jelasnya.
Ia mengiris tipis, membuang biji, lalu menyusun lemon dalam stoples steril. Satu lapis lemon, sedikit gula batu, madu, lalu diulang sampai penuh.
Naila mencoba memotong buah berikutnya. Irisan pertama terlalu tebal, yang kedua miring, dan yang ketiga hampir terlepas dari talenan.
"Pelan," kata Radhika. Ia berdiri di samping, membetulkan posisi jari Naila agar tidak berada di jalur pisau. "Ujung jari masuk. Pisau turun menjauh dari tangan."
"Mas memotongnya gampang sekali."
"Karena semalam Mas merusak enam buah sebelum hasilnya rapi."
Naila tertawa. Bayangannya tentang Radhika kalah melawan lemon ternyata benar.
"Besok sudah bisa diseduh. Simpan di kulkas."
Naila menempelkan label tanggal. "Kalau sudah bisa, kenapa Mas harus tetap bikin?"
"Kamu belajar supaya mandiri."
"Buatan Mas lebih manis."
Radhika mengusap kepalanya. "Gombal."
Bi Rohmah yang baru masuk dapur tersenyum. "Den Radhika kalau sama Non Naila beda sekali."
"Beda bagaimana?" tanya Naila.
"Saya kerja di sini lebih dari sepuluh tahun. Den Radhika jarang senyum, jarang bicara kalau nggak perlu. Sama Non, dari tadi senyum terus."
Naila menatap Radhika. Selama ini ia mengira wajah dingin lelaki itu hanya gaya untuk menakut-nakuti orang. Ternyata senyum yang sering dilihatnya memang tidak diberikan kepada semua orang.
Sebelum Bi Rohmah izin pulang siang itu, Radhika menyerahkan gelang batu merah tua kepada Naila. "Oleh-oleh perjalanan."
Naila memakainya dan mengangkat pergelangan ke cahaya.
Sore hari, Gilang datang. Naila membukakan pintu.
"Mas Gilang, lihat. Mas Radhika yang kasih."
Gilang memeriksa gelang itu dengan iri. "Aku kenal dia puluhan tahun, hadiah ulang tahun saja kadang cuma pesan singkat."
Radhika muncul lebih cepat dari biasanya dan membawa Gilang bicara di balkon. Naila tidak mendengar isi percakapan. Setelah Gilang pergi, Radhika menghampirinya sambil menyalakan rokok di teras terbuka.
"Kamu manggil siapa saja Mas?" tanyanya dingin. "Kamu punya berapa kakak, sih?"
Naila berkedip. "Mas nggak suka aku panggil Gilang begitu?"
Radhika mematikan rokok lalu memegang kedua bahunya. "Mulai sekarang jangan panggil Mas ke siapa-siapa. Mas kamu cuma aku."
Nada itu tidak terdengar seperti gurauan.
"Baik." Naila mengangguk. "Aku panggil Gilang saja."
"Dan pacaran nanti saja. Umur dua puluh dulu."
"Iya, Mas."
"Nggak boleh diam-diam."
"Mas juga nggak boleh diam-diam pacaran sama siapa pun."
Radhika membeku. "Kenapa Mas ikut diatur?"
"Supaya adil. Kalau ada perempuan yang Mas suka, cerita dulu kepadaku."
Nama Anindya berkelebat di antara mereka. Radhika mengalihkan pandangan. "Nanti kita bicarakan."
Jawaban yang menggantung itu membuat Naila kembali teringat percakapan Eyang, tetapi ia memilih tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
Senin, Naila kembali ke UI. Vania telah pindah ke kamar sebelah bersama tiga mahasiswi dari keluarga berada. Beberapa hari mereka tidak saling bicara.
Saat pulang makan siang pada Rabu, Naila menemukan kotak musiknya rusak di samping bantal. Wajah penari balet di balik kristal dicoret spidol merah. Tombol putarnya macet.
Jantungnya jatuh. Naila mengangkat kotak itu dengan kedua tangan. Salah satu dinding kristal retak dari sudut atas sampai dekat mahkota penari. Melodi yang biasanya lembut hanya berbunyi dua nada sebelum berhenti.
"Siapa yang masuk kamar?" tanyanya.
Gita datang dan langsung pucat. "Tadi aku lihat Vania turun dari ranjangmu. Katanya cuma mau ambil kabel."
Naila membawa kotak itu ke kamar sebelah.
"Kenapa kamu rusak kotak musikku?"
Vania menggosok sisi hidung. "Mana buktinya? Jangan memfitnah."
"Kamu selalu menggosok hidung kalau bohong."
"Gita yang menghasut, ya?"
"Bukan soal Gita." Naila menunjukkan wajah penari yang dicoret. "Patung ini dibuat mirip aku. Kamu tahu Radhika memesannya khusus. Karena kamu nggak bisa mendapatkan perhatian itu, kamu mau aku juga kehilangan."
Wajah Vania memutih. "Sok tahu."
"Aku bisa minta pemeriksaan sidik jari atau cek kamera koridor. Tapi aku masih ingat kita pernah berteman." Suara Naila menjadi dingin. "Sekali lagi kamu ganggu aku atau barangku, aku nggak akan mengampuni."
"Kamu mengancam?"
"Aku memberi batas terakhir. Jaket Mas Radhika juga ada padamu, kan?"
Vania berhenti menggosok hidung.
Naila tidak membutuhkan pengakuan. "Kembalikan sebelum malam. Taruh di depan kamarku. Kalau nggak, aku lapor pengelola kos dan kampus."
Untuk pertama kalinya, kesombongan Vania retak. Tiga teman barunya saling pandang, mulai menyadari mereka mungkin memilih pihak yang salah.
Ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Malamnya, Naila membersihkan coretan dan merekatkan bagian yang retak. Tombol musik berhasil diperbaiki, tetapi garis pecah tetap terlihat pada dinding kristal.
Jaket hitam Radhika sudah berada dalam kantong kertas di depan pintu, tanpa catatan. Naila tidak membatalkan pesanan pengganti. Ia akan memberikan yang baru dan menyimpan jaket lama sampai bisa dikembalikan langsung.
"Katanya pemberinya dulu nggak penting," ujar Gita. "Kenapa sekarang kamu sayang sekali sama barang ini?"
Naila memutar kotak musik pelan. "Dulu nggak penting. Sekarang dia orang paling penting dalam hidupku."
"Kamu suka sama dia?"
"Bukan. Dia kakakku."
Jawaban itu tersangkut sesaat sebelum keluar.
Di Menteng, Radhika berdiri sendirian di bawah empat pohon lemon. Ia mematikan rokok ketiga dan mengingat kecemburuannya pada Gilang, pelukan yang membuat jantungnya liar, serta keinginannya menjadi satu-satunya Mas.
Ia sudah mencoba menamainya sebagai rasa melindungi. Namun, seorang kakak tidak akan marah hanya karena adiknya menggunakan sapaan hormat kepada teman lain. Seorang kakak juga tidak akan terus mengingat bentuk bibir adiknya setelah jarak mereka kembali normal.
Kejujuran itu membuat udara malam terasa lebih dingin.
Itu bukan reaksi yang seharusnya dimiliki seorang kakak kepada adiknya.